NovelToon NovelToon
Mafia Jatuh Cinta Pada Gadis Desa

Mafia Jatuh Cinta Pada Gadis Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Identitas Tersembunyi / Mafia
Popularitas:453
Nilai: 5
Nama Author: indah yuni rahayu

Jovan adalah pewaris mafia paling berbahaya di kota. Luka tembak dan pengkhianatan memaksanya melarikan diri ke sebuah desa terpencil, tempat seorang gadis sederhana bernama Mika menyelamatkan nyawanya.

Dengan identitas palsu sebagai petani buah, Jovan hidup di dunia yang tak pernah ia kenal—tenang, jujur, dan penuh kehangatan.

Di sanalah ia jatuh cinta pada Mika, tanpa ia sadari bahwa cintanya adalah ancaman.

Karena saat masa lalu mengejarnya, Mika bukan hanya gadis desa…dia adalah sandera paling berharga di dunia mafia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mengeluarkan Peluru

Mika menatap luka di bahu Jovan yang masih mengucurkan darah. Napas pria itu mulai lebih teratur, tapi warna kulitnya pucat dan dingin.

“Kau tidak bisa dibiarkan begini,” ujar Mika cemas. “Di desa ada puskesmas. Kita bisa memanggil petugas atau membawa...”

“Tidak.” Suara Jovan pelan, tapi tegas.

Mika tertegun. “Apa?”

“Tidak ke puskesmas,” ulangnya, matanya menatap lurus meski kelopak terasa berat. “Terlalu berbahaya. Aku tidak bisa muncul di tempat umum dalam kondisi seperti ini.”

“Kau bisa mati kalau tidak ditangani dokter,” balas Mika hampir memohon.

Jovan menggeser tubuhnya sedikit ketika rasa nyeri kembali merambat dari bahu ke dada. Otot-ototnya menegang, tapi ia memaksa wajahnya tetap datar. Ia tidak mau terlihat lemah di hadapan gadis desa itu… atau di depan pria pincang yang jelas-jelas awas mengamatinya.

Mika menuangkan air hangat ke dalam gelas dan menyodorkannya. “Minum sedikit. Supaya tidak pusing.”

Jovan menerima gelas itu. Ujung jarinya sedikit gemetar, tapi ia cepat menyembunyikannya dengan menggenggam lebih kuat. Ia meneguk perlahan, merasakan hangatnya turun ke tenggorokan.

“Terima kasih, Mika,” ucapnya.

Mika mengangguk, lalu kembali berjongkok di dekatnya. “Kau benar-benar yakin tidak mau ke puskesmas? Luka itu bukan luka kecil.”

“Aku sudah lebih buruk dari ini,” jawab Jovan. Nada suaranya tidak sombong, hanya fakta.

Pak Raka mendengus pelan dari dekat pintu. “Orang yang pernah hidup di jalanan keras memang selalu berkata begitu,” katanya. “Tapi darah tetaplah darah.”

Jovan menoleh. Tatapan mereka bertemu. Untuk sesaat, dua pria dari dunia yang sangat berbeda itu saling mengukur—yang satu terbiasa memerintah dan membunuh, yang satu terbiasa bertahan dan melindungi.

“Kau bukan orang desa biasa,” ujar Pak Raka datar.

Jovan tidak menjawab.

Mika gelisah. “Ayah…”

Pak Raka mengangkat tangan, memberi isyarat agar Mika diam. “Tenang. Selama dia tidak membawa masalah ke rumah ini, dia tamu kita.”

Jovan menurunkan pandangannya. Di dalam hatinya, ia tahu… masalah itulah yang selalu mengikutinya ke mana pun ia pergi.

Dan desa tenang ini—dengan gadis bernama Mika dan ayah pincangnya—tanpa mereka sadari, sudah berdiri tepat di tengah badai.

