Felicia datang ke kantor itu hanya untuk bekerja.
Bukan untuk jatuh cinta pada manajer yang usianya lima belas tahun lebih tua—dan seharusnya terlalu jauh untuk didekati.
James Han tahu batas. Jabatan, usia, etika—semuanya berdiri di antara mereka.
Tapi semakin ia menjaga jarak, semakin ia menyadari satu hal: ada perasaan yang tumbuh justru karena tidak pernah disentuh.
Ketika sistem memisahkan mereka, dan Felicia hampir memilih hidup yang lain, James Han memilih menunggu—tanpa janji, tanpa paksaan.
Karena ada cinta yang tidak datang untuk dimiliki, melainkan untuk dipilih di waktu yang benar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seribu Bulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lamaran Tepi Pantai
James memutar kemudi perlahan, memarkir mobilnya tepat di depan sebuah restoran mewah dengan konsep terbuka yang menghadap langsung ke hamparan pasir putih. Aroma garam laut dan hembusan angin pantai menyambut mereka saat pintu mobil terbuka.
“Kita makan siang dulu ya, Fel. Baru setelah itu kita main-benar-benar main di pantai,” ucap James sembari membukakan pintu untuk Felicia.
Seorang pelayan dengan seragam rapi segera menghampiri dan mengantar mereka menuju meja yang terletak di sudut paling privat, menjorok ke arah bibir pantai. Felicia lagi-lagi dibuat tertegun. Di tengah jadwal rapat yang padat dan urusan pabrik yang menyita waktu, James ternyata masih sempat memikirkan detail reservasi hingga pemandangan terbaik seperti ini.
Mereka duduk berhadapan, ditemani suara debur ombak yang menjadi musik latar alami. Felicia memperhatikan James yang tampak jauh lebih rileks, dasinya sudah dilonggarkan dan kancing teratas kemejanya dibuka, memberikan kesan pria itu benar-benar sedang melepas atribut "Bapak Manajer".
“Waktu kecil, pantai itu jadi rumah kedua buatku,” James memulai pembicaraan sembari menatap garis cakrawala. “Selain karena rumahku dekat sekali dari pesisir, aku paling senang bawa ember kecil buat cari kepiting atau udang yang terjebak di balik batu karang.”
Felicia menopang dagu dengan kedua tangannya, menyimak dengan antusias. “Jadi, Mas suka seafood?”
“Bukan cuma suka. Sepertinya hampir setiap hari protein yang masuk ke badanku itu berasal dari laut,” James terkekeh pelan.
“Pantesan kamu pintar dan tingginya nggak masuk akal begini,” celetuk Felicia jujur, membuat James tertawa rendah.
“Bisa dibilang begitu. Thanks to my mom, dia nggak pernah absen kasih asupan protein laut yang cukup buat anak-anaknya.”
“Apa ikan favoritmu?” tanya Felicia penasaran.
“Sebenarnya bukan ikan, tapi udang.”
Felicia tertawa renyah, “Ah, jadi masuk akal sekarang kenapa Mas rela panas-panasan cari udang nyasar di pinggir pantai.”
“Tepat sekali!” James ikut terkekeh, matanya menyipit jenaka. “Dulu itu, kulitku sampai gosong, merah-merah saking seringnya main di bawah matahari.”
“Memangnya orang Korea bisa hitam juga? Aku pikir kalian punya genetik putih porselen dari lahir,” goda Felicia.
James menggeleng geli, jarinya mengetuk-ngetuk pinggiran gelas. “Tentu bisa. Bahkan kakak perempuanku sampai stres lihat aku. Tiap sore aku digosok pakai sabun sampai merah, katanya biar warna asliku balik. Dia bilang aku sudah mirip anak orang lain yang nyasar di rumah.”
“Mas punya kakak perempuan?”
“Iya, satu. Dia tinggal di Korea sekarang karena suaminya bekerja di sana,” James menjeda sejenak, wajahnya melembut saat teringat rumah. “Tapi kalau soal nakal, aku masih kalah jauh dibanding dua adik laki-lakiku.”
