NovelToon NovelToon
Cinta Di Balik Gerobak Soto

Cinta Di Balik Gerobak Soto

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romantis / Cinta Seiring Waktu / Kaya Raya / Berondong
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

​Setelah diselamatkan dari penculikan maut oleh Pratama, seorang penjual soto sederhana, Luna justru terjebak fitnah warga yang memaksa mereka menikah. Situasi kian pelik karena Pratama masih terikat pernikahan dengan Juwita, istri materialistis yang tanpa ragu "menjual" suaminya seharga Rp50 juta sebagai syarat cerai.
​Demi menolong pria yang telah menyelamatkan nyawanya, Luna membayar mahar tersebut dan memilih menyembunyikan identitas aslinya sebagai putri tunggal seorang CEO kaya raya. Ia rela hidup dalam kesederhanaan dan mengaku hanya sebagai guru TK biasa. Di tengah rasa bersalah Pratama yang berjanji akan bekerja keras membalas kebaikannya, ia tidak menyadari bahwa istri barunya memiliki kuasa untuk membalikkan nasib mereka dalam sekejap mata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Sinar matahari pagi mulai masuk melalui celah-celah atap yang bolong, menerangi kamar sempit itu dengan cahaya keemasan.

Guling yang semalam diletakkan sebagai pembatas kini entah bagaimana sudah tergeletak tak berdaya di bawah kaki Luna.

Tanpa sadar, Luna telah bergeser dan kini tengah memeluk erat tubuh suaminya, mencari kehangatan di tengah udara pagi yang dingin.

Kepalanya bersandar nyaman di dada bidang Pratama.

Pratama yang baru saja membuka matanya seketika mematung.

Napasnya tertahan dan jantungnya berdetak kencang, seolah-olah baru saja lari maraton.

"Astaghfirullah. Ya Allah," bisik Pratama dalam hati, tubuhnya kaku tak berani bergerak sedikit pun karena takut membangunkan wanita di pelukannya.

Tepat saat itu, Luna menggeliat kecil sambil mengerjapkan matanya perlahan, berusaha menyesuaikan diri dengan cahaya pagi.

Pratama yang panik langsung menutup matanya rapat-rapat, berpura-pura masih tertidur pulas.

Saat nyawanya sudah terkumpul sepenuhnya, Luna menyadari posisinya. Namun, bukannya langsung menjauh, pandangannya justru terpaku pada wajah suaminya.

Dari jarak sedekat ini, ia baru menyadari betapa bersihnya wajah Pratama, terutama bibir merah alaminya yang tampak kontras dengan kulit sawo matangnya.

Deg...

Jantung Luna langsung berdetak kencang dan ada perasaan aneh yang menjalar di hatinya, sesuatu yang tidak pernah ia rasakan bahkan saat bersama Noah dulu.

Sadar akan kekhilafannya, Luna langsung melepaskan pelukannya dengan gerakan secepat kilat.

Wajahnya memerah padam hingga ke leher, ia menyambar handuk dan segera lari tunggang langgang menuju kamar mandi sebelum suaminya "terbangun".

Begitu pintu kamar mandi tertutup, Pratama akhirnya berani membuka mata.

Ia membuang napas panjang yang sedari tadi ditahannya hingga dadanya terasa sesak.

"Ya Allah, kuatkan imanku," gumamnya sembari mengusap wajah.

Ia menatap langit-langit, menyadari bahwa hidupnya kini tidak akan pernah sama lagi setelah kehadiran Luna.

Pratama bangkit dari tempat tidur dengan sisa debaran yang masih terasa di dadanya.

Sambil menghela napas untuk menenangkan diri, ia mulai merapikan sprei dan menata kembali bantal-bantal yang berantakan.

Ia memungut guling yang jatuh ke lantai, menepuk-nepuknya agar bersih, lalu meletakkannya kembali dengan rapi.

Meski pikirannya masih melayang pada kejadian barusan, tangannya tetap cekatan membereskan kamar agar Luna merasa nyaman saat kembali nanti.

Sementara itu, di dalam kamar mandi yang sederhana dengan bak air semen, Luna menyandarkan punggungnya di pintu.

Suara gemericik air yang ia tuang ke dalam bak menjadi latar belakang pikirannya yang sedang kacau namun manis.

Ia menyentuh pipinya yang terasa panas dan membayangkan bayangan wajah Pratama saat tertidur tadi menolak pergi dari ingatannya.

Terutama bibir merah alami itu yang terlihat sangat kontras dengan wajah lelah namun jujur milik suaminya.

Luna tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sudah lama tidak muncul di wajahnya sejak pengkhianatan Noah.

"Ternyata, dia tampan juga kalau dilihat dari dekat," bisiknya pelan pada pantulan dirinya di cermin kecil yang sudah agak buram.

