Siapa sangka peristiwa yang terjadi selama dua minggu, membuat hidup Salsa berubah total. Dorongan yang kuat untuk mengungkap tabir kematian seorang gadis yang menyangkut dosen Salsa. Ia punya beban moril untuk mengungkap kasus ini, agar citra pendidikan tetap terjaga dan tidak ada korban lainnya.
Bersama Syailendra, Salsa berhasil mengungkap kematian Karina hingga memperoleh ketenangan di dunia lain.
Happy Reading.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CURHAT SI HANTU
"Kamu ke mana aja?" tanya Salsa heran saat dia baru keluar kelas, sosok Karin sudah berdiri di depan kelas Salsa. Spontan gadis itu kaget dan langsung pura-pura telepon. Biar gak disangka gila oleh teman-temannya. Aktingnya semakin oke saat dia mencari earbuds di dalam tas dan bilang gue duluan, pada Rindu dan Devita sembari berlari turun tangga. Karin mengikuti dan ìa memilih gazebo fakultas.
"Sekarang lo cerita, dari mana kemarin mulai dari sore kita selesai di lantai 3!" cecar Salsa pada Karin dan masih pura-pura pakai earbuds.
"Kenapa? Harusnya kamu senang dong, aku sudah gak di kamar kamu, malah aku juga gak ganggu acara kencan kamu sama Kak Syailendra!" ujar Karin dengan memaksakan senyum.
Salsa terdiam, ya memang harusnya senang, tapi ternyata dia mencari keberadaan Karin, layaknya saudara yang sudah beberapa hari tak bertemu saja. "Aku kemarin berhasil menemukan apartemen Mas Amar, Sal!" ucap Karin sendu.
"Hah? Kok bisa?" tanya Salsa heran, perasaan saat dia turun bersama Syailendra kemarin dia masih terduduk sembari menundukkan wajah. Kok bisa menguntit Pak Amar.
Ternyata saat Salsa bersama Syailendra, Pak Amar balik lagi ke ruangannya, mengambil sesuatu yang dibawa dalam paper bag. Seingat Salsa saat dia dan Syailendra menuju parkiran motor, mobil Pak Amar sudah melaju keluar jurusan bukannya? Ah entahlah. "Terus?"
"Ya udah aku berjalan beriringan sembari menatap wajah gantengnya, aku kangen Salsa sama dia. Masih menjadi pacar pertamaku yang begitu aku cintai, rasa marah luntur saat melihat dia, bahkan aku berjalan bersanding rasanya aku masih ingat romantisnya kita dulu," ucap Karin menggebu.
"Bahkan aku bisa masuk mobil, duduk di sampingnya, dan aku mengagumi semua yang ada di dirinya, Sal!" ucap Karin layaknya manusia sedang bertemu dengan orang terkasih.
"Aku kira dia dan cewek itu semobil ternyata enggak, Mas Amar mampir ke apotek dulu entah beli apa, aku duduk saja di mobil takut ditinggal. Selama di dalam mobil dia dua kali menelepon seseorang, yang satu istrinya, dan satu lagi mungkin cewek yang keluar dari ruangannya."
"Gimana lo tahu itu istrinya? Itu Sandrina?" tanya Salsa fokus pada cerita Karin. Hingga mengabaikan keadaan sekitar.
" Oh cewek yang keluar dari ruangan itu Sandrina? Yang habis melabrak kamu?" tanya Karin dan Salsa mengangguk.
"Saat sama istrinya dia bilang akan pulang setelah isya', dan membawakan es krim untuk ibu hamil, saat itu aku langsung menangis, Sal. Karena teringat kalau usia kehamilanku gak jauh dari kehamilan istri Mas Amar, bahkan aku refleks menyentuh darah di baju ini!" ucap Karin sendu.
"Sedangkan saat bersam Sandrina, aku mendengar dua ronde saja, aku ditunggu istriku!" Salsa melongo, telinganya belum peka dengan ucapan dewasa seperti ini. Kemudian Karin menceritakan, Mas Amar menuju rumah minimalis di kawasan perumahan sepi, dan sudah ada cewek yang keluar dari ruangan tadi," Karin mulai sebal, intonasinya mulai terdengar emosi.
"Ternyata itu rumah si cewek, dia tinggal sendiri, dia sengaja beli rumah."
"Kok kamu tahu?" tanya Salsa.