Felicia mengerutkan kening, tertarik. “Mas punya adik laki-laki?”
“Iya, dua. Mereka kembar dan sekarang masih kuliah,” jawab James. Ada nada bangga sekaligus lelah yang lucu saat ia menyebutkan adik-adiknya. “Gemes, sih. Tapi kalau sudah kumat, rumah bisa hancur karena ulah mereka.”
Felicia tertawa membayangkan James versi abang-abang yang harus mengurus dua adik kembar yang lincah. “Wah, jadi Mas ini anak tengah? Punya kakak perempuan dan dua adik laki-laki kembar?”
“Iya. Dan bisa kamu tebak sendiri, kakak perempuanku adalah penguasa di rumah,” James menyandarkan punggungnya ke kursi dengan gaya santai.
“Bener banget! Kebayang sih sama aku,” sahut Felicia.
“Bahkan cuma dia yang bisa mengatur dua adik kembarku saat Mama sudah angkat tangan karena kenakalan mereka. Satu instruksi darinya, dan kami bertiga langsung diam seribu bahasa.”
Felicia tertawa lepas, ia merasa ditarik masuk ke dalam sisi personal James yang sangat jauh dari kesan dingin di kantor.
“Terus yang lucu adalah, adikku selalu bilang kalau Kakakku dapat karma karena sering memarahi mereka.” kekeh James.
Felicia itu tergelak, “benar. Kakakmu dapat dua anak kembar lagi.”
“Dan tingkahnya sama persis seperti Jeno dan Jeyun saat mereka kecil.”
Felicia tersenyum membayangkan betapa hangatnya keluarga James, sebuah kenyataan yang berbanding terbalik dengan keluarganya. sungguh ironis.
“Keluarga kamu terdengar sangat hangat,”
James mengangguk, “ itu kenapa aku nggak sabar mengenalkan kamu ke mereka.”
***
Selesai makan, James membawa Felicia melangkah turun menuju hamparan pasir yang masih terasa hangat. Mereka berjalan menyusuri garis pantai, di mana sisa-sisa buih ombak mengejar tumit mereka sebelum akhirnya terserap kembali ke laut yang biru pekat.
Suasana hening. Tidak ada perbincangan yang memecah udara, hanya suara debur ombak dan teriakan camar di kejauhan. Felicia membiarkan lengannya menggantung bebas, sementara jemarinya sesekali menyentuh lipatan rok panjangnya yang kini mulai basah dan berat akibat sapuan air garam.
Di sampingnya, James berjalan dengan langkah yang diselaraskan. Kedua tangannya bertautan di belakang punggung, sebuah gestur formal yang sebenarnya digunakan untuk menyembunyikan kegelisahan. Atensinya tidak bisa beralih dari gadis mungil di sebelahnya, namun ia mati-matian menahan diri untuk tidak meraih tangan Felicia.
Bukan karena ia tak mau, tapi karena telapak tangannya saat ini sedang dibanjiri keringat dingin.
James merasa seperti remaja yang sedang menjalani kencan pertama. Ia berusaha mengatur napasnya, menghirup aroma laut dalam-dalam untuk menenangkan degup jantungnya yang bekerja dua kali lebih cepat. Adrenalinnya terpacu hebat; ada sesuatu yang ingin ia katakan, namun keberaniannya seolah tersangkut di tenggorokan.
Sementara itu, Felicia tenggelam dalam pikirannya sendiri. Ia menatap lurus ke arah cakrawala, menimbang-nimbang apakah ini waktu yang tepat untuk membuka kotak pandora masa lalunya. Ia ingin menceritakan segalanya pada James—tentang beban-beban yang selama ini ia pikul sendirian hingga pundaknya terasa lelah. Ia ingin James tahu siapa dirinya yang sebenarnya.
Namun, setiap kali ia hendak membuka mulut, nyalinya menciut. Ia mencuri pandang ke arah James yang tampak begitu tenang (atau setidaknya, itulah yang ia lihat). Suasana sore ini terasa terlalu sempurna; hangat, damai, dan penuh kebahagiaan yang rapuh.
