NovelToon NovelToon
TETANGGA GARIS KERAS

TETANGGA GARIS KERAS

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rachel Imelda

Aruna Paramitha, gadis cantik yang memiliki bodi gores menganggap rumahnya dalam tempat yang paling aman, menjadi terganggu dengan kedatangan tetangga baru yang menyebalkan. Gavin Adnan, adalah pria garis keras dalam hal ketertiban. Aruna yang berjiwa bebas dan sedikit berantakan pun resmi menjadi musuh bebuyutan Gavin. Namun.un saat sebuah insiden salah kirim paket, mengungkap rahasia kecil Gavin yang tak terduga, tembok pertahanan pria kaku itu mulai goyah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachel Imelda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Priiitttt

Gavin berhenti sejenak, mengelap keringat di dahinya dengan saputangan yang - tentu saja- masih terlipat simetris. "Saya sudah menyiapkan 'Zona transisi', Mbak Tania. Sebuah rak sepatu dengan sensor otomatis di perbatasan. Dan soal sendal Aruna... saya rasa saya mulai belajar untuk menyukai ketidakteraturan yang terorganisir."

Tania mendesah dramatis ke arah kamera ponselnya (karena dia sedang live instagram). "Oke guys, hari ini aku belajar satu hal: sekaku-kakunya cowok, kalau sudah ketemu pawang yang piyamanya gambar wortel, bakal luluh juga. Rest In Peace buat mimpiku jadi Nyonya di rumah steril ini."

Saat bagian tengah pagar berhasil diangkat, kini tidak ada lagi pembatas antara rumah mereka. Taman mangga Aruna dan carport kinclong Gavin kini menyatu menjadi satu lapangan luas yang aneh tapi terasa pas.

"Selamat Mbak Runa, Mas Gavin!" teriak Pak RT yang tiba-tiba muncul membawa tumpeng kecil. "Ini simbolisnya, pagar hilang, berarti kalau ada masalah jangan ada yang dipendam lagi. langsung diseberangi aja."

Gavin tampak agak canggung dikerumuni warga, tapi ia tidak melepaskan tangan Aruna. "Terima kasih, Pak RT. Mulai besok, laporan kebersihan taman akan saya buatkan satu pintu agar lebih efisien."

Aruna tertawa kecil sambil menyenggol lengan Gavin. "Mas, sehari aja nggak usah bahas laporan, bisa?"

Gavin menatap Aruna, lalu menatap halaman mereka yang kini terbuka luas. Ia menarik Aruna mendekat dan berbisik pelan, "Bisa. Tapi mulai besok, daun mangga yang jatuh di sisi saya... tetap harus saya hitung sebagai kontribusi cintamu yang terlalu banyak."

Aruna melongo lalu tertawa lepas. Ternyata meskipun pagarnya sudah roboh, sisi "garis keras" Gavin tidak akan pernah hilang -hanya saja sekarang, Aruna adalah satu-satunya orang yang memegang kunci untuk mengaudit hatinya.

Setelah pagar itu benar-benar rata dengan tanah, perumahan Harmoni seolah memiliki objek wisata baru. Warga yang biasanya hanya lewat, kini sengaja berputar arah hanya untuk melihat bagaimana "Diktator kompleks" dan "Gadis Pohon Mangga" itu berbagi wilayah.

Mochi, kucing liar yang dulu hanya berani mengintip dari pagar, kini merasa mendapatkan wilayah kekuasaan baru. Masalahnya, Mochi tidak mengenal konsep "higienitas" Gavin.

Suatu pagi Aruna menemukan Gavin sedang berdiri mematung di tengah halaman yang kini menyatu. Ia memegang sebuah jangka sorong dan beberapa bendera plastik kecil warna kuning- mirip garis polisi.

"Mas, kamu sedang apa? Mau pasang instalasi seni?" tanya Aruna sambil membawa kopi.

"Saya sedang menandai 'Zona netral' Runa," jawab Gavin serius tanpa menoleh. "Kemarin Mochi buang air di atas rumput Jepang saya yang saya impor dari pusat pembibitan. Saya sedang menghitung koordinat paling strategis untuk menempatkan kotak pasir (liter box) agar tidak merusak estetika landscape tapi tetap terjangkau oleh sensor penciuman kucing tersebut."

Aruna hanya bisa geleng-geleng kepala. Tinggal taruh di pojok, Mas. Nggak usah pakai koordinat GPS."

*********

Sore harinya saat menyiram tanaman. Dulu, mereka saling menyemprot lewat pagar. Sekarang tanpa pembatas, situasinya jadi lebih kacau.

Aruna sedang asyik menyiram pohon mangganya sambil mendengarkan musik lewat speaker. Tanpa sadar ia bergoyang dan selangnya mengarah kemana-mana. Gavin yang sedang menyikat ban mobilnya agar hitam logam sempurna, tiba-tiba terkena cipratan air.

Gavin berdiri, tubuhnya basah kuyup. Ia tidak matah, tapi ia mengeluarkan sebuah peluit dari kantongnya.

PRIIITT!

