"Datang sebagai tamu tak diundang, pulang membawa calon suami yang harganya miliaran."
Bagi seorang wanita, tidak ada yang lebih menghancurkan harga diri selain datang ke pernikahan mantan yang sudah menghamili wanita lain. Niat hati hanya ingin menunjukkan bahwa dia baik-baik saja, ia justru terjebak dalam situasi memalukan di depan pelaminan.
Namun, saat dunia seolah menertawakannya, seorang pria dengan aura kekuasaan yang menyesakkan napas tiba-tiba merangkul pinggangnya. Pria itu—seorang miliarder yang seharusnya berada di jet pribadi menuju London—malah berdiri di sana, di sebuah gedung kondangan sederhana, menatap tajam sang mantan.
"Kenalkan, saya tunangannya. Dan terima kasih sudah melepaskannya, karena saya tidak suka berbagi permata dengan sampah."
Satu kalimat itu mengubah hidupnya dalam semalam. Pria asing itu tidak hanya menyelamatkan wajahnya, tapi juga menyodorkan sebuah kontrak gila: Menjadi istri sandiwara untuk membalas dendam pada keluarga sang miliarder.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Siapakah Zainab?
Angin sore di balkon gedung panti asuhan bertiup cukup kencang, menerbangkan beberapa helai rambut Alana yang tidak terikat. Nama itu—Zainab—terpampang jelas di layar tablet yang dikirimkan Ariel melalui jalur komunikasi terenkripsi. Nama yang terdengar sangat bersahaja, namun di dalam dunia yang baru saja Alana masuki, kesederhanaan sering kali menjadi topeng bagi kekuatan yang paling mematikan.
"Zainab..." Alana menggumamkan nama itu lagi. "Mas, nama ini kayak nama tetangga aku yang jualan gorengan di depan gang panti dulu. Tapi nggak mungkin kan penjual gorengan punya akses ke sistem pencucian uang internasional?"
Arkan mengambil tablet itu dari tangan Alana, matanya menyipit saat membaca baris demi baris transaksi yang tercatat. "Bukan sekadar akses, Lana. Lihat frekuensinya. Setiap kali 'The Board' mengalami kebocoran likuiditas atau saat Kakek Waluyo gagal dalam sebuah investasi besar, akun atas nama Zainab ini masuk dan menyuntikkan dana. Dia bukan bawahan. Dia adalah penyelamat."
"Mas Ariel bilang dia nggak nemu data kependudukannya?" tanya Alana.
"Nihil. Di database kependudukan nasional, nama Zainab ada ribuan, tapi tidak ada satu pun yang profil finansialnya cocok. Di database Interpol pun, nama ini bersih. Dia seperti hantu yang hanya muncul dalam kode angka," Arkan menghela napas panjang, lalu bersandar pada pagar balkon. "Lana, kita harus hati-hati. Jika faksi 'The Remnant' hancur, kemungkinan besar Zainab ini akan mengambil alih sisanya."
Mochi, yang sejak tadi duduk tenang, tiba-tiba melompat ke atas meja dan mengarahkan moncongnya ke sebuah foto lama yang terselip di dalam folder digital tersebut. Itu adalah foto buram dari sebuah jamuan makan malam rahasia di Zurich, tiga puluh tahun yang lalu. Di pojok foto, terlihat siluet seorang wanita yang memakai kebaya brokat hitam tradisional, membelakangi kamera.
"Tunggu, Mas! Kebaya itu..." Alana memperbesar gambar tersebut. "Itu motif parang rusak, tapi ada bordiran Phoenix kecil di pundaknya. Sama persis kayak motif di kotak perhiasan yang Ibu Larasati simpan!"
Pencarian pun dimulai. Alana tidak bisa duduk diam di panti asuhan sementara misteri baru membayangi ketenangannya. Ia menyeret Arkan untuk menemui ibunya, Larasati, yang kini tinggal di sebuah paviliun tersembunyi di pinggiran Jakarta.
Begitu mendengar nama Zainab, Larasati yang sedang menyeduh teh mendadak menjatuhkan cangkir porselennya. Prang!
"Bu? Ibu nggak apa-apa?" Alana buru-buru mendekat.
Wajah Larasati memucat. Ia menatap Alana dan Arkan dengan pandangan yang dipenuhi kecemasan. "Kalian... di mana kalian menemukan nama itu?"
"Di server 'The Board' di London, Bu. Siapa dia sebenarnya?" tanya Alana mendesak.
Larasati duduk dengan lemas, tangannya gemetar. "Zainab bukan nama orang, Alana. Zainab adalah sebuah janji. Dan sebuah kutukan."
