NovelToon NovelToon
EXPIREDENS

EXPIREDENS

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Misteri / Spiritual / Identitas Tersembunyi / Epik Petualangan
Popularitas:42
Nilai: 5
Nama Author: Karamellatee

Tittle : EXPIREDENS
Author : Karamellatee Clandestories

VOL. 1 : Keturunan tanah darah Kutukan

Cerita tentang bagaimana para mahasiswa yang membangun akar dari masalah menghubungkan timbal balik antara masa lalu dan masa depan, terciptanya gelombang tanpa ampunan bagi mereka sang pendosa harus diselesaikan oleh kelima mahasiswa ini. Terjebak antar ruang dan waktu merajalela nyawa satu per satu, nyawa adalah taruhan dan mereka adalah detak jantung dari setiap tragedi yang akan memutarbalikkan fakta.

Pada kenyataannya mereka adalah manusia biasa yang menjadi tokoh utama dari setiap kelam nya masa lalu?

Menyusun harmoni yang ada dalam monarki, disaat semua orang memiliki pemahaman komunisme, fanatisme, dan liberalisme. Sungguh, tekad yang membawa mereka dalam angan-angan kematian. Diiringi kisah pilu, dalam nestapa berdiam diri, goyah oleh setiap godaan ingatan terukir, takkan pernah terkikis oleh waktu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karamellatee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#Bab 10: Pengembara yang menjadi raja [4]

...●◉◎◈◎◉●...

...#1 Original story [@clandestories]...

...#2 No Plagiatrism...

...#3 Polite and non-discriminatory comments...

...•...

...•...

...⪻ ⋅•⋅⊰∙∘☽༓☾∘∙⊱⋅•⋅ ⪼...

Ledakan cahaya itu bukan sekadar kilatan biasa. Begitu telapak tangan Zack, Rakes, dan Hamura menyentuh wadah perunggu itu, dunia di sekitar mereka seperti terkelupas. Lantai paviliun, hutan belantara, dan langit kelabu Bharata Jengga menghilang, digantikan oleh ruang hampa yang dipenuhi oleh aliran energi menyerupai silsilah keluarga yang bercahaya.

Zack merasakan jantungnya seolah ditarik keluar. Ia melihat jutaan fragmen ingatan yang bukan miliknya. Di sana, di titik pusat penglihatan itu, ia melihat Zachary Demar tidak hanya berdiri sendirian. Di masa lalu yang jauh, Zachary ternyata memiliki seorang sahabat karib, seorang penasihat muda yang selalu membawa gulungan perkamen—sosok itu adalah leluhur Hamura.

"Gua liat... mereka dulu barengan," gumam Zack di tengah trans itu, suaranya bergema.

"Bukan hanya kebetulan," suara Hamura terdengar di dalam pikiran mereka, lebih berat dan penuh duka. "Kita adalah satu kesatuan yang dipecah oleh ambisi. Zachary lari membawa amarah, suaminya Saning Ayu mengejar dengan keserakahan, dan leluhurku... dia memilih mengunci diri karena takut ilmu pengetahuan Bharata Jengga akan digunakan untuk memusnahkan manusia."

Tiba-tiba, penglihatan itu berubah menjadi lebih tajam. Zack melihat dirinya sendiri di masa depan, mengenakan jas putih dokter, sedang berdiri di depan meja operasi.

"Keren banget lo pake jas." Rakes berseru, listrik di tubuhnya mulai stabil, seolah menemukan frekuensi yang pas dengan energi Hamura.

Cahaya itu perlahan meredup, mengembalikan mereka ke paviliun kayu di puncak gunung. Zack menarik tangannya dengan napas tersengal, wajahnya pucat. Ia menatap Hamura dengan pandangan yang jauh lebih serius, sifat kesalnya sedikit mereda meski bibirnya masih terkunci rapat.

