Alice selalu terlihat biasa-biasa saja di mata semua orang—culun, pendiam, dan mudah dibully.
Tak ada yang tahu bahwa di balik senyumnya, ia menyimpan luka… dan sebuah rasa yang tak pernah terucap.
Danzel, sahabat yang selalu ada di sisinya, menjadi satu-satunya tempat Alice merasa aman. Namun, Danzel tak pernah menyadari bahwa kehadirannya adalah alasan Alice bertahan selama ini.
Mencintai dalam diam, terluka tanpa suara.
Bisakah perasaan yang tak terbalas menemukan jalannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wnd ayn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21
Malam hari,
Di sebuah kamar mewah yang dipenuhi ornamen elegan, Papah Erlangga duduk bersandar di atas ranjang besar dengan headboard berlapis kulit.
Alice, dengan sabar, membantu Papahnya meminum obat. Pria paruh baya itu terlihat lelah, tubuhnya sedikit lunglai, menandakan bahwa ia sedang tidak dalam kondisi terbaiknya.
Setelah memastikan bahwa obatnya sudah diminum semua, Alice meletakkan gelasnya di meja kecil samping ranjang.
"Sekarang papah sudah bisa beristirahat."ujar Alice
"Terimakasih nak, kemarilah papah ingin mengobrol sebentar denganmu."
Alice segera mendekat, merebahkan sebagian tubuhnya memeluk Erlangga yang sedang bersandar di ujung ranjang.
Erlangga mengelus pelan kepala putrinya, sentuhan penuh kasih yang selalu menenangkan hati Alice sejak kecil."Bagaimana harimu selama papah sibuk bekerja di luar kota?"
Alice tidak segera menjawab, dia menenggelamkan wajahnya dalam pelukan papahnya. tubuhnya sedikit bergetar saat mengingat apa yang sempat di alaminya.
Erlangga bisa merasakan getaran halus dari tubuh putrinya yang memeluknya erat."ada apa Ale?apakah ada sesuatu yang telah terjadi? katakanlah."
Alice mendongak dan berusaha tersenyum, matanya bertemu dengan tatapan khawatir Erlangga. "tidak terjadi apapun, semuanya berjalan seperti biasanya."
Melihat senyuman Alice, Erlangga mulai sedikit tenang."Baiklah nak."
"oh ya bolehkah papah mendengar cerita tentang teman-temanmu?"
"selama ini sepertinya kamu tidak pernah bercerita tentang mereka."ujar Erlangga yang sepertinya ingin menghabiskan waktunya untuk mengobrol lebih jauh dengan putri kesayangannya.
"Mereka semua adalah teman yang baik." Alice mulai menceritakan semua tentang teman-temannya meskipun dengan kebohongan.
Erlangga mendengarkan dengan penuh perhatian, tak menyadari bahwa Alice menyembunyikan banyak hal.
"Lalu bagaimana dengan kisah cintamu? apakah belum ada seseorang yang membuatmu merasakan jatuh cinta?"tanya Erlangga tiba-tiba
Alice terdiam beberapa saat, pikirannya jatuh kepada seseorang. namanya sudah terlukis indah di dalam hatinya.
"Tidak ada pah." Alice menggeleng pelan, menyembunyikannya dari papahnya sendiri
"oh ya benarkah?"tanya Erlangga dibalas anggukan oleh Alice
"Mengapa tiba-tiba, papah bertanya seperti itu?"tanya Alice lembut
"Tidak apa-apa, setiap orang tua pasti ingin tahu tentang kisah cinta putrinya. Papah hanya penasaran," jawab Erlangga dengan senyum lembut, tangannya masih mengelus kepala Alice
"Ale, asalkan kamu tahu nak. papah selalu berdoa agar kelak kamu akan menemukan seseorang yang sangat mencintaimu. dia akan membuatmu merasakan cinta yang tulus dan penuh kasih sayang, dia tidak akan membuatmu merasakan kesengsaraan dalam cinta. dia akan selalu ada untukmu, apapun yang terjadi."
Alice termenung mendengar penuturan Erlangga, apakah dia bisa mendapatkan itu semua dari diri Danzel?
Jawabannya sudah jelas tidak. Danzel mencintai orang lain, dan pasti semua perhatian serta kasih sayangnya akan diberikan kepada orang itu
"S-suatu saat aku pasti akan menemukan seseorang itu."jawab Alice dengan suara lirih, meski tak sepenuhnya yakin.
