"Duduk di sini." ujarnya sembari menepuk paha kanannya.
Gadis itu tak salah dengar. Pria itu menepuk suatu tempat yakni pahanya sendiri. Dengan ekspresi datar seolah itu tak mengagetkan dan sudah menjadi kebiasaan di sana. Orang-orang di sekelilingnya pun tampak sama. Tak bereaksi, seolah itu hanya salah satu hal biasa dari serangkaian acara. Namun, tidak bagi gadis itu. Bisa-bisanya pria itu bertindak tidak tahu malu seperti ini di hadapan semua orang? Ia benar-benar tak habis pikir!
"Tidak mau."
Reaksi semua orang yang ada di sana sangat terkejut. Semua berbisik, tetapi tidak ada yang berbicara langsung seolah segan dengan sosok yang duduk di kursi paling mewah seperti seorang raja itu.
Pedang mulai mengarah ke leher gadis itu. Bukan dari pria itu, tetapi dari orang-orang yang seperti prajurit ini.
"Beraninya kau." ujar pria itu penuh amarah seolah ini adalah penghinaan terbesar terhadapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa pria itu?
Brak!
Suara itu memecah keheningan malam seperti petir yang menyambar di tengah mimpi.
Bai Ruoxue tersentak bangun, napasnya tercekat, tubuhnya langsung menegang seolah baru saja lolos dari jurang kematian.
Dadanya naik turun cepat. Pandangannya masih kabur ketika ia menoleh ke sekeliling. Cahaya lampu minyak di sudut ruangan bergetar pelan, bayangannya menari liar di dinding paviliun yang sunyi.
“Shuang Shuang…?”
Suara itu keluar lirih, lebih menyerupai harapan daripada panggilan. Harapan bahwa itu adalah perbuatan gadis itu.
Tak ada jawaban.
Keheningan justru terasa semakin berat, menekan telinga, seakan paviliun itu telah dikosongkan dari kehidupan. Terlalu sunyi. Tidak wajar. Biasanya, setidaknya akan terdengar langkah dayang yang berjaga, atau suara penjaga berpatroli di kejauhan.
Namun malam ini—kosong.
Perasaan tidak enak merambat dari ujung jari hingga ke tengkuknya. Bai Ruoxue menurunkan kakinya dari ranjang dengan gerakan perlahan, seolah takut sedikit suara saja akan memancing sesuatu yang tak terlihat. Ia memakai jubahnya yang ada di kursi, perlindungan tubuhnya dari dinginnya malam. Juga, melindungi tubuhnya dari tatapan liar manusia.
Lantai kayu terasa dingin di telapak kakinya.
Ia melangkah keluar paviliun. Lorong-lorong istana terbentang gelap, hanya diterangi cahaya rembulan yang tertutup awan tipis. Angin malam berembus pelan, membawa aroma lembap yang menusuk hidung. Dingin mulai menyentuh kulitnya.
Tidak ada siapa pun.
Jantungnya berdegup semakin kencang.
Langkahnya baru saja maju satu tapak ketika—
“Ah!”
Sebuah tangan tiba-tiba menariknya dengan kasar. Tubuhnya terhempas ke dinding paviliun, punggungnya membentur kayu keras hingga rasa nyeri menjalar. Sebelum ia sempat menjerit, sebuah telapak tangan membekap mulutnya dengan kuat. Sangat kuat seolah tidak membiarkan dirinya untuk bernapas.
Bau kain hitam dan besi dingin memenuhi inderanya.
Matanya membelalak. Di hadapannya berdiri seorang pria bertubuh tinggi, seluruh tubuhnya tertutup pakaian gelap. Wajahnya tersembunyi di balik kain hitam, hanya sepasang mata yang terlihat—tajam, dingin, dan mengandung sesuatu yang membuat bulu kuduknya berdiri. Mata pria itu menatap intens dirinya seolah ingin memakannya hidup-hidup.
Tatapan itu bukan tatapan orang biasa.
Itu tatapan pemburu.
“Sst…”
Suara itu rendah, hampir berbisik, namun mengandung ancaman yang jelas.
Tangannya sedikit melonggar, cukup memberi ruang bagi udara, namun tidak cukup untuk memberi kebebasan.
“Apakah Anda ingin membangunkan seluruh istana?”
Nada bicaranya tenang, terlalu tenang, seolah situasi ini adalah sesuatu yang biasa baginya.
Bai Ruoxue gemetar. Seluruh tubuhnya menegang. Otaknya berputar cepat, mencari cara melarikan diri, namun pikirannya terasa kosong.
Tangannya yang bebas mulai meraba lengannya dengan lancang, gerakan itu membuat kulitnya meremang jijik dan takut. Napas pria itu terasa dekat, terlalu dekat.
“Di mana janji Anda, Nona?”
Kata janji menghantam pikirannya seperti palu. Pertanyaan yang dipertanyakan oleh dirinya sendiri.
Janji…?
Apa maksudnya?
“Anda tahu konsekuensinya, bukan?”
Nada suara itu berubah lebih rendah, lebih gelap. Ada tekanan di setiap kata, seolah ia benar-benar yakin Bai Ruoxue memahami maksudnya. Seolah ini hanyalah percakapan biasa, yang sering mereka lakukan.
