Pernikahan kontrak atau karena tekanan keluarga. Mereka tinggal serumah tapi seperti orang asing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Pengakuan di Ambang Maut
Lorong rumah sakit itu terasa begitu panjang dan mencekam. Aroma disinfektan yang tajam menusuk hidung, memicu rasa mual di perutku yang sejak tadi enggan hilang. Aku duduk di atas kursi tunggu kayu yang keras dan dingin, mataku terpaku pada pintu ruang operasi dengan lampu merah yang masih menyala terang. Di dalam sana, tim dokter sedang berjuang menjahit kembali tubuh Mas Fikar yang hancur. Sementara di sini, aku mati-matian berjuang menyatukan kembali jiwaku yang sudah pecah berkeping-keping.
Tak jauh dariku, Ibu Sofia duduk dengan wajah yang tiba-tiba tampak sangat tua. Segala keangkuhannya luruh begitu saja, berganti dengan isak tangis yang terus-menerus memanggil nama putra tunggalnya. Sementara itu, Clara berdiri mematung di sudut ruangan. Wajahnya pucat pasi dan tangannya tidak berhenti gemetar hebat. Ia tidak lagi tampak seperti wanita pemenang yang sore tadi memamerkan perutnya di pesta. Saat ini, dia tak lebih dari seorang pencuri yang baru saja tertangkap basah.
Semua ini karena kamu, Kiki! Suara Ibu Sofia memecah kesunyian, namun kali ini nadanya lebih menyerupai rintihan putus asa daripada makian. Kalau saja kamu bisa menjadi istri yang penurut, Fikar tidak perlu merasa tertekan seperti ini!
Aku berdiri pelan. Rasa lelahku sudah mencapai puncaknya hingga rasa takut pun tak lagi tersisa. Aku melangkah mendekati Ibu Sofia dan Clara dengan tatapan dingin, mungkin setajam pisau bedah yang sedang menyayat tubuh suamiku di dalam sana.
Cukup, Bu, kataku lirih namun penuh penekanan. Ibu ingin menyalahkanku? Lihatlah wanita di sebelah Ibu ini. Dia yang memberikan hasil laboratorium palsu itu. Dia yang menyuap orang untuk memalsukan tes DNA. Dan Ibu, Ibu adalah orang yang membiarkan kebohongan itu tumbuh subur karena kebencian Ibu padaku jauh lebih besar daripada cinta Ibu pada anak sendiri.
Apa maksudmu? Clara benar-benar mengandung anak Fikar!
Dia memang mengandung, Bu. Tapi bukan anak Mas Fikar, aku menyentakkan map dokumen yang sudah kotor terkena noda darah dan lumpur ke pangkuan Ibu Sofia. Baca ini baik-baik. Mas Fikar tidak pernah menyentuh Clara. Dia dibius. Dan anak itu adalah hasil donor yang direncanakan Clara untuk menguras harta keluarga kita. Ibu hampir saja menyerahkan seluruh warisan Dirgantara kepada orang asing hanya karena ego Ibu yang setinggi langit.
Ibu Sofia gemetar hebat saat membuka map itu. Matanya menyusuri setiap baris dokumen asli yang berhasil didapatkan Pak Hendra. Wajahnya perlahan berubah, dari rasa tidak percaya menjadi kengerian yang murni. Ia menoleh ke arah Clara dengan tatapan yang seolah bisa membunuh detik itu juga.
Clara, apa ini benar? Suara Ibu Sofia bergetar, menuntut penjelasan.
Clara tidak menjawab. Ia justru mencoba berbalik untuk melarikan diri, namun langkahnya terhenti seketika. Dua orang petugas kepolisian yang dipanggil Pak Hendra sudah berdiri tegak di pintu masuk koridor.
Nona Clara, Anda kami amankan atas dugaan penipuan, pemerasan, dan percobaan penghilangan nyawa terkait sabotase rem mobil Bapak Fikar Dirgantara, ucap salah satu polisi dengan nada tegas.
