NovelToon NovelToon
Pewaris Dewa Pedang 2

Pewaris Dewa Pedang 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Perperangan / Action / Epik Petualangan / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Reinkarnasi
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Agen one

Lanjutan pewaris dewa pedang

Jian Wuyou yang sedang melawan langit dan utusannya harus mengalami kegagalan total dalam melindungi peti mati istrinya.

Merasa marah dia mulai naik ke alam yang lebih tinggi yaitu langit, tempat di mana musuh-musuh yang mempermainkannya berada.

Tapi sayang dia kalah dan kembali ke masa lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: Murka yang Tertahan

​Pagi harinya, suasana Desa Bambu terasa mencekam di balik ketenangan yang semu. Lin Feng berdiri di aula kediamannya dengan wajah merah padam. Di hadapannya, tiga pengawal andalannya bersujud dengan pergelangan tangan yang dibalut kain putih—tulang mereka hancur menjadi serpihan, sebuah luka yang tidak mungkin dilakukan oleh orang biasa.

​"Hanya satu orang? Kalian pecundang! Bagaimana bisa kalian dikalahkan oleh pemuda ingusan itu?!" teriak Lin Feng sambil menendang meja kayu hingga terguling.

​"T-tuan Muda... dia bukan manusia biasa," rintih sang pemimpin preman. "Gerakannya... auranya... dia seperti iblis yang merayap dari kegelapan. Tolong, jangan paksa kami menghadapinya lagi."

​Lin Feng meludah ke samping. "Persetan! Jika dia punya sedikit kemampuan beladiri, maka aku akan memanggil seseorang yang kekuatannya di luar nalar manusia. Pelayan! Siapkan surat untuk Tetua Han dari Sekte Awan Hitam. Katakan aku butuh jasanya untuk melenyapkan satu sampah."

​Sementara itu, Jian Wuyou duduk di kedai Li Hua, menyesap teh melati yang masih mengepul. Wajahnya tenang, seolah tidak terjadi apa-apa semalam. Di depannya, Li Hua sedang sibuk mengaduk adonan kue dengan ceria.

​"Wuyou, kau tahu? Semalam aku bermimpi aneh," ucap Li Hua sambil menoleh padanya. "Aku bermimpi ada naga hitam besar yang melingkari rumahku, melindungiku dari hujan api. Rasanya sangat nyata."

​Jian Wuyou tersenyum tipis, matanya menatap Li Hua dengan kelembutan yang dalam. "Mungkin itu tanda bahwa kau akan selalu aman, Li Hua. Tidak ada api yang akan menyentuhmu selama aku di sini."

​Li Hua tersipu, namun sebelum ia sempat menjawab, suara gaduh derap kaki kuda dan bentakan kasar terdengar dari luar kedai.

​Lin Feng datang dengan angkuh, menunggangi kuda putih besar. Di sampingnya, berjalan seorang pria tua berjubah abu-abu dengan kumis panjang dan tatapan mata yang tajam seperti elang. Pria tua itu memegang tongkat kayu hitam yang memancarkan aura dingin—seorang kultivator Ranah Penyatuan Roh Level 5.

​"Turunkan tanganmu dari barang milikku, Wuyou!" teriak Lin Feng sambil menunjuk ke arah kedai.

​Penduduk desa mulai berkerumun, ketakutan melihat Tetua Han yang terkenal kejam. Li Hua keluar dari kedai dengan wajah pucat, tangannya gemetar memegang celemeknya.

​"Tuan Muda Lin, apa maksud semua ini? Tuan Wuyou tidak melakukan kesalahan apa pun!" bela Li Hua dengan berani.

​"Diam, Li Hua! Kau hanya seorang pembantu, kau tidak punya hak bicara!" Lin Feng menatap Jian Wuyou yang masih duduk tenang menyesap tehnya. "Wuyou! Kau pikir kau hebat karena bisa melukai anak buahku? Hari ini, Tetua Han akan memastikan kau merangkak di kakiku!"

​Tetua Han melangkah maju, melepaskan tekanan auranya. Angin mendadak bertiup kencang, mengguncang lampion-lampion yang tersisa dari festival semalam. "Anak muda, kau memiliki sedikit bakat, tapi kau terlalu sombong. Berlututlah dan minta maaf pada Tuan Muda Lin, atau aku akan menghancurkan meridianmu."

​Jian Wuyou perlahan meletakkan cangkir tehnya. Ia berdiri, menepuk jubah hitamnya dari debu. Ia melirik ke arah Jiwu yang berdiri di kejauhan, memberi isyarat agar Jiwu tetap menjaga Mei Lian dan Jian Han.

