Arka Baskara, dikirim oleh dinas ke Desa Sukamaju. Tugasnya menjadi Pejabat (Pj) Kepala Desa termuda untuk membereskan kekacauan administrasi dan korupsi yang ditinggalkan kades sebelumnya.
Arka datang dengan prinsip kaku dan disiplin tinggi, berharap bisa menyelesaikan tugasnya dengan cepat lalu kembali ke kota.
Namun, rencananya berantakan saat ia berhadapan dengan Zahwa Qonita. Gadis ceria, vokal, dan pemberani, anak dari seorang Kiai pemilik pesantren cukup besar di desa.
Zahwa adalah "juru bicara" warga yang tak segan mendatangi Balai Desa untuk menuntut transparansi. Baginya, Arka hanyalah orang kota yang tidak paham denyut nadi rakyat kecil.
Bagaimanakah kisah Arka dan Zahwa selanjutnya? Hanya di Novel "Ada Cinta di Balai Desa"
Follow Me :
Ig : @author.ayuni
TT: author ayuni
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali Ditolak
Suasana di Pesantren Al-Hadid siang itu terasa begitu kontras dengan ketenangan yang biasanya menyelimuti lorong-lorong asramanya. Halaman rumah utama yang luas kini dipenuhi oleh deretan mobil hitam mengkilap. Para santri senior tampak sibuk mengatur lalu lintas dan menyambut tamu dengan hormat.
Di dalam ruang tamu utama, aroma kayu gaharu yang mahal menyeruak, beradu dengan aroma teh melati yang mengepul dari cangkir-cangkir keramik terbaik milik keluarga Kiai Hasan.
Tamu yang datang bukanlah sembarang orang. Di pusat ruangan, duduk seorang pemuda bernama Gus Azhar.
Penampilannya sangat bersahaja namun memancarkan wibawa yang luar biasa. Ia adalah putra mahkota dari salah satu pesantren terbesar di Provinsi tetangga, seorang hafiz Al-Qur'an 30 juz, dan baru saja menyelesaikan pendidikan magisternya di Universitas Al-Azhar, Kairo, dengan predikat cum laude.
Kiai Hasan duduk berhadapan dengan ayah Gus Azhar, yang juga merupakan sahabat lamanya sesama ulama sepuh. Perbincangan mereka mengalir dan sesekali diselingi tawa khidmat. Namun, di balik tawa dan diplomasi santun khas pesantren itu, ada sebuah maksud besar yang sedang diletakkan di atas meja yaitu meminang Zahwa Qonita.
Sementara di bagian dalam rumah, tepatnya di sebuah kamar yang jendelanya menghadap langsung ke perkebunan teh, Zahwa duduk bersila di atas sajadahnya. Ia masih mengenakan mukena putihnya setelah menunaikan salat Zuhur. Di luar sana, ia bisa mendengar sayup-sayup suara percakapan dari ruang tamu, namun ia memilih untuk tidak keluar.
Pintu kamar terbuka pelan. Ummi Maryam masuk dengan langkah lembut, wajahnya yang teduh menyimpan seulas senyum yang sulit diartikan. Ia duduk di tepi ranjang, menatap putri tunggalnya yang masih terdiam membisu.
"Zah..." panggil Ummi lembut.
Zahwa menoleh, lalu mendekat dan menyandarkan kepalanya di pangkuan sang ibu. "Mereka masih di sana, Mi?"
"Masih, Sayang. Gus Azhar... dia pemuda yang luar biasa. Abahmu sangat terkesan dengan keluasan ilmunya. Beliau hafiz, Zahwa. Akhlaknya juga sangat terjaga. Abah hanya ingin kamu keluar sebentar, sekedar memberikan salam atau menyajikan teh agar mereka tidak merasa diabaikan."
Zahwa memejamkan mata, masih dipangkuan Umminya.
"Zahwa tahu Gus Azhar orang baik, Mi. Siapa yang meragukan putra Kiai besar dan lulusan Mesir? Tapi Zahwa belum bisa. Hati Zahwa belum untuk urusan itu."
Ummi Maryam mengusap pelan mukena yang masih menempel ditubuh Zahwa. "Apakah karena kuliahmu? Atau ada hal lain?"
Zahwa menegakkan duduknya, matanya menatap lekat pada sang ibu.
"Zahwa masih punya satu tahun lagi untuk menyelesaikan skripsi Zahwa, Mi. Zahwa ingin fokus. Zahwa ingin mengabdi dulu di Sukamaju, membantu warga yang selama ini hak-haknya terabaikan. Zahwa tidak mau buru-buru berumah tangga, sebelum Zahwa memberikan sesuatu yang nyata untuk tanah kelahiran Zahwa sendiri."