Arkan mengerutkan kening. "Maksud Ibu?"
"Dulu, saat Kakek Waluyo membangun Arkananta, dia tidak sendirian. Ada tiga pilar utama. Waluyo sebagai otak bisnis, Adiwangsa—ayahmu, Arkan—sebagai pelaksana, dan ada satu wanita yang menjadi penyokong dana rahasia. Dia adalah penguasa pasar gelap di Asia Tenggara saat itu. Dia menggunakan nama samaran 'Zainab' sebagai penghormatan kepada ibunya yang seorang pejuang."
Larasati menarik napas dalam-dalam. "Tapi yang kalian temukan di server itu bukan wanita yang sama. Zainab yang asli sudah meninggal lama sekali. Jika nama itu muncul lagi, berarti ada pewarisnya yang sedang bergerak. Dan pewaris itu... biasanya adalah seseorang yang sangat dekat dengan lingkaran utama kita."
"Deket gimana, Bu? Jangan bilang kalau Zainab itu aku?!" celetuk Alana, mencoba mencairkan suasana yang mendadak mencekam.
"Bukan kamu, Alana. Tapi seseorang yang tahu persis tentang Dana Perwalian Global," Larasati menatap Arkan. "Arkan, apakah kamu ingat pengasuhmu dulu? Wanita yang merawatmu setelah ibumu dikabarkan meninggal? Wanita yang selalu memakai kebaya hitam?"
Mata Arkan membelalak. "Bi Inah?"
"Nama aslinya adalah Zainabun. Dia adalah adik dari penyokong dana Kakek Waluyo. Dia menghilang setelah Kakek mengirimnya kembali ke desa. Arkan, jika dia masih hidup, dia tahu setiap celah di sistem keamananmu karena dia yang membesarkanmu."
Malam itu juga, Arkan memerintahkan Ariel untuk melacak keberadaan "Bi Inah" atau Zainabun. Ternyata, jejaknya mengarah ke sebuah rumah tua di kawasan kota lama Semarang. Tanpa menunggu pagi, Arkan, Alana, dan tentu saja Mochi (yang bersikeras ikut) berangkat menggunakan jet pribadi ke Semarang.
Sesampainya di sebuah gang sempit yang diapit bangunan-bangunan kolonial, mereka menemukan sebuah rumah dengan pintu jati yang sudah kusam. Di atas pintu itu, tergantung sebuah sangkar burung yang kosong.
Alana mengetuk pintu tersebut. "Permisi... Bi Inah?"
Pintu terbuka perlahan, mengeluarkan suara derit yang panjang. Seorang wanita tua dengan rambut yang sudah memutih sepenuhnya namun tetap terlihat rapi berdiri di sana. Ia memakai kebaya hitam sederhana, persis seperti yang digambarkan Larasati.
Wanita itu menatap Arkan lama, lalu matanya berkaca-kaca. "Den Arkan... Den Arkan sudah besar sekali."
"Bi... ini benar Bi Inah?" Arkan melangkah maju, suaranya sedikit bergetar.
"Panggil saya Zainab, Den. Seperti yang diinginkan kakak saya," wanita itu tersenyum tipis, namun matanya beralih ke arah Alana, lalu turun ke arah Mochi. "Dan Nyonya Alana... selamat datang. Saya sudah menyiapkan teh untuk kalian. Saya tahu Dana Perwalian itu sudah aktif. Dan saya tahu, kalian butuh bantuan untuk melindunginya dari 'mereka'."
Di dalam rumah yang beraroma kayu cendana itu, Zainab menunjukkan sebuah brankas kecil yang tersembunyi di bawah lantai ubin. Di dalamnya terdapat tumpukan buku kas kuno dan beberapa perangkat penyimpanan data usang.
"Den Arkan, Kakek Waluyo itu serakah. Dia mengambil dana dari kakak saya tapi tidak pernah mengembalikannya. Dia pikir kakak saya sudah mati tanpa ahli waris. Tapi sebenarnya, dana itu terus berkembang di pasar gelap atas nama saya," Zainab menjelaskan sambil menuangkan teh. "Saya terus menyuntikkan dana ke 'The Board' selama bertahun-tahun bukan untuk menolong Waluyo, tapi untuk menjaga agar perusahaan tetap utuh sampai Den Arkan siap mengambil alih."
"Jadi selama ini Bibi yang jadi donatur misterius itu?" tanya Alana kagum. "Wah, Bi... Bibi ini beneran sugar mommy versi internasional ya!"
Zainab terkekeh. "Saya hanya menjaga amanah, Nyonya. Tapi sekarang, rahasia ini sudah tercium oleh Julian Black sebelum dia jatuh. Dia mengirim orang untuk mencari saya. Itulah sebabnya saya harus memalsukan kematian saya beberapa kali."