"Tampan yang tidak dibuat-buat, bukan tampan yang penuh kepalsuan seperti di dunia kantorku."

Luna menggelengkan kepalanya, mencoba fokus untuk segera mandi.

Ia tidak boleh lupa bahwa siang ini mereka harus bertemu Papa Jati dan Arini di KUA.

Ia harus segera bersiap memainkan perannya sebagai guru TK sederhana, meski hatinya kini mulai mengakui bahwa pria penjual soto itu punya daya tarik yang tak terduga.

Setelah selesai mandi, Luna keluar dengan rambut yang masih terbungkus handuk putih.

Ia tertegun melihat Pratama yang sudah begitu rajin menyapu lantai meski hari masih sangat pagi.

"Mas, biar aku saja. Ini kan sudah jadi tugasku," ucap Luna merasa tidak enak, tangannya bergerak ingin mengambil alih sapu itu.

Pratama mendongak, lalu tersenyum tipis sambil terus menggerakkan sapunya.

"Sudah tidak apa-apa, Dek. Kaki kamu kan masih sakit bekas jatuh kemarin. Kamu istirahat saja dulu."

Pratama kemudian menghentikan aktivitasnya sejenak.

Ia tampak ragu, tangannya merogoh saku celana, menyentuh lembaran uang satu juta yang diberikan Luna semalam.

"Dek, apa Mas boleh memakai sedikit uang kemarin buat beli sarapan?"

Luna terkesiap, matanya membulat menatap suaminya.

"Ya Allah, Mas. Itu uang Mas Pratama. Pakai saja, tidak perlu izin begitu. Kita kan sudah suami istri, apa yang aku punya ya punya Mas juga."

Ada rasa haru sekaligus sesak di dada Luna melihat betapa sungkannya pria ini, padahal ia baru saja memberikan uang yang bagi Luna hanyalah recehan, namun bagi Pratama adalah beban tanggung jawab yang besar.

"Terima kasih ya, Dek. Mas mau beli nasi uduk di gang depan, langganan Mas. Rasanya lumayan enak. Kamu mau ikut?"

"Mau, Mas!" jawab Luna antusias.

Ia ingin tahu seperti apa lingkungan tempat tinggal suaminya ini lebih jauh.

"Ya sudah, kamu siap-siap dulu."

Luna menganggukkan kepalanya dengan semangat.

Ia segera masuk ke kamar, melepaskan handuk dari rambutnya, lalu mengenakan hijab instan yang praktis dan jaket untuk menghalau angin pagi.

Meski tanpa riasan wajah mahal atau parfum bermerek, Luna merasa ada kegembiraan sederhana yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya saat ia keluar kamar menemui Pratama yang sudah menunggu di depan pintu.

Setelah Pratama selesai mandi dan berganti pakaian yang paling rapi miliknya, ia mengeluarkan motor bebek tua yang mesinnya terdengar terbatuk-batuk saat dinyalakan.

Luna naik ke boncengan, memegang pundak Pratama dengan ragu namun hangat, sementara motor itu melaju perlahan menuju gang depan.

Sesampainya di kedai nasi uduk sederhana yang ramai pembeli, suasana mendadak sunyi sesaat.

Ternyata di sana sudah ada Pak Wandi yang sedang duduk sambil mengunyah kerupuk.

Begitu melihat Pratama dan Luna datang, matanya langsung berkilat sinis.

"Wah, pengantin baru sudah keluyuran," sindir Pak Wandi keras-keras agar didengar semua pembeli.

"Hebat ya Pratama, habis 'jual diri' ke wanita ini demi lima puluh juta, sekarang sudah bisa gaya-gayaan naik motor."

Pratama terdiam sambil tangannya sibuk merapikan letak parkir motornya tanpa membalas sepatah kata pun.

Ia sudah terbiasa dihina, tapi melihat Luna harus ikut mendengar sindiran itu, hatinya terasa perih.

Luna yang melihat suaminya hanya diam seribu bahasa merasa sangat kasihan. Namun, rasa kasihannya itu segera berubah menjadi kejengkelan yang memuncak.

Ia tidak akan membiarkan suaminya diinjak-injak oleh pria bermulut tajam ini.

Luna menghela napas panjang, lalu melangkah maju dengan tenang namun tatapannya tajam.

"Pak Wandi," panggil Luna dengan nada datar.

"Kenapa sih Bapak suka sekali mengurusi hidup orang lain? Apa di rumah tidak ada cermin?"

"Apa katamu?!"

"Oh, saya lupa. Pantas saja Bapak punya banyak waktu untuk memantau hidup kami. Pak Wandi kan pengangguran. Jadi wajar kalau tugas utamanya hanya bergosip dan membuat fitnah karena tidak punya pekerjaan nyata yang bisa dibanggakan."