Pelanggaran protokol penyiraman!" seru Gavin. "Mbak Aruna, anda telah melanggar batas sudut elevasi selang sebesar 30.derajat. Ini menyebabkan kontaminasi air keruh pada kemeja kerja yang baru saya jemur."

Aruna tertawa terbahak-bahak. "Aduh, Mas. Maaf! Habisnya kamu berdiri di garis gravitasi airku!"

Bukannya menghindar, Gavin malah mengambil selang airnya sendiri. Bukannya membalas dendam dengan menyemprot Aruna. "Suhu tubuhmu meningkat karena tertawa terlalu keras. Ini adalah prosedur pendinginan darurat."

Tania tidak melewatkan kesempatan ini. Ia melihat Gavin dan Aruna yang sekarang sering duduk bareng di teras (yang sekarang sudah menyatu) sebagai ladang konten.

"Okey, Guys, lihat ini." bisik Tania ke kamera ponselnya sambil bersembunyi di balik gorden. "Di sebelah kanan ada Mas Gavin yang lagi baca laporan tahunan sambil memakai master medis, dan disebelah kiri ada kakak aku, Runa,.yang lagi makan bakso sambil kakinya naik ke satu kursi. Inilah definisi merger perusahaan paling tidak seimbang di dunia."

Tiba-tiba Gavin menoleh ke.arah jendela tempat Tania bersembunyi. "Mbak Tania, lensa kamera Anda memantulkan cahaya matahari ke mata saya. Tolong geser sudutnya lima derajat ke kiri atau saya akan menagih biaya royalti atas penggunaan wajah saya di konten Anda."

Tania langsung menutup gorden. "Gila! dia punya edaran auditor bahkan buat pantulan cahaya!"

Pak RT datang berkunjung untuk mengecek hasil pembokaran. Ia terpaku melihat bagaimana Gavin sudah memasang lampu sensor gerak di tengah-tengah halaman yang baru.

"Mas Gavin, ini lampunya kok sensitif banget? Saya gerak dikit aja nyala," tanya Pak RT.

"Itu adalah sistem keamanan terintegrasi, Pak," jelas Gavin. Sejak pagar dibongkar, resiko intrusi meningkat 12 persen. "Lampu itu akan menyala jika ada objek dengan massa di atas 15 kg yang masuk tanpa izin. Termasuk kucing, kurir paket,.... atau tetangga yang mau bergosip."

Bu Tejo yang kebetulan lewat langsung mengurungkan niatnya untuk mampir.

Puncak kelucuannya adalah saat Aruna terburu-buru dan malah salah pakai sendal. Ia memakai sendal rumah Gavi yang berwarna putih bersih dan memiliki desain ergonomis.

Sementara Gavin yang harus segera ke kantor untuk rapat penting, tanpa sadar memakai sendal hijau "swalow" milik Aruna karena posisinya berdampingan tanpa pagar.

Gavin bau sadar saat ia tiba di lobi kantornya. Ia melihatku bawah dan menemukan sendal jepit tipis dengan bekas jempol yang sangat terlihat.

Rekan kerja Gavin bertanya, "Pak Gavin, itu... konsep fashion baru untuk audit hari ini?"

Gavin terdiam, lalu dengan wajah paling datar sedunia menjawab, "Ini adalah bentuk solidaritas terhadap variabel acak di rumah saya. Sangat nyaman untuk sirkulasi udara kaki."

Malamnya, saat pulang, Gavin menyerahkan sandal itu pada Aruna. "Runa, besok tolong buatkan label nama pada setiap alas kaki. Saya hampir saja mempresentasikan laporan kerugian negara sambil memakai sandal jepit bergambar mangga ini."

Aruna tertawa sampai lemas di pelukan Gavin. "Tapi kamu tetap kelihatan ganteng kok, Mas, meski pakai sendal jepit."

Gavin mengecup puncak kepala Aruna. "Tentu saja. Karena menurut hitungan saya, kepercayaan diri tidak di pengaruhi oleh alas kaki, melainkan oleh siapa yang menunggu saya di balik pintu rumah yang kini tak berpagar ini."

Aruna tersenyum mendengar perkataan Gavin. "Tapi, Mas. Bisa nggak ngomongnya pake bahasa manusia normal aja."

Gavin menatap Aruna. "Emangnya yang aku omongin tadi bukan bahasa manusia?"

"Bahasa manusia sih, tapi maksudnya bahasa yang gampang dimengerti oleh banyak manusia gitu lho, Mas." Kata Aruna sambil menatap wajah tampan yang ada di depannya.

"Oke, deh. Mbak Aruna yang cantik. Saya akan berusaha merealisasikan permintaan kamu." kata Gavin, lalu mencubit kecil ujung hidung Aruna yang mancung.

"Ya udah, Mas. Makan dulu. Aku dah masak yang enak-enak buat kamu." kata Aruna.

"Steril dan higienis nggak?" tanya Gavin dan mendapat tatapan tajam dari Aruna, "Mas!"

"Hehehehe... iya deh. Maaf. Aku akan berusaha menerima semua yang kamu lakukan. Ayo."

Mereka berdua pun masuk ke rumah Aruna untuk makan malam bersama.

Bersambung.......

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!