Hidup Arga yang sempurna bersama istrinya, Nabila, hancur seketika saat mantan kekasihnya, Siska, kembali sebagai istri pemilik perusahaannya.
Siska yang ambisius menawarkan satu syarat gila. "Jadilah pemuas nafsuku, atau kariermu tamat!"
Arga menolak mentah-mentah demi kesetiaannya. Namun, murka sang Nyonya Besar tak terbendung. Dalam semalam, Siska memutarbalikkan fakta dan memfitnah Arga atas tuduhan pelecehan seksual.
Di bawah bayang-bayang penjara dan cemoohan publik, mampukah Arga bertahan? Ataukah Nabila, sang istri sah, sanggup membongkar kelicikan Siska dan menyelamatkan suaminya dari kehancuran?
Kita simak kisah kelanjutannya di Novel => Jebakan Sang CEO Wanita.
By: Miss Ra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 27
Malam setelah konfrontasi di apartemen Senopati seharusnya menjadi akhir dari segalanya, namun bagi Siska Roy, kekalahan hanyalah bahan bakar untuk kegilaan yang lebih besar. Di kediaman Malhotra, suasana tidak lantas membaik. Meskipun Nabila telah berhasil membawa Arga pulang, ancaman laporan korupsi fiktif itu benar-benar menjadi teror nyata.
Pukul dua dini hari, saat Nabila akhirnya tertidur karena kelelahan emosional, ponsel Arga bergetar di atas nakas. Sebuah pesan multimedia masuk dari nomor yang tidak dikenal, namun Arga tahu siapa pengirimnya.
Itu adalah foto Nabila yang sedang tidur di dalam apartemen mereka, diambil dari sudut yang sangat dekat, seolah-olah seseorang berada tepat di luar jendela balkon mereka yang berada di lantai dua belas.
Di bawah foto itu, tertulis pesan singkat.
"Pilihanmu semalam membuatku sedih, Arga. Jika kau tidak datang sendiri ke unit pribadiku yang satu lagi di kawasan Menteng dalam 30 menit, aku tidak bisa menjamin 'pengagum rahasia' istrimu ini akan tetap tinggal di luar jendela. Datanglah, atau kau akan melihat Nabila hancur dengan cara yang tidak pernah kau bayangkan."
Darah Arga membeku. Siska tidak lagi hanya bermain dengan angka atau jabatan, dia mulai bermain dengan nyawa. Arga menatap Nabila yang terlelap, merasa gagal melindunginya.
Tanpa membangunkan istrinya - karena ia takut Nabila akan melarangnya dan justru memicu bahaya lebih besar - Arga pergi dengan langkah mengendap-endap, membawa kunci mobil dan ketakutan yang mencekik.
~~
Apartemen di Menteng ini berbeda dengan yang di Senopati. Ini adalah gedung tua yang eksklusif, tersembunyi di balik pepohonan rimbun. Suasananya jauh lebih gelap dan sunyi. Arga naik ke lantai paling atas, di mana hanya ada satu unit di sana.
Pintu terbuka secara otomatis saat Arga mendekat. Ruang tamu itu gelap gulita, hanya ada cahaya remang dari lampu-lampu kota yang menembus celah gorden.
"Siska! Keluar kau! Jangan sentuh Nabila!" teriak Arga, suaranya bergema di ruangan yang luas namun terasa sesak itu.
"Aku di sini, Arga-ku..." suara Siska terdengar dari balik sebuah pintu geser kayu ek di ujung lorong. "Masuklah. Aku ingin menunjukkan kepadamu bahwa selama sepuluh tahun ini, aku tidak pernah benar-benar meninggalkanmu."
Arga melangkah ragu. Ia membuka pintu geser itu, dan seketika ia merasa seperti melangkah masuk ke dalam otak seorang pengidap psikopat.
Itu adalah sebuah ruangan tanpa jendela, kedap suara, dan hanya diterangi oleh lampu-lampu spotlight merah redup. Di seluruh dinding ruangan itu - dari lantai hingga langit-langit - terpampang ribuan foto. Dan subjek dari setiap foto itu adalah satu orang - Arga Malhotra.
