Song An, karyawan kantoran abad ke-21 yang meninggal karena lembur tanpa henti, terbangun di tubuh seorang selir bayangan di istana Kekaisaran statusnya setara hiasan, namanya bahkan tak tercatat resmi. Tak punya ambisi kekuasaan, Song An hanya ingin hidup tenang, makan cukup, dan tidak terseret drama istana.
Namun logika modernnya justru membuatnya sering melanggar aturan tanpa sengaja: menolak berlutut lama karena pegal, bicara terlalu santai, bahkan bercanda dengan Kaisar Shen yang terkenal dingin dan sulit didekati. Bukannya dihukum, sang kaisar malah merasa terhibur oleh kejujuran dan sikap polos Song An.
Di tengah kehidupan istana yang biasanya penuh kepura-puraan, Song An menjadi satu-satunya orang yang tidak menginginkan apa pun dari kaisar. Tanpa sadar, sikap santainya perlahan mengubah hati Kaisar Shen dan arah takdir istana dengan cara yang lucu, manis, dan tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon inda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 gosip salah sasaran
Pagi itu saat Song An dan Selir Li serta Selir Zhang sedang berjalan mereka bertemu dengan selir Qin yang sedang berdiri di depan mereka.
Senyumnya tipis. Nadanya halus tapi tajam. “Selir Song,” katanya, “akhir-akhir ini kau sibuk.”
Song An menatapnya. “Aku selalu sibuk hidup.”
Selir Qin tersenyum kaku. “Kami dengar kau dan dua selir lain sering berkumpul.”
“Iya,” jawab Song An.
“Untuk apa?” tanya selir Qin
“Ngobrol.” jawab Song An singkat
“Di istana?” Selir Qin mengangkat alis. “Menarik.”
"Tentu saja di istana, Kitakan tinggal di istana, jika kita tinggal di kebun maka kami juga akan mengobrol di kebun, lalu apa yang aneh dari itu semua?" ujar Song An
Selir Li dan selir Zhang menahan tawa mereka sedangkan selir Qin terdiam kaku. Setelah itu
selir Zhang maju setengah langkah. “Apakah mengobrol dilarang?”
“Tidak,” jawab Selir Qin. “Tapi niat di baliknya patut dipertanyakan.”
Song An menghela napas. “Kalau niat kami buruk, kami pasti bersembunyi.”
Selir Li menambahkan tenang, “Kami tidak punya ambisi.”
Selir Qin tertawa kecil. “Tidak punya ambisi justru terdengar palsu.”
Song An menatapnya lurus. “kau benar aku punya ambisi tapi ambisiku ingin hidup tenang dan kalau kami ingin posisi, kami tidak akan bertiga.”
Hening.
Beberapa selir lain saling pandang.
“Dan kalau kami ingin perhatian,” lanjut Song An, “kami tidak akan menghabiskannya untuk bercanda.”
Selir Qin terdiam.
“Kami tidak mengambil apa pun dari siapa pun,” kata Selir Zhang. “Jadi tidak ada yang perlu merasa kehilangan.”
Selir Li menutup dengan tenang, “Gosip hanya hidup kalau dipercaya.”
Sunyi.
Selir Qin menegang, lalu tersenyum tipis. “Mungkin aku salah dengar.”
Song An mengangguk. “Sering terjadi jika hatinya penuh ketakutan, jika boleh saran langsung saja temui kaisar jika ingin mendekati nya jangan sembunyi sembunyi karena kaisar itu tidak peka yang dia tau dunia damai tanpa dia tau dunianya sedang di guncang para wanita dan kami bertiga tidak termasuk di dalamnya. Permisi”
Mereka berlalu.
—
Di kejauhan, seorang pria berdiri di balik pilar.
Ia mendengar semuanya.
Tidak ada teriakan.
Tidak ada air mata.
Tidak ada drama.
Hanya ketenangan yang membuat orang lain terlihat berisik.
Kaisar Shen menatap punggung Song An.
Dan tersenyum.
—
“Jantungku tadi sempat cepat,” bisik Selir Zhang setelah mereka menjauh.
Song An tertawa kecil. “Kau hebat.”
“Aku hampir ingin kabur.” ujar Zhang
“Tapi kau tidak.” kata Song An
Selir Li mengangguk. “Karena kita tidak salah.”
