Tanda tangani ini, dan semua hutangmu dianggap lunas," ucap Minghua Zhang sambil melemparkan kontrak pernikahan ke atas meja yang penuh puntung rokok. Chen Song menatap angka di kertas itu, lalu menatap wajah dingin Luna di pojok ruangan. Baginya, ini bukan pernikahan, ini adalah tiket keluar dari neraka—yang tanpa ia sadari, justru akan membawanya ke neraka jenis baru.
Chen Song adalah seorang pria dari kelas menengah ke bawah yang memiliki kecanduan judi yang parah. Dalam sebuah permainan berisiko tinggi di kasino bawah tanah, ia kehilangan segalanya. Ternyata, lawan mainnya adalah seorang kolektor hutang kejam yang bekerja untuk relasi bisnis keluarga Zhang. Chen Song berhutang dalam jumlah yang mustahil ia bayar miliaran yuan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon richard ariadi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pengaturan keluarga zhang
Matahari terbenam di ufuk barat, membiaskan warna jingga kemerahan yang memantul di permukaan laut Gou Cheng yang tenang. Di atas balkon gedung tertinggi milik Eternal abadi Group, Chen Song dan Luna Zhang berdiri berdampingan, merasakan semilir angin laut yang membawa aroma garam dan kebebasan.
(Menyandarkan kepalanya di bahu Chen Song)
"Lihatlah kota ini, Song. Begitu bising, namun sekarang terasa begitu jauh. Ayah dan ibu sudah menerima mandatnya. Mereka akan menjaga warisan ini di dunia sekuler. Perusahaan, politik, dan harta... biarlah itu menjadi urusan mereka."
Chen Song
(Menatap laut lepas dengan mata yang kini menyimpan kilat energi es dan misteri)
"Dunia ini terlalu kecil untuk kita sekarang, Luna. Kekuatan yang kuterima dari Leluhur Mei Song hanyalah permukaan. Song Yan dan para pengkhianat di Pulau Rahasia tidak akan berhenti. Jika kita tetap di sini, kita hanya akan membawa kehancuran bagi ayahmu."
Luna Zhang
"Benar. Dunia sekuler biarlah mereka yang mengendalikan. Kita akan melangkah ke tempat yang tidak bisa dijangkau oleh radar Presiden Bo Fakyu atau sensor Asosiasi. Dunia rahasia yang tersebar ini... di sanalah takdir kita yang sebenarnya berada."
"Apakah kau takut? Perjalanan ini akan jauh lebih berbahaya daripada menghadapi seribu Fei Kang. Kita akan memasuki makam-makam yang berisi sisa-sisa kemarahan para leluhur klan Song."
Luna Zhang
(Tersenyum manis, namun tatapannya penuh tekad)
"Selama aku bersamamu, tidak ada dunia yang terlalu gelap. Teratai Es Unguku akan selalu mekar untuk melindungimu, suamiku. Mari kita cari 29 leluhur lainnya. Mari kita ambil kembali apa yang seharusnya menjadi milikmu."
Chen Song
(Menggenggam erat tangan Luna)
"Mulai detik ini, nama Chen Song dan Luna Zhang akan menjadi legenda yang hanya dibisikkan oleh angin. Dunia sekuler telah selesai bagi kita. Pengembaraan... dimulai."
Tanpa menoleh lagi ke arah kemewahan kantor mereka, keduanya melompat turun dari balkon. Namun, bukannya jatuh, tubuh mereka diselimuti oleh kabut es tipis yang perlahan menghilang di udara.
Di Kantor Bawa
Tuan Zhang dan Minghua berdiri menatap langit dari jendela besar. Mereka melihat dua bayangan melesat cepat menuju samudra luas sebelum akhirnya lenyap di balik cakrawala senja.
"Semoga dewa memberkati perjalanan kalian," bisik Tuan Zhang dengan bangga.
Keadilan telah ditegakkan dengan cara yang paling puitis namun brutal. Sementara Luna Zhang dan Chen Song memulai pengembaraan mereka menuju dunia rahasia, sisa-sisa Keluarga Zhang yang dulu berkhianat dan sombong kini harus merasakan pahitnya hidup di dasar rantai makanan.
Di dalam sel isolasi Penjara Pusat Sektor 9, keheningan malam pecah oleh langkah kaki algojo. Tanpa pengadilan publik, tanpa penghormatan, William Zhang dan David dieksekusi atas perintah langsung untuk membersihkan noda pada nama besar keluarga. Mereka yang dulu bermimpi menguasai takhta, kini hanya menjadi catatan kaki yang dihapus dari sejarah.
Atas perintah Tuan Zhang yang kini kembali berkuasa, anggota keluarga yang tersisa tidak dibunuh, melainkan dikirim ke Tambang Batu Bara Hitam di wilayah terpencil perbatasan—tempat yang begitu jauh sehingga hukum negara pun jarang terdengar di sana.
Tibet Zhang
Pengawas Tambang
Harus memastikan kuota harian terpenuhi di bawah ancaman cambuk militer.
Istri Tibet
Penjaga Rumah Dinas
Hidup di rumah kayu sederhana tanpa listrik, mengurus kebutuhan buruh.
Carren
Kuli Angkut
Menenteng keranjang batu bara seberat 50kg setiap hari, kecantikannya memudar oleh debu hitam.
Monica
Kuli Angkut
Tangan yang dulu hanya menyentuh sutra, kini pecah-pecah karena memecah batu.
Suara dentuman palu godam bersahutan dengan batuk kering para pekerja. Carren terduduk lemas di tanah, wajahnya yang penuh jelaga tak lagi bisa dikenali.
Carren
(Sambil menangis tersedu)
"Kenapa kita tidak dibunuh saja bersama William? Ini lebih buruk dari kematian... Aku tidak kuat lagi memikul batu ini, Monica."
Monica
(Matanya kosong, kulitnya terbakar matahari dia ingat waktu bersama chen song dulu begitu indah dan tanpa paksaan, andai dulu aku terus dipihak chen song walaupun mengadaikan tubuhku kepadanya aku rela")
carren membentak"
"Diamlah dan jalan terus. Kau lihat Tibet? Dia pengawas, tapi jika kita tidak bekerja, dia yang akan dipukul oleh para penjaga. Kita bukan lagi keluarga Zhang yang terhormat... kita hanyalah budak dari dosa-dosa kita sendiri."
Tibet Zhang
(Berteriak dari atas menara kayu, suaranya parau)
"Cepat jalan! Jangan berhenti! Jika kalian malas, malam ini kita semua tidak makan! Ingat, ini adalah amnesti dari Luna. Kita hidup hanya karena belas kasihannya!"
Di kejauhan, di atas tebing yang menghadap tambang tersebut, Minghua berdiri sebentar untuk memastikan perintah eksekusi dan pembuangan telah dijalankan dengan sempurna. Ia membuang sebuah lencana keluarga Zhang yang lama ke dalam kawah tambang.
Minghua: "Dunia lama telah terkubur di bawah tumpukan batu hitam ini. Sekarang, saatnya membangun masa depan yang bersih untuk Chen dan Luna." tapi aku jadi
kangen masa-masa bersama chen song ahh...." chen song kembali lah.