Zack mengatur napasnya, lalu menatap Hamura tajam. "Jadi, intinya apa, Ham? Gua liat tadi kita bertiga kerja bareng. Tapi itu kan masa depan. Sekarang masalahnya adalah kutukan si Zachary yang bikin keturunannya terancam mati. Gua ngga peduli soal takdir jadi pilar, gua cuma mau tau gimana cara gua 'menghapus' kutukan ini sampai ke akarnya."

Hamura berjalan perlahan menuju tepi paviliun, menatap awan hitam yang mulai mendekat. "Kutukan itu bukan virus, Zack. Kau tidak bisa memotongnya dengan pisau bedah. Kutukan itu adalah Hutang Nyawa. Zachary membunuh saudaranya sendiri di atas tanah yang dia janjikan untuk kedamaian. Tanah Demar yang kau banggakan itu berdiri di atas pengkhianatan terhadap darah sendiri."

"Gua udah tau soal itu! Si Ratu Saning udah cerita!" potong Zack sewot. "Terus hubungannya sama lo apa? Kenapa lo harus ikut campur sekarang?"

Hamura berbalik, wajahnya terlihat sangat lelah meski ia tampak muda. "Karena Bharata Jengga adalah pemegang 'Segel Kutukan'. Tanpa persetujuanku, kutukan itu tidak akan pernah bisa dilerai. Ia akan terus berputar dalam lingkaran setan. Zack, penderitaan yang kau rasakan seperti rasa hampa, marah tanpa sebab, keinginan untuk meledak itu adalah sisa-sisa energi Zachary yang mencari penebusan."

Rakes menyela, tangannya masih memercikkan bunga api kecil. "Jadi, lo mau kita ngapain? Lo mau kita balik ke masa lalu terus nyegah Zachary bunuh saudaranya? Itu mustahil, kan? Waktu ngga jalan kayak gitu."

"Benar," jawab Hamura. "Waktu adalah garis yang sudah digoreskan. Kita tidak bisa menghapusnya, tapi kita bisa menulis catatan kaki yang mengubah maknanya. Perjanjian Tiga Kerajaan yang dikatakan Saning Ayu adalah tentang Keseimbangan Beban."

Hamura mendekati Zack dan meletakkan tangannya di pundak pemuda itu. Zack sempat ingin menepis, tapi ia merasakan kehangatan yang luar biasa, seolah beban di pundaknya mendadak terbagi.

"Zack, dengarkan aku baik-baik. Selama ini, keturunan Demar menanggung penderitaan sendirian. Itulah yang membuat mereka gila. Kutukan itu bekerja dengan cara mengisolasi korbannya dalam kesunyian. Itulah mengapa Zachary melarikan diri, itulah mengapa Aditya bunuh diri. Mereka merasa tidak ada yang bisa mengerti rasa sakit mereka."

"Terus?" Zack menaikkan alisnya.

"Perjanjian yang akan kita buat sekarang adalah Penyatuan Takdir. Aku, sebagai Raja Bharata Jengga, akan membuka akses energiku ke dalam darahmu. Rakes, sebagai pemegang sirkuit energi, akan menjadi penghubungnya. Kita akan menarik kutukan itu keluar dari darahmu, dan membaginya menjadi tiga bagian."

Zack tertegun. "Maksud lo... lo sama Rakes mau ikut nanggung penderitaan itu? Lo berdua bisa gila juga, bego!"

Rakes tertawa pendek, meski wajahnya terlihat tegang. "Bang, udah gapapa tenang aja. Kalau cuma 'perasaan sedih' atau 'bisikan hantu' masa lalu, gua rasa gua bisa handle. Lagian, gua memang kuat kok."

Hamura mengangguk. "Itulah intinya. Kutukan itu akan kehilangan taringnya jika ia tidak lagi menyerang satu orang. Jika ia dibagi tiga, kekuatannya akan melemah hingga hanya menjadi bisikan angin yang lewat. Tapi risikonya besar. Mulai detik ini, hidup kita akan terikat. Jika salah satu dari kita hancur secara mental, dua lainnya akan merasakannya."

