Zivaniel Maxton de Luca adalah sosok yang ditakuti dunia bawah. Di balik wajah tampannya, ia menyimpan darah dingin dan tangan yang tak pernah ragu menumpahkan nyawa. Dengan topeng penyamaran, ia membantai musuh-musuhnya tanpa ampun, menegakkan hukum versinya sendiri dalam lingkaran mafia kelas kakap yang diwariskan padanya sejak lahir.
Tak seorang pun mengetahui identitas aslinya. Bagi dunia luar, Zivaniel hanyalah pria biasa dengan aura dingin yang sulit ditembus. Namun bagi mereka yang mengenalnya di dunia gelap, namanya adalah teror—legenda yang hidup, bengis, dan tak pernah gagal.
Hingga satu nama mampu meretakkan kekokohan hatinya.
Cherrin.
Gadis yatim piatu yang tumbuh dalam kesederhanaan setelah diadopsi oleh sang nenek. Lembut, polos, dan jauh dari dunia hitam yang melingkupi hidup Zivaniel. Sejak kecil, Cherrin adalah satu-satunya cahaya dalam hidupnya—alasan mengapa ia masih mengenal rasa ragu, takut dan cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julia And'Marian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 19
Zivaniel berjalan cepat menyusuri koridor sekolah.
Langkahnya panjang, tegang, seperti seseorang yang sedang mencoba berlari dari pikirannya sendiri. Tangannya mengepal di sisi tubuh, rahangnya mengeras, dan matanya menatap lurus ke depan—menolak melihat apa pun yang bisa memperlambatnya.
Permen itu.
Hal sepele. Sangat sepele.
Dan justru itu yang membuat dadanya terasa panas.
Satu permen kecil di telapak tangan Cherrin. Cara ia menerimanya tanpa ragu. Cara ia tersenyum—tidak lebar, tidak berlebihan, tapi cukup tulus untuk membuat sesuatu di dalam diri Zivaniel runtuh sedikit demi sedikit.
Ia berhenti di depan tangga darurat.
Menarik napas.
Dalam.
Terlalu dalam.
“Brengsek,” gumamnya lagi, lebih pelan kali ini. Bukan pada Elran. Bukan pada Cherrin. Tapi pada dirinya sendiri.
Kenapa harus sekarang?
Kenapa setelah ia memutuskan untuk mundur, dunia justru seperti sengaja menunjukkan apa yang ia tinggalkan?
Zivaniel menyandarkan punggung ke dinding dingin. Menutup mata.
Di balik kelopak itu, wajah Cherrin muncul—ekspresi bingungnya semalam, suara lirihnya yang memanggil namanya, tatapan yang bertanya tanpa benar-benar meminta jawaban.
Aku capek.
Kalimat itu kembali terngiang.
Ia membuka mata.
“Aku juga capek,” gumamnya lirih.
Tapi capeknya berbeda. Cherrin capek menunggu. Zivaniel capek menahan. Sungguh, andai saja kalau ia tidak merupakan keturunan mafia, mungkin saja ia sudah menjadikan Cherrin kekasihnya. Tapi ia tidak mau membuat Cherrin jatuh ke dalam kehidupannya yang gelap. Ia tidak mau gadis itu terseret dunianya yang gelap.
"Aku sayang sama kamu, tapi aku nggak bisa sama kamu." Ucap Zivaniel frustasi.
Sementara itu, Cherrin duduk di bangkunya dengan permen masih berada di telapak tangan.
Ia memutarnya pelan, membaca tulisan kecil di bungkusnya tanpa benar-benar fokus. Rasa manis yang belum ia cicipi itu terasa seperti gangguan kecil di tengah pikirannya yang kusut.
“Elran,” panggilnya pelan.
“Hm?” Elran menoleh.
“Lo… kenapa baik banget sih?”
Elran tertawa kecil. “Gue emang gitu.”
“Itu bukan jawaban.”
“Oke.” Elran menyandarkan siku ke meja. “Karena gue pengen.”
Sederhana. Tanpa beban. Tanpa strategi tersembunyi.
Cherrin menelan ludah. “Gue lagi nggak mau ribet.”
“Gue tau.”
“Dan gue nggak mau janji apa-apa.”
“Gue juga nggak minta.”
Jawaban itu membuat Cherrin terdiam cukup lama.
Ia akhirnya membuka bungkus permen itu, memasukkannya ke mulut. Rasa manis menyebar perlahan, menempel di lidahnya.
“Permennya enak,” katanya akhirnya.
Elran tersenyum. “Iya.”
Tidak ada lanjutan. Tidak ada klaim. Tidak ada ekspektasi.
Dan entah kenapa, itu terasa… menenangkan.
Jam pelajaran berikutnya berlalu dengan tempo lambat.
Cherrin mencatat. Menjawab. Mengangguk saat guru bertanya. Tapi pikirannya melayang, berputar pada satu hal yang sama: Zivaniel.
Kenapa dia marah?
Kenapa harus sejauh itu?
Bukankah selama ini ia selalu dekat dengan banyak orang? Cowok, cewek—teman, kenalan, bahkan orang asing yang baru ia temui.
Kenapa Elran berbeda?
Kenapa reaksi Zivaniel terasa… berlebihan?
“Cher.”
Suara itu menariknya kembali ke dunia nyata.
