NovelToon NovelToon
Pak Polisi Penyembuh Luka

Pak Polisi Penyembuh Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Trauma masa lalu
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mumu.ai

Follow fb : mumuyaa
ig : @tulisanmumu

Zaidan tidak tahu, apakah ini cinta pada pandangan pertama, atau hanya rasa kasihan hingga rasa ingin melindungi saja karena dirinya yang merupakan seorang polisi. Namun yang ia tahu, ia ingin melindungi wanita itu.

“Saya berjanji. Saya akan pastikan pria bajingan ini pasti akan menerima hukuman yang berat. Dia tidak akan pernah lolos, tidak akan pernah merasakan dunia luar lagi. Jadi… jangan buat hati ibumu patah lagi."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mumu.ai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PPPL 9

Waktu tempuh yang seharusnya hanya dua puluh menit, kini berubah menjadi hampir tiga puluh lima menit yang dibutuhkan Zahra untuk sampai ke kantor polisi. Sepanjang perjalanan, ia mengendarai motor matic tuanya dengan kecepatan sangat pelan. Kepalanya masih terasa berdenyut, seolah ada sesuatu yang terus menekan dari dalam.

Sesampainya di sana, Zahra memarkirkan motornya di tempat yang seharusnya. Terik matahari siang menyambut langkahnya, membuat pusing di kepalanya semakin menjadi. Ia tetap berjalan masuk ke dalam gedung, memaksakan diri meski keringat dingin mulai mengalir di pelipis.

Baru beberapa langkah dari pintu masuk, Zahra menghentikan langkahnya.

Ia menepi, menempelkan telapak tangan ke dinding sebagai tumpuan. Pandangannya berkunang-kunang. Perubahan cahaya dari luar ke dalam gedung terasa begitu menusuk matanya.

Dadanya naik turun tak beraturan. Napasnya mulai tersengal, pendek-pendek, seolah paru-parunya tak lagi sanggup menampung udara.

“Aku… nggak kuat lagi,” gumamnya lirih.

Tubuhnya terasa ringan, terlalu ringan untuk bisa berdiri tegak. Kaki-kakinya melemah, tak sanggup lagi menopang beban tubuhnya sendiri. Pandangannya perlahan menghitam.

Dalam detik-detik terakhir sebelum kesadarannya benar-benar menghilang, Zahra sempat berpikir jika ia akan kembali terjatuh ke lantai.

Namun kenyataan berkata lain.

Seseorang menangkap tubuhnya.

Ada sentuhan yang menahan bahunya dan lengan yang melingkari tubuhnya agar tidak ambruk. Dan di antara kesadarannya yang memudar, Zahra mencium aroma tubuh yang terasa… familiar.

Sebelum ia tahu itu siapa, kesadarannya pun akhirnya hilang.

*

*

*

Zahra perlahan membuka matanya.

Lagi-lagi pemandangan yang sama menyambutnya. Dinding putih bersih dan tirai berwarna krem yang menjuntai di samping ranjang. Pencahayaan lampu yang terlalu terang membuat kepalanya kembali berdenyut pelan.

Ia menghela napas lirih.

Zahra sepertinya tahu betul sedang berada di mana. Kemarin dan hari ini dirinya selalu berakhir dengan berbaring di tempat seperti ini. Rasa tidak enak langsung menyelinap di dadanya. Lagi-lagi… ia merepotkan orang lain.

“Sudah bangun?”

Suara itu membuat Zahra menoleh pelan.

Seorang pria berdiri di ujung ranjangnya. Berdiri dengan tegap, berpakaian rapi, dan dengan ekspresi tenang yang sejak awal selalu sama. Zaidan.

“Maaf… saya merepotkan Bapak lagi,” ucap Zahra lirih, nyaris tak terdengar.

“Bukan masalah besar,” jawab Zaidan santai. “Untung saya ada di sana tadi. Kalau tidak, tubuhmu sudah menabrak pintu kaca.”

Zahra terdiam. Ucapan itu membuatnya merinding tipis. Tidak bisa ia bayangkan jika dirinya beneran berakhir dengan menabrak pintu kaca itu. Akankah pintunya pecah dan tubuhnya akan penuh luka akibat pecahan kaca itu? Entahlah dirinya tidak bisa membayangkannya.

Ia mengangkat tangan kanannya sedikit, lalu mengernyit ketika merasakan sesuatu menempel di punggung tangannya. Selang bening dengan cairan yang menetes perlahan.

Infus.

“Demam kamu tinggi,” ujar Zaidan, seolah membaca kebingungan Zahra. “Tiga puluh sembilan derajat. Tensi kamu juga sempat turun. Jadi langsung dipasang infus dan dimasukkan obat.”

Zahra menelan ludah. Kepalanya masih terasa berat, seakan dipukul dari dalam. Ia memilih diam, tidak tahu harus berkata apa.

“Kalau memang sakit, kamu nggak perlu datang ke kantor,” lanjut Zaidan. “Bilang saja ke penyidik yang menghubungi kamu.”

“Saya pikir… saya wajib datang, Pak,” jawab Zahra pelan, hampir seperti bisikan.

“Nggak wajib kalau kondisi kamu memang nggak memungkinkan,” sahut Zaidan tegas, tapi tidak keras. “Dan selama alasannya kuat, bukan dibuat-buat.”

Zahra kembali terdiam. Ia memejamkan mata sesaat, menahan denyut yang semakin terasa di kepalanya. Namun ada satu hal yang terus mengganjal pikirannya.