Arga mematung di tengah ruangan. Ia memutar tubuhnya, matanya membelalak ngeri. Ini bukan sekadar foto lama. Ada foto Arga saat ia sedang makan di warung tenda sendirian bulan lalu. Ada foto Arga saat sedang mengisi bensin.
Foto Arga saat sedang tertawa bersama Nabila di taman. Bahkan ada foto Arga yang diambil secara close-up saat ia sedang tidur di pesawat dalam perjalanan ke Singapura kemarin.
"Kau... kau gila," bisik Arga. Napasnya mulai memburu, dadanya terasa sesak seolah ruangan itu perlahan mengecil untuk menghimpitnya.
Siska berdiri di sudut ruangan, memegang sebuah bingkai foto kecil. Ia mengenakan gaun malam tipis berwarna putih, kontras dengan nuansa merah ruangan itu. Wajahnya tampak pucat dan matanya berkilat dengan intensitas yang mengerikan.
"Gila? Tidak, Arga. Ini disebut pengabdian," Siska berjalan mendekati dinding yang berisi foto-foto Arga di London. "Kau pikir aku benar-benar melepaskanmu saat di bandara sepuluh tahun lalu? Tidak. Aku menyewa orang untuk mengikutimu. Aku tahu setiap wanita yang mencoba mendekatimu. Aku tahu saat kau pertama kali bertemu Nabila di perpustakaan kampus. Aku tahu kapan kau membelikan cincin untuknya."
Siska menyentuh sebuah foto Arga yang tampak buram. "Aku melihatmu menangis saat ibumu sakit. Aku melihatmu tertawa saat kau mendapatkan promosi pertama. Aku ada di sana, Arga. Di setiap bayangan, di setiap kerumunan, aku selalu memperhatikanmu."
"Kenapa? Untuk apa semua ini, Siska?!" Arga berteriak, air mata kemarahan mulai jatuh. "Kau menghancurkan masa depan kita, kau membunuh anak kita, dan sekarang kau hidup seperti parasit di hidupku!"
Siska mendadak mendekat dan mencengkeram rahang Arga dengan kekuatan yang tak terduga. Wajahnya hanya berjarak beberapa inci.
"Karena kau adalah milikku! Anak itu... dia adalah pengorbanan agar aku bisa menjadi wanita berkuasa seperti sekarang, demi bisa memilikimu kembali dengan cara yang lebih megah! Pak Roy hanyalah alat, Arga. Dia hanyalah jembatan agar aku bisa berdiri di atas gedung ini dan melihatmu dari atas."
Siska menarik tangan Arga dan memaksanya menyentuh dinding yang dilapisi foto-foto Nabila yang dicoret-coret dengan tinta merah.
"Lihat ini. Nabila adalah kesalahan dalam narasi kita. Dia adalah pencuri yang mengambil waktuku," desis Siska. "Kau tahu kenapa aku menunjukkan ini sekarang? Karena aku ingin kau tahu bahwa tidak ada tempat bagimu untuk lari. Aku tahu setiap langkahmu, setiap detak jantungmu. Jika kau mencoba meninggalkanku lagi, atau jika kau membiarkan Nabila melaporkanku ke polisi... aku akan memastikan foto terakhir di dinding ini adalah foto pemakaman istrimu."
Arga merasa mual yang luar biasa. Ini bukan lagi soal perselingkuhan atau karier. Ini adalah ancaman eksistensial. Ia merasa terancam secara fisik, ia tidak tahu apakah ada orang bersenjata di balik tirai atau apakah Siska sendiri yang akan menusuknya saat ia lengah.
Secara mental, Arga hancur. Melihat seluruh hidupnya selama sepuluh tahun terakhir didokumentasikan oleh wanita yang paling ia benci membuatnya merasa tidak memiliki privasi lagi. Ia merasa seolah-olah seluruh dunianya adalah panggung sandiwara yang disutradarai oleh Siska.
"Kau tidak akan menyentuhnya," suara Arga bergetar, namun penuh dengan kebencian yang dalam.