Icha duduk di sampingnya, menatapnya dengan ekspresi yang terlalu tahu.
“Lo abis bareng sama Elran ya?”
Cherrin mengangguk malas. “Kenapa?”
“Zivaniel kelihatan mau ngebunuh orang.”
Cherrin mengerjap. “Hah?”
“Serius.” Icha bersandar. “Mukanya gelap banget. Terus dia bentak Dimas.”
"Kom Lo tau?"
"Gue tadi ke perpustakaan lewat ruangan OSIS bjir! Tuh anak kayak mau makan orang aja. Pas gue lihat arah pandangnya, pas elo sama Elran duduk."
Cherrin terdiam.
Ada bagian kecil di dalam dadanya yang bergetar—bukan puas, bukan senang, tapi sesuatu yang lebih rumit.
“Dia kenapa sih?” gumam Cherrin.
Icha menatapnya lama. “Lo masih nanya?”
“Gue nggak ngapa-ngapain,” bela Cherrin pelan.
“Justru itu masalahnya,” jawab Icha. "Dia itu suka sama elo."
Cherrin menggelengkan kepalanya, ia tertawa, "nggak mungkin."
"Ck, nggak percaya." Icha mendecak kesal.
*
Zivaniel menghabiskan sisa hari sekolahnya dengan menjaga jarak.
Ia menghindari lorong tertentu. Menghindari jam istirahat di tempat biasa. Menghindari kemungkinan bertemu dengan Cherrin—atau lebih tepatnya, melihat Cherrin bersama Elran lagi.
Tapi takdir, seperti biasa, tidak peduli pada usaha seseorang untuk menghindar.
Sore itu, hujan turun lagi.
Gerimis tipis, hampir tidak terasa, tapi cukup untuk membuat udara berubah dingin. Siswa-siswa berlarian mencari tempat berteduh.
Zivaniel keluar dari gedung OSIS, map masih di tangannya, ketika ia melihat Cherrin berdiri di depan gerbang.
Elran ada di sampingnya.
Mereka tidak berpegangan tangan. Tidak terlalu dekat. Tapi payung yang Elran pegang sedikit condong ke arah Cherrin—melindunginya lebih banyak daripada dirinya sendiri.
Zivaniel berhenti.
Dadanya terasa seperti diremas.
Ia tahu, secara logika, tidak ada yang salah. Ia sendiri yang berkata ia tidak berhak marah. Ia sendiri yang memilih menjauh.
Tapi perasaan tidak bekerja dengan logika.
Elran berkata sesuatu. Cherrin tertawa kecil. Suara itu samar di tengah hujan, tapi cukup jelas untuk sampai ke telinga Zivaniel.
Tertawa yang sudah lama tidak ia dengar tertuju padanya.
Tangannya kembali mengepal.
Dimas muncul di sampingnya. “Niel… lo nggak papa?”
Zivaniel tidak menjawab.
Cherrin akhirnya menoleh. Tatapan mereka bertemu.
Hanya sepersekian detik.
Tapi cukup.
Senyum Cherrin memudar. Alisnya sedikit berkerut. Seolah ia ingin mengatakan sesuatu, tapi ragu.
Elran mengikuti arah pandangnya.
“Oh,” katanya pelan. “Zivaniel.”
Zivaniel melengos.
Cherrin membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
Zivaniel berpaling lebih dulu.
Ia berjalan pergi sebelum ada yang sempat diucapkan.
Malam di mansion kembali sunyi.
Cherrin pulang dengan perasaan yang tidak bisa ia beri nama. Ia masuk kamar, mengganti baju, lalu duduk di tepi ranjang.
Kucing abu-abu itu melompat naik, meringkuk di sampingnya.
“Hai” gumam Cherrin.
Kucing itu mendengkur pelan, tidak peduli.
Cherrin menatap pintu kamar.
Biasanya, di jam seperti ini, Zivaniel akan muncul. Entah hanya untuk duduk sebentar. Entah hanya memastikan ia sudah pulang.
Tapi pintu kamar pemuda itu tetap tertutup.
Cherrin menghela napas kasar.
“Kalau kamu cemburu, bilang dong,” katanya lirih, seolah Zivaniel bisa mendengarnya dari balik dinding. “Kenapa harus kayak gini sih?”
Ia berbaring, menatap langit-langit.
Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, ada rasa lelah yang berbeda di dadanya.
Bukan sedih.
Bukan marah.
Tapi lelah menunggu seseorang yang tidak mau melangkah setengah langkah pun ke arahnya.
Di kamar sebelah, Zivaniel duduk di tepi ranjangnya sendiri.
Lampu mati. Hanya cahaya dari jendela yang masuk, memantul samar di dinding.
Ia menatap ponselnya.
Nama Cherrin ada di sana. Tidak ada pesan. Tidak ada panggilan tak terjawab.
Ia bisa mengetik.
Satu kalimat saja.
Aku cemburu.
Tapi jarinya tidak bergerak.
Karena mengaku cemburu pasti ia mengaku semua perasaannya pada gadis itu. Dan Zivaniel tidak mau.
Dan mengaku peduli berarti membuka pintu yang selama ini ia jaga agar tetap tertutup.
Zivaniel menutup mata.
“Kalau gue kalah?” gumamnya. “Kalau dia milih Elran?”
Pertanyaan itu tidak punya jawaban yang ingin ia dengar.