"Ya cewek itu bilang, kalau Mas Amar adalah orang pertama yang mengunjungi rumah itu setelah dia serah terima kunci, dan kamu tahu Sal, begitu masuk rumah. Si cewek langsung merangkul Mas Amar, dan keduanya berciuman, aku sampai melongo. Aku pernah di posisi itu dan aku kepengen, gimana dong!" Salsa melongo bahkan spontan menonyor kepala si Karin, bahkan ia lupa kalau tindakannya barusan bisa dianggap aneh oleh mahasiswa lain.
"Terus?" tanya Salsa.
"Mereka berhubungan badan, dan aku melihatnya!" Salsa makin melotot, tak menyangka Karin bisa senekad itu.
"Di mana pun kamu berada tentu ada makhluk ghaib lainnya, termasuk saat melakukan please tertutup saja. Bahkan aku menyadari kesalahanku dulu, kenapa gak pakai selimut dan aku yakin saat kita melakukan dulu, banyak hantu pada lihatin kita. Dan tahu gak Sal, apa respon para hantu saat lihat Mas Amar dan cewek itu berhubungan," pancing Karin yang ia mendengar ucapan teman mahkluk lain di sekitar ranjang Sandrina.
"Ada yang berada di dekat telinga Mas Amar, ada yang di dekat telinga cewek itu, mereka saling berbisik, ayo tambah lagi hasrat kalian, masa' gitu doang. Makin aktif makin enak loh!"
"Karin sampe segitunya ya?"
"Dan aku termenung sembari melihat adegan mereka, aku mengingat perbuatanku dulu, melakukan tanpa ikatan resmi dan tak pernah ada doa saat melakukan hal itu, makanya pikiranku saat itu ingin lagi, lagi dan ketagihan, ternyata dikompori oleh makhluk lainnya," ucap Karin sembari menatap Salsa.
"Nanti kalau kamu begituan harus sama suami sendiri ya, dan berdoa dulu!" goda Karin sembari terkikik dan menjawil pundak Salsa.
Gadis itu hanya memutar bola mata malas, dan menggetok tangannya sambil mengucap amit-amit kalau bukan sama suami, dan membuat Karin tertawa. Ia kemudian menjelaskan bahwa Mas Amar memakai pengaman, hal ini menunjukkan bahwa Sandrina sudah tidak gadis saat bermain dengan Pak Amar. Ada salah satu obrolan mereka setelah melepas penyatuan, Sandrina dibantu untuk mengerjakan skripsi agar cepat selesai, ia sudah capek dengan penelitian lab yang selalu gagal.
Pak Amar sendiri memberi tahu Sandrina agar memberi suasana yang pas agar produk jadi, harus sesuai takaran dan kondisi yang optimal. Bahkan Pak Amar akan membantu mengerjakan penelitian itu asal lanjut ke percintaan lagi. Sandrina menyanggupi dan dia bahkan menikmati juga.
"Dia tua kan, Karin?" tanya Salsa memastikan usia beliau, meski penampilannya sangat proporsional di saat usia 40 tahunan.
"Apalah arti usia, kalau area intinya masih sangat menggiurkan," puji Karin membuat Salsa merinding disko.
"Sinting, maniak!" ceplos Salsa.
"Heleh, kamu sekarang bisa bilang begitu, tapi kalau sudah merasakan kamu akan menelan ludah kamu sendiri," ucap Karin.
Fakta terbaru diungkap Karin bahwasannya sang istri kandungannya lemah, sehingga Mas Amar mencari kepuasan lewat Sandrina. Terdengar juga bahwa Pak Amar sudah lama tidak bermain dengan wanita lain, atau mahasiswi lain, makanya dia mau menerima tawaran Sandrina.
"Halah bullshit, orang yang kayak gitu gak mungkin sudah lama gak main, Karin. Sudah jadi hantu masih aja percaya sama omongan si play boy!" ujar Salsa tak terima.
"Ya iya sih, tapi Mas Amar kalau sudah cinta tuh bakal sama tuh cewek terus," ujar Karin masih saja berniat membela, Salsa sampai buang muka.
"Ya ya ya, hantu kasmaran ya begini," ceplos Salsa tak tahu tempat. "Terus rencana kamu?"
"Aku ingin masuk ke tubuh kamu, dan menemui Pak Amar," ujar Karin sembari menatap Salsa penuh harap, dan tentu saja Salsa melongo dan melotot bahkan hampir copot tuh bola mata.