"Datang sebagai tamu tak diundang, pulang membawa calon suami yang harganya miliaran."
Bagi seorang wanita, tidak ada yang lebih menghancurkan harga diri selain datang ke pernikahan mantan yang sudah menghamili wanita lain. Niat hati hanya ingin menunjukkan bahwa dia baik-baik saja, ia justru terjebak dalam situasi memalukan di depan pelaminan.
Namun, saat dunia seolah menertawakannya, seorang pria dengan aura kekuasaan yang menyesakkan napas tiba-tiba merangkul pinggangnya. Pria itu—seorang miliarder yang seharusnya berada di jet pribadi menuju London—malah berdiri di sana, di sebuah gedung kondangan sederhana, menatap tajam sang mantan.
"Kenalkan, saya tunangannya. Dan terima kasih sudah melepaskannya, karena saya tidak suka berbagi permata dengan sampah."
Satu kalimat itu mengubah hidupnya dalam semalam. Pria asing itu tidak hanya menyelamatkan wajahnya, tapi juga menyodorkan sebuah kontrak gila: Menjadi istri sandiwara untuk membalas dendam pada keluarga sang miliarder.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Pelarian Sang Nyonya Besar
Sinar matahari pagi Jakarta yang biasanya terasa gerah, kali ini terasa seperti alarm pengingat akan drama yang tidak ada habisnya. Alana terbangun di kamar apartemen Arkan yang super mewah, namun bukannya merasa segar, ia malah merasa seperti habis dihajar oleh satu kompi tentara. Bayangan angka-angka dari sumur tua semalam masih sesekali berkelebat di kepalanya, seperti sisa-sisa mimpi buruk yang enggan pergi.
Ia menoleh ke samping. Arkan masih tertidur lelap—sesuatu yang sangat langka. Wajah kaku sang CEO itu terlihat jauh lebih muda saat tidur, tanpa beban restrukturisasi perusahaan atau ancaman bom di keningnya.
"Mas... Mas ganteng sih, tapi keluarga Mas ini beneran bikin aku pengen pensiun jadi manusia," bisik Alana sambil menusuk-nusuk pipi Arkan dengan telunjuknya.
Alana kemudian teringat bisikan Ayah Malik semalam. Sidik jari anak pertama? "Dih! Ayah itu beneran ya, orang baru aja selamat dari maut bukannya disuruh istirahat malah dikasih tugas bikin ahli waris," gerutu Alana. Ia segera beranjak dari tempat tidur, melakukan gerakan ninja agar tidak membangunkan Arkan.
Rencana Alana pagi ini hanya satu: Melarikan diri. Bukan melarikan diri karena benci, tapi melarikan diri demi kewarasan mental. Ia butuh waktu di mana tidak ada orang yang menyebut kata "Arkananta", "The Board", atau "Aset Global".
Ia menyambar ransel kecilnya, memasukkan beberapa potong baju santai, paspor, dan tentu saja, Mochi. Kucing oren itu tampak sudah siap tempur, duduk manis di depan pintu sambil menatap Alana dengan tatapan 'Ayo cepat, sebelum robot kaku itu bangun'.
Alana berhasil sampai di lobi apartemen tanpa ketahuan tim keamanan Arkan yang biasanya sangat sigap—sepertinya mereka juga butuh kopi setelah kejadian semalam. Ia segera mencegat taksi.
"Ke mana, Neng?" tanya sopir taksi.
"Ke mana aja Pak, yang penting jauh dari gedung tinggi dan nggak ada orang pakai jas hitam," jawab Alana asal.
Namun, baru saja taksi itu melaju dua meter, sebuah mobil sport merah menyala berhenti tepat di depan taksi mereka, memblokir jalan dengan sangat tidak sopan. Kaca jendela mobil itu turun perlahan, menampakkan Ariel dengan kacamata hitamnya yang sangat modis.
"Mau kabur ke mana, Kembaran? Tanpa pamit sama Kakak ipar kesayanganmu itu?" tanya Ariel sambil tersenyum miring.
Alana menurunkan kaca jendela taksi, wajahnya langsung cemberut. "Mas Ariel! Bisa nggak sih sehari aja jangan muncul kayak hantu?! Aku mau me-time! Aku mau cari seblak yang nggak ada campur tangan konspirasi dunia!"
Ariel tertawa, ia keluar dari mobilnya dan membukakan pintu taksi Alana. "Seblak di Jakarta terlalu berisiko buat orang yang kepalanya baru saja di-download data rahasia. Masuk ke mobilku. Aku tahu tempat persembunyian yang lebih baik. Dan tenang saja, Arkan tidak tahu."
