Lahir dari keluarga islami, dituntut untuk selalu taat, memiliki saudara perempuan dan ternyata menjadi bahan perbandingan. Aluna gadis 20 tahun yang baru saja lulus kuliah dan memiliki banyak cita-cita harus menerima takdirnya saat dijodohkan oleh kedua orang tuanya dengan seorang pria yang tidak dia kenal.
Aluna tetap pada keputusannya untuk mengejar karirnya, membuat Aluna harus meninggalkan pernikahannya untuk memenuhi janji kepada seseorang yang telah menunggunya.
Tetapi siapa sangka ternyata Aluna justru mendapatkan penghianatan dengan penuh kebohongan. Aluna harus menerima takdirnya atas kesalahan besar yang telah ia lakukan.
Setelah beberapa tahun meninggalkan pernikahannya. Aluna kembali terjerat dengan pria yang harus dia nikahi beberapa tahun yang lalu.
Bagaimana kelanjutan hubungan Aluna? apakah pria yang harusnya menikah dengannya membencinya dan ingin membalasnya?"
Jangan lupa untuk terus mengikut novel ini.
follow Ig ainunharahap12.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27 Adu Domba
Aluna keluar dari rumahnya dan tidak sengaja berpapasan Firman.
"Aluna!" sapa Firman.
Aluna menanggapi dengan cuek yang memang tidak menyukai keakraban dengan pria tersebut.
"Aku ingin bicara sebentar dengan kamu," ucap Firman.
"Kamu bicaralah jika ingin bicara," sahut Aluna.
"Kita ke depan sebentar, karena sangat tidak baik jika berbicara di depan pintu," ucap Firman.
"Kenapa tidak berbicara di dalam saja dan orang tuaku juga masih ada disana dan begitu juga dengan suamiku," ucap Aluna.
"Aku pikir Umi dan Abi tidak pernah mendengarkan pembicaraan kita, karena menurutku ini tidak pantas," ucap Firman.
Aluna menarik nafas panjang dan membuang perlahan ke depan.
"Ayo!" ajak Aluna yang berlalu terlebih dahulu dan kemudian diikuti oleh Firman.
Mereka tidak terlalu jauh berbicara hanya di taman rumah saja.
"Katakan ada apa?" tanya Aluna
"Aku tahu belakangan ini kamu kurang nyaman dengan apa yang dilakukan Jiya. Aku juga tidak mengerti mengapa dia melakukan semua ini dan aku benar-benar minta maaf," ucap Firman.
"Firman, aku benar-benar tidak pernah mencampuri urusan rumah tangga kalian. Kalian berdua yang telah mengkhianatiku dan kalian juga seakan-akan tidak menginginkan aku bahagia. Aku sudah mengikhlaskan kamu dan mungkin ini sudah menjadi takdir kamu setelah menikah dengannya,"
"Aku juga sudah menikah dan aku meminta kepadamu untuk menjaga istrimu agar tidak turut campur dalam rumah tanggaku!" tegas Aluna.
"Semua ini diluar kendaliku dan aku juga tidak tahu apa saja yang dilakukan Jiya kepada kamu," sahut Firman.
"Banyak yang telah istri kamu lakukan, pertama datang ke kantor dengan membawa makanan untukku dan juga suamiku dan membuat orang-orang di perusahaan berpikiran bahwa dia adalah calon istri atau bahkan istri dari suamiku dan yang kedua datang ke rumahku dengan membahas masalah aku membuang makanan dan memojokkanku di depan kedua orang tua suamiku,"
"Apa menurut kamu sebagai seorang wanita yang sudah memiliki suami sangat pantas melakukan hal itu dilakukan dan bukankah sebagai suami harusnya bisa menjaga istri kamu," ucap Aluna menyampaikan semua kepada suaminya.
"Aku sungguh meminta maaf dan semoga di luar dugaanku. Aku tidak tahu jika semuanya akan seperti ini. Aku benar-benar tidak bisa mengendalikan Jiya," sahut Firman.
"Aku sudah memberitahu kamu bagaimana istrimu dan bagaimana dia berusaha untuk ikut campur dalam rumah tanggaku dan artinya harus menjaga batasan istrimu!" tegas Aluna membuat Firman terdiam sampai tidak berkutik lagi.
"Aku tidak ingin berbicara panjang lebar kepada pria yang sudah memiliki istri. Permisi!" ucap Aluna kemudian langsung berlalu dari hadapan Jiya.
Tetapi sial sekali heels yang di kenakan Aluna tersandung dan hampir saja membuatnya jatuh karena Firman masih sempat menahan Aluna dengan memegang kedua bahu Aluna dan jarak mereka begitu dekat.
Karena bukan suaminya membuat Aluna langsung menepiskan kedua tangan tersebut ketika sudah kembali berdiri tegak.
"Kamu tidak apa-apa. Aku benar-benar minta maaf atas aku yang telah aku lakukan," ucap Firman.
Aluna mengabaikan Firman, menurutnya tidak ada gunanya lama-lama berbicara dengan Firman.
Sementara Ravindra baru saja selesai berbicara dengan kedua orang tua Aluna dan berpamitan sebentar untuk mengangkat telepon.
