NovelToon NovelToon
Mahar Penebus Dosa Ayah

Mahar Penebus Dosa Ayah

Status: sedang berlangsung
Genre:Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Perjodohan / Nikahmuda / Balas Dendam
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

"Ayah, kenapa Nin dipakaikan baju pengantin? Nin kan besok mau ujian matematika..."

Kalimat polos Anindya (10 tahun) menjadi pisau yang menyayat hati Rahardian. Demi melunasi hutang nyawa dan harta pada keluarga kaya di kota, Rahardian terpaksa menjual masa depan putri tunggalnya.

Anindya dibawa pergi, meninggalkan bangku sekolah demi sebuah pernikahan dini yang tidak ia pahami.

Di rumah mewah Tuan Wijaya, Anindya bukanlah seorang menantu. Ia adalah pelayan, samsak kemarahan ibu mertua, dan mainan bagi suaminya yang sombong, Satria.

Namun, di balik tangisnya setiap malam, Anindya menyimpan sebuah janji. Ia akan terus belajar meski tanpa buku, dan ia akan bangkit meski kakinya dirantai tradisi.

Ini adalah kisah tentang seorang bocah yang dipaksa dewasa oleh keadaan, dan perjuangannya untuk kembali menjemput martabat yang telah digadaikan ayahnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31: Abu di Atas Aspal

Bab 31: Abu di Atas Aspal

Dunia terasa berputar terbalik bagi Anindya. Aroma bensin yang tajam menusuk hidung, bercampur dengan bau amis darah dan karet terbakar. Di dalam kabin SUV yang ringsek itu, kesunyian hanya dipecahkan oleh suara desis radiator yang bocor dan rintik hujan yang menghantam badan mobil. Anindya merasakan nyeri hebat di bahu kirinya, namun adrenalin yang membanjiri tubuhnya membuat rasa sakit itu terasa jauh.

Ia menoleh ke samping. Satria terkulai di atas setir dengan darah mengalir dari pelipisnya, napasnya berat dan tidak beraturan. Di kursi belakang, ayahnya—Pak Rahardian—tampak tidak sadarkan diri, namun Anindya masih bisa melihat pergerakan kecil di dadanya. Mereka masih hidup.

"Berikan tasnya, Nona! Cepat keluar atau kami bakar mobil ini!"

Suara bentakan dari luar membuat Anindya tersentak. Ia melihat bayangan tiga pria besar melalui kaca jendela yang retak seribu. Salah satu dari mereka memegang linggis, bersiap menghancurkan kaca untuk menariknya keluar.

Anindya tahu, jika ia menyerahkan tas itu, mereka bertiga akan berakhir di dasar jurang atau "dihilangkan" selamanya. Nyonya Lastri tidak akan membiarkan ada saksi yang tersisa setelah skandal ini meledak di media.

Tangannya meraba lantai mobil, menemukan tas ranselnya yang terasa berat. Di dalamnya bukan hanya ada dokumen, tapi ada harga diri ayahnya dan nyawa para buruh yang tewas tahun 2005. Anindya menarik sebuah botol parfum kaca berukuran besar—hadiah dari Satria yang dulu pernah ia tolak namun akhirnya ia bawa juga. Parfum itu mengandung alkohol kadar tinggi.

Dengan tangan gemetar, Anindya merobek kain dari jilbab atau syal yang ia kenakan, menyumbatkannya ke mulut botol parfum tersebut, lalu membasahinya.

Ia teringat teknik yang pernah ia baca di buku kimia perpustakaan sekolahnya dulu: sebuah bom molotov darurat.

"Aku tidak akan memberikan apa-apa!" teriak Anindya dari dalam.

Krakkk!

Kaca samping hancur berantakan. Sebuah tangan besar merogoh ke dalam, mencoba mencengkeram rambut Anindya. Dengan gerakan cepat, Anindya menyalakan korek api gas yang ia ambil dari saku jaketnya. Api kecil menyala, memantul di bola matanya yang penuh kemarahan.

"Mundur, atau kita semua terbakar di sini!" ancam Anindya.

Pria itu tertegun sesaat melihat api di tangan seorang gadis yang ia pikir sudah lumpuh ketakutan.

Namun, keserakahan atas imbalan dari keluarga Wijaya membuatnya nekat. Ia terus mencoba meraih tas itu.

Anindya tidak ragu lagi. Ia melemparkan botol parfum yang sudah menyala itu tepat ke arah pintu yang terbuka, di mana genangan bensin mulai mengalir keluar dari tangki mobil yang bocor.

BOOM!

Ledakan kecil terjadi. Api seketika menjilat udara, menciptakan dinding panas yang memisahkan mobil dengan para penyerang. Pria yang tadi mencoba menariknya berteriak kesakitan saat lengannya tersambar api. Mereka terpaksa mundur beberapa langkah karena panas yang luar biasa.

Anindya menggunakan momen itu untuk menendang pintu mobil dari dalam. Ia keluar dengan susah payah, menyeret tubuhnya yang memar. Ia harus mengeluarkan ayahnya. Dengan kekuatan yang entah datang dari mana, ia membuka pintu belakang dan menarik tubuh Pak Rahardian keluar, menjauhkannya dari mobil yang mulai terbakar.