Zack diam seribu bahasa. Ia menatap telapak tangannya. Sebagai calon dokter, ia tahu bahwa membagi penyakit bukan berarti menyembuhkan, tapi dalam dunia mistis ini, membagi beban adalah satu-satunya cara bertahan hidup.

"Lo yakin, Ham?" tanya Zack dengan nada yang lebih pelan, kehilangan sedikit lagaknya. "Lo itu Raja. Lo punya kerajaan, punya rakyat. Kenapa lo mau nanggung kutukan pembunuh kayak Zachary?"

Hamura tersenyum, kali ini senyumnya terasa tulus. "Karena aku sudah melarikan diri dari sini. Aku bosan menjadi penonton. Aku ingin melihat dunia di mana keturunan Zachary bisa menemui kehidupannya. Dan aku ingin melihat sahabatku, Zachary, akhirnya bisa beristirahat dengan tenang karena hutangnya sudah dibayar oleh keturunannya yang paling berani.

Zack menarik napas panjang, menatap Rakes yang mengangguk mantap, lalu kembali menatap Hamura. "Oke. Gua setuju. Gua nggak bakal biarin kutukan ini menang. Kalau emang harus bagi-bagi beban, ya udah. Kita lakuin sekarang."

Hamura mengangkat tangannya ke langit. Ribuan lonceng angin di paviliun itu mulai berdentang keras, menciptakan melodi yang memekakkan telinga.

Tanah di bawah mereka bergetar.

"Atas nama Bharata Jengga yang menyimpan rahasia," ucap Hamura dengan suara yang menggetarkan dimensi.

"Atas nama Demar yang berdiri di atas keberanian," Zack menyambung, matanya mulai memancarkan cahaya merah yang tenang, bukan lagi merah darah yang ganas.

"Dan atas nama... ah, terserahlah, pokoknya atas nama Polarios penghubung antara sebab akibat!" Rakes berteriak sambil melepaskan seluruh energi listriknya ke arah wadah perunggu.

Cahaya menyilaukan meledak kembali. Zack merasakan aliran hitam yang kental, kutukan itu mulai keluar dari nadinya, merambat menuju tangan Rakes dan Hamura. Rasanya seperti ribuan jarum menusuk jiwanya, tapi anehnya, ia tidak merasa sakit seperti biasanya. Ia merasa didukung. Ia merasa... ringan.

Dalam detik-detik terakhir sebelum kesadaran mereka kembali ke dimensi asrama, Zack melihat bayangan Zachary Demar berdiri di kejauhan, tersenyum tipis sebelum akhirnya perlahan memudar menjadi partikel cahaya. Kutukan itu tidak hilang, tapi ia telah dijinakkan.

BUM!

Zack dan Rakes tersungkur di lantai asrama yang berdebu. Suasananya sunyi. Tidak ada lagi Tanah Darah, tidak ada lagi hutan belantara. Pintu misterius di sudut ruangan itu kini tertutup rapat dan berubah menjadi pintu kayu biasa yang sudah lapuk.

Zack bangun dengan kepala pening, meraba dadanya. Detak jantungnya terasa normal. Bisikan-bisikan gila yang biasanya menghantuinya di saat-saat stres kini menghilang. Ia menoleh ke arah Rakes yang sedang tergeletak sambil tertawa kecil.

"Woi, Rakes. Bangun lo. Jangan mati dulu, utang minggu kemarin ceban lo belum lunas," kata Zack sambil nendang pelan kaki Rakes yang masih telentang.

"Kita... balik?" tanya Rakes parau.

"Iya. Kita balik," jawab Zack singkat. Ia bangkit berdiri, lalu bersyukur, meski matanya kini lebih jernih.

Rakes megap-megap kayak ikan kekurangan oksigen, terus duduk sambil megangin kepalanya.

"Aduh... gila. Pala gua berasa abis dicolok ke gardu PLN. Si Bharata itu beneran bagi bebannya ke kita? Gua berasa ada sesuatu yang 'dingin' tapi 'gelap' diem di belakang otak gua."