Jovan menghela napas panjang, lalu menatap luka di bahunya sendiri. “Aku bisa mengeluarkan pelurunya sendiri.”

Mika membeku. “Apa?”

“Peluru masih bersarang di bahuku. Itu yang membuat pendarahan tidak berhenti.” Ia menoleh padanya. “Kalau kau ingin aku hidup… lakukan yang kubilang.”

Jantung Mika berdegup kencang. “Kau gila…”

Pak Raka meninggalkan mereka menuju dapur.

“Mungkin,” jawab Jovan lirih. “Tapi aku masih hidup.” Ia menggeser tubuhnya sedikit, menahan erangan saat luka bergerak. “Ambilkan aku kaca. Yang besar. Dan alat apa pun yang bisa digunakan… pinset, gunting kecil, pisau bersih. Air panas. Dan kain.”

Mika menatapnya, ragu dan takut. Tapi darah yang terus merembes dari luka Jovan membuatnya tidak punya banyak pilihan. Dengan tangan gemetar, ia bangkit dan bergegas ke dapur.

Ia mengambil cermin kecil dari lemari, gunting steril, pinset dari kotak P3K, dan merebus air. Uap panas mengepul saat air mulai mendidih. Mika menuangkannya ke dalam mangkuk besar, menambahkan antiseptik seadanya.

Ketika kembali, Jovan sudah bersandar di dinding, rahangnya mengeras menahan sakit.

“Kau yakin?” tanya Mika sekali lagi, hampir berbisik.

Jovan menatapnya. “Aku harus.”

Mika menyerahkan cermin itu. Jovan memegangnya dengan tangan yang masih kuat, memposisikannya agar ia bisa melihat bayangannya sendiri dan luka di bahu.

“Berikan kain,” katanya.

Mika menyerahkan kain bersih. Jovan menggigitnya, lalu menarik napas dalam-dalam. Tangan lainnya mulai menekan sekitar luka, mendorong jaringan kulit dengan perlahan dan terlatih, seperti seseorang yang sudah melakukan ini lebih dari sekali.

Mika menahan napas saat darah kembali mengalir. “Kau… kau benar-benar pernah melakukan ini sebelumnya?” tanyanya dengan suara bergetar.

“Dunia tempatku berasal tidak memberi banyak pilihan,” jawab Jovan terputus, menahan rasa sakit.

Dengan pinset, ia mulai menyusuri jalur luka. Wajahnya tegang, peluh dingin menetes dari pelipisnya. Setiap sentimeter terasa seperti api yang menyala di dalam tubuhnya.

“Aku melihatnya,” gumam Jovan tiba-tiba. “Sedikit lagi…”

Mika memegangi lengannya tanpa sadar. “Hati-hati…”

Dalam satu tarikan napas yang dalam, Jovan menjepit sesuatu dengan pinset dan menarik.

Darah memercik. Mika terlonjak, menutup mulutnya sendiri agar tidak berteriak.

Lalu…

Darah menetes ke baskom kecil di lantai.

Peluru itu akhirnya tergeletak di atas kain bersih—kusam, bengkok, dan masih hangat oleh panas tubuh Jovan.

Napas Jovan tersengal, tapi wajahnya Tetap keras. Ia menekan lukanya dengan kain yang sudah dibasahi antiseptik. Otot lengannya bergetar hebat, bukan karena takut, melainkan karena tubuhnya sedang berperang melawan kehilangan darah.

Mika menutup mulutnya dengan satu tangan.

“Ya Tuhan…”

“Sudah,” ucap Jovan singkat. “Sekarang… ikat.”

Mika buru-buru mengambil perban yang tadi sudah disiapkan. Tangannya gemetar saat melilitkannya di bahu Jovan, tetapi ia berusaha setenang mungkin. Setiap sentuhan membuat Jovan menahan napas—bukan karena sakitnya, melainkan karena kehadiran gadis itu terasa terlalu dekat untuk seseorang yang biasa hidup di dunia penuh darah dan pengkhianatan.

