NovelToon NovelToon
Identitas Tersembunyi Panglima

Identitas Tersembunyi Panglima

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Identitas Tersembunyi / Kehidupan Tentara / Perperangan / Keluarga / Raja Tentara/Dewa Perang
Popularitas:29.8k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Di mata keluarga besar Severe, Jay Ares hanyalah seorang menantu benalu. Tanpa harta, tanpa jabatan, dan hanya bekerja sebagai sopir taksi online. Ia kenyang menelan hinaan mertua dan cemoohan kakak ipar, bertahan hanya demi cintanya pada sang istri, Angeline.

Namun, tak ada yang tahu rahasia mengerikan di balik sikap tenangnya.

Jay Ares adalah "Panglima Zero" legenda hidup militer Negara Arvanta, satu-satunya manusia yang pernah mendapat gelar Dewa Perang sebelum memutuskan pensiun dan menghilang.

Ketika organisasi bayangan Black Sun mulai mengusik ketenangan kota dan nyawa Angeline terancam oleh konspirasi tingkat tinggi, "Sang Naga Tidur" terpaksa membuka matanya. Jay harus kembali terjun ke dunia yang ia tinggalkan: dunia darah, peluru, dan intrik kekuasaan.

Saat identitas aslinya terbongkar, seluruh Negara Arvanta akan guncang. Mereka yang pernah menghinanya akan berlutut, dan mereka yang mengusik keluarganya... akan rata dengan tanah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33: Permainan Papan dan Bayangan

Penthouse Akbar Ares. Pukul 20:00. Status: Zona Nyaman.

Alunan musik jazz instrumental (Miles Davis) mengalun lembut dari sistem audio yang tersembunyi di dinding. Di ruang tamu yang luas, Akbar dan Mia duduk berhadapan di depan sebuah papan catur marmer.

Di luar, kota sedang sekarat karena pemadaman listrik dan jam malam. Tapi di sini, lampu gantung kristal bersinar hangat, AC mendinginkan ruangan dengan sempurna, dan aroma teh Earl Grey memenuhi udara.

"Skak," kata Mia santai, memindahkan kudanya.

Akbar menatap papan catur itu dengan kening berkerut. "Tunggu sebentar. Bagaimana kudamu bisa sampai di sana? Tiga langkah yang lalu dia masih di sayap kiri."

"Kau terlalu sibuk melihat tabletmu," sindir Mia, menyesap tehnya. "Dalam catur dan hidup jika kau memalingkan wajah, kau kehilangan posisi."

Akbar tersenyum tipis, meletakkan tablet kerjanya (yang sebenarnya sedang memantau pergerakan pasukan Vostok).

"Kau curang, Nona Severe," tuduh Akbar main-main.

"Aku kreatif," koreksi Mia. "Jadi, kau menyerah?"

Akbar menghela napas, lalu memajukan rajanya. "Keluarga Ares tidak pernah menyerah. Kami hanya... melakukan penyesuaian strategi."

Tiba-tiba, sebuah notifikasi prioritas muncul di jam tangan pintar Akbar. Berkedip merah sekali, lalu mati.

Itu sinyal dari sistem pengawasan kota. Jay Ares telah memasuki Zona Merah di dekat Perpustakaan Kota. Dan patroli Red Wolves sedang bergerak menuju titik yang sama.

Ekspresi Akbar tidak berubah sedikit pun. Ia tetap tenang, namun otaknya terbelah dua. Satu sisi bermain catur dengan wanita yang ia sukai, sisi lain mengendalikan drone pembunuh di langit malam.

"Giliranmu, Mia," kata Akbar lembut.

Sementara Mia berpikir, tangan kiri Akbar di bawah meja mengetuk kode di ponselnya.

Perintah: Aktifkan Protokol Pengalihan Sektor 4. Ganggu komunikasi radio musuh.

"Kau terlihat tegang," komentar Mia tanpa melihat wajah Akbar.

"Hanya memikirkan nasib bisnisku," elak Akbar. "Lanjutkan langkahmu."

Perpustakaan Kota Langit Biru. Pukul 20:30. Misi: Pengambilan Paket.

Hujan mulai turun rintik-rintik, membasahi patung-patung gargoyle di atap gedung perpustakaan tua bergaya Gothic itu.

Jay mengenakan pakaian serba hitam dan masker taktis merayap di sepanjang talang air di lantai tiga. Ia bergerak tanpa suara, menyatu dengan bayangan malam.

Di bawah sana, di pelataran parkir belakang, dua kendaraan lapis baja Vostok sedang parkir. Empat tentara berjaga sambil merokok, senjata mereka tersandang santai.