"Ayah... Ayah bangun!" isak Anindya sambil menepuk pipi ayahnya di pinggir jalan yang gelap.

Pak Rahardian terbatuk, matanya terbuka sedikit.

"Nin... lari... lari..."

"Tidak, Yah. Kita pergi bersama."

Anindya kemudian berbalik melihat Satria. Mobil mulai mengeluarkan api dari bagian mesin. Satria masih terjepit. Anindya bimbang. Pria ini adalah putra dari musuhnya, namun pria ini juga yang baru saja melindunginya dari maut.

"Satria! Bangun!" Anindya kembali ke mobil yang panas, menarik bahu Satria.

"Tinggalkan aku, Nin..." gumam Satria lemah. "Ambil... ambil kunci loker di saku jaketku. Itu... bukti terakhir pembukuan Black Rose... bawa ke polisi..."

"Jangan jadi pahlawan sekarang, Satria! Aku butuh saksi hidup, bukan martir!"

Anindya menarik sabuk pengaman Satria yang macet. Dengan bantuan pecahan kaca, ia memotong tali sabuk itu. Tepat saat ia berhasil menarik Satria keluar dan menjauh sekitar sepuluh meter, mobil SUV itu meledak dengan suara menggelegar, mengirimkan bola api ke langit malam.

Para penyerang tadi, yang melihat target mereka masih hidup, mencoba mendekat lagi. Namun, suara sirine polisi mulai terdengar dari kejauhan. Ledakan mobil tadi rupanya menarik perhatian warga dan patroli jalan raya yang sedang melintas.

"Sial! Kita pergi!" teriak pemimpin preman itu. Mereka segera melompat ke mobil mereka dan melesat pergi, meninggalkan Anindya, ayahnya, dan Satria yang terkapar di pinggir jalan tol yang basah.

Anindya jatuh terduduk. Napasnya tersengal. Hujan mulai turun lebih deras, seolah ingin memadamkan api yang baru saja membakar segalanya. Ia memeluk tas ranselnya erat-erat.

Beberapa menit kemudian, beberapa mobil polisi dan ambulans berhenti di lokasi. Petugas medis segera berlari ke arah mereka.

"Nona, Anda tidak apa-apa?" tanya seorang petugas.

Anindya menatap petugas itu, lalu menatap kamera wartawan yang entah bagaimana sudah sampai di sana (kemungkinan besar karena Clarissa membocorkan rute perjalanan mereka ke media sebagai 'konten' eksklusif).

Anindya berdiri perlahan, meski kakinya pincang. Ia melepas maskernya, membiarkan wajahnya yang penuh luka dan jelaga terlihat jelas di depan kamera. Ia mengangkat dokumen dari tasnya yang sudah sedikit hangus di bagian pinggir.

"Nama saya Anindya Rahardian," ucapnya dengan suara yang bergetar namun lantang, menatap langsung ke lensa kamera. "Saya adalah pelayan yang mereka sebut pencuri. Dan hari ini, saya membawa bukti bahwa keluarga Wijaya bukan hanya koruptor, tapi mereka baru saja mencoba membunuh saya dan ayah saya di jalan ini. Jika saya mati setelah ini, kalian tahu siapa pelakunya!"

Pernyataan itu disiarkan secara langsung. Di rumah mewahnya, Nyonya Lastri yang sedang menonton televisi menjatuhkan gelas kristalnya hingga hancur berkeping-keping. Tuan Wijaya yang sedang diinterogasi di markas polisi seketika bungkam seribu bahasa saat melihat wajah Anindya memenuhi layar televisi di ruang penyidik.

Anindya akhirnya dimasukkan ke dalam ambulans bersama ayahnya. Satria dibawa ke ambulans yang berbeda dalam kondisi kritis. Di dalam perjalanan menuju rumah sakit, seorang polwan duduk di samping Anindya untuk mengambil keterangan awal.

"Anda sangat berani, Anindya," ucap polwan itu dengan nada kagum.

"Saya tidak berani, Bu," jawab Anindya sambil menatap jalanan yang basah. "Saya hanya sudah terlalu lelah untuk merasa takut."

Anindya meraba saku jaketnya, menemukan kunci loker yang diberikan Satria tadi.

Namun, ia juga tahu bahwa di bawah sana, di lubang yang paling gelap, musuh-musuhnya akan melakukan perlawanan terakhir. Pak Arman masih buron, dan Nyonya Lastri adalah wanita yang tidak akan menyerah sampai ia melihat dunia terbakar bersamanya.

"Kita belum selesai, Yah," bisik Anindya pada ayahnya yang sedang dipasangi oksigen. "Setelah ini, kita akan masuk ke pengadilan. Dan Nin akan pastikan, tidak ada satu pun dari mereka yang bisa lolos."

Malam itu, nama Anindya menjadi nama yang paling banyak dibicarakan di seluruh negeri. Sang Pelayan telah resmi menjadi Sang Pembawa Badai. Dan badai itu baru saja menghantam pintu depan istana keluarga Wijaya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!