Dua ego yang bersinggungan. Dua imperium yang beradu. Satu perasaan yang dilarang.
Every adalah sang penguasa kampus, River adalah sang pemberontak yang ingin menggulingkannya. Mereka menyebutnya rivalitas, dunia menyebutnya kebencian.
"...semua yang terjadi di gubuk ini, jangan pernah lo anggap sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar cara lo membayar utang.."
River hanya menyeringai, "... gue tetap orang yang tahu persis gimana rasanya lo gemetar ketakutan di pelukan gue semalam."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muse_Cha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melirik Kucing Kecebur Got
River berdiri di atas podium kecil dengan tangan bersedekap, menatap malas ke arah lautan mahasiswa baru yang tampak seragam dengan kemeja putih mereka.
Baginya, acara orientasi ini adalah buang-buang waktu.
Jika bukan karena desakan dekan yang menghormati prestasinya di bidang teknik, River lebih memilih mendekam di bengkel, mengutak-atik mesin muscle car miliknya.
Matanya yang tajam menyapu barisan demi barisan dengan bosan, sampai langkahnya terhenti saat melewati barisan Fakultas Hukum.
Angin sore bertiup pelan, membawa sebuah aroma yang sangat spesifik.
Aroma mawar mahal yang lembut, namun memiliki jejak musk yang familiar. River mendadak membeku. Sensor di otaknya—yang tidak pernah salah mengingat detail sekecil apa pun—langsung menyala merah.
Aroma ini...
River memutar kepalanya perlahan, mencari sumbernya. Dan di sana, di barisan ketiga, ia menemukannya.
Seorang gadis dengan rambut panjang yang diikat rapi, menunduk dengan bahu yang terlihat sedikit gemetar.
River melangkah mendekat.
Setiap langkahnya terasa berat dan penuh klaim.
Ia berhenti tepat di depan gadis itu, membiarkan bayangannya yang tinggi besar menelan sosok mungil di bawahnya.
"Kenapa gemeteran? Takut sama gue, atau kepanasan?" tanya River dengan suara yang ia buat sedatar mungkin, meski di dalam dadanya ada gemuruh yang luar biasa.
Gadis itu mendongak.
Dan saat mata mereka bertemu, River merasa seperti dihantam oleh memori Bangkok enam bulan lalu.
Mata itu... mata yang sama yang menatapnya sayu di bawah lampu neon merah.
Wajah yang sama yang memerah karena pengaruh whiskey. Dan rintihan serta tangis kesakitan yang menghantui tidurnya selama ini, mendadak bergema kembali di telinganya.
Ketemu, batin River.
Otaknya langsung memutar ulang detail pagi itu di Bangkok. Noda merah di sprei yang berantakan, kepergiannya yang tanpa pamit, dan bagaimana River merasa seperti pecundang karena membiarkan "miliknya" hilang begitu saja.
River memperhatikan bagaimana Every menatapnya dengan raut wajah yang penuh keterkejutan, namun gadis itu dengan cepat berusaha menyembunyikannya. Dia pikir gue nggak tahu? Dia pikir gue bakal lupa sama cewek yang bikin gue nggak bisa nyentuh cewek lain selama enam bulan ini?
River mencondongkan tubuhnya sedikit, hanya agar suaranya bisa menjangkau telinga Every tanpa didengar orang lain. "Gue harap lo punya pertahanan yang lebih kuat di kelas nanti daripada... pertahanan lo di Bangkok."
River bisa melihat Every tersentak, wajahnya yang tadi pucat kini berubah merah padam.
River menegakkan tubuhnya kembali, berjalan menjauh dengan langkah yang lebih ringan namun tetap angkuh.
Ia tidak peduli pada jabatan BEM, tapi sekarang, ia punya alasan untuk tetap berada di sekitar kampus ini lebih sering.
Enam bulan gue cari lo, dan lo malah nganterin diri ke kandang gue, monolog River dengan kepuasan yang gelap. Kali ini, jangan harap lo bisa lari pake baju satin perak itu lagi. Karena sekarang, gue tahu siapa lo, Every Riana.
--- Flashback end ---
Kembali ke Moment after party Festival Budaya dan Teknologi
Air kolam yang dingin masih meresap di balik gaun Every saat River menariknya kasar menuju parkiran gedung fakultas yang sepi.
Napas Every memburu, bukan karena lelah, tapi karena emosi yang meluap setelah insiden memalukan tadi.
River membuka pintu mobil Jeep hitamnya, lalu melempar sebuah kemeja putih bersih yang masih terlipat rapi dari dasbor ke arah Every.
"Pakai itu. Gue nggak mau jok mobil gue basah gara-gara air kolam yang baunya kayak kaporit basi," ketus River, nadanya datar seolah tidak baru saja menyelamatkan Every dari pusat perhatian satu kampus.
"Gue nggak mau ganti di sini, River!" Every membentak, tangannya memeluk tubuhnya sendiri yang gemetaran. "cari toilet atau ke cafe di ujung jalan kampus, gue ganti baju disana."
"Gue nggak nerima perintah. Ganti sekarang atau lo duduk di bagasi," balas River sambil masuk ke kursi kemudi.
