Dahlia seorang istri yang sangat dikecewakan suami yang sangat dicintainya. Namun Dahlia tetap memilih untuk bertahan mempertahankan rumah tangganya. Dahlia tidak mau seperti ibu dan kakaknya yang menyandang status janda juga. Dahlia pun lebih memilih melampiaskan kekecewaan dan rasa sakit hatinya dengan menjalin hubungan terlarang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kuswara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Enam Belas
Wajah Dahlia pucat pasi, keringat dingin terus bercucuran membasahi tubuhnya, pikirannya buntu dan hatinya sangat gelisah saat dokter menyatakan dirinya hamil.
Hakim pun menunda membacakan putusan yang bisa saja langsung dibacakan saat itu juga. Akan tetapi melihat perjuangan Ryan yang terus tetap ingin mempertahankan rumah tangganya di tengah kehamilan istrinya yang sama-sama baru diketahui.
Pak Adnan tidak dapat melarang Ryan yang membawa Dahlia pulang. Laki-laki itu menatap punggung Dahlia yang semakin lama semakin jauh dan menghilang.
"Biarkan aja jika Dahlia ingin mempertahankan rumah tangganya, aku percaya dia lakukan itu demi bayi yang dikandungnya."
"Baik, Pak Adnan, kita akan menunggu keputusan Dahlia."
Kemudian kedua laki-laki itu pergi dari pengadilan.
Pak Adnan tidak langsung tancap gas, berdiam diri menenangkan pikirannya yang tiba-tiba kacau. Antara harus tetap maju atau mundur teratur.
Hatinya tidak bisa dibohongi jika dia sangat menginginkan Dahlia. Tapi akal sehatnya memintanya untuk mundur. Bisa saja dia menjadi ayah untuk bayinya Dahlia tapi dia sadar, Ryan masih hidup dan dia melihat cinta dan perjuangan besar Ryan untuk mempertahankan rumah tangganya.
Ryan berhasil membawa pulang Dahlia ke rumahnya. Perempuan itu sudah berada di kamarnya. Pikirannya masih kosong dan tidak tahu harus apa.
"Kamu serius Dahlia hamil?."
"Iya, dengan Dahlia hamil kami nggak akan cerai dan yang sudah aku katakan kami akan selalu bersama selamanya."
"Mama seneng kalau kamu seneng begini, dari kemarin uring-uringan mulu."
Ryan tersenyum lebar.
"Hidupku udah kembali bersamaku, ma, jadi nggak ada alasan untuk uring-uringan lagi."
Mama ikut tersenyum lebih bahagia dari Ryan.
Sangat berbeda dengan Dahlia yang sedikitpun tidak bahagia. Bukan karena kehamilannya tapi karena dia harus kembali ke rumah ini dan tinggal bersama Ryan. Dia bisa mengurus kehamilan dan bayi kelak jika sudah lahir.
Pak Adnan?. Dahlia segera menghubunginya saat mengingatnya. Berulang kali di telepon tapi Pak Adnan tidak meresponnya. Sekarang giliran Pak Adnan yang menghindarinya.
Ini yang diinginkannya 'kan?.
Ryan memasuki kamar dengan membawa makanan untuk istrinya.
"Kamu harus makan, sayang, bayi kita sangat membutuhkannya."
Ryan duduk manis di hadapan Dahlia, bersiap menyuapi istrinya.
"Aku tetap mau cerai!."
Dahlia tetap meminta cerai dari Ryan, dia menegaskannya lagi.
"Kamu nggak hamil aja aku nggak mau ceraikan kamu apalagi sekarang kamu hamil. Aku akan melakukan apa pun supaya kamu dan bayi kita tetap bersamaku."
"Aku nggak bahagia lagi dengan pernikahan ini, tolong lepaskan aku. Biarkan aku kembali ke rumah mama, aku mau tinggal di sana."
Dengan cepat Ryan menggeleng sambil menaruh makanan yang tidak jadi disuapinya untuk Dahlia.
"Nggak, tempatmu di sini bersamaku."
Ryan pun keluar dari kamar, dia tidak mau mendengar rengekan Dahlia yang terus yang meminta cerai dan balik ke rumah mamanya.
Dahlia menangis di dalam kamar mandi, menangis sejadi-jadinya. Meluapkan kekecewaannya terhadap keadaannya sekarang ini.
Setelah tangisnya reda, sesak di dada pun berkurang, dia keluar dari kamar mandi dan langsung menjawab panggilan telepon dari mamanya.
"Halo, ma."
"Mama udah khawatir kamu belum ada pulang, tapi sekarang nggak khawatir lagi karena Ryan udah telepon mama."
"Aku nggak mau di sini, ma."
Dahlia kembali menangis.