Siska tertawa, suara tawa yang terdengar seperti pecahan kaca. Ia mengambil sebuah pisau kecil dari atas meja kerjanya - pisau yang biasanya digunakan untuk memotong surat - dan mulai memainkan ujungnya di atas foto pernikahan Arga dan Nabila yang tertempel di dinding.
"Oh, aku tidak perlu menyentuhnya jika kau menuruti kemauanku, Arga. Tinggallah di sini malam ini. Di ruangan ini. Bersamaku. Biarkan Nabila mencari-carimu. Biarkan dia merasakan bagaimana rasanya kehilanganmu selamanya."
Arga menyadari bahwa ia tidak bisa melawan kegilaan dengan logika. Ia harus menggunakan kelemahan terbesar Siska, kebutuhannya untuk dicintai oleh Arga.
Arga mengatur napasnya. Ia memaksakan dirinya untuk tidak gemetar. "Siska... jika kau ingin aku tinggal, kau harus membuktikan bahwa kau lebih kuat dari Nabila. Kau bilang kau punya segalanya. Tapi kau masih butuh cara-cara pengecut ini untuk menjagaku?"
Siska berhenti memainkan pisaunya. Ia menoleh dengan tatapan curiga. "Apa maksudmu?"
"Hapus laporan korupsi itu. Sekarang. Di depanku. Jika kau benar-benar percaya bahwa aku ditakdirkan untukmu, kau tidak butuh ancaman penjara untuk menahanku," Arga melangkah mendekat, membalas tatapan gila Siska dengan keberanian yang dipaksakan.
Siska terdiam. Umpan itu bekerja pada egonya yang haus akan pengakuan. Ia berjalan menuju laptop di sudut ruangan. "Kau pikir aku sebodoh itu?"
"Aku pikir kau takut, Siska. Kau takut kalau tanpa ancaman itu, aku tidak akan pernah melihatmu lagi. Kau tidak percaya pada dirimu sendiri," tantang Arga.
Siska menggeram. Ia membuka laptopnya dengan kasar. "Akan kuhapus. Tapi jangan pikir kau bisa keluar dari ruangan ini sampai matahari terbit."
Saat Siska sibuk dengan keyboard-nya, Arga melihat ke arah sebuah kamera kecil yang terpasang di sudut langit-langit 'ruang gelap' tersebut. Ia teringat sesuatu. Ruangan ini... ruangan ini adalah bukti kegilaan Siska yang paling nyata. Jika ia bisa membawa Nabila atau polisi ke sini, Siska tidak akan bisa mengelak lagi.
Namun, Siska tiba-tiba berbalik dengan senyum licik. "Sudah kuhapus. Tapi sebagai gantinya..." Ia menekan sebuah tombol di dinding, dan pintu geser tadi terkunci secara elektronik. "Malam ini, kau adalah tahananku, Arga."
Siska mendekati Arga, memeluknya dengan erat seolah-olah Arga adalah boneka miliknya. Arga berdiri kaku, matanya menatap ribuan fotonya sendiri yang seolah-olah sedang menghakiminya.
Ia terjebak di dalam museum obsesi yang mengerikan, sementara di luar sana, fajar mulai menyingsing dan Nabila akan terbangun mendapati suaminya menghilang lagi.
'Ruang Gelap Siska' menjadi representasi fisik dari gangguan jiwa dan obsesi Siska yang mendalam. Arga kini berada dalam bahaya nyata yang melampaui masalah kantor.
Ketegangan psikologis ini membangun fondasi untuk babak akhir, di mana Arga harus berjuang untuk keluar dari jebakan fisik Siska, sementara Nabila mulai menyadari bahwa musuhnya bukan hanya wanita ambisius, tapi seorang sosiopat yang berbahaya.
...----------------...
Next Episode....
Pengen nonjok mulutnya Siska sampai bonyok Gedeg banget melihat tingkah laku manusia satu ni ..memaksa kemauannya sendiri yg kelewat batas wajar 😤😏
semoga Arga bisa melawan dan menghadapi Siska si wanita gatal demi rumah tangga nya dgn Nabila 🥰