Pak Raka berdiri di ambang pintu. “Kau tidak menjerit,” katanya pelan. “Tidak banyak orang bisa mengeluarkan peluru dari tubuhnya sendiri dan tetap sadar.”

Jovan hanya mengangguk.

“Rasa sakit itu… biasa.”

Mika mengangkat wajahnya. “Biasa bagi siapa?”

Bagi pembunuh.

Bagi orang yang hidupnya selalu dipertaruhkan.

Bagi seorang bos mafia yang terbiasa melihat kematian dari jarak sangat dekat.

Tapi Jovan tidak mengucapkannya.

Ia hanya berkata, “Bagi orang yang tidak punya pilihan.”

Sunyi menyelimuti ruangan. Hanya suara burung pagi dari luar dan detak jam dinding yang terdengar.

Mika berdiri perlahan. “Aku tidak jadi ke pasar hari ini,” katanya. “Buah-buah itu… bisa menunggu.”

Pak Raka menoleh. “Mika?”

“Dia belum bisa bangun. Kalau dia pingsan atau infeksi, kita yang menyesal.”

Jovan ingin menolak. Ia tidak pernah membiarkan siapa pun menanggung risikonya. Tapi tubuhnya terlalu lemah untuk bertahan dalam argumen.

“Terima kasih,” ucapnya lirih.

Mika menatapnya. Kali ini lebih lama.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Jovan tidak tahu apakah ia ingin bersembunyi… atau ingin benar-benar tinggal.

.

Dari arah dapur, terdengar bunyi wajan dan air mengalir.

Pak Raka—dengan langkah pincang khasnya—sedang berdiri di depan kompor. Meski jalannya tidak normal sejak kecelakaan bertahun lalu, tangannya tetap cekatan. Ia memotong bawang, memecah telur, dan menumis sayur dengan gerakan yang sudah seperti refleks.

Aroma nasi goreng dan jahe hangat perlahan memenuhi rumah.

Ia tidak banyak bicara sejak Jovan dibawa masuk, tapi matanya terus mengawasi dari sela pintu dapur. Ia melihat Mika membersihkan darah, melihat pria asing itu menahan sakit dengan rahang terkatup keras.

Pak Raka menghela napas pelan. “Anak keras kepala…” gumamnya, entah ditujukan pada Jovan atau Mika.

Ia menuangkan sup hangat ke mangkuk, lalu menambahkan irisan jahe dan telur. Tangannya sedikit gemetar, bukan karena lemah—tapi karena ia tahu, pria di ruang tamu itu membawa bahaya.

Namun juga… membawa sesuatu yang lebih besar.

Dengan nampan di tangan, Pak Raka melangkah keluar dari dapur. “Kamu pasti butuh ini,” katanya pelan tapi tegas. “Darah banyak keluar, tubuh butuh hangat.” Ia meletakkan mangkuk di dekat Jovan.

Jovan mengangkat pandangannya, sedikit terkejut.

“Terima kasih…”

Pak Raka menatapnya tajam. “Jangan berterima kasih dulu. Kau hidup di rumahku sekarang. Jadi kau ikut aturanku.”

Mika menatap ayahnya dengan mata berkaca-kaca. “Ayah…”

“Diam,” potong Pak Raka lembut. “Biar dia makan dulu.”

Jovan menatap mangkuk sup hangat itu. Untuk pertama kalinya sejak ledakan dan kematian Leon… ia merasakan sesuatu yang asing.

Bukan kekuasaan.

Bukan ketakutan.

Tapi… rumah.

Dan itu jauh lebih berbahaya bagi seorang mafia daripada peluru apa pun.

1
Mulaini
Semoga aja Leon masih hidup dan mungkin yang terbakar supirnya.
Mulaini
Siapa laki² yang turun dari mobil hitam apakah salah satu musuh Jovan?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!