Berisi kumpulan cerita KookV dari berbagai semesta. Romantis, komedi, gelap, hangat, sampai kisah yang tak pernah berjalan sesuai rencana.
Karena di antara Kook dan V,
selalu ada cerita yang layak diceritakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Axeira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9 ANAK DARI MASA DEPAN
Taehyung tidak langsung bicara.
Itu yang paling menakutkan.
Seonghyeon duduk di ruang kerja mansion—ruangan yang jarang dipakai, penuh rak buku, cahaya lampu kuning redup.
Di seberangnya, Taehyung berdiri sambil menyeduh teh, gerakannya tenang… terlalu tenang.
Keonho diminta menunggu di luar.
Pintunya tertutup.
Klik.
Taehyung menaruh satu cangkir di depan Seonghyeon.
“Minum.”
“Terima kasih, Tante”
Taehyung duduk. Menyilangkan kaki. Menatap lurus.
“Kamu tau,” katanya pelan,
“aku gak butuh teriak buat bikin orang takut.”
Seonghyeon menelan ludah.
“Iya, Tante”
“Kamu juga tau,” lanjut Taehyung,
“aku gak peduli kamu anak siapa, dari keluarga mana, atau sepintar apa.”
Taehyung mencondongkan badan sedikit.
“Aku cuma peduli satu hal.”
Seonghyeon mengangkat wajah.
“Keonho.”
“Jawaban cepat,” Taehyung mengangguk.
“Bagus.”
Hening lagi.
Taehyung mengaduk tehnya perlahan.
“Anakku itu keras kepala. Bandel. Emosinya gak stabil. Dan… terlalu mirip kami.”
Seonghyeon tersenyum kecil.
“Itu yang aku suka.”
Sendok berhenti.
Tatapan Taehyung mengeras.
“Bukan itu yang mau kudengar.”
Seonghyeon langsung serius.
“Maaf, Tante”
“Coba lagi,” Taehyung berkata dingin.
Seonghyeon menarik napas panjang.
“Aku tau Keonho sulit. Tapi aku gak mau jadi orang yang bikin dia berubah.”
Taehyung mengangkat alis tipis.
“Lanjut.”
“Aku mau jadi orang yang bikin dia… pulang.”
Sunyi.
Panjang.
Berat.
Taehyung menatapnya lama—mencari retakan, kebohongan, ego muda yang goyah.
“Kalau suatu hari,” Taehyung berkata pelan,
“Keonho lebih pilih pergi daripada cerita ke kamu?”
Seonghyeon menjawab tanpa ragu:
“Aku tunggu.”
“Kalau dia nyakitin kamu?”
“Aku ngomong.”
“Kalau dia ninggalin?”
“Aku tetap berdiri. Tapi gak maksa.”
Taehyung tersenyum tipis.
Itu bukan senyum ramah.
Itu senyum orang yang sedang menilai kelayakan hidup.
“Kamu tau,” ucap Taehyung,
“aku jatuh cinta ke Daddynya dengan cara yang salah. Terlalu keras. Terlalu lama denial.”
Seonghyeon mengangguk hormat.
“Aku dengar ceritanya.”
“Aku gak mau anakku belajar cinta dari luka yang sama.”
Taehyung berdiri.
Langkahnya pelan… tapi tekanannya nyata.
Dia berhenti tepat di depan Seonghyeon.
“Kalau kamu bikin Keonho menangis karena kamu egois—”
Taehyung menunduk sedikit, suara rendah.
“—aku gak akan sentuh kamu.”
Seonghyeon menegang.
“Aku akan bikin kamu pergi sendiri.”
Seonghyeon berdiri. Membungkuk dalam.
“Aku ngerti.”
Taehyung menatapnya.
“Kamu takut?”
“Iya,” Seonghyeon jujur.
“Tapi aku gak mundur.”
Itu.
Kalimat itu.
Taehyung melangkah mundur.
Menghela napas panjang.
“Kamu boleh pacaran sama anakku.”
Seonghyeon terkejut.
“Tante…?”
“Tapi,” Taehyung menatap tajam,
“kamu gagal sekali aja… aku ambil dia balik.”
Seonghyeon mengangguk mantap.
Pintu terbuka.
Keonho berdiri di luar, tegang.
“Mommy?”
Taehyung menepuk bahu Seonghyeon pelan.
“Jangan bikin aku nyesel.”
Lalu ke Keonho:
“Jaga dirimu. Dan dia.”
Keonho menatap Seonghyeon, lalu Taehyung.
“…Serius?”
Taehyung mengangguk.
“Serius."
Keonho tersenyum—lega, hangat, dan untuk pertama kalinya… dewasa.
Dari kejauhan, Jungkook bersandar di dinding, menyilangkan tangan.
“…Lo lulusin?” tanyanya.
Taehyung menoleh.
“Dia gak lulus.”
Jungkook mengerutkan kening.
