Hujan deras mengguyur atap seng pos keamanan belakang RSU Cakra Buana, menyamarkan suara seretan langkah kaki yang berat di lorong beton. Seorang petugas keamanan muda, dengan napas memburu dan seragam basah oleh keringat dingin, berusaha memutar kunci pintu besi berkarat dengan tangan gemetar.
Dia tidak berani menoleh ke belakang, ke arah kegelapan pekat di mana suara lonceng kaki pengantin terdengar gemerincing, semakin lama semakin mendekat, diiringi aroma melati yang begitu menyengat hingga membuat mual.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Wabah Ketakutan
Pintu lift barang itu terbuka dengan sentakan kasar, memuntahkan udara dingin yang berbau apek ke koridor lantai dasar yang terang benderang. Elara Senja terhuyung keluar, tangannya masih mencengkeram lengan Pak Darto yang napasnya terdengar seperti bunyi peluit tua. Kontras cahaya antara kegelapan basement lantai empat dengan lampu neon putih di lobi utama RSU Cakra Buana membuat mata mereka perih seketika.
"Jangan berhenti, Neng Elara. Kalau kita diam, mereka mencium bau tanah dari tubuh kita," bisik Pak Darto dengan suara serak, kakinya menyeret sedikit saat melangkah. Pria tua itu menoleh ke belakang, menatap lorong lift yang kini tampak seperti mulut gua yang menganga gelap di tengah kemegahan rumah sakit.
Elara mengangguk, memaksakan kakinya yang gemetar untuk melangkah berbaur dengan kerumunan pengunjung. Suasana di lantai dasar sangat berbeda dengan kesunyian mematikan di kamar jenazah; di sini, suara roda brankar, panggilan informasi, dan obrolan ratusan orang berdengung menjadi satu kakofoni yang memusingkan.
Namun, ada sesuatu yang salah di udara, sebuah ketegangan statis yang membuat bulu kuduk Elara meremang meski suhu ruangan cukup hangat. Lampu-lampu kristal imitasi yang menggantung di langit-langit lobi berkedip sesekali, bukan karena gangguan listrik biasa, melainkan seolah-olah energi di gedung ini sedang disedot oleh sesuatu yang besar di bawah sana.
"Kita harus keluar dari pintu utama," ujar Elara sambil memapah Pak Darto melewati deretan kursi tunggu yang penuh sesak. Dia berusaha menyembunyikan noda tanah merah dan cairan hitam yang mengotori seragam kemejanya dengan memeluk tas selempangnya erat-erat di dada.
Pak Darto menggeleng lemah, matanya yang keruh menyapu sekeliling dengan waspada. "Mereka sudah tahu kita naik. Arisandi bukan orang bodoh yang akan membiarkan tikus laboratoriumnya kabur begitu saja. Lihat ke arah pos satpam di dekat pintu kaca itu."
Elara mengikuti arah pandang Pak Darto dan jantungnya seakan berhenti berdetak sesaat. Di sana, tiga orang petugas keamanan bertubuh tegap sedang berbicara melalui radio panggil dengan wajah tegang, sementara mata mereka menyisir setiap wajah yang melintas di lobi. Di samping mereka, berdiri seorang pria berjas putih rapi dengan stetoskop yang menggantung santai—salah satu asisten kepercayaan Dr. Arisandi.
"Perhatian seluruh staf keamanan, kode merah di sektor selatan. Tutup akses pintu utama," suara pengumuman menggema dari langit-langit, terdengar dingin dan tanpa emosi. "Ada pasien karantina yang melarikan diri dengan membawa patogen berbahaya. Jangan biarkan siapa pun keluar."
Elara menahan napas, menyadari betapa liciknya permainan Dr. Arisandi. Dengan satu kalimat itu, dia tidak hanya memobilisasi keamanan, tetapi juga menciptakan kepanikan massal yang akan menghalangi pelarian mereka. Orang-orang di sekitar mulai saling pandang, bisik-bisik ketakutan mulai menyebar seperti api di padang rumput kering.
"Dia memfitnah kita sebagai pembawa wabah," desis Elara dengan geram, menarik Pak Darto untuk berlindung di balik pilar besar dekat loket farmasi. "Sekarang setiap orang di ruangan ini adalah musuh kita."
"Bukan hanya manusia musuh kita sekarang, Neng," sahut Pak Darto, tangannya menunjuk ke arah pot tanaman hias besar di sudut ruangan. Tanaman palem plastik itu bergetar hebat, padahal tidak ada angin yang berhembus, dan bayangan yang jatuh di lantai keramik tampak memanjang secara tidak wajar, seolah ingin menggapai kaki orang-orang yang lewat.
Tiba-tiba, jeritan melengking memecah kebisingan lobi, berasal dari arah antrean pendaftaran rawat jalan. Seorang ibu muda menunjuk ke arah monitor informasi digital yang seharusnya menampilkan nomor antrean, namun kini layar itu dipenuhi oleh statis hitam-putih yang membentuk pola wajah-wajah menderita.
