Geun hanya ingin cepat kaya dan hidup nyaman.
Tapi setiap kebohongan kecil dan pertarungan nekat demi uang justru melahirkan legenda baru.
Saat dunia bela diri mulai menyebutnya monster dan iblis, Geun sendiri hanya sibuk mencari kerja dengan bayaran tinggi.
Geun yang awalnya hanyalah pemuda gelandangan yang ingin hidup bebas dan nyaman, namun tanpa sadar meninggalkan jejak yang mengubah dunia bela diri selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Drunk Cats, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab #26: Rugi Bandar
"Naiklah, Saudara Geun. Kita harus segera keluar dari hutan ini sebelum kabut menebal lagi."
Geun dengan hati-hati memanjat punggung Mu-jin.
"Enak juga," batin Geun. "Punggung pendekar sangat stabil, hangat, dan gratis. Bau nya juga enak, bau uang."
Rombongan Wudang yang tersisa hanya Seo Yun-gyeom, Jang Min-seok, dan tiga murid junior lain yang selamat. Mereka mulai bergerak. Kuda-kuda mereka sudah menjadi tulang belulang. Kereta kuda ditinggalkan begitu saja. Mereka berjalan kaki dengan formasi yang rapat, pedang terhunus, membelah kabut sisa serangan tadi.
Hutan hening, terlalu hening.
"Dia sudah pergi, kan?" bisik Min-seok, matanya liar menyapu pepohonan.
"Serangganya sudah pergi," jawab Yun-gyeom waspada. "Tapi tuannya... entahlah. Orang seperti itu biasanya tidak melepaskan mangsa semudah itu."
Baru sepuluh langkah mereka berjalan, langkah Baek Mu-jin terhenti.
Tubuh Mu-jin menegang. Geun di punggungnya bisa merasakan otot punggung Mu-jin mengeras seperti batu.
"Turun, Saudara Geun," bisik Mu-jin pelan.
"Hah? Kenapa? Capek?"
"Bukan." Mu-jin menurunkan Geun perlahan ke dekat akar pohon besar. "Karena jalan di depan tertutup."
Geun mengintip dari balik punggung Mu-jin.
Di tengah jalan setapak yang sempit, sekitar sepuluh meter di depan mereka, berdiri sosok itu.
The Corpse Collector.
Dia tidak lagi bersembunyi di atas pohon. Dia berdiri tegak, menghalangi jalan keluar.
Kain jimat penutup wajahnya berkibar pelan. Keranjang bambu di punggungnya sudah tidak ada, mungkin ditinggal untuk meringankan beban.
Di tangannya, dia memegang sebuah tongkat kayu hitam yang ujungnya berbentuk tulang belakang manusia.
"Kupikir kau sudah pergi," kata Mu-jin dingin, tangan kanannya kembali mencabut pedang Jian.
"Memang," suara serak Corpse Collector terdengar geli. "Anak-anakku sudah kenyang makan kuda. Tugasku di sini selesai."
"Lalu kenapa menghalangi kami?"
Corpse Collector memiringkan kepalanya, menatap lurus ke arah Geun yang bersembunyi di belakang.
"Karena aku penasaran. Pemuda itu... dia bisa mematikan jantungnya. Itu trik yang manis. Tapi aku ingin tahu..."
Corpse Collector mengangkat tangan kirinya. Lengan bajunya yang longgar melorot, memperlihatkan lengan kurus yang dipenuhi lubang-lubang kecil mengerikan, lubang itu menjadi sarang bagi parasit Gu di dalam tubuhnya sendiri.
"...apakah dia bisa menahan racun Gu yang langsung disuntikkan ke darah?"
WUSH!
Tanpa aba-aba, Corpse Collector mengibaskan tangannya.
Bukan senjata tajam.
Tapi Jarum Tulang.
Puluhan jarum putih halus melesat dari lengan bajunya seperti hujan gerimis maut.
"Lindungi Geun!" teriak Mu-jin.