"Aku mau di rumah mama."
Mama terdiam, mendengar tangis Dahlia di seberang sana.
"Aku mau cerai, ma."
"Mama tahu ini sangat berat, tapi kamu harus ingat, ada bayi di rahimmu yang memintamu tetap kuat dan sabar. Bayimu membutuhkan keluarga yang lengkap, kamu dan Ryan. Belajar untuk berdamai dan beri kesempatan jika memang Ryan ingin menjadi suami yang lebih baik lagi."
Kini Dahlia terisak.
" Kamu lihat, Bayu, berapa sering dia bertanya tentang papanya.Selalu mencari sosok itu karena Bayu sangat membutuhkannya walau sudah dapat kasih sayang berlimpah dari mama, mamanya dan kamu. Tetap aja ada yang kurang dan berbeda. Mama harap kamu belajar dari kondisi Bayu jangan karena keegoisan kamu bayi kehilangan papanya."
Dahlia menaruh ponselnya, dia menutup wajahnya dengan bantal lalu menangis lagi, sangat kencang.
Dahlia terus terjaga, dia menatap Ryan yang tidur di sebelahnya. Mengingat lagi bagaimana laki-laki itu bercinta dengan Liana.
Kenapa harus terjadi juga padaku?. Tapi aku nggak bisa pergi dari rumah yang sekarang terasa seperti penjara saja.
Keesokan paginya.
"Walau kamu hamil tapi kamu masih boleh bekerja, sayang, tapi aku akan selalu mengantar dan menjemputmu."
Dahlia hanya diam.
Duduk diam di samping Ryan yang fokus mengemudi.
"Tadinya aku udah mau berhenti dari kantor demi membuktikan kalau aku nggak ada apa-apa dengan Liana. Tapi karena kehamilan kamu ini, aku jadi nggak keluar kerja dari kantor. Justru aku harus semakin semangat kerjanya demi kamu dan bayi kita, sayang."
Dahlia masih diam, dia malas mendengarkan apalagi sampai harus merespon.
Tapi walau diperlukan begitu oleh Dahlia, Ryan tetap bicara sampai mereka tiba di kantor.
Dahlia segera keluar dan memasuki lift. Dia bersandar sambil menatap dirinya dari pantulan kaca lift. Dia meraba perutnya yang masih rata.
"Selamat, Ia, kamu akan menjadi seorang Ibu."
Dahlia menggeser tatapannya ke sebelah kanannya, di sana ada Pak Adnan yang berdiri. Lalu Dahlia menoleh, mana bisa dia tidak menyadarinya.
"Adalah hal yang paling istimewa dan begitu indah mendapatkan gelar seorang ibu."
Pak Adnan menatap perut Dahlia yang masih dipegangi Dahlia.
"Semua harus berakhir sebelum benar-benar dimulai."
Kini mata Dahlia berkaca-kaca.
"Sekarang kita bisa menjadi atasan dan bawahan seperti yang kamu katakan kemarin."
"Iya, memang seharusnya begitu."
Pintu lift terbuka, Pak Adnan yang lebih dulu keluar meninggalkan Dahlia. Dahlia segera keluar namun memasuki toilet terdekat untuk menangis.
Setelah puas baru dia keluar dan memasang wajah tersenyum untuk bertemu siapa saja yang ditemuinya dan Lusi yang ditemuinya.
"Aku nagih utang ceritamu."
"Nggak ada, Lus, apa yang kamu lihat itu cuma sedikit dari kenyataan yang memang aku dan Pak Adnan nggak ada apa-apa. Kemarin itu Pak Adnan membantuku, membersihkan rambutku yang kena jatuhan sampah rautan pensil."
"Kamu nggak lagi bohong 'kan, Lia?."
"Lihat aja CCTV kalau mau lihat jelas dari sudut yang lain."
"Nggak segitunya juga."
"Jadi stop bertanya apa pun tentang Pak Adnan kepadaku karena aku hanya bawahannya dan Pak Adnan my bos."
Puas tidak puas Lusi harus menerima dengan apa yang dikatakan Dahlia. Dia pun memilih percaya sembari mencari tahu sendiri saja.
Dahlia menatap selip gaji tanpa potongan utangnya, baru ngehnya sekarang karena tidak pernah mengecek saldo ATM.
Sudah begitu banyak hal yang dilakukan Pak Adnan untuknya, keluarganya meski pada akhirnya laki-laki itu yang harus kecewa.
Pandangan Dahlia terangkat ketika suara seorang perempuan menyapa Pak Adnan.
"Hai, Nan, aku mampir ke sini mau ngajak kamu makan. Anak-anak udah nunggu di restoran bawah."
"Iya, kebetulan aku sangat lapar."
Mereka berjalan bersama.