NovelToon NovelToon
Menikah Dengan SEPUPU

Menikah Dengan SEPUPU

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi
Popularitas:14.3k
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Payang

Menikah dengan sepupu sendiri? Canggung pastinya, apalagi belum didasari rasa cinta.

Itulah yang dialami oleh Pandji Marthadipura, seorang abdi negara usia 36 tahun. Akibat ulah bedjat adik laki-lakinya, Panji terpaksa mengambil alih tanggung jawab menikahi adik sepupunya sendiri -- Melitha Lisana -- yang masih SMU, padahal dirinya sudah bertunangan dengan seorang dokter.

Tidak mudah memang. Pandji harus menghadapi kemarahan sang tunangan, sementara Melitha harus siap menghadapi sanksi sosial karena kehamilannya diluar nikah.

Mampukah keduanya menjalaninya? Akankah tumbuh cinta? Yuk, ikuti kisah mereka dalam Novel Menikah Dengan SEPUPU.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Payang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

9. Biaya Hidup Untuk Melitha

Tok. Tok. Tok.

Harry mengetuk pelan pintu kamar adiknya, menunggu beberapa saat sebelum pintu itu akhirnya dibuka.

"Mas mau lihat anak-anak?" ucapnya dengan nada lembut pada adiknya yang berdiri di ambang pintu.

Melitha mengangguk, lalu bergeser untuk memberi ruang pada kakaknya masuk. Ia menghindari kontak mata, tapi Harry tidak bisa tidak memperhatikan wajah adiknya yang masih sembab, tanda baru saja menangis.

Di sisi ranjang, Harry tersenyum kecil melihat putra-putrinya sudah tertidur pulas, menyisakan sedikit ruang di tepi pembaringan untuk sang bibi mereka.

Adri dan Naomi memang lebih dekat dengan Melitha dibandingkan pada Soraya, ibu kandung mereka.

Dari makan, mandi, belajar, dan bermain, Soraya sering menyerahkan tugas itu pada adik iparnya sehingga dirinya bisa punya banyak waktu berada di luar rumah.

Harry merangkak pelan di atas ranjang, agar pergerakannya tidak membangunkan dua malaikat kecilnya, mendaratkan kecupan selamat tidur bertubi-tubi di kedua pipi gembul mereka yang menggemaskan.

Setelah puas, Harry kembali turun, beralih pada adiknya yang berdiri di dekat meja belajar.

"Kalau belum mengantuk, Mas mau bicara sebentar," ucap Harry lagi dengan nada lembut yang sama seperti sebelumnya.

"Iya, Mas," Melitha mengangguk setuju. Ia duduk di kursi kecil yang biasa diduduki oleh dua keponakannya saat melihat kakaknya mengambil duduk di kursi meja belajarnya.

"Maafin Mbak-mu ya... juga Mas-mu ini... di sekolah tadi Mas sempat kasar saat tahu kabar kamu..." Harry tak sanggup melanjutkan kata-katanya. Dirinya saja merasa sakit, terlebih adiknya yang mengalami langsung.

"Nggak papa, Mas..." parau Melitha mengerti, berusaha tak mengambil hati, tatapannya sejak tadi jatuh ke lantai dingin di bawah kakinya.

"Ini tentang Pandji..." lanjut Harry lagi berhati-hati, ucapannya pelan, tapi terdengar jelas di kamar hening itu.

"Bagaimana pendapatmu tentang apa yang dia katakan tadi? Tentang lamarannya? Mas mau dengar," Harry memandangi adiknya yang kini mengangkat wajahnya.

"Kalau mas Har sendiri, bagaimana?" Melitha balik bertanya, merasa itu adalah langkahnya yang paling tepat saat ini sebelum mengungkapkan isi hatinya.

"Kedengarannya aneh, Pandji tiba-tiba selesai dengan Elok..." kening Harry berkerut tajam.

Sejak mendengar pernyataan adik sepupunya beberapa waktu lalu, ia masih belum bisa memecahkan teka-teki itu, hanya bisa menduga-duga, sebab beberapa kali pernah melihat tunangan adik sepupunya itu berbelanja ditemani seorang pria yang sama di mall dekat perusahaannya berkerja.

