NovelToon NovelToon
Sabar Berujung Bahagia

Sabar Berujung Bahagia

Status: sedang berlangsung
Genre:Suami Tak Berguna / Wanita Karir / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Selingkuh / Janda
Popularitas:812
Nilai: 5
Nama Author: Sherly

Setiap luka punya masa jeda, dan setiap kesabaran punya batas indah yang telah dijanjikan.

Ini adalah kisah tentang perjalanan panjang yang penuh air mata, tentang bagaimana hati dipaksa bertahan di tengah badai yang memilukan. Kadang, hidup terasa begitu tidak adil saat kehilangan dan rasa sakit datang bertubi-tubi tanpa permisi. Namun, Yani dan Ratih membuktikan bahwa ketabahan bukan sekadar menunggu badai berlalu, melainkan tentang bagaimana tetap melangkah meski kaki terasa berat.

Di balik setiap tawa canggung dan momen manis di persimpangan jalan, tersimpan kenangan pahit yang pernah menguji logika dan perasaan. Namun, bagi mereka yang bersedia mendekap luka dengan keikhlasan, semesta selalu punya cara untuk menyembuhkannya. Sebuah narasi tentang perjuangan, keluarga, dan keajaiban yang tumbuh dari benih kesabaran yang paling pedih.

Ternyata, bahagia tidak pernah datang terlambat; ia hanya datang di waktu yang paling tepat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sherly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Luka di Balik Pintu Terkunci

Sebenarnya, rasa curigaku terhadap wanita yang berani mengangkat teleponku kemarin masih membekas kuat.

Pagi itu, sesaat setelah aku menyelesaikan salat Subuh, telingaku menangkap suara jendela yang dibuka paksa.

Aku sudah menduga bahwa itu adalah suamiku. Begitu ia berhasil masuk, aku segera membukakan pintu kamar.

Aku tersentak melihat kondisinya yang berantakan; pakaiannya kusut dan aroma alkohol tercium tajam dari badannya.

"Mas, kamu ini keterlaluan ya! Pergi dari kemarin sore dan baru pulang pagi buta begini. Kalau pulang bawa hasil sih tidak masalah, tapi ini? Kamu malah keluyuran tidak jelas!" omelku menahan perih.

Namun, Ahmad tidak menghiraukanku. Ia langsung meloyor masuk ke kamar, dan aku segera mengekorinya, menuntut penjelasan.

"Kenapa?! Aku cuma ingin minum sama temen-temenku! Memangnya masalah buatmu? Apa aku harus laporan dulu sama kamu setiap mau pergi?!" ucapnya dengan tatapan mata yang tajam dan mengancam.

"Kamu tanya kenapa? Mas, kamu itu sebentar lagi mau punya anak! Masak mau terus-terusan seperti ini? Mau sampai kapan, Mas?!" suaraku mulai meninggi. Aku sudah tidak sanggup lagi memendam emosi yang selama ini menyesakkan dada.

"Aku capek, Mas! Aku CAPEK! Tahu tidak sih?!" teriakku histeris sambil jatuh terduduk dan meringkuk di pojok pintu. Tangisku pecah seketika.

Namun, bukannya kata maaf atau pelukan yang kudapat, Ahmad justru melayangkan pukulan dan tamparan keras ke pipiku.

Aku seketika terdiam, membeku dalam ketakutan dan tidak berani melawan sedikit pun.

Inilah aku—wanita yang dijuluki penakut, pemalu, dan mudah ditindas. Bahkan untuk membela diri di depan suamiku sendiri pun, aku tak punya nyali.

Lagi-lagi pipiku yang menjadi sasaran kemarahannya hingga kini terasa panas dan memerah. Namun,

Ahmad seolah belum puas; ia menamparku berkali-kali sampai akhirnya ia sendiri merasa lelah dan jatuh tertidur.

Begitu merasa dia sudah terlelap, aku segera beranjak menuju kamar mandi. Hanya di ruangan kecil itulah aku bisa menemukan sedikit ketenangan.

Aku menangis sejadi-jadinya, meringkuk di pojokan sambil menahan sesak yang luar biasa. Saat waktu menunjukkan pukul lima pagi, aku segera menghapus air mata dan bergegas keluar sebelum mertuaku pulang dari musala.

Aku lekas masuk ke kamar dan mengunci pintunya rapat-rapat. Aku tidak peduli lagi jika nanti dicap sebagai menantu pemalas.

Sejujurnya, rasa sakit semalam membuatku ingin mengamuk, namun aku menahannya karena takut orang-orang justru akan menganggapku gila.

Pagi harinya, aku tetap menjalankan rutinitas berjalan kaki tanpa alas kaki. Katanya, ini bisa membantu mempermudah jalan lahir anakku nanti.

Setelah selesai, aku mencuci kaki di depan rumah agar bisa masuk ke kamar dalam kondisi bersih, lalu kembali merebahkan diri untuk mencari sisa-sisa kekuatan yang ada.

Aku enggan memasak karena kondisiku masih sangat lemah. Begitu melihat ada sebungkus mi di meja, aku segera memasaknya dan melahapnya sampai habis.

Aku tak lagi peduli pada laki-laki yang menjadi ayah dari janinku ini; aku sudah terlalu lelah dengan segala perdebatan yang tak ada habisnya.

"Ya Allah, aku ingin pisah saja. Aku sudah tidak tahan lagi," gumamku pelan, beruntung tak ada siapa pun yang mendengar.

Bayang-bayang kejadian kemarin kembali melintas di benakku, saat suamiku dengan teganya menyiramkan kotoran sampah ke kepalaku.