"Mengapa harus suatu saat? papah berharap kamu akan menemukannya sekarang. karena papah khawatir nanti tidak ada yang bisa menjagamu."
Alice mengernyit."tidak perlu terburu-buru, papah kan masih ada bersamaku, itu tandanya papah lah yang akan menjagaku."
Erlangga tersenyum kecil."papah sangat menyayangimu Alice, apapun yang akan terjadi di masa depan, kamu harus siap menghadapinya."
Alice hanya terdiam dan memeluk erat Erlangga.
Erlangga tersenyum, tapi matanya menyimpan sesuatu—kekhawatiran yang dalam. Setelah Alice memejamkan mata di pelukannya, napasnya mulai teratur, tanda ia tertidur.
Pria itu menatap wajah tenang putrinya lama sekali. Lalu perlahan pandangannya bergeser ke arah jendela, ke langit malam yang redup. Dalam hatinya, beban yang selama ini ia sembunyikan terasa semakin berat.
Perusahaannya tengah terancam bangkrut. Hutang menumpuk, investor mundur satu per satu, dan kesehatannya pun mulai menurun akibat terlalu memaksakan diri. Namun ia tidak pernah menceritakan itu pada Alice—ia tak sanggup melihat putrinya khawatir.
Di luar, angin malam berembus pelan melewati celah jendela, membawa kesunyian yang menelan seluruh kamar.
Di antara cahaya lampu yang temaram, hanya ada dua hati—seorang ayah yang menyembunyikan luka, dan seorang anak yang tak tahu bahwa dunianya perlahan mulai goyah
Keesokkan harinya,
Di sudut jalan yang ramai, Rania, gadis penjual bunga keliling, mengayuh sepedanya dengan penuh semangat. Setiap hari, dia membawa keranjang penuh dengan bunga untuk di tawarkan ke semua orang.
Saat Rania hendak menyeberangi jalan, Di saat yang sama, sebuah motor melaju sedikit kencang, tak memperhatikan bahwa Rania sedang berada di tengah jalan.
Brak!
Rania terjatuh dari sepedanya, terkejut. Sepedanya tergeletak di jalanan,Beruntung tabrakan itu tidak terlalu parah.
seseorang langsung turun dari motor dengan wajah panik."Maaf!! maaf! Apa kau baik-baik saja?" pria itu berlari menghampiri Rania
Rania mendongak menatap orang yang sekarang membantunya berdiri. ia terkejut ketika mengenali wajahnya. bukankah dia Rey?Sedangkan Rey tampaknya juga mengenalinya.
"Kau, bukankah kau temannya Alice?” tanya Rey dengan ragu, berusaha mengingat pertemuan sebelumnya.
Rania tidak langsung menjawab. Tatapannya berubah dingin, dan tanpa berkata-kata, dia mencoba menjauh dari Rey. Namun, saat dia berusaha menggerakkan kakinya, rasa nyeri tiba-tiba menyeruak. Rania merintih pelan, langkahnya terhenti sejenak.
Melihat Rania kesulitan, Rey mendekat lagi dengan ekspresi bersalah. "Aku akan membantumu," katanya, suaranya penuh ketulusan
Namun, Rania tetap menghindar, meski tubuhnya bergetar sedikit karena menahan sakit. “Aku tidak butuh bantuan dari pria pembully sepertimu,” ucap Rania dengan nada tajam.
Mengingat nama Rey ataupun bertemu dengannya, membuat Rania teringat akan cerita Alice- tentang bagaimana Rey sering membully temannya itu.
Rey tersentak mendengar kata-kata itu. tetapi ia berusaha untuk tidak memperdulikannya. Rey kembali mencoba membantu Rania yang terlihat kesusahan berjalan menuju sepedanya yang tergeletak.
"Dengar, izinkan aku untuk bertanggungjawab atas kelalaianku saat berkendara."ucap Rey meraih lengan Rania dengan hati-hati dan membantunya berjalan
"Jika kau punya masalah lain denganku, tolong lupakan dulu untuk sementara. Yang terpenting sekarang izinkan aku membantumu.”lanjutnya
Rania sedikit terkejut dengan keteguhan Rey, dia sempat terdiam dan akhirnya dengan sedikit ragu membiarkan Rey membantunya berjalan menuju ke bawah pohon yang berada tak jauh dari sana.