Felicia takut jika ia mulai bercerita, warna biru laut yang indah ini akan berubah menjadi kelabu. Ia belum siap merusak momen ini dengan potongan-potongan kisah masa lalunya yang menyedihkan.
"Fel," James akhirnya memecah keheningan. Suaranya rendah, nyaris tenggelam oleh deru ombak, namun terdengar begitu intens.
"Iya, Mas?" Felicia menoleh, mendapati James yang kini berhenti melangkah dan menatapnya lurus-lurus.
"Boleh aku tanya sesuatu? Ini mungkin terdengar klise, tapi aku benar-benar ingin tahu." James mengambil napas panjang.
"Dalam lima tahun ke depan, apa yang bisa kamu lihat dari diri kamu di masa depan?"
Felicia tersenyum tipis. Matanya kembali menyapu hamparan air biru yang memantulkan cahaya perak. "Lima tahun lagi, aku akan jadi wanita berusia tiga puluhan. Itu tandanya, aku sudah tua," kekehnya pelan, berusaha mencairkan suasana.
"Yang pasti, di saat itu aku sudah menikah," lanjut Felicia. Kalimat itu seketika menciptakan desiran halus di dada James.
"Aku akan tinggal di rumah yang sederhana, tapi tetap nyaman bersama keluarga kecilku. Aku akan memasak, menata rumah, memastikan suasana di sana selalu tenang dan jadi tempat yang paling nyaman untuk pulang." Felicia menjeda sebentar, jemarinya memilin ujung roknya yang basah.
"Dan mungkin punya anak? Tapi aku masih harus memikirkan itu matang-matang."
"Kenapa?" tanya James lembut.
"Aku harus tetap bekerja meski sudah menikah nanti. Ada keluarga yang harus aku jaga. Tapi, sejak kecil aku sudah berjanji pada diriku sendiri; kalau aku punya anak, aku akan berhenti berkarier dan fokus seratus persen padanya." Felicia menghela napas, sorot matanya berubah sendu.
"Aku selalu kesepian sejak kecil, Mas. Aku tidak mau anakku merasakan hal yang sama. Jadi, sampai keadaan keluargaku di Bogor membaik, mungkin aku harus menunda rencana punya anak. Aku tidak mau membiarkan dia merasakan apa yang aku rasakan dulu."
"Itu tidak akan terjadi, Fel," pungkas James mantap.
"Iya, dan untuk memastikannya, aku harus benar-benar yakin kalau aku sudah sembuh dari trauma masa kecilku. Aku ingin menjadi ibu yang sudah 'siap' secara mental, bukan ibu yang justru memberikan trauma baru nantinya."
James tersenyum, hatinya terasa sesak sekaligus bangga mendengar kedewasaan wanita di depannya. Ia meraih telapak tangan Felicia yang dingin karena keringat, menggenggamnya erat seolah ingin menyalurkan seluruh kekuatannya.
"Rencana yang sempurna," bisik James.
"Sekarang, bolehkah aku meminta tempat dalam rencana kamu itu? Menjadi ayah untuk anak-anak yang kamu katakan, dan menjadi penyembuh dari setiap trauma yang selama ini kamu simpan sendirian?"
Felicia terpaku. Sebelum ia sempat mencerna kalimat itu, James perlahan menekuk sebelah lututnya di atas pasir pantai yang basah. Dengan gerakan yang sangat khidmat, ia mengeluarkan sebuah kotak beludru.
Saat tutupnya terbuka, sebuah cincin berlian berkilauan begitu cantik, menangkap cahaya matahari sore yang mulai menjingga.
"Aku mencintai kamu dengan segala sisi yang ada pada dirimu, Fel. Aku ingin ada di setiap langkah hidupmu, menjadi satu-satunya orang yang memastikan bahwa kamu selalu bahagia dan aman bersamaku." James menatap Felicia dengan binar yang begitu tulus, menghilangkan seluruh kesan dingin yang selama ini ia bangun di kantor.