Mu-jin memutar pedangnya membentuk pusaran angin Taiji.
TING! TING! TING!
Jarum-jarum itu terpental.
Tapi Corpse Collector tidak berhenti. Dia menerjang maju.
Kecepatannya mengejutkan. Dia bukan tipe petarung fisik, tapi gerakan kakinya yang aneh terlihat seperti serangga yang merayap cepat di tanah.
Yun-gyeom dan Min-seok maju menyerang dari sisi kiri dan kanan.
"Hyaaah!"
Corpse Collector tidak menangkis. Dia hanya menggoyangkan bahunya.
Dari balik jubahnya, menyembur debu berwarna kuning.
"Tahan napas!" teriak Mu-jin.
Yun-gyeom dan Min-seok mundur terbatuk-batuk. Kulit wajah mereka yang terkena debu itu langsung melepuh merah.
"Racun korosif..." desis Yun-gyeom perih.
Sekarang tinggal Mu-jin vs Corpse Collector.
First Rate Wudang yang masih luka dalam vs Gu Master spesialis jarak jauh.
Pertarungan itu tidak seimbang.
Mu-jin unggul dalam tenaga dan teknik pedang. Tapi dia tidak bisa mendekat.
Setiap kali Mu-jin mau menebas, Corpse Collector melepaskan sesuatu yang baru seperti kelabang terbang, pasir beracun, atau jarum bius.
Mu-jin terdesak mundur, napasnya mulai berat. Racun di udara mulai mempengaruhi paru-parunya yang luka.
Geun melihat semua itu dari balik akar pohon.
Dia aman untuk sementara, tapi dia tahu ini buruk.
Kalau Mu-jin kalah, dia habis.
Mata Geun, yang selalu aktif, menganalisis musuh.
Di mata Geun, tubuh Corpse Collector adalah jaringan energi yang aneh.
Energinya berwarna hijau lumut, berpusat di perut, tapi menyebar ke seluruh tubuh lewat kabel-kabel parasit.
Tapi ada satu titik yang mencolok.
Di pinggang kanan Corpse Collector.
Ada sebuah kantung kulit kecil yang bersinar ungu pekat.
Energi di dalam kantung itu sangat padat, berdenyut seperti jantung kedua. Dan setiap kali Corpse Collector mengeluarkan racun atau jarum, aliran energinya selalu terhubung sesaat ke kantung itu.
"Itu mungkin pusatnya," sadar Geun. "Itu bukan kantung duit. Itu kantung induk untuk sesuatu yang mereka sebut Gu itu. Atau mungkin sumber racunnya?"
Geun melihat Mu-jin mulai goyah. Lutut Mu-jin gemetar.
Corpse Collector menyeringai di balik kain jimatnya, siap melepaskan serangan terakhir. Sebuah tabung bambu diarahkan ke leher Mu-jin.
"Mati kau, Pendekar Suci."
Geun panik.
Dia tidak punya senjata. Linggisnya ditinggalkan di kereta karena berat.
Dia tidak bisa pakai energi internal karena tubuhnya masih trauma.
Dia cuma punya tangan kosong dan... uang di sakunya.
Tangan Geun meraba saku celananya.
Dia memegang sesuatu yang bulat, pipih, dan berat.
Satu Keping Tael Perak.
Otak gembelnya berteriak, "JANGAN! ITU DUIT! ITU TIKET RUMAH BORDIL KELAS ATAS!"
Tapi otak logisnya membantah, "Kalau Mu-jin mati, semua duitmu diambil dia!"
Geun menggertakkan gigi.
Dia berdiri sedikit.
Dia tidak menggunakan teknik lempar pisau seperti Klan Tang. Dia juga tidak menggunakan Qi.
Dia menggunakan gerakan Melempar Batu ke Anjing.
Dia menarik bahunya ke belakang, mengontraksikan otot-ototnya, lalu mengayunkan lengannya dengan sepenuh tenaga.
"MAKAN NIH SEDEKAH!"
WUSS!
