NovelToon NovelToon
LAUTAN YANG TIDAK PERNAH TIDUR

LAUTAN YANG TIDAK PERNAH TIDUR

Status: tamat
Genre:Spiritual / Mata Batin / Roh Supernatural / Fantasi / Tamat
Popularitas:29
Nilai: 5
Nama Author: Skyler Austin

Poseidon merasa terhina karena ada satu lautan di dunia fana yang tidak mau tunduk pada perintahnya: Pantai Selatan Jawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyler Austin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hujan Meteor dari Daging dan Api

Panas.

Itu hal pertama yang dirasakan Sekar saat ia dan Pangeran Suryo merayap naik melalui cerobong ventilasi alami Merapi. Dinding batu di sekeliling mereka bergetar konstan, seolah-olah mereka sedang merayap di dalam tenggorokan raksasa yang sedang menahan batuk. Bau belerang di sini begitu pekat hingga rasanya seperti mengunyah korek api.

"Pegangan yang kuat, Sekar!" teriak Pangeran Suryo di atasnya. Suaranya hampir tenggelam oleh suara gemuruh dari bawah—suara magma yang naik.

Mereka sampai di bibir kawah dalam. Di atas mereka, langit tidak terlihat biru. Lubang kawah itu tertutup oleh "sumbatan" awan uap yang tebal.

"Empu Dharma bilang gunung ini mau memuntahkan dahak," kata Pangeran Suryo, kakinya memijak batu pijakan terakhir sebelum bibir kawah. Ia menancapkan tombak Baru Klinting ke tanah. "Dan kita adalah pelurunya."

"Gusti yakin ini aman?" tanya Sekar, menatap ngeri ke bawah, ke arah jurang api yang menganga.

"Tidak ada yang aman dalam perang, Nduk. Yang ada cuma keberuntungan dan kenekatan."

Tiba-tiba, tekanan udara berubah drastis. Telinga Sekar berdenging sakit. Rambutnya berdiri tegak karena listrik statis.

Dari kedalaman perut bumi, terdengar suara ledakan tumpul. BLUUM.

Lantai kawah di bawah mereka retak. Dan dalam hitungan detik, pilar gas vulkanik bertekanan tinggi menyembur ke atas.

"SEKARANG!" teriak Pangeran.

Ia menarik tangan Sekar, dan mereka berdua melompat—bukan ke tanah, tapi tepat ke tengah semburan gas itu.

Rasanya seperti dipukul oleh truk dari bawah. Tubuh Sekar terlempar ke atas dengan kecepatan yang membuat pandangannya kabur. Ia menjerit, tapi suaranya hilang ditelan deru angin. Mereka melesat naik, menembus sumbatan awan, menembus bibir kawah utama, dan terus naik ke angkasa.

Langit Yogyakarta menyambut mereka.

Tapi itu bukan langit. Itu adalah samudra terbalik.

Di ketinggian tiga ribu meter, Sekar melihat pemandangan yang membuat darahnya membeku. Langit di atas Yogyakarta dan Jawa Tengah tertutup rapat oleh ribuan, mungkin jutaan, ubur-ubur terbang (Portuguese Man o' War). Mereka melayang diam, tentakel biru mereka menjuntai ke bawah membentuk hutan benang beracun.

Matahari sore tersaring lewat tubuh transparan mereka, menciptakan cahaya ungu suram yang menyinari bumi.

"Arah jam dua belas!" perintah Pangeran Suryo. Ia tidak terlihat takut. Wajahnya yang separuh baru sembuh itu menyeringai liar. Ia merentangkan tangan dan kakinya untuk mengarahkan jatuhnya mereka, meluncur seperti bajing loncat menuju kumpulan ubur-ubur terbesar.

Mereka mulai jatuh bebas. Gravitasi menarik mereka kembali ke bumi, tapi armada ubur-ubur itu menghalangi jalan.

Seekor ubur-ubur seukuran bus kota melayang tepat di jalur jatuh mereka. Tentakelnya bergerak agresif, merasakan getaran benda asing yang mendekat.

"Tunduk!"

Pangeran Suryo mengayunkan Baru Klinting.

Tombak hitam itu tidak memotong fisik ubur-ubur itu. Saat mata tombak yang bergelombang itu menyentuh kulit lendir monster itu, terjadi reaksi aneh.

SREEEEET!