Dia seolah menganggap diriku hanyalah sampah yang sudah selayaknya dibuang.

Rasa benci itu tumbuh begitu dalam, memenuhi rongga dadaku. "Setelah kau renggut kesucianku, kini kau mau membuangku begitu saja?! Kau benar-benar keparat, Ahmad!" jeritku dalam hati.

Di matanya, apa pun yang kulakukan selalu salah. Tak pernah ada benarnya. Aku ingin sekali pulang ke rumah orang tuaku, namun ada rasa takut jika ia mengadangku di jalan dan memaksaku kembali.

Aku teringat dulu saat mencoba pulang naik angkot, dia justru mengadangku di gang desa hingga terjadi cekcok hebat di pinggir jalan.

Kali ini, aku tak boleh gagal. Aku memutuskan untuk menyelinap melalui pintu belakang rumah diam-diam.

Aku berjalan cepat menuju jalan raya untuk mencari angkot. Saat sedang menunggu, tak sengaja aku melihat adikku yang baru pulang sekolah.

Dengan panik, aku segera memalingkan badan ke arah utara agar tak terlihat. Jantungku berdegup kencang karena angkot yang kutunggu tak kunjung datang. Bahkan saat adik bungsunya lewat dan mengabaikanku, aku semakin gugup.

Akhirnya, sebuah angkot muncul. Aku segera naik sebelum suamiku sempat melihat keberadaanku.

"Alhamdulillah, untung angkotnya segera datang," batinku penuh syukur sambil menghela napas lega.

Karna menurut buku yang sering aku baca itu, Dalam Islam, tindakan seorang istri yang pulang ke rumah orang tuanya karena mengalami Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), terutama dalam kondisi hamil tua, adalah diperbolehkan dan bukan termasuk nusyuz (durhaka).

Berikut adalah penjelasannya menurut ajaran Islam:

Prioritas Keselamatan Diri: Meskipun pada dasarnya seorang istri tidak diperbolehkan meninggalkan rumah suami tanpa izin, para ulama sepakat bahwa kondisi darurat seperti kekhawatiran akan keselamatan fisik, akibat KDRT menjadi pengecualian yang membolehkan istri untuk pergi. Melindungi diri dan janin adalah prioritas utama.

KDRT adalah Haram: Suami yang melakukan KDRT hukumnya adalah haram dan dilarang keras dalam Islam, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur'an dan Hadis. Suami wajib memperlakukan istri dengan baik dan adil, memberinya nafkah, serta kasih sayang.

Tidak Berdosa.

Istri yang meninggalkan rumah karena menjadi korban KDRT tidak berdosa, karena ia melakukannya untuk menghindari kemudaratan (bahaya) yang menimpa dirinya.

Tempat Berlindung: Rumah orang tua adalah tempat berlindung yang sah dan aman bagi istri dalam situasi seperti ini.

Hak Gugat Cerai: Perilaku KDRT suami yang berulang dapat menjadi alasan yang sah bagi seorang istri untuk mengajukan gugat cerai (fasakh atau khulu) melalui pengadilan agama.

Nafkah Gugur Sementara: Konsekuensi dari istri yang meninggalkan rumah (meski karena alasan yang dibenarkan) dapat menyebabkan gugurnya kewajiban nafkah dari suami untuk sementara waktu, sampai keadaan kembali tenang atau ada putusan hukum, namun ini tidak menggugurkan tanggung jawab moral dan hak istri atas perlindungan.

Itulah setelah aku membaca semua kenyataan pahit ini. Aku berniat  kemungkinan nanti akan melayangkan gugatan cerai, segera setelah anakku lahir nanti.

Bagiku, jauh lebih baik tinggal bersama kedua orang tuaku; mereka pasti bisa menjamin perlindungan bagiku dan juga buah hatiku kelak.

Air mataku tumpah tak terbendung di dalam angkot yang membawaku pergi. Dengan tangan gemetar, aku segera menghubungi Bapak.

"Halo, Pak? Jemput aku di gang masuk rumah, ya," ucapku begitu panggilan tersambung, berusaha menahan isak tangis.

"Iya, oke," sahut Bapak dari seberang telepon dengan suara tenangnya yang menenangkan.

Dalam hidup berumah tangga seharusnya setiap pasangan dapat saling memberikan kenyamanan dan keamanan satu sama lain.

Tidak melakukan kekerasan yang mengakibatkan penderitaan, rasa takut, rasa sakit, dan trauma kepada korban baik itu secara fisik ataupun psikis.

Memang terkadang muncul kesalah pahaman dan perdebatan, tetapi hal itu seharusnya bisa dihadapi dengan kepala dingin. Bagaimana rumah tangga bisa harmonis jika setiap amarah harus dikeluarkan dalam bentuk tamparan, pukulan ataupun bentuk kekerasan lainnya.

(Aku melihat rasa sakitmu, dan itu tidak seharusnya terjadi. Kamu tidak pantas diperlakukan seperti ini. Semua bukan salahmu. Dan jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri, Kamu sudah berjuang, dan aku bangga padamu. Sekarang saatnya kita fokus pada penyembuhanmu. Perlakukan dirimu dengan lembut, maafkan dirimu sendiri karena kejadian ini.)

So kata-kata yang aku buat hari itu untuk diriku sendiri terutama, Buat mak mak yang diluar sana yang mungkin sedang berjuang untuk anaknya atau untuk rumah tangganya.

Bersambung....

1
WinnyLiam
👍🏻
Melsha: terimakasih
total 1 replies
Efan Taga
aku mampirrrr
Melsha: terimakasih udah mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!