Namun tidak.
Di kepalanya hanya ada satu kekosongan besar. Kebingungan besar melanda pikirannya.
Janji apa?
Kepada siapa?
“Apa… maksudmu…?”
Suara itu keluar terbata, hampir tak terdengar.
Pria itu tampak terdiam sejenak. Matanya menyipit, lalu—entah mengapa—Bai Ruoxue bisa merasakan senyum samar di balik kain hitam itu. Dan, itu membuatnya semakin merinding.
“Ah… rupanya Anda sedang berpura-pura.”
Nada suaranya terdengar ringan, namun justru membuat ketakutan di dada Bai Ruoxue semakin menebal. Gadis itu sungguh takut dan bingung. Apa yang harus ia lakukan sekarang supaya terbebas dari pria yang tak ia kenal dan berbahaya ini?
“Baiklah,” lanjutnya pelan, “saya akan menemani permainan Anda.”
Tangannya bergerak lebih berani, menekan tubuhnya ke dinding. Tangan pria itu mulai lancang menelusuri lengannya yang masih terbalut jubah. Bai Ruoxue merasa napasnya semakin sesak, bukan hanya karena tekanan fisik, tetapi karena teror yang mencengkeram jiwanya.
Ia harus keluar dari sini.
Ia harus memanggil bantuan.
Matanya bergerak liar, mencari siapa pun. Dan di kejauhan, di antara bayangan lorong, ia melihat sosok yang dikenalnya.
Shuang Shuang.
Jaraknya tidak terlalu dekat, namun cukup untuk memberi secercah harapan.
“Shuang—!”
Namun harapan itu hancur dalam sekejap.
Tangan pria itu berpindah dari lengannya ke lehernya.
Mencekik.
Kuat.
Udara langsung terputus. Suaranya lenyap sebelum sempat keluar sempurna. Dunia di sekelilingnya seakan menyempit, berputar, berdenyut mengikuti detak jantungnya yang panik.
“Beraninya Anda.”
Nada suara pria itu kini dingin, penuh amarah yang tertahan.
“Apa yang ingin Anda lakukan?”
Tekanan di lehernya semakin kuat. Bai Ruoxue meronta, kedua tangannya mencengkeram pergelangan tangan pria itu, mencoba melepaskannya. Namun tenaganya terasa tidak berarti. Tangannya gemetar.
“L-lepaskan…”
Kata-kata itu pecah, tercekik di tenggorokan.
Penglihatannya mulai mengabur. Titik-titik hitam menari di tepi pandangannya.
“Wanita memang licik,” gumam pria itu.
“Selalu menggunakan tipu daya.”
Ia mencondongkan wajahnya lebih dekat, matanya menatap lurus ke mata Bai Ruoxue, seolah ingin menanamkan sesuatu ke dalam ingatannya.
“Tapi saya tidak akan membiarkan tipuan Anda memperdaya saya.”
Setiap kata terasa seperti pisau.
“Ingat baik-baik, Nona.” katanya menekankan, “Janji Anda.”
Tatapan itu—
Penuh ancaman.
Penuh sesuatu yang mengerikan.
Sesuatu yang tidak dipahami Bai Ruoxue, namun terasa nyata dan mematikan.
Tiba-tiba, tekanan itu menghilang.
“Hah—!”
Tubuh Bai Ruoxue terjatuh ke lantai. Udara masuk ke paru-parunya dengan kasar, membuatnya terbatuk hebat. Ketika ia mengangkat wajahnya, pria itu sudah lenyap.
Tidak ada suara langkah.
Tidak ada bayangan.
Seolah ia tidak pernah ada.
“Nona!!”
Suara panik Shuang Shuang mendekat. Gadis itu berlari menghampirinya, wajahnya pucat ketika melihat Bai Ruoxue terduduk lemas di lantai.
“Uhuk… uhuk…”
Bai Ruoxue berusaha menstabilkan napasnya. Dadanya terasa perih, tenggorokannya terbakar. Jantungnya masih berdetak liar, seakan belum menerima kenyataan bahwa ia masih hidup.
“Anda tidak apa-apa, Nona?”
Shuang Shuang menatapnya khawatir, lalu pandangannya jatuh ke leher Bai Ruoxue.
“Astaga… leher Anda…”
Bekas kemerahan jelas terlihat, jejak jari yang belum memudar.
Bai Ruoxue menggenggam bajunya sendiri. Tubuhnya masih gemetar.
Pikirannya kacau.
Siapa pria itu?
Janji apa yang ia maksud?
Dan… rahasia apa yang sebenarnya dimiliki tubuh ini?
Tubuh Bai Ruoxue menegang.
Ia menatap ke arah gelap lorong istana, tempat pria itu terakhir berdiri.
Entah mengapa, perasaan dingin menjalar di hatinya.
Bai Ruoxue sadar satu hal—
Ia bukan hanya terjebak di istana ini.
Ia terjebak dalam masa lalu yang gelap.
Dalam janji yang bukan miliknya.
Dan dalam bahaya yang mengintainya dari bayangan.
Dan itu baru permulaan.
sedangkan sang raja menaruh hati,yg tak bisa dia ungkapkan karna rasa gengsi