“Dia bertahan,” lanjut Taehyung.
Jungkook tersenyum tipis.
“Itu lebih susah.”
___
Mansion Jeon–Kim kembali penuh.
Bukan penuh tamu—
tapi penuh niat jahat kolektif.
Keonho duduk di sofa tengah, punggung tegak, tangan saling bertaut. Di sebelahnya, Seonghyeon duduk terlalu sopan—lutut rapat, senyum tegang, mata waspada.
Ini kesalahan pertama.
“Jadi,” Mingyu memulai dengan nada terlalu ceria, “ini pacarnya Keonho.”
Seonghyeon membungkuk kecil.
“Iya, Om.”
“OM?” Mingyu menepuk dada.
“GUE BELUM SETUA ITU.”
Seokmin sudah berdiri di belakang sofa.
“Sejak kapan pacarnya Keonho manggil kita om?”
Seokmin mencondongkan badan.
“Panggil Kakak aja biar aman.”
Keonho mendesah.
“Dia sopan.”
Wonwoo mengangguk setuju—lalu menusuk halus.
“Terlalu sopan buat keluarga ini.”
Taehyung berdiri di sisi ruangan, menyeduh teh, pura-pura tenang.
Jungkook bersandar di dinding—diam, mengamati.
Mode pengujian sosial aktif.
“Seonghyeon,” Seokjin membuka suara tenang,
“apa hal pertama yang lo notice dari Keonho?”
Seonghyeon berpikir sebentar.
“Dia… jujur.”
Jimin menyeringai.
“Bohong dikit gak apa-apa di sini.”
Seonghyeon terkekeh kecil.
“Kalau bohong, dia langsung tau.”
Keonho menoleh cepat.
“Lo bocorin kelemahan gue?”
“Bukan kelemahan,” Seonghyeon menatapnya.
“Itu kelebihan.”
OOOHH bergema.
Taehyung berhenti menuang teh.
Namjoon berdiri, menunjuk Seonghyeon.
“GUE SUKA YANG KAYA INI.”
Jungkook mendelik.
“Duduk.”
Namjoon duduk lagi.
Jisoo mendekat ke Keonho.
“Sejak pacaran, kamu berubah ya.”
Keonho mengangkat alis.
“Berubah apa?”
“Lebih sabar,” kata Jisoo.
“Biasanya udah ngegas.”
Seokmin menimpali,
“Bener. Ini efek samping pacaran sehat.”
Keonho menyengir.
“Bisa jadi.”
Jimin menepuk lutut.
“Tes berikutnya.”
Semua menoleh.
“Kalau Keonho ngambek,” Jimin menunjuk Seonghyeon,
“lo ngapain?”
Seonghyeon menjawab cepat.
“Dengerin.”
“Kalau keras kepala?”
“Diemin sebentar.”
“Kalau kabur?”
Ruangan hening.
Seonghyeon menatap Keonho dulu, lalu balik ke Jimin.
“Aku ikut—sampai dia berhenti lari.”
Taehyung menghela napas pelan.
Jungkook mengangguk sekali.
Wonwoo melirik mereka berdua.
“Ini bukan pacaran iseng.”
Keonho menoleh ke Seonghyeon, suaranya lebih pelan.
“Lo gak takut?”
Seonghyeon tersenyum.
“Takut. Tapi gue pilih lo.”
SILENT DAMAGE.
Jisoo menutup mulut.
“Gue merinding.”
Mingyu berbisik ke Seokmin,
“Ini anaknya lebih romantis dari bapaknya.”
Jungkook menoleh tajam.
“GUE DENGER.”
Jungkook melangkah maju.
“Satu pertanyaan terakhir.”
Seonghyeon menegakkan badan.
“Kalau suatu hari,” Jungkook berkata datar,
“keluarga ini ribut, berisik, dan nyebelin—kamu bakal kabur?”
Seonghyeon menggeleng.
“Aku tetap tinggal dan belajar di sini.”
Jungkook mengangkat alis.
“Belajar apa?”
“Kalau cinta itu… rame. Tapi pulang.”
Sunyi.
Taehyung menutup teko.
“Cukup.”
Semua menoleh.
“Godaan selesai,” katanya.
“Dia lulus.”
Keonho menatap papanya, kaget.
“Serius?”
Taehyung mengangguk.
“Serius.”
Jungkook menepuk bahu Seonghyeon sekali.
“Jangan ilang.”
Seonghyeon membalas dengan anggukan hormat.
“Siap.”
Jimin berdiri, kecewa.
“Yah. Gue belum mulai ke chaos-an hari ini.”
Keonho berdiri, menggenggam tangan Seonghyeon.
“Tenang, Tante.”
“Kenapa?” Jimin curiga.
Keonho tersenyum bandel.
“Next time… gue yang mulai.”
CHAOS DITUNDA. BUKAN DIBATALKAN.