Jay tidak berniat melawan mereka. Misinya adalah Ambil dan Lari.

Ia melompat turun ke balkon lantai dua, lalu mencongkel jendela ventilasi dengan pisau komandonya. Klik. Terbuka.

Jay menyelinap masuk.

Bagian dalam perpustakaan gelap gulita dan berbau buku tua. Jay menyalakan senter inframerah di bahunya sinar yang tak terlihat mata telanjang, hanya bisa dilihat lewat kacamata Night Vision nya.

Ia mengikuti koordinat GPS yang dikirimkan Jenderal Marco.

Target: Ruang Arsip Sejarah. Lantai Dasar.

Jay menuruni tangga darurat. Di ruang arsip, di antara rak-rak berisi koran tahun 1950-an, sebuah peti logam hitam berukuran besar tergeletak di sana. Tidak ada logo, tidak ada tulisan. Hanya lambang Kepresidenan yang terukir samar.

Jay memeriksa peti itu. Kunci biometrik.

Ia menempelkan ibu jarinya.

BEEP. Akses Diterima. Selamat datang, Zero.

Peti mendesis pelan saat terbuka.

Mata Jay berbinar melihat isinya. Presiden tidak main-main.

Di dalamnya tersusun rapi:

Senapan Penembak Jitu Taktis CheyTac M200 Intervention (Raja jarak jauh).

Body Armor Komposit Nanofiber (Ringan tapi tahan peluru kaliber tinggi).

Dua Pistol Taktis dengan Peredam Suara Integrasi.

Dan yang paling penting: Terminal Uplink Satelit Portabel.

"Terima kasih, Pak Presiden," bisik Jay.

Ia segera memindahkan peralatan itu ke dalam tas duffle besar yang ia bawa. Ia mengenakan Body Armor barunya di tempat. Rasanya pas, seperti kulit kedua.

Namun, saat Jay hendak keluar, suara kaca pecah terdengar dari lantai atas.

"Periksa semua lantai! Sensor gerak mendeteksi aktivitas!" teriakan dalam bahasa asing terdengar menggema.

Mereka tahu dia di sini.

Jay menyandang senapan CheyTac di punggungnya. Ia tidak bisa keluar lewat jalan masuk tadi. Ia terjebak.

Kembali ke Penthouse.

"Skakmat," kata Mia, memindahkan Ratu-nya.

Akbar menatap papan catur. Ia kalah. Benar-benar kalah. Pikirannya terlalu fokus pada Jay sehingga ia membiarkan pertahanannya di papan catur hancur.

"Kau menang," aku Akbar, mengangkat kedua tangan. "Kau wanita pertama yang mengalahkanku dalam sepuluh tahun terakhir."

"Mungkin karena kau terlalu meremehkanku," Mia tersenyum puas.

Di layar jam tangan Akbar, peringatan bahaya berkedip cepat.

[STATUS: TARGET JAY TERKEPUNG. 12 MUSUH. RASIO KEMENANGAN: 20%.]

Akbar berdiri. Ia berjalan menuju bar minuman, menuangkan segelas air untuk menutupi kegugupannya.

Ia harus melakukan sesuatu. Ia bisa mengirim drone untuk membantai 12 tentara itu. Tapi... salah satu drone nya mengalami kerusakan sistem navigasi. Jika ia menembak sekarang, ada risiko peluru nyasar menembus dinding perpustakaan dan memicu ledakan pipa gas.

Akbar melihat Mia yang sedang membereskan bidak catur. Wajah Mia terlihat damai.

Apakah aku akan mengotori tangan lagi? batin Akbar.

Ia membuat keputusan.

Akbar menekan tombol di balik meja bar.

Aktifkan Sistem Pemadam Kebakaran Perpustakaan. Level: Banjir.

Perpustakaan Kota.

Para tentara Vostok sudah mengepung pintu ruang arsip.

"Keluar! Atau kami lempar granat!" teriak komandan regu.

Jay berlindung di balik meja arsip baja, pistol di tangan, menghitung sisa peluru. Tujuh butir. Musuh dua belas. Matematika yang buruk.

Tiba-tiba...

WUUUUUUUNG!

Alarm kebakaran meraung memekakkan telinga.

BYAAAAR!

Ratusan sprinkler (penyemprot air) di langit-langit perpustakaan menyala serentak dengan tekanan tinggi. Bukan air biasa, tapi busa kimia pemadam api yang tebal dan berwarna putih.

Dalam hitungan detik, jarak pandang menjadi nol. Lantai menjadi licin. Para tentara Vostok panik, batuk-batuk, dan kehilangan orientasi.