Tepat saat itu, langit seolah ikut mengamuk.
Hujan deras turun seketika, menghantam atap mobil dengan suara berisik yang memekalkan telinga. "dan jangan suru gue keluar, dan ikutan basah atau lo tetep pake tu gaun basah sampe rumah?" River mematikan mesin, suasana di dalam mobil mendadak menjadi sangat privat dan mencekam.
"Gue mau ganti di belakang. Dan lo..." Every menunjuk wajah River dengan jari yang gemetar, "kalau lo berani noleh sedikit aja ke belakang, gue sumpah bakal congkel mata lo pakai pulpen teknik lo itu!"
River hanya mendengus sinis, menyandarkan kepalanya ke kursi sambil bersedekap. "Ganti aja cepetan. Gue nggak minat liat cewek yang lagi kedinginan kayak kucing kecebur got."
Every merangkak ke kursi belakang dengan susah payah karena gaunnya yang berat. Suara gesekan kain basah dan napas Every yang tertahan memenuhi kabin mobil yang sempit.
Di tengah kegelapan dan deru hujan, Every mencoba melepas resleting belakangnya dengan tangan yang kaku.
"River... jangan noleh!" ancam Every lagi saat ia merasa River sedikit menggerakkan kepalanya.
River menatap lurus ke depan.
Namun, matanya tidak menatap ke depan. Matanya terkunci pada spion tengah, memperhatikan setiap gerakan Every yang kikuk melalui pantulan kaca.
"River, gue serius!" teriak Every lagi saat gaun satinnya mulai meluncur turun dari bahunya, menampakkan punggungnya yang putih bersih di bawah temaram lampu kabin.
"Gue juga serius, Every," suara River rendah, membelah suara hujan. "Gue nggak perlu balik badan buat liat sesuatu yang udah gue hafal di luar kepala."
Gerakan Every membeku. Jantungnya mencelos.
"Gue udah liat semuanya, Every," suara River mendadak berubah—lebih rendah, lebih serak, dan penuh dengan intimidasi yang mematikan. "setahun lalu di hotel murahan. Tanpa sehelai benang pun. Di bawah lampu remang itu, gue bukan cuma liat, tapi gue hafal setiap inci tubuh lo. Jadi ancaman 'congkel mata' lo itu basi."
Every menarik kemeja putih River ke dadanya, wajahnya terasa terbakar meskipun kulitnya kedinginan. "Gue udah bilang itu bukan gue! Itu cuma halusinasi lo karena mabuk!"
Di spion tengah, mata mereka bertemu. Every baru menyadari bahwa sejak awal, River tidak pernah mengalihkan pandangannya dari spion itu.
"River, lo... bajingan!" desis Every, wajahnya memerah padam. "Lo bilang lo nggak minat liat cewek kayak kucing kecebur got!"
River menyeringai tipis, sebuah seringai predator yang membuat Every merasa telanjang meskipun ia sudah mendekap kemeja itu erat-erat. "Gue emang nggak minat sama kucing kecebur got. Tapi gue selalu minat liat mahakarya yang pernah gue tandai sendiri."
River memutar tubuhnya sedikit, tangannya bertumpu pada sandaran kursi, menatap Every secara langsung kali ini. "Lo pikir dengan sembunyi di jok belakang, memori gue bakal terhapus? Gue udah liat semuanya, Every. Tanpa sehelai benang pun. Gue tahu letak setiap tanda lahir lo, gue tahu gimana kulit lo berubah merah tiap kali gue sentuh, dan gue tahu persis gimana bentuk bahu lo pas lo lagi nangis."
Every terdiam, mencengkeram kemeja putih itu erat-erat. Di tengah badai hujan di luar sana, ia sadar bahwa benteng yang ia bangun selama enam bulan ini mulai retak.
River Armani bukan hanya ingin menjadikannya Ketua BEM; dia ingin Every mengakui bahwa noda di sprei Bangkok itu adalah miliknya.
"Tutup mata lo, River..." bisik Every, suaranya kini bergetar, bukan karena dingin, tapi karena intensitas tatapan pria itu.
River mencondongkan tubuhnya ke arah jok belakang, membuat Every semakin terdesak. "Gue cuma lagi memastikan kalau Every yang sombong dan kaku di kampus, adalah Every yang sama yang memohon jangan dilepaskan malam itu di Bangkok. Dan dari cara lo menatap gue sekarang... gue tahu jawabannya."
Every buru-buru memakai kemeja putih River, mengancingkannya dengan tangan yang gemetar hebat. Kemeja itu terlalu besar untuknya, aromanya—aroma River—seolah menelan Every sepenuhnya.
"Gue bakal benci lo selamanya, River Armani," ucap Every sambil berusaha menstabilkan napasnya.
"Bagus," sahut River, kembali ke posisi duduknya dan menyalakan mesin mobil. "Benci gue sesuka lo. Karena rasa benci itu satu-satunya hal yang bakal bikin lo terus mikirin gue, sampai akhirnya lo sadar kalau lo emang nggak bisa lepas dari gue."