"Mas juga dengan jelas dengar saat bibi Harun siang tadi mengatakan Pandji sebentar lagi akan menikah," ucap Harry lagi, masih dengan raut heran.

Melitha yang menyimak ucapan kakaknya juga ingat perkataan bibinya itu siang tadi. Sama seperti kakaknya, ia juga merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh kakak sepupunya itu.

"Mas Pandji tidak mungkin memutuskan hubungannya dengan mbak Elok hanya karena tuntutan tanggung jawab mas Har siang tadi," ucap Melitha beropini.

"Mas juga rasa begitu, Mel..." putus Harry sependapat.

"Tapi... terlepas dari pembahasan kita barusan, karena itu adalah ranah pribadinya si Pandji, apa kamu bersedia bila dalam waktu tiga bulan yang Mas berikan padanya, Pandji masih tetap mau menikahimu?"

Harry memandangi Melitha yang terlihat sedang berfikir. Adiknya memang selalu berhati-hati berucap, terlebih bila itu menyangkut keputusan penting tentang masa depannya.

"Aku... Cukup tahu diri Mas," Melitha berucap lirih dengan suara pelan. "Siapa aku, bila disandingkan dengan mas Panji? Mbak Elok bisa menertawaiku bila tahu ini..."

"Dan apa yang telah menimpaku, bukanlah salahnya mas Pandji, sehingga dia harus bertanggung jawab..."

Pandangannya sayu, lurus menatap kakaknya.

"Selama ini aku sudah menjadi bebannya mas Har, dan sekarang malah membuat Mas dan mbak Raya merasa malu, tetangga kita juga pada tahu kalau aku..." Melitha spontan membekap mulutnya saat tangisnya mendadak ingin pecah.

Harry sigap mendekat, menarik tubuh mungil Melitha masuk dalam dekapannya. Ia dapat merasakan guncangan tubuh adiknya yang masih menahan tangis.

"Menangislah.... tidak perlu menahannya.... itu bisa membuatmu lega..." bisiknya.

"Kamu adiknya Mas yang memang harus Mas jaga, bukan beban," katanya lagi, masih berbisik, membelai lembut rambut sepunggung Melitha.

"Jangan masukan ke hati ucapan tak berfaedah Mbakmu tadi, dan jangan pernah berfikir pergi dari rumah ini, mengerti?" tekan Harry tegas, lalu memegang pundak Melitha. "Rumah ini punya kamu."

...***...

"Tapi jangan jadikan Melitha pelarianmu, dia sudah banyak menderita, Nak... Apa lagi dia adalah adik sepupumu, tidakkah kamu merasa canggung bersamanya?"

Panji terdiam, kenyataan dirinya dan Melitha adalah saudara sepupu tidaklah bisa ditepis begitu saja.

Drrt. Drrt. Drrt.

Pandji buru-buru meraih ponselnya yang bergetar dalam saku jaketnya. Begitu melihat siapa yang melakukan panggilan, jarinya dengan cekatan menggeser bulatan berwarna hijau itu.

📞"...."

📞"Segera meluncur," Pandji menyanggupi.

"Panggilan tugas?" terka bu Harun, sudah terbiasa pada pekerjaan yang diemban oleh putranya.

"Ya," sahut Pandji singkat, memasukan kembali ponselnya dalam saku jaket dan mengeluarkan dompet dari saku celananya.

"Ibu, aku titip ini buat kebutuhan Melitha," Pandji menyerahkan sekeping benda pipih pada ibunya.

"ATM?" ucap bu Harun menggenggam benda itu, rautnya penuh tanya menatap putranya.

"Ibu tak percaya ini... kamu bahkan sudah menyiapkannya. Apa tekadmu sudah bulat menikahi Melitha, heum?"

"Sebenarnya... itu tabungan yang telah aku siapkan untuk pernikahanku dengan Elok, Bu," jujurnya. "Pinnya nanti aku kirim via pesan."