Song An menepuk bahu mereka. “Lihat? Jujur itu praktis.”
—
Sore itu, gosip mereda.
Bukan karena ditekan.
Tapi karena kehilangan bahan.
—
Malam hari, Kaisar Shen duduk bersama pelayan kepercayaannya.
“Ada laporan?” tanyanya.
“Tidak ada masalah berarti, Yang Mulia.”
“Selir Song?”
“Tenang seperti biasa.”
Kaisar Shen mengangguk. “Dia tidak membalas gosip dengan gosip.”
“Itu yang membuat rumor berhenti,” kata pelayan itu.
Kaisar Shen tersenyum kecil. “Dia tidak berusaha menang, namun tetap menang.”
—
Di paviliunnya, Song An minum teh bersama Selir Li dan Selir Zhang.
“Menurutmu mereka akan berhenti?” tanya Selir Zhang.
“Pasti,” jawab Song An. “Gosip butuh reaksi.”
“Dan kita tidak memberikannya,” kata Selir Li.
Song An mengangguk. “Lagi pula, hidup kita terlalu pendek untuk mengurus suara orang.”
Selir Zhang tertawa. “Kalau semua selir sepertimu, istana akan sepi.”
Song An tersenyum. “Itu terdengar damai.”
—
Di malam yang sama, Kaisar Shen menulis satu baris di kertas kosong.
"Kejujuran tidak berisik, namun ia bertahan paling lama."
Ia menggulung kertas itu dan untuk pertama kalinya, ia mengakui dalam hati bahwa kekagumannya pada Song An bukan karena ia berbeda, melainkan karena ia tidak berpura-pura.
...****************...
Keesokan harinya saat pagi datang Song An baru sadar satu hal penting bahwa di Istana terlalu rapi.
Bukan rapi yang menenangkan, tapi rapi yang terasa… menutup sesuatu.
Ia berdiri di dekat gerbang dalam, menunggu Selir Li dan Selir Zhang yang berjanji bertemu. Dari celah gerbang, ia bisa melihat dunia luar: jalan batu, pedagang lewat, suara tawar-menawar samar.
“Aku lupa rasanya suara seperti itu,” gumamnya.
“Suara apa?” tanya seseorang yang baru datang.
Song An menoleh. Selir Zhang sudah berdiri di sampingnya.
“Suara hidup,” jawab Song An.
Selir Zhang tersenyum. “Kau memang aneh.”
“Aku tahu.” jawab Song An santai
Tak lama Selir Li datang, napasnya sedikit cepat.“Maaf,” katanya, “aku terlambat. Tadi ada selir lain menahanku.”
“Siapa?” tanya Song An sambil berjalan.
Selir Li mengangkat bahu. “Selir Chen.”
Song An berhenti melangkah. “Selir Chen?”
“Iya. Kenapa?” ujar Selir li
“Tidak apa-apa.” Namun di dalam hatinya, Song An mencatat nama itu.
—
Mereka berjalan menyusuri taman dekat tembok luar. Di sana jarang ada orang. Angin membawa aroma tanah dan suara kota yang jauh.
“Aku ingin tahu,” kata Selir Zhang sambil duduk di batu, “di luar sana sekarang seperti apa.”
“Ramai,” jawab Song An. “Dan bebas.”
Selir Li menghela napas. “Aku ingin melihat orang berjalan tanpa tujuan.”
“Kita dulu juga begitu,” kata Selir Zhang.
“Dulu,” ulang Selir Li.
Song An duduk di antara mereka. “Dunia luar tetap berjalan, meski kita diam.”
“Kedengarannya sedih,” kata Selir Zhang.
“Tidak,” jawab Song An. “Itu mengingatkan kita bahwa hidup tidak berhenti di sini.”
—
Tak jauh dari sana, dua pelayan lewat sambil berbincang pelan.
“…pesan sudah dikirim.”
“Lewat siapa?”
“Selir Chen.”
Langkah Song An terhenti.
Ia menoleh perlahan.
Kedua pelayan itu terkejut melihatnya, lalu menunduk cepat dan pergi.
Selir Zhang mengerutkan dahi. “Kau dengar itu?”
Song An mengangguk pelan. “Iya.”
Selir Li menatapnya. “Pesan apa?”
“Entahlah,” jawab Song An. “Dan justru itu yang aneh.”
Bersambung