Beberapa pembeli lain yang juga sebenarnya muak dengan tabiat Pak Wandi tak tahan lagi untuk menahan tawa.

Tawa mereka pecah dan meledak di kedai itu, membuat wajah Pak Wandi berubah menjadi merah padam seperti udang rebus.

"Kamu guru TK tidak tahu sopan santun!" bentak Pak Wandi malu.

"Lebih baik tidak sopan kepada orang yang tidak tahu diri daripada jadi benalu di kampung ini, Pak," balas Luna telak.

Karena sudah sangat malu dan kehilangan muka di depan banyak orang, Pak Wandi langsung bangkit, meninggalkan nasi uduknya yang belum habis, dan pergi dari sana dengan langkah seribu sambil menggerutu.

Pratama menatap istrinya dengan takjub. Ia tidak menyangka wanita yang semalam ketakutan karena seekor kecoa bisa menjadi begitu berani membelanya.

"Bu, bungkus nasi uduk dua ya. Gorengannya empat," ucap Pratama kepada penjual nasi uduk yang masih senyum-senyum melihat keberanian Luna tadi.

Pratama menoleh ke arah istrinya yang sedang memperhatikan deretan mangkuk kecil berisi lauk pauk.

"Sama apa lagi, Dek? Kamu mau apa?"

Mata Luna tertuju pada sate usus yang dibumbui kuning kecokelatan. Itu adalah salah satu makanan yang sering ia beli secara sembunyi-sembunyi saat bosan dengan makanan hotel bintang lima.

"Boleh beli ini, Mas?" tanya Luna sambil menunjuk sate tersebut dengan ragu.

Pratama tersenyum hangat, hatinya bergetar mendengar nada meminta izin dari istrinya itu.

"Tentu saja boleh, Dek. Kamu istriku, jadi kalau mau apa saja bilang Mas ya. Jangan sungkan."

"Minta sate ususnya tiga ya, Bu," tambah Pratama kepada penjual.

Setelah pesanan siap, mereka segera kembali ke rumah sederhana itu.

Sesampainya di rumah, Pratama langsung menuju dapur mengambil dua piring kaca yang motifnya sudah agak pudar.

"Kita makan di ruang tamu saja ya, Dek. Mejanya lebih luas daripada di dapur," ajak Pratama.

Luna mengangguk setuju. Ia duduk lesehan di atas tikar pandan yang digelar di lantai ruang tamu, sementara Pratama meletakkan nasi uduk hangat itu ke piring mereka masing-masing.

Aroma santan dan bawang goreng memenuhi ruangan, membuat perut mereka semakin keroncongan.

Luna menatap piringnya, lalu menatap Pratama yang mulai menyusun sate usus di pinggir piring istrinya.

1
tiara
itu pingsan kaget apa karena hamil ya🤭🤭🤭
awesome moment
pratama tu org dgn banyak potensi tp tersembunyi dalam kekisminan
Nabila Nabil
itu pingsan karna papa jati mau dipanggil opa dan arini dipanggil oma.... 🤣🤣
awesome moment
kpm tertangkap tu mokondo 2 ekor
awesome moment
lambe turah g punya obyek julid lg n
my name is pho: 🤭🤭 hehehe
total 1 replies
tiara
semoga Dirga dan Noah lekas tertangkap ya,agar papa Jati cepat menikah
my name is pho: iya kak
total 1 replies
tiara
pa Wandi ga bisa lagi gangguin Pratama tuh, hilang juga pemasukan ya kasian deh tukang nyinyir
my name is pho: 🤭🤭 hehe
total 1 replies
awesome moment
smg luna g kaget klo arini dan papa jati jujur.
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Anto D Cotto: sama2 👌👍
total 2 replies
Setiawan
kog aneh yah ?? bukannya td pratama lg di jln pulang br bs nolongin luna ?? itu kesian amat mtr bebek tua nya di tggl di jln 🤭🤭🤭
awesome moment
whoah...sama2 virgin ternyata
awesome moment
smg pratam slain kejujuran punya kecerdasan bisnis yg keyen. biar g njomplang bgts sm luna
awesome moment
udh terhura dluan
awesome moment
dih...juwita tu perempuan model p c
awesome moment
👍👍👍luna panggil arini, mama dunk😄😄😄
tiara
wah ternyata Arini menjalin hubungan dengan papa Jati toh, seru nih nantinya
Nabila Nabil
ini nanti ceritanya Luna yg gantian manggil bu ke arini🤣🤣🤣🤣🤣 kocak sih... 🤣🤣🤣
deepey
saling support ya kk. 💪💪
deepey
paginya gulingnya sdh pindah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!