​"Ya itu kutukannya, bego. Tapi sekarang lo ikut nanggung," jawab Zack sambil berdiri dan benerin jaketnya. Dia jalan ke arah jendela, ngeliat keluar asrama yang udah balik normal.

"Tapi si Hamura itu... dia bilang dia bakal jagain 'frekuensi' dari dimensinya. Seenggaknya kita nggak sendirian lagi ngadepin ini."

​Zack diem bentar, mikirin sosok Zachary Demar yang dia liat di masa kecil tadi. Dia sadar, meskipun dia benci banget sama takdir pembunuh itu, Zachary tetep bagian dari dia. Tapi bedanya, sekarang Zack punya kendali.

Zack diem bentar, mikirin sosok Zachary Demar yang dia liat di masa kecil tadi. Dia sadar, meskipun dia benci banget sama takdir pembunuh itu, Zachary tetep bagian dari dia. Tapi bedanya, sekarang Zack punya kendali.

​"Gua nggak bakal jadi kayak Zachary," gumam Zack pelan tapi mantap.

​"Hah? Lo ngomong apa?" tanya Rakes sambil berusaha berdiri.

​"Nggak ada. Udah, lo beresin muka lo. Jelek banget kayak abis digiling," cetus Zack balik ke mode petantang-petentengnya. "Kita harus cari Kale sama yang lain. Pasti mereka bingung kita ngilang ke mana."

"Kaga usah, mereka udah disini kok. "

"Hah? maksud lo? gua yang terakhir? "

Rakes mengangguk.

​Tapi pas mereka baru mau keluar kamar, tiba-tiba suhu di ruangan itu turun drastis. Di cermin lemari Zack, muncul pantulan air yang goyang-goyang, nunjukin wajah Bharata Hamura Jengga yang lagi duduk tenang di paviliunnya.

​"Sang penyair...," suara Hamura berbisik di pendengaran Rakes, cuma mereka berdua yang denger.

"Saya tau itu adalah kau Penyair tanpa arah dari negeri sebrang yang menjadi saksi bisu dalam perjanjian ini, pengkhianat yang kabur dari kampung halamannya... Tolong lindungi keturunan Bharata Jengga, Demar, dan Kartaswiraga.. saya tau kamu telah mengetahui siapa keturunan nya. "

​Rakes cuma muter bola matanya. "Iya, iya, memang harusnya gua juga nanggung sebagian kutukan kalian, tapi waktu itu leluhur gua juga ngga mau terlalu ikut campur."

​Bayangan Hamura terdiam dan hilang dari cermin.

Zack dan Rakes keluar kamar, dan bener aja, si Kale udah berdiri di koridor sambil bawa bungkus mi instan, mukanya cengo liat mereka berdua keluar dari kamar dengan kondisi baju acak-acakan dan muka penuh debu.

​"Loh? sejak kapan lo berdua disini? Tadi perasaan pintu depan ke kunci deh." tanya Kale bingung.

​Rakes cuma nyengir songong, ngerangkul pundak Zack. "Kayaknya anak-anak Asrama lainnya lupa apa yang udah kejadian, nanti juga kita bakalan ngelewatin hal kayak gini lagi jadi jangan ngomong ke siapa-siapa."

​Rakes jalan ngelewatin Kale sekalian comot wafer yang ada di tangan Kale satunya lagi, ninggalin Kale yang ancang-ancang mau geplak kepalanya. Meskipun kutukan itu masih ada di dalam darahnya, lalu Zack ngerasa buat pertama kalinya dia bener-bener tidak mau terlalu untuk merubah hidupnya sendiri.

Tetapi, untuk seorang manusia seperti Rakes yang memiliki mental terlalu besar menghadapi kutukan, juga apakah ia benar-benar hanya kebetulan tau dan merasa kasian terhadap Zack?

...⪻ ⋅•⋅⊰∙∘☽༓☾∘∙⊱⋅•⋅ ⪼...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!