Air di dalam tubuh ubur-ubur itu tersedot keluar, ditarik paksa oleh tombak naga yang haus. Monster itu mengkerut, layu seketika seperti plastik terbakar, lalu berubah menjadi debu garam kering yang langsung tertiup angin.

"Efektif!" seru Pangeran Suryo puas. "Naga ini benar-benar haus!"

Tapi mereka tidak hanya menghadapi satu.

Puluhan tentakel dari ubur-ubur lain menyambar ke arah mereka. Serangan itu datang dari segala arah.

"Sekar! Kiri!"

Sekar melihat tiga tentakel biru melesat ke arahnya seperti ular kobra. Ia panik. Ia tidak punya senjata tajam.

Kyai Pamuk,bisik instingnya. Pecah konsentrasinya.

Sekar mencabut cambuk pendek itu dari pinggangnya. Tangan kanannya terasa panas—energi dari kereta hantu yang tersimpan di tubuhnya mengalir deras ke cambuk itu.

Sekar mengayunkan cambuknya. Ia tidak membidik tentakelnya, tapi membidik udara kosong di depan tentakel itu.

CETAR!

Suara ledakan sonik terdengar nyaring. Gelombang kejut berwarna putih transparan menyebar dari ujung cambuk.

Saat gelombang itu mengenai tentakel-tentakel tersebut, mereka tidak putus. Tapi mereka bingung. Tentakel-tentakel itu tiba-tiba kejang, lalu saling membelit satu sama lain, menyengat diri mereka sendiri. Ubur-ubur pemilik tentakel itu berkedip-kedip panik, kehilangan sinyal kendali.

"Bagus!" puji Pangeran Suryo sambil terus menebas jalan. "Bikin mereka pusing!"

Mereka terus jatuh, menembus lapisan demi lapisan armada musuh. Itu adalah tarian kematian di udara. Pangeran Suryo menebas dan mengeringkan musuh, sementara Sekar mencambuk udara untuk mengacaukan formasi serangan.

Di bawah sana, kota Yogyakarta semakin dekat. Sekar bisa melihat Tugu Jogja yang kecil seperti mainan.

Namun, tepat di ketinggian seribu meter, sebuah bayangan raksasa menutupi mereka.

Di tengah formasi armada itu, ada satu induk. Sebuah Mothership.

Ubur-ubur ini ukurannya tidak masuk akal. Kubahnya selebar alun-alun. Di dalam tubuh transparannya, tidak hanya terlihat satu otak, tapi ratusan otak manusia yang berdenyut serempak, terhubung oleh saraf-saraf cahaya biru. Ini adalah pusat komando.

Dan makhluk itu sadar ada dua kutu yang sedang mengganggu.

Ribuan tentakel halus keluar dari tubuh induk itu, membentuk jaring rapat yang tidak mungkin ditembus. Jaring itu dialiri listrik tegangan tinggi.

"Kita bakal nabrak!" teriak Sekar. Kecepatan jatuh mereka terlalu tinggi. Jika menabrak jaring listrik itu, mereka akan hangus.

Pangeran Suryo mencoba bermanuver, tapi angin terlalu kencang. Jaring itu menutup semua celah.

"Pegang pinggangku!" teriak Pangeran.

Sekar memeluk pinggang Pangeran Suryo erat-erat. Ia membenamkan wajahnya di punggung pria itu.

"Empu Dharma bilang kamu baterai, kan?" tanya Pangeran Suryo, suaranya terdengar gila. "Sekarang saatnya kita korsletkan mesin ini."

Pangeran Suryo tidak mengerem. Ia justru meluruskan tubuhnya, menukik tajam lurus ke arah kubah induk ubur-ubur itu. Ia mengarahkan tombak Baru Klinting ke depan.

"Salurkan energimu ke tombak ini, Sekar! SEMUANYA!"

Sekar memejamkan mata. Ia merasakan energi liar yang bergolak di dalam dadanya—sisa pembakaran kunci tulang dan mesin uap hantu. Energi moksa. Energi pembebasan.

Ia mendorong energi itu keluar lewat tangannya, masuk ke tubuh Pangeran Suryo, lalu diteruskan ke tombak hitam itu.

Tombak Baru Klinting menjerit. Bilah hitamnya berubah menjadi putih pijar. Aura panasnya membakar udara di sekitar mereka, menciptakan lapisan pelindung plasma.

Mereka menabrak kubah induk itu.

CRAAAAASH!

Mereka tidak memantul. Mereka menembus.