Zainab menatap Arkan dengan serius. "Den, Dana Perwalian itu memiliki satu celah yang sengaja dibuat oleh Kakek Waluyo. Jika dana itu tidak digunakan untuk transaksi sosial dalam waktu tiga bulan sejak aktif, dana itu akan ditarik kembali ke rekening induk 'The Board' yang kini dikuasai oleh faksi di London. Kalian harus segera melakukan penyaluran besar-besaran."
"Kami sedang mengusahakannya, Bi. Tapi kami masih terhambat oleh protokol nurani Pak Bambang," jawab Arkan.
"Pak Bambang?" Zainab tersenyum. "Bambang itu mantan murid saya di bidang enkripsi finansial. Katakan padanya, 'Mawar Hitam sudah mekar'. Dia akan memberikan akses penuh pada kalian."
Baru saja Alana hendak bersorak senang, tiba-tiba suara kaca pecah terdengar dari ruang depan.
Prang!
Beberapa bom asap dilemparkan ke dalam rumah. Asap hitam yang perih memenuhi ruangan dalam sekejap.
"Den, lari lewat pintu belakang! Mereka sudah menemukan tempat ini!" teriak Zainab sambil menarik sebuah tuas di dinding yang membuka jalan rahasia di balik lemari besar.
"Bi, ikut kami!" Alana menarik tangan Zainab.
"Tidak! Saya harus menghapus data di server lokal ini, atau mereka akan melacak seluruh aliran dana yayasan kalian!" Zainab mendorong mereka masuk ke jalan rahasia. "Pergi! Jaga Mochi! Dia adalah kunci terakhirnya!"
Arkan terpaksa menarik Alana masuk ke lorong gelap itu saat sekelompok pria bersenjata mulai mendobrak masuk. Alana hanya bisa melihat bayangan Zainab yang berdiri tegak di depan laptopnya sebelum pintu rahasia itu tertutup rapat.
Duar!
Ledakan kecil terdengar dari balik dinding. Zainab telah meledakkan servernya sendiri.
"BI INAH!" teriak Alana di dalam lorong yang gelap.
Mereka keluar di sebuah gudang tua di tepi pelabuhan Tanjung Mas. Ariel sudah menunggu di sana dengan mobil SUV hitam.
"Mas Ariel! Bi Inah di dalam! Kita harus balik!" seru Alana panik.
"Nggak bisa, Lana! Polisi dan orang-orang 'The Board' sudah mengepung area itu. Zainab sudah memperhitungkan ini," Ariel menarik mereka masuk ke mobil. "Kita harus segera ke Yogyakarta. Pesan dari Zainab soal 'Mawar Hitam' harus sampai ke Pak Bambang sekarang juga!"
Arkan terdiam di kursi depan, tangannya mengepal keras. Ia baru saja menemukan orang yang merawatnya di masa kecil, dan kini ia harus kehilangan lagi dalam sekejap.
"Mas..." Alana memegang tangan Arkan. "Bi Inah itu hebat. Dia pasti punya rencana cadangan. Sekarang, kita harus selesaikan misi ini demi dia."
Sesampainya di lereng Merapi kembali, mereka menemukan warung Pak Bambang sudah dikelilingi oleh garis polisi, namun Pak Bambang sendiri menghilang. Di sisa reruntuhan warung itu, tercoret sebuah simbol dengan cat semprot merah: Logo 'The Board' yang dicoret dengan tanda silang, dan di bawahnya tertulis sebuah angka koordinat.
Koordinat itu mengarah ke sebuah titik di tengah Laut Jawa.
"Lautan?" gumam Ariel sambil menatap GPS. "Julian Black pernah bilang dia punya markas terapung yang tidak bisa dilacak radar."
Alana menatap Mochi yang tiba-tiba berdiri di atas dasbor mobil. Mata emas kucing itu kembali bersinar, namun kali ini ia mengeluarkan suara seperti transmisi radio yang rusak. Dari mulut Mochi, terdengar suara rekaman Bi Inah (Zainab):
"Den Arkan... Jangan cari saya di daratan. Carilah 'The Heart of Zainab' di koordinat itu. Di sanalah seluruh bukti kejahatan Kakek Waluyo yang sebenarnya disimpan. Dan di sanalah, kalian akan bertemu dengan Raja yang sesungguhnya."
Alana menelan ludah. "Mas Arkan... kayaknya liburan kita ke Semarang ini bakal berubah jadi misi penyelamatan di tengah laut. Mas bisa nyetir kapal selam nggak?"
semoga Alana bisa melewati ini semua