Arthur tumbuh di bawah perlindungan seorang pelayan tua yang setia, tanpa pernah benar-benar memahami ayahnya dan apa yang telah ia tinggalkan. Ketika waktu mulai merenggut kekuatan pelindung lamanya, Arthur dipaksa menghadapi dunia yang selama ini dijauhkan darinya dunia yang dibangun di atas hutang lama, keputusan sunyi, dan enam nama yang tidak pernah disebutkan secara utuh.
Sedikit demi sedikit, Arthur menemukan bahwa kebaikan ayahnya di masa lalu telah membentuk takdir banyak orang, namun juga meninggalkan retakan yang kini mengincar dirinya.
Di antara latihan, pengkhianatan yang tidak terucap, dan sosok-sosok yang mengawasi dari kejauhan, Arthur harus memilih:
meneruskan warisan yang tidak lengkap atau menyerah bahkan sebelum ia sempat memutuskan...
baca novelnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DavidTri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17 - Masih Perang #3, Cihuy
Ervin dari Wilayah Utara
Salju belum sepenuhnya mencair ketika Ervin meninggalkan Wilayah Utara, entah apa yang ia lakukan disana, tidak ada yang dapat mengetahui nya bahkan diriku sendiri.
Ervin tidak membawa pasukan.
Hanya laporan, peta, dan intuisi yang terasah oleh puluhan konflik kecil selama dia tinggal disana.
Di perbatasan selatan Tirpen, ia berhenti semalam dan menulis surat.
Tulisan tangannya rapi dingin tanpa emosi berlebih.
Surat dari orang misterius kepada Duke New Gate
Arthur Fireloren tidak sedang bertahan.
Ia sedang mengatur ritme perang.
Setiap penundaan suplai bukan sabotase, melainkan jebakan psikologis.
Pasukan Anda tidak kelelahan secara fisik mereka kelelahan secara mental karena menunggu.
Jika Anda menunggu dia menyerang terlebih dahulu, maka Anda sudah kalah.
Jika Anda menyerang tanpa mematahkan logistik dan simbol kekuasaannya, perang akan memanjang dan merusak legitimasi Anda sendiri.
Ervin menutup surat itu dengan satu kalimat dingin:
Perang ini dimenangkan oleh pihak yang memaksa lawan membuat keputusan terburuk.
-Dari seorang yang mengharapkan hasil terbaik bagi anda
Amarah di Aula New Gate, sesampainya surat dari Ervin kepada New Gate
Aula Duke New Gate dipenuhi bau lilin dan besi.
Duke New Gate membaca surat itu dua kali.
Lalu meremasnya.
“Berani nya Anak bau kencur itu mempermainkanku” katanya dingin.
“Dan dia… menyuruhku menunggu?”
Ia membanting meja.
“Tidak!, tidak mungkin aku akan menunggu duduk disini.”
Duke Polein, yang duduk di sampingnya, terdiam.
“Ini sudah terlalu jauh, New Gate” kata Polein akhirnya.
“Kau ingin mengubah konflik politik menjadi kehancuran wilayah.”
New Gate menoleh tajam.
“Dalam kehancuran, hanya satu pihak yang bisa menulis sejarah ulang.”
Perintah Perang Total
Malam itu, perintah dikeluarkan dari Pihak New Gate:
Seluruh pasukan ditarik dan dimobilisasi ulang
20.000 tentara bayaran disewa dari:
Korps Selatan dan Prajurit Sungai berisi 200 Ranger terlatih, 3.000 Spearman, 5.000 Bowman, dan unit lain yang cukup sulit disebutkan karena terbatasnya informasi yang Arthur dapatkan.
Lalu ada sisa pasukan perbatasan kekaisaran, sebuah knight yang menjaga perbatasan setiap wilayah di kekaisaran, orang-orang menyebutnya sebagai Skirmisher Perbatasan.
Bendera-bendera asing mulai berkumpul.
Duke Polein berdiri, wajahnya pucat.
“Hey New Gate, tentara bayaran tidak setia pada tujuan mereka disewa.”
New Gate menjawab tanpa menoleh:
“Mereka setia pada upah. Bagi ku itu cukup.”
Ibu Kota Kekaisaran Valerion
Meriam-meriam itu datang dari kota terbesar di kekaisaran dan pusat kekaisaran yaitu Aurelion Prime.
Ibu kota Kekaisaran Valerion.
Kota bertingkat marmer dan baja langka, di mana senat, bengkel senjata, dan bank berada di satu lingkaran kekuasaan.
Meriam-meriam itu bukan senjata biasa, sebuah meriam bernama Basilica Cannon.
Laras panjang baja hitam
Rantai suplai mesiu terkontrol
Biasanya hanya digunakan untuk:
pengepungan para pemberontak atau penghancuran benteng pengkhianat kekaisaran
Fakta bahwa Duke New Gate bisa membelinya…
menunjukkan izin diam-diam dari orang-orang pusat.
Rencana Penjatuhan Benteng Florence
Di ruang strategi New Gate, para penasihat membentangkan peta.
Benteng Marquis Florence berdiri di atas tanah tinggi tua, tebal, simbol legitimasi.
Seorang penasihat menunjuk:
“Benteng ini tidak mudah jatuh oleh pedang.”
Ia menandai titik:
gerbang timur
fondasi menara lama
pemukiman sipil di bawah lereng
“Meriam dari Aurelion Prime akan mematahkan bukan hanya benteng tetapi kepercayaan.”
Duke Polein bangkit.