Keping perak itu melayang di udara, dan berputar cepat.
Bukan lemparan yang elegan. Tapi lemparan yang penuh kebencian karena kehilangan uang.
Corpse Collector sedang fokus membidik Mu-jin. Dia merasakan ada benda melayang, tapi dia meremehkannya.
"Tidak ada energi. Cuma batu kerikil?" pikirnya, mengabaikan proyektil itu.
Kesalahan fatal.
Batu kerikil tidak sekeras perak tempaan.
PLETAK!l!
Keping perak itu menghantam tepat di sasaran.
Bukan kepala.
Tapi Kantung Ungu di pinggang Corpse Collector.
Isi kantung itu yang ternyata adalah toples kaca tipis berisi Queen Gu, pecah berantakan.
PRANG!
Cairan ungu dan serbuk sari beracun meledak di pinggang Corpse Collector.
"ARGHHH!!!"
Collector menjerit. Bukan karena sakit pukulan, tapi karena efek racunnya sendiri.
Induk Gu yang pecah melepaskan feromon Bahaya yang membuat semua parasit di tubuh Corpse Collector menjadi gila.
Cacing-cacing di bawah kulit lengannya mulai menggeliat liar, menggigit tuannya sendiri.
Kelabang yang dia simpan di balik baju mulai menyengat kulit perutnya.
"Apa?! Gu-ku memberontak!"
Corpse Collector jatuh berlutut, mencakar-cakar tubuhnya sendiri yang mulai membengkak ungu.
Dia menatap Geun dengan tatapan tidak percaya.
"Kau... kau mengincar Induk Gu?!"
Geun berdiri dengan napas terengah, tangannya masih menjulur ke depan, pose melempar.
Wajahnya pucat, tapi matanya menatap keping perak yang jatuh di tanah yang kini meleleh kena racun.
"Perakku..." bisik Geun pilu. "Meleleh..."
Baek Mu-jin tidak menyia-nyiakan kesempatan.
"Sekarang!"
Mu-jin menerjang maju, pedangnya menebas ke arah leher Corpse Collector.
Tapi Corpse Collector yang masih seorang First Rate, meski kesakitan, dia melempar bola asap ke tanah.
BOOM!
Asap hitam pekat menutupi pandangan.
Saat asap menipis, Corpse Collector sudah hilang. Hanya tersisa jejak darah ungu dan potongan kain jubahnya yang terbakar racun.
"Dia kabur," kata Yun-gyeom, terbatuk.
Mu-jin segera menyegel titik darahnya sendiri untuk menahan sisa racun di tubuh, lalu berbalik menatap Geun.
"Saudara Geun," kata Mu-jin takjub. "Lemparan itu... Akurasi tanpa energi sama sekali. Kau melihat titik lemahnya di tengah kekacauan?"
Geun masih menatap tanah tempat peraknya meleleh.
Hatinya hancur.
Satu tael perak. Hilang begitu saja. Demi menyelamatkan nyawa orang-orang ini.
"Saudara Geun?" panggil Mu-jin lagi.
Geun menoleh pelan. Matanya berkaca-kaca yang dikira Mu-jin karena haru, padahal karena rugi.
"Ayo pergi," kata Geun lemas. "Jangan tanya apa-apa. Hatiku sakit."
Mu-jin mengangguk hormat. Dia mengira Geun sedang mengalami kelelahan mental pasca-pertarungan.
"Baik. Naiklah lagi. Kita tidak boleh berhenti sampai Balai Penjaga."
Mu-jin kembali menggendong Geun.
Rombongan Wudang melanjutkan perjalanan dengan sisa tenaga terakhir.
Di punggung Mu-jin, Geun diam-diam mencatat di buku utang pikirannya.
"Hutang Wudang: Nyawa + 1 Tael Perak. Awas kalau nggak diganti."
Dan jauh di dalam hutan, The Corpse Collector berlari terpincang-pincang sambil menahan sakit, membawa dendam baru dan laporan penting untuk tuannya.