"Baiklah, besok aku akan memerintahkan sekretarisku untuk mengatur jadwalnya!" ucap Ravindra pada seseorang yang ada di telepon tersebut.
Setelah berdiskusi cukup singkat akhirnya Ravindra menutup panggilan telepon tersebut dengan menghela nafas dan mengembalikan ponselnya ke dalam satu celana.
"Aku tidak melihatmu sejak tadi. Apa dia berada di kamarnya," gumam Ravindra ternyata sejak tadi mencari istrinya yang tidak bersamanya setelah makan malam selesai.
"Aku juga mencari suamiku," Ravindra membalikkan tubuh ketika mendengar suara tersebut dan siapa lagi jika bukan Jiya.
Jiya tersenyum dengan mengatur nafas dan kemudian melangkah mendekati Ravindra dengan mengangkat kedua bahunya.
"Kita sama-sama mencari pasangan kita dan siapa sangka mereka menggunakan kesempatan itu untuk bertemu secara intens," ucap Jiya.
"Apa maksud kamu?" Tanya Ravindra.
"Aku sudah mengatakan sejak awal kepada kami bahwa Aluna dan Firman saling mencintai. Aluna juga menerima pernikahan ini bukan karena apapun, hanya karena membersihkan nama, agar orang tua kami benar-benar percaya kepadanya. Dia tetap menikah dengan kamu ada intinya hanya untuk mencari kebebasan tetapi hatinya tetap ada seseorang yang dia cintai yaitu Firman," ucap Jiya.
"Kenapa kamu berpikiran seperti itu kepada adik kamu sendiri?" tanya Ravindra.
"Aku berbicara berdasarkan fakta dan waktu itu aku sudah meminta kamu untuk tidak melanjutkan pernikahan itu. Ini yang aku tidak inginkan bagaimana adikku harus sembunyi-sembunyi bertemu dengan suamiku dan itu sama saja perbuatan dosa. Jika kamu waktu itu tidak melanjutkan perjodohan dan mata mereka berdua sudah menikah dan akan jauh dari dosa," ucap Jiya selalu mendefinisikan dirinya sebagai perempuan yang sabar dan selalu mengalah.
"Langsung saja pada intinya di mana mereka?" tanya Ravindra.
Jiya tiba-tiba saja tersenyum dan memperlihatkan ponselnya kepada Ravindra. Siapa sangka isi ponsel tersebut ternyata foto yang telah berhasil diambil di saat Aluna terjatuh dan ditahan tubuhnya oleh Firman.
Foto yang diambil cukup estetik sehingga mereka berdua terlihat begitu dekat dan kita membuat Ravindra terus memperhatikan foto tersebut sampai Jiya mematikan ponselnya kembali.
"Kita berdua tidak bisa menyalahkan orang yang sedang jatuh cinta dan memiliki cinta yang begitu besar sejak dulu. Ini semua justru kesalahan kita berdua karena kita berdua tahu mereka saling mencintai dan kita menjadi penghalangnya sehingga membuat mereka melakukan dosa seperti itu," ucap Jiya.
Ravindra ternyata tidak berbicara apa dan lebih memilih untuk pergi dari hadapan Jiya.
"Kamu mau kemana?" tanya Jiya yang tidak dipedulikan Ravindra
Jiya tidak mengejar pria tersebut dan hanya tersenyum penuh dengan arti sepertinya kembali lagi ada sesuatu yang telah dia rencanakan dan berhasil dia lakukan.
"Jiya!" Senyum di wajah tampak tulus itu menghilang ketika namanya dipanggil membuatnya membalikkan tubuh.
"Ada apa?" tanya Jiya pada Firman yang sekarang tepat berada di hadapannya.
"Kamu sengaja ingin memojokkan Aluna di depan kedua orang Ravindra?" tanya Firman.
"Tidak di depan kedua orang tuaku dan bahkan disaat aku sendiri kamu tetap saja memberi pembelaan kepadanya," ucap Jiya.
"Apa yang kamu inginkan sebenarnya, kenapa harus melakukan hal seperti ini, apa kamu tidak tahu jika apa yang kamu lakukan bukan hal yang baik. Aluna tidak bersalah dan seharusnya kamu tidak ikut campur dengan urusan rumah tangga mereka!" tegas Firman.
"Firman, aku sudah muak mendengar kamu kerap kali berbicara tentang Aluna. Jika kamu mencintainya. Itu karena kamu laki-laki yang bodoh, aku sudah mengalah dan memberi kamu kesempatan untuk menikah dengannya dan kamu tidak menggunakan kesempatan itu dan sekarang kamu seolah-olah menyalahkanku," ucap Jiya.
"Kesempatan yang kamu berikan kepadaku bukan kesempatan untukku tetapi kesempatan untuk kamu sendiri. Kamu melakukan semuanya dengan sesuka hati kamu, kamu membuat situasi benar-benar berantakan!" tegas Firman.
"Aku tidak ada gunanya berbicara kamu dan setiap apa yang aku lakukan adalah urusanku. Jika kamu tidak suka maka akhiri saja pernikahan kita dan maka semuanya selesai!" ucap Jiya berbicara dengan enteng dan bahkan langsung pergi.
"Jiya!" panggil Aluna.
"Jiya, Jiya!" panggil Firman benar-benar diabaikan Jiya.
Bersambung.....