"Mengenai Melitha, aku fikir kita wajib menanggung biaya hidupnya mulai sekarang, dia mengandung anak Celo. Mengenai pernikahan, mas Harry memberiku waktu tiga bulan untuk berfikir. Nanti kita bahas lagi, Bu. Aku sedang terburu-buru."

Setelah mencium pipi ibunya, Pandji gegas beranjak. Langkahnya terhenti begitu keluar kamar, hampir saja menabrak Celo yang baru menuruni anak tangga terakhir, hendak menuju dapur.

"Ma-maaf, Mas..." gugup Celo, tidak bisa menghindar lagi. Fikirnya, Pandji akan berlama-lama di kamar ibu mereka.

"Celo, ini sudah tahun ke-tujuhmu di universitas. Bila masih belum wisuda juga tahun ini, silahkan danai sendiri kuliahmu," tegas Pandji. Tanpa menunggu jawaban adiknya, ia segera berlalu dengan langkah setengah berlari menuju pintu.

"Heuuuh!" Celo memejamkan mata, tangannya terkepal kuat, sangat frustrasi, bila diingatkan tentang kuliahnya.

Menyusun skripsi bab satu saja tentang Pendahuluan sudah membuatnya pusing tujuh keliling.

Sekarang dosen yang terkenal killer di kampus malah jadi pembimbing utamanya, menuntut dirinya harus menyelesaikan bab Landasan Teori, Metode Penelitian, Hasil, dan Pembahasan akhir bulan ini, gara-gara sidang skripsi gelombang satu telah terlewatkan olehnya di bulan lalu.

"Kunci pintunya!" teriak Pandji, sebelum menutup pintu rumah peninggalan ayahnya itu.

"Iya!" Celo balas berteriak. Langkahnya tertatih menuju pintu, nyeri tubuhnya semakin terasa berdenyut.

Bersambung✍️

1
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
kyk acara transtv dl. dibawain ama si panda
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
sapose neh
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
laki2 tuh klo curhat begini y? harus ada perantara nya
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
sambil nyanyi aq bacanya
〈⎳ FT. Zira
kann kann kann.. bener kannn🤧
〈⎳ FT. Zira
pandji yg seorang perwira aja gini, apalagi Arya nanti yak🤭
〈⎳ FT. Zira
kakak adek nasib nnya gini amat... athor nya hahat...😭😭😭 harus ada ganti pokoknya
〈⎳ FT. Zira
main serong biar dapet doku gak sih ini🤧🤧
〈⎳ FT. Zira
wweehhh😳😳😳
〈⎳ FT. Zira
mau sekeras apa juga pada akhirnya runtuh juga
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°🇮🇩
kan Si jalan raya dengan tak Elok itu satu jenis bun🤔 sama2 murahan eh🤸🤸🤸
Teteh Lia
habis sudah kesabaran babang Harry
Teteh Lia
Oh ya ampuun... kejam sekali dirimu, masa suami suruh tidur di lantai.
sari. trg
atur dulu anakmu Bu
sari. trg
waduh! siapa tuh bapaknya?
Zenun
harusnya tanya dulu mengapa Hary bisa bicara gitu, ada bukti apa
Dewi Payang: Harusnya begitu memang.....
total 1 replies
🟢≛⃝⃕|ℙ$Fahira𝓛𝓲𝓷𝓰𝓧𝓲☕︎⃝❥
waduhhh... ternyata oh ternyata Raya berani sekali ya melakukan itu... ishhh ishhh ishhh...
Dewi Payang: Baiklah....😁😍
total 7 replies
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°🇮🇩
is is is ternyata jalang teriak jalang oy
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°🇮🇩: is is is... kok mirip elok ya🤭
total 2 replies
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
masih aja loh si ibu. gmn klo si harry yg selingkuh?! pasti kln nge reog
Dewi Payang: klo anak sendiri dimaklumi, kko menantu gak boleh salah🤭
total 1 replies
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
woaahhhh ortunya juga mau2 aja menampung
Dewi Payang: Wkwk😂😂 padahal maksud mengadu pengen ortu jadi penengah kalu bisa dibelain ya kak🙈🙈🙈🙈
total 6 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!