“Saya… nggak harus dirawat, ‘kan, Pak?” tanyanya ragu.

Zaidan terdiam sejenak, tampak berpikir.

Dan justru jeda singkat itu yang membuat jantung Zahra berdetak lebih cepat.

Melihat ekspresi cemas di wajah Zahra, sudut bibir Zaidan terangkat tipis. Hampir seperti senyum yang ditahan.

“Saya nggak tahu, Zahra,” ujarnya jujur. “Saya bukan dokternya.”

Zahra menghela napas pelan, jelas tidak puas dengan jawaban itu.

“Nanti saya tanyakan ke dokternya,” lanjut Zaidan. “Yang penting sekarang kamu istirahat dulu di sini. Setidaknya sampai cairan infusnya habis.”

Zahra mengangguk lemah.

“Sebelum kamu nanya,” tambah Zaidan sambil melirik jam tangannya, “kamu sekarang di Klinik Polda. Saya balik ke kantor dulu. Kalau ada apa-apa, hubungi saya.”

Zaidan lalu berbalik dan melangkah keluar, meninggalkan Zahra kembali sendiri di bilik kecil itu. Dari luar, samar-samar terdengar suara orang lalu-lalang, riuh khas klinik. Namun anehnya, Zahra justru merasa sepi.

Beberapa detik kemudian, telinganya menangkap suara Zaidan berbincang dengan seseorang di luar.

“Saya titip dia ya, Buk.”

Entah kenapa, kalimat singkat itu membuat dada Zahra terasa hangat sekaligus sesak. Ia menggeleng pelan, berusaha mengusir pikiran aneh yang mulai muncul.

“Pasti cuma… kasihan sama aku,” gumamnya lirih.

Tak ingin pikirannya melayang ke mana-mana, Zahra kembali memejamkan mata, mencoba memaksakan diri untuk tidur.

Sementara itu, Zaidan yang baru saja duduk di kursi ruangannya mendadak tertegun. Ia menepuk dahinya pelan.

“Lah… dia ‘kan nggak punya nomor aku,” gumamnya. “Terus nanti gimana caranya dia hubungi aku?”

Zaidan bersandar di kursinya, menatap langit-langit ruangan, dengan perasaan yang entah sejak kapan mulai terasa berbeda.

Ia pegang dadanya yang berdetak cepat itu.

“Kenapa debarannya kuat banget, ya? Nggak mungkin aku sakit jantung, ‘kan? Aku masih muda, nggak merokok juga, masa iya kena penyakit jantung?” gumamnya.

Pandangannya masih melayang ke atas langit-langit ruangannya. Kini dirinya gelisah dengan segala prasangkanya.

“Aku ke Kak Yumna aja nanti buat memastikan,” putusnya yakin.

*****

Iya Zaidan kamu kena sakit jantung itu, stadium tinggi. Bukan karena rokok, tapi karena cewek 🤣🤣 makanya dulu sekolahnya jangan STM biar bisa pacaran 🤣🤣🤣

1
NNPAPALE🦈🦈🦈🦈
siaaaaaappp aku lempar....
NNPAPALE🦈🦈🦈🦈
🤣🤣🤣🤣🤣 ini ceritanya si naira cibta pertama nya bukan rian tapi zaidan... kayak anak aku yg cowok lebih milih bu lek nya ketimbang aku ibu nya... kalo aku aku jambak rambut adekku,,, anakku jambak rambutku...🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
mumu: ogah ogahan sama orangtuanya ya 🤭🤭🤣🤣🤣
total 1 replies
NNPAPALE🦈🦈🦈🦈
ya allah setiap anakku ada lagu itu langsung tak skip,,, muak kali aku dengernya....🤣🤣🤣🤣😒😒😒😒
mumu: mama udahlah 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
NNPAPALE🦈🦈🦈🦈
ngobrak ngabrik acara orang...🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 aku baca itu trus lhooooo,,,, lucu banget...🤣🤣🤣🤣🤣
mumu: author ngebayanginnya itu waktu nulisnya ngakak 🤣🤣🤣
total 1 replies
NNPAPALE🦈🦈🦈🦈
bukan solusi yg didapat tapi malah informasi bocor kemana mana+ leedekan tiap hari...🤣🤣🤣
a.i.cahaya
apaan tu?
a.i.cahaya
padahal nembak aja belum tp udh dikira ditolak aja. mental zaidan cemen ih 🤭🤣🤣
istri lee dong wook
apaan yg ditolak? ditembak aja belum
😇😇
apa itu kira2??
istri lee dong wook
nggak kok zaidan nggak agresif. lanjutkan
😇😇
belum apa apa udh patah semangat. diketawain si Rian itu 😂😂
😇😇
ayo zidaaaan 😂😂
istri lee dong wook
hayo hayo bunga 🤣🤣
istri lee dong wook
bisa pasan gitu ya 😅😅🤣🤣
istri lee dong wook
kuatkan iman deh 🤣🤣🤣
istri lee dong wook
tidur zaidan tidur 😅😅😅
mumu: nggak bisa 🤣🤣
total 1 replies
istri lee dong wook
peluk jauh buat zahra 🤗🤗
istri lee dong wook
ikut deh degan..
istri lee dong wook
woy elran 🤣🤣🤣
istri lee dong wook
eh dah jadi pak bupati 😍😁😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!