Alana ragu sejenak. "Beneran nggak tahu?"
"Aku sudah blokir GPS ponselmu sejak kamu turun ke lobi. Anggap saja ini servis dari kembaranmu yang jenius," Ariel mengedipkan mata.
Ariel membawa Alana ke sebuah rumah pantai kecil yang sangat sederhana di pesisir Jawa Barat. Jauh dari kemewahan, jauh dari keramaian. Hanya ada suara deburan ombak dan aroma ikan asin yang sedang dijemur warga sekitar.
"Wah, Mas Ariel... kamu beneran punya sisi merakyat juga ya? Aku pikir kamu cuma tahu makan di restoran yang sendoknya dari perak," celetuk Alana sambil melepas sandal jepitnya dan menginjak pasir.
"Aku besar di jalanan London sebelum diadopsi keluarga Pramudya, Lana. Aku tahu rasanya tidur di atas tumpukan kardus," Ariel duduk di kursi rotan depan rumah. "Di sini, tidak ada yang tahu siapa kita. Kamu bisa jadi Alana yang biasa, dan aku bisa jadi... entahlah, tukang ikan mungkin?"
Alana tertawa lepas. Ia duduk di samping Ariel, membiarkan Mochi mengeksplorasi pasir pantai. "Makasih ya, Mas. Aku beneran butuh ini. Kepalaku rasanya mau pecah mikirin nasib dana perwalian itu."
"Soal bisikan Ayah Malik semalam..." Ariel menoleh, wajahnya menjadi serius. "Arkan sudah tahu?"
Alana menggeleng cepat. "Jangan dikasih tahu! Nanti dia makin protektif. Bisa-bisa aku disuruh duduk di dalam brankas tiap hari."
"Arkan tidak sebodoh itu, Lana. Tapi dia benar-benar mencintaimu. Dia rela menghancurkan warisan kakeknya sendiri demi kamu. Itu jarang terjadi di dunia kita," Ariel menyesap kelapa muda yang ia pesan dari warung sebelah.
"Iya sih, Mas Arkan emang 'bucin' level dewa. Tapi tetep aja, aku merasa kayak ada beban besar di perut aku padahal isinya baru kerupuk panti," Alana menghela napas.
Sementara itu, di apartemen, Arkan terbangun dengan panik. Kamarnya kosong. Aroma parfum Alana masih ada, tapi orangnya hilang. Ia segera memeriksa GPS, namun hasilnya nihil.
"Bram! Di mana istriku?!" Arkan berteriak melalui ponselnya.
"Maaf Tuan, Nyonya Alana keluar lewat pintu darurat dan masuk ke taksi... tapi taksi itu dicegat oleh mobil Tuan Ariel," jawab Bram dengan suara bergetar.
Arkan mengepalkan tangannya. "Ariel... Dasar pengganggu!"
Arkan tahu Ariel tidak akan menyakiti Alana, tapi ia tidak suka kehilangan kendali atas keselamatan istrinya. Namun, sebuah pesan singkat masuk ke ponsel Arkan dari nomor yang tidak dikenal:
"Dia aman bersamaku. Beri dia waktu 24 jam untuk bernapas. Kalau kamu jemput dia sekarang, dia bakal makin 'julid' sama kamu seumur hidup. - A.P."
Arkan menghembuskan napas frustrasi. Ia melempar ponselnya ke kasur. Ariel benar. Alana butuh ruang. Tapi Arkan tidak bisa diam saja. Ia mulai membuka laptopnya, bukan untuk mencari keberadaan Alana, melainkan untuk menyelesaikan "sampah-sampah" terakhir yang ditinggalkan Kakek Waluyo agar saat Alana pulang, dunia sudah benar-benar aman untuknya.
Kembali ke rumah pantai, malam mulai turun. Alana dan Ariel sedang asyik membakar ikan di pinggir pantai. Suasana sangat damai, sampai sebuah kapal nelayan besar berhenti tidak jauh dari bibir pantai.
Dua orang pria turun dari kapal tersebut. Mereka tidak tampak seperti nelayan. Pakaian mereka terlalu rapi, dan mereka membawa sebuah koper kaku.
"Ariel, tamu kamu?" tanya Alana curiga, tangannya sudah siap menyambar capit arang buat dijadikan senjata.
Ariel berdiri, wajahnya mendadak kaku. "Bukan. Itu orang-orang dari Dana Perwalian Global. Sepertinya sistem otomatis yang kita aktifkan semalam sudah memicu protokol mereka."