"Aku minta maaf karena tidak mengatakan hal ini dengan benar sebelumnya. Tapi saat ini, aku ingin memperbaikinya secara resmi."
James menarik napas dalam, memantapkan suaranya. "Felicia Laluna, maukah kamu menjadi istriku?"
Felicia membeku. Dunianya seolah berhenti berputar. Di depannya, seorang James Han—pria yang tadinya ia anggap begitu jauh—kini bersimpuh di atas pasir, menawarkan masa depannya dengan segala kerendahan hati. Air mata yang sejak tadi ditahannya kini luruh begitu saja, membasahi pipinya yang kemerahan.
Ia baru saja hendak membuka mulut untuk memberikan jawaban "Iya" yang penuh haru, tetapi ia merasakan sebuah pergerakan cepat di kakinya. Merayap naik hingga ke betisnya.
“MAS, ADA SESUATU DI KAKI AKU!” Felicia berteriak heboh.
Seekor kepiting pantai berukuran sedang, yang entah sejak kapan merasa wilayah kekuasaannya terganggu oleh lutut James, tiba-tiba berlari cepat dan menjepit ujung rok panjang Felicia yang basah. Tak berhenti di situ, makhluk kecil itu seolah panik dan malah memanjat naik ke arah betis Felicia.
James yang tadinya sedang berlutut dengan pose ala pangeran tampan, langsung terperanjat. Kotak cincin di tangannya hampir saja melompat jatuh ke pasir.
"Mas! Mas! Tolongin! Ini apa?!" Felicia malah berjingkat-jingkat panik, membuat momen lamaran romantis itu berubah menjadi tarian darurat di tepi pantai.
"Fel, tenang! Jangan goyang-goyang, nanti kepitingnya gerak makin cepat!" James berusaha menyeimbangkan tubuhnya yang masih berlutut satu kaki, sambil tangannya yang bebas mencoba menghalau kepiting agresif itu dari kaki Felicia.
"Aduh, Mas! Dia jepit kaki aku! Sakit!" Felicia akhirnya kehilangan keseimbangan dan tanpa sengaja ambruk, menubruk bahu James hingga keduanya terjatuh di atas pasir pantai yang basah.
Keduanya mendarat dalam posisi yang sangat tidak estetik. James terduduk dengan kemeja putihnya yang kini dipenuhi noda pasir dan air laut, sementara Felicia jatuh terduduk tepat di depannya dengan rambut yang sudah berantakan terkena angin laut.
Si kepiting? Makhluk itu sudah kabur dengan sukses setelah merasa menang memporak-porandakan momen propose sang manajer.
Hening sejenak.
James menatap kemejanya yang kotor, lalu menatap kotak cincin di tangannya yang syukurlah masih selamat. Ia kemudian menatap Felicia yang masih memasang wajah shock bercampur ingin menangis karena malu.
James tiba-tiba tertawa. Awalnya hanya kekehan rendah, namun lama-kelamaan menjadi tawa lepas yang sangat renyah—jenis tawa yang belum pernah Felicia dengar sebelumnya.
"Sumpah, Fel..." James menyeka air mata di sudut matanya karena tertawa. "Sepertinya semesta memang nggak mengizinkan aku jadi pria romantis. Kayaknya genre hidupku memang komedi, deh."
Felicia yang tadinya panik, kini malah ikut tertawa melihat wajah James yang biasanya tanpa celah, kini belepotan pasir. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, malu setengah mati. "Mas, maaf... Aku merusak suasananya ya?"
James menggeleng. Ia merangkak sedikit mendekat dalam posisi duduk di atas pasir, lalu kembali meraih tangan Felicia. "Nggak. Justru ini sangat... kamu. Lucu dan penuh kejutan.”
HELOOOWWW EDISI LAMARAN James ke felicia lumayan panjang niiiiih.
Jangan lupa like dan komen yaaa
Trimakasi semuanya ✨🌛