"Apa ini?! Serangan gas?!" teriak mereka panik.

Jay tersenyum di balik maskernya. Siapa pun malaikat pelindungnya, dia punya selera humor yang basah.

Jay memanfaatkan kekacauan itu. Ia mengaktifkan visi termal di kacamatanya. Di tengah kabut busa putih, musuh-musuhnya terlihat seperti siluet merah yang menyala.

DOR. DOR.

Dua tembakan presisi ke kaki musuh terdekat. Bukan membunuh, hanya melumpuhkan agar mereka tidak bisa mengejar.

Jay berlari menabrak barisan musuh yang buta, melompati meja resepsionis, dan menendang pintu kaca darurat hingga pecah.

Ia melesat keluar ke tengah hujan malam, menghilang ke dalam gang gelap sebelum pasukan bantuan musuh tiba.

Bengkel Tua "Rusty Gears". Pukul 22:00.

Jay kembali dengan basah kuyup, tapi selamat. Tas besar berisi "Ghost Aid" ada di punggungnya.

Angeline, yang sedari tadi mondar-mandir cemas, langsung memeluknya begitu Jay masuk.

"Kau basah sekali! Apa kau berenang?" tanya Angeline, lalu matanya tertuju pada tas besar itu. "Dan... tas apa itu? Itu terlihat seperti tas militer."

Jay meletakkan tas itu di meja kerja. Ia membuka ritsletingnya sedikit, memperlihatkan kilau logam hitam senjata canggih di dalamnya.

Angeline mundur selangkah. "Jay... itu senjata. Senjata sungguhan. Bukan senapan berburu kakek."

Jay menatap istrinya. Sudah saatnya sedikit kejujuran, meski dibalut kebohongan baru.

"Ini dari pasar gelap, Angel," dusta Jay dengan wajah serius. "Aku menukar sisa emas batangan kakekmu dengan ini. Di luar sana sedang perang. Kita tidak bisa bertahan hanya dengan pisau dapur."

"Pasar gelap?" Angeline menatap Jay tak percaya. "Sejak kapan sopir sepertimu tahu cara bertransaksi di pasar gelap?"

"Sejak aku sadar bahwa hukum tidak lagi melindungi kita," jawab Jay diplomatis. "Malam ini, kita tidur. Besok... kita akan mulai menyusun rencana untuk merebut kembali hidup kita."

Jay mengeluarkan senapan penembak jitu CheyTac itu. Ia merakitnya dengan gerakan tangan yang begitu cepat dan ahli, gerakan yang mustahil dilakukan oleh seorang amatir.

Angeline melihat gerakan tangan itu. Kecurigaannya semakin menebal. Suaminya merakit senjata pembunuh jarak jauh seolah sedang merakit mainan Lego.

"Siapa kau sebenarnya, Jay?" batin Angeline. Tapi ia memilih diam. Untuk saat ini, keahlian misterius suaminya adalah satu-satunya hal yang menjaganya tetap bernapas.

Penthouse Akbar.

Mia sudah masuk ke kamarnya untuk tidur.

Akbar duduk sendirian di sofa, menatap layar tabletnya. Laporan masuk: Target Jay berhasil lolos. Nol korban jiwa di pihak musuh, hanya cedera.

Akbar menghela napas lega. Ia berhasil menyelamatkan Jay tanpa harus melakukan pembantaian massal malam ini.

Ia mengambil bidak Raja Hitam dari papan catur.

"Satu hari lagi kita bertahan, Jay," bisik Akbar. "Tapi besok... Victor Han tidak akan main-main lagi."

Di luar jendela, badai semakin besar. Kilat menyambar, menerangi wajah Akbar yang separuh terang, separuh gelap. Simbol sempurna dari hidup ganda yang ia jalani.

1
MyOne
Ⓜ️😡😡😡Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️🤬🤬🤬🤬Ⓜ️
Mamat Stone
/Determined/
Mamat Stone
/Angry/
Mamat Stone
☮️
Mamat Stone
☯️
Mamat Stone
🐲
Mamat Stone
😈
Mamat Stone
/Toasted/
Mamat Stone
/Gosh/
MyOne
Ⓜ️😵😵‍💫😵Ⓜ️
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
💥☮️💥
Mamat Stone
🔥☯️🔥
Mamat Stone
🐲💥
Mamat Stone
😈💥
Mamat Stone
/Cleaver/💥
Mamat Stone
👊💥
Hendra Saja
s makin menarik Thor 🔥🔥🔥🔥🔥🌹🌹🌹🌹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!