“Jika kau berani menghancurkan benteng Florence, itu sama saja dengan kau menghancurkan stabilitas wilayah Tirpen, karena mereka menjaga kita dari Ras liar Skorn, Umbrael, Morbane, dan Varkhel yang sangat berbahaya bagi manusia.”
New Gate menatapnya lama.
“Justru itu tujuannya.”
Ervin Menyadari Konsekuensinya
Di kejauhan, Ervin menerima kabar.
20.000 tentara bayaran.
Meriam kekaisaran.
Mobilisasi penuh.
Untuk pertama kalinya, alis Ervin berkerut.
“Sepertinya dari semua pilihan ia lebih memilih jalan terburuk” gumamnya.
Ia menoleh ke utara, ke arah Florence.
“Arthur… sekarang ini bukan lagi permainan ritme.”
Ervin menaiki kudanya.
“Ini ujian apakah pikiran bisa mengalahkan kehancuran.”
Di Florence, lonceng malam berdentang.
Arthur menerima laporan singkat:
New Gate memobilisasi penuh.
Tentara bayaran mulai bergerak.
Meriam kekaisaran terdeteksi.
Arthur menutup mata sejenak.
Bukan takut.
Melainkan menghitung.
“Baik, kita lihat siapa yang akan bertahan dasar kakek tua” katanya pelan.
“Jika mereka memilih kehancuran…”
Ia membuka mata.
“…maka kita biarkan mereka takut pada apa yang belum mereka hancurkan.”
Api di peta perang menyala lebih terang.
Dan perang, yang semula sunyi,
kini mengaum menuju titik tanpa jalan kembali.
Perang tidak selalu dimulai dengan terompet.
Kadang, ia dimulai dengan orang-orang yang salah berada di tempat yang tepat.
Mata Borein
Borein tidak pernah muncul di Florence.
Ia tidak menampakkan wajahnya, tidak menulis surat resmi, tidak menuntut pengakuan.
Namun pada malam keempat setelah mobilisasi Duke New Gate, dua puluh orang menyusup ke dalam arus tentara bayaran.
Mereka bukan prajurit elit.
Mereka adalah:
juru tulis logistik
pemandu medan
tukang besi
pembawa air
penerjemah kontrak bayaran
Mereka membawa identitas palsu, dan satu tujuan:
“Buat perang ini terasa lebih mahal daripada yang mereka bayangkan.”
Borein memberi satu perintah saja:
“Jangan bunuh siapa pun. Buat mereka saling mencurigai.”
Dalam waktu seminggu:
suplai gandum terlambat dua hari
mesiu basah di gudang selatan
peta jalur cepat hilang dari tenda komando
laporan jumlah tentara bayaran berbeda antara pagi dan malam
Tidak fatal.
Tapi mengganggu.
Seorang kapten bayaran berteriak di tenda Polein:
“Woyyy kami dibayar untuk bertempur, bukan untuk kelaparan!”
Penasihat New Gate mulai berbisik:
“Ini terlalu cepat untuk menjadi kacau.”
Namun Duke New Gate menganggapnya biasa.
“Tidak apa, tentara bayaran memang selalu berisik.”
Ia belum sadar
perang belum dimulai, tapi kepercayaannya sudah terkikis.
Surat-Surat Marquis Florence
Sementara itu, di Florence, Marquis Florence berdiri di ruang surat.
Ia tidak hanya menulis satu surat.
Ia menulis tujuh.
Surat itu dikirim ke wilayah-wilayah yang tidak tercantum dalam aliansi resmi:
keluarga lama yang berutang budi
wilayah perbatasan yang takut New Gate
rumah bangsawan kecil yang tak ingin diinjak perang besar
Isi suratnya sederhana:
Florence tidak meminta kalian mati untuk kami.
Kami meminta kalian mencegah sebuah keluarga menguasai Tirpen dengan kehancuran.
Ia menutup setiap surat dengan segel tua
simbol perjanjian lama yang hampir dilupakan.
Arthur dan Peta Perang yang Tidak Terlihat
Arthur tidak memimpin pasukan.
Ia duduk di ruangan kecil,
bersama Toxen, dan dua juru peta.
Di hadapannya bukan garis pertempuran.
Melainkan:
jalur suplai
desa penyangga
sungai dangkal
kota tempat tentara bayaran biasa membelanjakan upah mereka.
Arthur menunjuk satu titik.
“Jika titik ini runtuh” katanya pelan,
“mereka tidak akan bisa mundur… mereka akan saling menyalahkan.”
Toxen tersenyum tipis.
“Ini bukan perang ksatria.”
Arthur mengangguk.
“Ini perang antara manusia biasa.”
Di satu sisi reaksi dari Enam Organisasi
Clorfin mengamati dari jauh.
Vastorci tersenyum di balik kabar kekacauan kecil.
Permo menahan diri ia menunggu pihak yang paling lemah.
Forlen mengirim pengamat.
Ervin… tidak bergerak.
Ia membaca pola.
“Seperti biasa Borein pasti ikut campur” gumamnya.
“Dan tidak menyadari nya tapi biarlah....”
Ervin menutup mata.
“Ini bukan perang dua pihak lagi.”
Belum ada benteng yang runtuh.
Belum ada darah besar yang mengalir.
Namun di malam hari:
tentara bayaran mulai mengunci kantong uang mereka
perwira mulai tidur dengan tangan di gagang pedang
dan kepercayaan hal paling mahal dalam perang mulai menghilang
Di Florence, Arthur menatap lilin yang hampir padam.
“Episode pertama telah lama selesai” katanya pelan.
“Sekarang… kita lihat pihak siapa yang tidak sabaran dan memulai duluan.”
tentang orang jadi pembunuh gitu aja, kalau penasaran boleh di baca🔥