Salah satu pria itu mendekat, ia membungkuk hormat kepada Alana. "Nyonya Arkananta, Tuan Pramudya. Kami dari dewan pengawas independen. Kami di sini bukan untuk menyerang, tapi untuk memberikan amanah pertama dari mendiang Ibu Arkananta."
Pria itu membuka koper tersebut. Isinya adalah sebuah berkas digital dan sebuah kalung dengan liontin permata biru yang sangat indah.
"Ini adalah 'The Blue Phoenix'. Permata ini berisi kunci enkripsi fisik untuk mencairkan dana bantuan bagi panti asuhan di seluruh Indonesia yang Nyonya kelola," jelas pria itu. "Tapi ada syaratnya. Dana ini hanya bisa aktif jika Nyonya menandatangani komitmen untuk tetap berada di bawah perlindungan Arkananta Group."
Alana melongo. "Hah? Jadi ujung-ujungnya aku tetep harus terikat sama perusahaan Mas Arkan?"
"Ini untuk keamanan Anda, Nyonya. Terlalu banyak pihak yang ingin mencuri akses ini," sahut pria itu.
Ariel menatap Alana. "Lana, ini pilihanmu. Kamu bisa menolaknya dan kita cari cara lain buat biayai panti. Tapi konsekuensinya, panti itu bakal tetap jadi sasaran empuk 'The Board' yang masih tersisa."
Alana menatap permata biru itu. Ia teringat wajah anak-anak panti yang tertawa. Ia teringat perjuangan Ibunya dan Ayah Malik.
"Oke," Alana mengambil permata itu. "Tapi aku punya syarat tambahan. Mas Arkan nggak boleh tahu soal komitmen ini. Aku mau dana ini seolah-olah murni dari yayasan, bukan dari kantong suamiku. Aku nggak mau mereka merasa berutang budi sama miliarder."
Pria itu tersenyum. "Sesuai keinginan Anda, Nyonya."
Tiba-tiba, dari arah belakang rumah, suara helikopter terdengar sangat dekat. Lampu sorot raksasa menyinari pantai tersebut. Arkan turun dari helikopter menggunakan tali layaknya agen rahasia profesional, mendarat tepat di antara Alana dan para pria dari Dana Perwalian.
"Waktunya pulang, Lana. 24 jam sudah hampir habis," ucap Arkan dengan nada yang mencoba terdengar santai, padahal matanya berkilat cemburu melihat Alana sedang berduaan dengan Ariel di pinggir pantai.
Alana langsung menyembunyikan kalung permata itu di balik bajunya. "Mas Arkan! Mas beneran ya, dateng-dateng ngerusak suasana puitis aku!"
Arkan menghampiri Alana, ia menatap tajam ke arah dua pria asing itu. "Siapa mereka?"
"Cuma nelayan yang mau nawarin ikan, Mas! Mas dateng kegedean gaya sih, mereka jadi takut kan!" bohong Alana lancar.
Ariel terkekeh di belakang. "Ipar, kamu telat. Ikan bakarnya sudah habis."
Arkan tidak mempedulikan Ariel. Ia mengangkat Alana ke pundaknya layaknya membawa karung beras. "Kita pulang. Mochi, ayo!"
"Mas! Turunin! Aku bisa jalan sendiri! Mas Arkan, malu dilihatin orang-orang!" teriak Alana sambil meronta-ronta, sementara Mochi dengan santainya melompat ke dalam helikopter duluan.
Di dalam helikopter yang terbang kembali ke Jakarta, Alana duduk bersandar pada Arkan. Ia meraba permata biru di balik bajunya. Ia merasa menang, tapi ia juga merasa masuk ke dalam labirin baru.
Tiba-tiba, ponsel Arkan berbunyi. Sebuah notifikasi berita internasional: "Kakek Waluyo Ditemukan Tak Bernyawa di Sel Isolasinya. Dugaan Kuat Bunuh Diri Menggunakan Racun Sianida."
Arkan tertegun. Alana pun ikut membaca berita itu.
"Mas... Kakek..."
Arkan menutup matanya sejenak. "Dia memilih jalan keluar yang paling pengecut, Lana."
Namun, di bawah berita itu, ada sebuah komentar yang disematkan oleh admin misterius: "Raja telah mati, tapi Mahkota telah berpindah. Selamat datang di permainan yang sesungguhnya, Sang Pembawa Kunci."
Alana menelan ludah. Ia melirik Mochi yang sedang menatap jendela dengan mata yang tiba-tiba berubah menjadi kuning keemasan, sangat berbeda dari biasanya. "Mas... kok mata Mochi jadi aneh gitu sih?!"