Seperti peluru panas menembus balok es. Mereka masuk ke dalam tubuh agar-agar raksasa itu. Sekar menahan napas. Di sekelilingnya hanyalah lendir, cairan organ, dan ratusan otak yang menjerit secara telepati di dalam kepalanya.

SAKIT! PANAS! KELUAR!

Pangeran Suryo terus mendorong tombaknya ke bawah, menuju inti. "Belum! Sedikit lagi!"

Energi Sekar terkuras habis. Rasanya seperti darahnya disedot keluar. Pandangannya mulai gelap.

"LEDAKKAN!" teriak Pangeran.

Sekar melepaskan sisa energi terakhirnya dalam satu hentakan cambuk batin.

Di dalam tubuh monster itu, tombak Baru Klinting melepaskan gelombang panas naga yang bercampur dengan energi hantu.

KABOOM!

Induk ubur-ubur itu meledak dari dalam.

Cairan tubuhnya muncrat ke segala arah seperti hujan lendir raksasa. Ratusan otak di dalamnya hangus seketika.

Ledakan itu melemparkan Sekar dan Pangeran keluar dari sisi bawah monster itu. Mereka melayang di udara kosong, dikelilingi oleh potongan daging transparan yang terbakar.

Mereka sudah dekat dengan tanah. Terlalu dekat.

"Pendaratan!" Pangeran Suryo memutar tubuhnya. Ia mengarahkan tombaknya ke bawah, lalu melepaskan semburan uap panas untuk memperlambat jatuhnya mereka—seperti roket pendorong.

Sekar sudah terlalu lemas untuk melakukan apa-apa. Ia hanya pasrah.

Mereka menghantam atap sebuah gedung tinggi—Hotel Tugu mungkin—lalu berguling-guling, menabrak tangki air, menjebol genteng, dan akhirnya berhenti di atas tumpukan jemuran handuk di dak beton.

Hening.

Hanya ada suara napas mereka yang memburu dan suara plok-plok-plok dari potongan daging ubur-ubur yang jatuh menimpa aspal jalanan di bawah.

Sekar menatap langit.

Induk itu sudah hancur. Armada ubur-ubur lainnya tampak kacau balau, kehilangan sinyal komando. Mereka mulai melayang tak tentu arah, tertiup angin ke utara, menjauh dari kota.

"Kita... hidup?" bisik Sekar, meraba-raba badannya. Sakit semua, tapi utuh.

Pangeran Suryo tertawa. Ia terbaring terlentang di samping Sekar, wajahnya cemong oleh lendir dan debu. Tangan kanannya masih mencengkeram tombak naga itu erat-erat.

"Hidup," jawabnya. "Dan hujannya bau cumi bakar."

Sekar ikut tertawa, tawa histeris karena kelegaan yang luar biasa. Ia mencoba duduk, menyeka lendir biru dari rambutnya.

"Gusti... lihat."

Pangeran Suryo bangkit duduk. Ia melihat ke bawah, ke jalanan kota Yogyakarta.

Orang-orang mulai keluar dari persembunyian. Mereka menunjuk ke langit, melihat bangkai monster raksasa yang jatuh perlahan seperti salju buruk rupa.

Tapi bukan itu yang ditunjuk Sekar.

Di perempatan Tugu, di tengah kekacauan itu, ada sesuatu yang aneh.

Aspal jalanan retak. Dan dari dalam retakan itu, tumbuh sesuatu.

Bukan tanaman.

Itu adalah karang. Karang laut yang bercahaya, tumbuh dengan kecepatan tinggi, merambat naik melilit tugu kebanggaan kota itu. Dan karang itu... menyerap air.

Setiap tetes lendir ubur-ubur yang jatuh ke tanah diserap oleh karang itu, membuatnya tumbuh makin besar.

"Penyucian..." gumam Pangeran Suryo, wajahnya kembali serius. "Poseidon punya rencana cadangan. Kalau serangan udara gagal, dia mengubah medan perangnya."

Karang itu terus tumbuh, menyebar ke segala arah, mengubah beton dan aspal menjadi ekosistem laut mati.

"Dia mau mengubah Jogja jadi Atlantis," kata Sekar, merasakan getaran aneh dari cambuk di pinggangnya. "Bukan dengan menenggelamkannya, tapi dengan menggantinya."

Pangeran Suryo berdiri, menggunakan tombaknya sebagai tongkat.

"Kalau begitu, kita harus jadi tukang kebun yang rajin," katanya dingin. "Ayo turun. Kerja bakti belum selesai."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!