Aku tertegun di tempat. Sabotase rem? Jadi kecelakaan itu bukan sekadar kelalaian sopir truk? Aku menatap Clara dengan rasa ngeri yang menjalar ke seluruh tubuh. Wanita itu menjerit histeris saat borgol logam melingkar di pergelangan tangannya.
Ini semua salah Fikar! Dia tidak pernah mau melihatku sedikit pun! Dia lebih memilih wanita miskin ini! teriak Clara sambil meronta-ronta saat diseret paksa pergi. Suara teriakannya menggema pilu di lorong rumah sakit, lalu perlahan menghilang, meninggalkan keheningan yang jauh lebih menyakitkan bagi kami yang tersisa.
Ibu Sofia luruh ke lantai, menangis meraung-raung sambil memeluk dokumen kotor itu. Ia akhirnya menyadari bahwa demi ambisinya, ia hampir membunuh darah dagingnya sendiri melalui tangan wanita ular yang selama ini ia puja.
Tiba-tiba, pintu ruang operasi terbuka. Seorang dokter keluar dengan masker yang sudah dilepas dari wajahnya yang tampak sangat lelah. Aku berlari menghampirinya dengan jantung yang berdegup begitu kencang hingga kepalaku terasa pening.
Bagaimana suami saya, Dok? tanyaku dengan suara yang hampir habis.
Dokter itu menghela napas panjang, sebuah pertanda yang membuat dadaku sesak. Masa kritisnya belum lewat sepenuhnya. Ada benturan hebat di kepalanya yang menyebabkan pendarahan internal. Beliau sekarang dalam keadaan koma. Kita hanya bisa menunggu dan berdoa. Jika dalam dua puluh empat jam ke depan tidak ada respon, saya harap keluarga bisa bersiap untuk kemungkinan terburuk.
Lututku lemas seketika. Aku jatuh terduduk di lantai yang dingin. Dunia seolah berhenti berputar di mataku. Di saat semua kebenaran sudah terungkap, di saat Clara sudah mendapatkan balasannya, Mas Fikar justru berada di ambang maut. Aku bahkan tidak sempat mengatakannya padanya bahwa aku memaafkannya. Aku tidak sempat memberitahunya bahwa aku sudah tahu dia tidak bersalah.
Aku merangkak mendekati pintu ruang ICU tempat Mas Fikar dipindahkan. Melalui kaca kecil yang bening, aku melihatnya terbaring tak berdaya dengan begitu banyak selang yang menempel di tubuhnya. Mesin ventilator berbunyi teratur, memaksakan napas masuk ke dalam paru-parunya yang lemah.
Mas, bangunlah, bisikku sambil menempelkan telapak tanganku di permukaan kaca yang dingin. Aku di sini. Jangan pergi sebelum kita menghapus kontrak itu dengan benar. Aku mencintaimu, Mas. Jangan biarkan aku sendirian di dunia yang kejam ini.
Air mataku jatuh tanpa henti, membasahi lantai rumah sakit yang kaku. Di belakangku, aku merasakan Ibu Sofia mencoba menyentuh bahuku, mungkin untuk meminta maaf atau mencari kekuatan, tapi aku tidak peduli. Perhatianku hanya tertuju pada pria di balik kaca itu. Sosok yang memulai pernikahan kami dengan sebuah transaksi dingin, namun kini seolah ingin mengakhirinya dengan sebuah tragedi yang jauh lebih pedih dari kematian itu sendiri.
aku kok bingung bacanya...
ntar giliran kewajiban nuntut, tp hak sbagai suami ga d jalankan.
ku doain semoga arini ketemu laki laki lain yang memperlakukan dia dgn baik, biar aris ini menyesal seumur hidup
Sedih
Tapi maaf sebelum nya, apa narasi nya ke copy dua kali🙏🙏 Soal nya ada bagian yg sama pas ngebahas perjanjian pernikahan mereka.