Kekacauan meledak dalam hitungan detik ketika lampu utama di lobi padam total, menyisakan lampu darurat yang remang-remang berwarna oranye. Dalam kegelapan itu, Elara bisa melihat bayangan hitam merayap turun dari ventilasi udara, bentuknya cair dan pekat seperti asap, menyelimuti bagian atas ruangan.
"Ini kesempatan kita!" teriak Pak Darto, tenaganya seolah kembali pulih karena adrenalin. Dia menarik Elara untuk berlari menerobos kerumunan yang kini panik dan berlarian tanpa arah. Orang-orang saling dorong, menjatuhkan kursi dan tiang infus, menciptakan barikade alami yang menghambat kejaran petugas keamanan.
Elara menabrak seorang perawat yang membawa nampan obat, membuat botol-botol kaca pecah berantakan di lantai. "Maaf!" teriaknya tanpa menoleh, terus berlari menuju pintu samping yang mengarah ke area parkir ambulans, berharap jalur itu belum dijaga ketat.
Namun, langkah mereka terhenti ketika sosok Dr. Arisandi muncul dari balik pintu ganda Instalasi Gawat Darurat, menghalangi jalan mereka dengan tenang. Di belakang dokter itu, dua perawat pria bertubuh besar berdiri siap menerkam, wajah mereka kosong tanpa ekspresi seperti boneka yang dikendalikan tali.
"Elara, Elara..." ucap Dr. Arisandi dengan nada kecewa, menggelengkan kepalanya perlahan. "Kau pikir kau bisa membawa aset berharga rumah sakit ini keluar begitu saja? Pak Darto sudah tua, dia tidak akan bertahan di luar sana tanpa 'perawatan' dari kami."
"Kau gila, Dokter!" bentak Elara, mundur selangkah sambil mencari celah untuk kabur. "Apa yang kau bangkitkan di bawah sana sudah mulai naik ke sini. Kau lihat sendiri kekacauan ini! Kau mengorbankan pasienmu sendiri!"
Dr. Arisandi tersenyum tipis, senyuman yang tidak mencapai matanya yang dingin. Dia melirik ke langit-langit di mana bayangan hitam semakin menebal. "Kekacauan? Tidak, Elara. Ini adalah seleksi alam. Arcapura butuh pembersihan, dan RSU Cakra Buana adalah titik nol bagi evolusi baru."
Pak Darto tiba-tiba maju, merogoh saku celananya yang lusuh dan mengeluarkan segenggam garam kasar bercampur serbuk kemenyan. Tanpa peringatan, dia melemparkannya ke arah wajah Dr. Arisandi sambil meneriakkan mantra dalam bahasa kuno yang membuat telinga berdenging.
Dr. Arisandi terhuyung mundur, menutupi wajahnya seolah garam itu adalah asam yang membakar kulit. "Tangkap mereka! Sekarang!" teriaknya dengan suara yang berubah menjadi geraman mengerikan, tidak lagi terdengar seperti suara manusia.
Para perawat yang dikendalikan itu menerjang maju. Elara tidak membuang waktu; dia menyambar sebuah tabung pemadam api yang tergantung di dinding, mencabut pin pengamannya, dan menyemprotkan isinya ke arah para penyerang. Kabut putih tebal memenuhi koridor sempit itu, membutakan pandangan dan menciptakan kekacauan tambahan.
"Lewat sini, cepat!" Elara menarik Pak Darto masuk ke dalam ruang linen kotor yang pintunya sedikit terbuka. Mereka membanting pintu dan menguncinya dari dalam, napas mereka memburu di tengah tumpukan sprei berdarah yang menunggu untuk dicuci.
Di luar, gedoran keras menghantam pintu kayu itu, disertai suara cakaran yang terdengar seperti kuku binatang buas di atas papan tulis. Elara mundur menjauhi pintu, punggungnya menabrak rak besi yang dingin.
"Kita terjebak," bisik Elara dengan suara bergetar, matanya menatap nanar ke arah pintu yang mulai retak akibat hantaman dari luar. "Tidak ada jalan keluar lain dari ruangan ini selain ventilasi kecil itu."
Pak Darto merosot duduk di lantai, wajahnya pucat pasi dan keringat dingin membasahi dahinya. Dia memegang dadanya yang terasa sesak. "Bukan terjebak, Neng. Kita hanya dipaksa untuk memilih jalan yang lebih sulit. Mereka menggiring kita."
"Menggiring kita ke mana?" tanya Elara sambil berlutut di samping lelaki tua itu, memeriksa denyut nadinya yang lemah.
"Ke tempat di mana sains dan klenik tidak bisa lagi dibedakan," jawab Pak Darto lirih. Matanya menatap lurus ke sudut ruangan yang gelap, di mana bayangan mulai memadat membentuk siluet seorang wanita berambut panjang. "Mereka ingin kita kembali ke bawah, atau menjadi bagian dari fondasi gedung ini selamanya."