Zahwa teringat pada jembatan yang baru diperbaiki, pada irigasi yang masih butuh pengawalan, dan entah mengapa, selewat bayangan wajah Arka, Kepala Desa yang baru itu melintas di benaknya. Namun ia segera menepisnya. Ia merasa tanggung jawabnya pada desa lebih besar daripada keinginan pribadinya untuk membina rumah tangga.
"Abah tidak akan memaksamu, Zahwa. Kamu tahu itu," ujar Ummi lagi.
"Tapi.. setidaknya, berikan jawaban yang santun agar tidak melukai hati keluarga besar mereka yang sudah datang jauh-jauh."
Zahwa menarik napas panjang. "Zahwa tetap pada keputusan Zahwa, Mi. Mohon sampaikan pada Abah, sampaikan maaf Zahwa pada keluarga Gus Azhar. Zahwa belum siap. Keteguhan hati Zahwa sudah bulat, Mi. Sama bulatnya dengan tekad Zahwa saat menolak anak juragan tanah bulan lalu."
Ummi Maryam menghela napas, namun ia tidak kecewa. Ia justru bangga melihat prinsip putrinya yang begitu kokoh. Zahwa bukan menolak karena sombong, tapi karena ia tahu apa yang ia inginkan dalam hidupnya.
"Ummi mengerti Zah.. " ucap Ummi tersenyum.
***
Di ruang tamu, suasana mendadak hening saat Kiai Hasan masuk kembali setelah berbicara sejenak dengan Ummi Maryam di balik tirai. Kiai Hasan duduk kembali dengan senyum yang sangat tulus namun menyimpan nada permohonan maaf.
"Kiai.. Putra panjenengan, Gus Azhar, adalah permata. Siapa pun orang tua di dunia ini pasti akan bangga memiliki menantu seperti beliau. Namun, putri saya, Zahwa... dia masih seperti burung yang ingin terbang tinggi di langit Sukamaju. Dia merasa amanahnya untuk belajar dan membantu warga desa belum selesai. Dengan segala kerendahan hati, Zahwa memohon maaf karena belum bisa menerima pinangan ini."
Gus Azhar yang duduk menunduk, perlahan mengangkat wajahnya. Tidak ada gurat kemarahan atau tersinggung. Ia justru tersenyum tipis, sebuah senyum penuh pengertian.
"Alhamdulillah, Kiai," suara Gus Azhar terdengar tenang.
"Saya justru semakin mengagumi prinsip Mbak Zahwa. Seorang wanita yang tahu tujuannya dan mencintai umatnya adalah wanita yang sangat berharga. Jika memang Allah belum mengizinkan garis takdir kita bertemu hari ini, maka saya akan pulang dengan membawa rasa hormat yang lebih besar untuk keluarga Al-Hadid."
Pertemuan itu berakhir dengan sangat khidmat. Meski lamaran ditolak, persahabatan antar kedua kiai besar itu justru semakin erat. Satu per satu mobil mewah itu mulai meninggalkan pesantren, meninggalkan debu yang perlahan mengendap di jalanan Sukamaju.
Sore harinya, Zahwa keluar dari kamarnya setelah rombongan itu benar-benar pergi. Ia berjalan menuju serambi samping rumah utama, tempat favoritnya untuk melihat matahari terbenam di balik kebun teh.
Abah sudah berdiri di sana, menatap hamparan hijau dengan tangan yang bertaut di belakang punggung.
"Zahwa," panggil Abah tanpa menoleh.
"Iya, Bah."
"Kamu tahu, Nak? Tadi itu adalah lamaran kesekian yang kamu tolak dalam dua tahun terakhir. Abah tidak apa-apa. Abah setuju dengan keputusanmu. Tapi Abah ingin bertanya satu"
Zahwa berjalan mendekat, berdiri di samping ayahnya.
"Apa itu, Bah?"
"Apakah kamu menunggu seseorang? Ataukah hatimu memang benar-benar hanya untuk desa ini?"
Zahwa terdiam. Pertanyaan Abah seolah menembus dinding pertahanan yang selama ini ia bangun.
"Zahwa hanya menunggu petunjuk-Nya, Bah," jawab Zahwa diplomatis.
"Zahwa ingin seseorang yang tidak hanya mencintai Zahwa, tapi juga mencintai perjuangan Zahwa untuk warga. Seseorang yang mau turun ke tanah bersama Zahwa."
Kiai Hasan mengangguk perlahan. "Seorang pemimpin sejati biasanya lahir dari tanah, Zahwa. Bukan dari kursi empuk atau mobil mewah. Jika suatu saat kamu menemukan orang yang mau mengotori tangannya demi kebaikan orang lain, mungkin saat itulah kamu harus membuka pintu hatimu."
Zahwa hanya menunduk, ia pun belum tahu siapakah laki-laki nantinya yang bisa sejalan dengan prinsip dirinya, tapi ia tahu bahwa hatinya saat ini merasa jauh lebih lega setelah rombongan mobil mewah itu pergi meninggalkan desanya.
...🌻🌻🌻...