​"Penyatuan Roh Level 5..." Jian Wuyou bergumam pelan, suaranya mengandung nada ejekan yang dingin. "Di mataku, kau tak lebih dari seekor katak di dasar sumur yang mencoba menantang elang."

​"LANCANG!" Tetua Han berteriak. Ia menghentakkan tongkatnya ke tanah. "Teknik Telapak Awan Hitam!"

​Sebuah bayangan tangan raksasa berwarna hitam pekat melesat ke arah Jian Wuyou. Serangan itu cukup kuat untuk meruntuhkan sebuah rumah. Penduduk desa berteriak ketakutan, menutup mata mereka.

​Namun, Jian Wuyou tidak menghindar. Ia hanya mengangkat tangan kanannya, melambaikan jarinya seolah sedang menghalau nyamuk.

​BOOOMM!

​Serangan hitam itu hancur berkeping-keping menjadi serpihan energi saat menyentuh dinding pelindung tak kasat mata di depan Jian Wuyou. Belum sempat Tetua Han bereaksi, Jian Wuyou sudah berada tepat di hadapannya. Kecepatannya begitu luar biasa hingga seolah-olah ia berteleportasi.

​"Kau menyebut ini kultivasi?" bisik Jian Wuyou.

​Jian Wuyou mencengkeram leher Tetua Han dan mengangkatnya ke udara dengan satu tangan. Tekanan aura Penyatuan Roh Level 10 milik Jian Wuyou meledak sepenuhnya, menekan seluruh area hingga kuda-kuda pengawal Lin Feng jatuh tersungkur karena ketakutan.

​KRAKK!

​Jian Wuyou menghancurkan tongkat kayu hitam milik Tetua Han menjadi debu dengan genggamannya. Ia kemudian melemparkan sang Tetua ke arah Lin Feng layaknya seonggok sampah.

​"Ini peringatan terakhirku," ucap Jian Wuyou. Suaranya bergema di seluruh desa, begitu dingin hingga membuat bulu kuduk semua orang berdiri. "Bawa barang rongsokan ini pergi dari hadapanku. Lin Feng, jika kau menampakkan wajahmu lagi di depan Li Hua, aku akan memastikan seluruh klanmu menghilang dari catatan sejarah dunia fana ini."

​Lin Feng gemetar hebat. Celananya basah karena kencing di tempat. Ia melihat Tetua Han—pria yang ia anggap tak terkalahkan—kini pingsan dengan mulut berbusa. Tanpa kata-kata, ia segera memutar kudanya dan melarikan diri diikuti oleh para pengawalnya yang panik.

​Suasana menjadi sunyi. Jian Wuyou berbalik ke arah Li Hua. Aura mengerikannya hilang seketika, digantikan oleh tatapan lembut yang sama seperti sebelumnya.

​"Maaf, tehnya jadi sedikit dingin," ucapnya santai, seolah baru saja mengusir lalat yang mengganggu.

​Li Hua terpaku, menatap Jian Wuyou dengan perasaan campur aduk antara takjub, takut, dan kekaguman yang semakin mendalam. Ia sadar, pria di depannya ini jauh lebih dari sekadar tetangga kaya yang baik hati.

1
Nanik S
Lanjutkan Tor
Nanik S
Benar memperbaiki Pintu yang didobrak Ibunya
Nanik S
Kaisar Keabadian untuk Negri para orang Buangan
Nanik S
Siapapun akan memilih Anak Istri itu salah satu kelemahanya
Nanik S
Joooooost Woyou
Nanik S
Undangan berdarah
Nanik S
Woyou... melatih Anak anaknya dengan keras agar bisa melindungi diri sendriri
Nanik S
kenapa Jian An mesti jadi Target mereka...
Nanik S
Lanjut
Nanik S
Jian An.. Jian Han jadilah kuat seperti Ayahmu
Nanik S
Jian Woyou benar benar keras terhadap anaknya agar manjadi pendekar hebat
Nanik S
Cerita keluarga yang Bagus
Nanik S
Cuuuuuuss
Nanik S
Lanjutkan 👍👍👍
Nanik S
Dewa banyak yang jahat juha
Nanik S
Anak anak yang marah krn melihat Ayahnya teraniaya
Nanik S
Kedua Anak Jian Woyou benar2 Hebat
Agen One: /Hug/
total 1 replies
Nanik S
kenapa mereka menginginkan Jian An.... ada apa dg Anak kecil
love
semangat thor👍👍👍👍👍
Nanik S
Li Hua... bawa Kedua Jian pergi dari dimensi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!