Genre: Dark Romance • CEO • Nikah Paksa • Obsesi • Balas Dendam
Tag: possessive, toxic love, kontrak nikah, rahasia masa lalu, hamil kontrak
“Kamu bukan istriku,” katanya dingin.
“Kamu adalah milikku.”
Nayla terpaksa menandatangani kontrak pernikahan dengan Arka Alveron — CEO muda yang dikenal dingin, kejam, dan tidak pernah gagal mendapatkan apa yang ia inginkan.
Awalnya, Nayla mengira kontrak itu hanya demi kepentingan bisnis.
Tiga bulan menjadi istri palsu.
Tiga bulan hidup di rumah mewah.
Tiga bulan berpura-pura mencintai pria yang tidak ia kenal.
Namun semuanya berubah saat Arka mulai menunjukkan sisi yang membuat Nayla ketakutan.
Ia mengontrol.
Ia posesif.
Ia memperlakukan Nayla bukan sebagai istri —
melainkan sebagai miliknya.
Dan saat Nayla mulai jatuh cinta, ia baru menyadari satu hal:
Kontrak itu bukan untuk membebaskannya.
Kontrak itu dibuat agar Nayla tidak bisa kabur.
Karena Arka tidak sedang mencari istri.
Ia sedang mengurung obsesinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jensoni Ardiansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RETAK PERTAMA
Tekanan itu tidak datang sekaligus.
Ia datang pelan, sistematis, dan menyakitkan.
Dua hari setelah acara hotel, Nayla mulai menyadari ada yang berubah—bukan di rumah, bukan di sikap Arka, tapi di dunia luar.
Ia merasakannya dari hal-hal kecil.
Driver yang biasanya mudah dipesan tiba-tiba selalu “penuh”.
Salon langganannya menunda janji temu tanpa alasan jelas.
Bahkan salah satu butik yang sering ia datangi menolak pembayaran transfer dari rekening Arka dengan alasan “gangguan sistem”.
Alasan yang sama.
Kalimat yang sama.
Nada yang sama.
Dan itu terlalu rapi untuk disebut kebetulan.
Nayla berdiri di depan meja dapur, menatap layar ponsel yang baru saja menampilkan notifikasi:
Transaksi gagal.
Ia menghembuskan napas pelan.
“Ini bukan soal uang,” gumamnya.
Ini soal akses.
Mereka sedang memotong jalur hidup Arka satu per satu.
Arka pulang lebih malam dari biasanya.
Wajahnya tidak lelah—tapi kaku.
“Dua klien besar minta renegosiasi,” katanya singkat sambil membuka jasnya.
“Dan satu bank mulai minta jaminan tambahan.”
Nayla menatapnya. “Mereka bilang apa?”
“Tidak bilang apa-apa.”
Arka tersenyum miring. “Itu justru yang bikin bahaya.”
Nayla mengangguk pelan.
Diam berarti terkoordinasi.
Kalau ini cuma satu pihak, akan ada satu alasan.
Kalau banyak pihak diam serempak, berarti ada satu pusat kendali.
Dan Nayla tahu siapa.
Malam itu, Nayla tidak tidur.
Ia duduk di sofa ruang kerja, membuka ulang catatan-catatan yang ia buat sejak awal pernikahannya—nama, koneksi, vendor, siapa terhubung ke siapa.
Dan di antara semua garis yang ia tarik, ia melihat satu pola:
Semua jalur yang mulai menutup…
bertemu pada satu nama.
Darma.
Bukan sebagai penyerang langsung.
Tapi sebagai pusat gravitasi.
Orang tidak diperintah olehnya—
mereka takut kehilangan tempat di orbitnya.
Nayla tersenyum tipis.
“Jadi ini bukan perang teriak,” gumamnya.
“Ini perang senyap.”
Keesokan paginya, Nayla tidak ikut Arka ke kantor.
Ia berdandan rapi, tapi tidak berlebihan.
Bukan gaya istri CEO.
Tapi gaya perempuan yang mau dilihat serius.
Ia mendatangi satu tempat yang tidak pernah ia datangi sebelumnya:
kantor notaris lama milik Darma.
Resepsionis menatapnya ragu.
“Saya mau bertemu Pak Darma,” kata Nayla tenang.
“Ada janji?”
“Tidak. Tapi bilang saja: Nayla datang.”
Nama itu bekerja seperti kunci.
Tidak sampai lima menit, ia sudah dipersilakan masuk.
Ruang kerja Darma besar, rapi, dan dingin.
Darma duduk di balik meja, wajahnya datar seperti biasa.
“Cepat juga kamu datang,” katanya.
Nayla duduk tanpa diminta. “Saya tidak suka kalau hidup saya diatur tanpa diberi tahu.”
Darma tersenyum tipis. “Ini bukan soal kamu.”
“Justru ini soal saya,” balas Nayla.
“Karena semua yang sedang kamu tekan… berujung ke hidup saya.”
Darma menatapnya lama.
“Kamu perempuan cerdas,” katanya akhirnya.
“Makanya kamu seharusnya tahu… beberapa orang tidak suka perubahan.”
Nayla mencondongkan tubuh sedikit ke depan.
“Dan beberapa orang juga tidak suka dikurung.”
Darma tersenyum kecil. “Ini belum kurungan.”
“Belum,” Nayla mengangguk.
“Tapi sudah peringatan.”
Sunyi jatuh di antara mereka.
Darma akhirnya berkata pelan,
“Arka berdiri terlalu tegak.”
Nayla menjawab tanpa ragu:
“Dan kamu tidak suka ada orang yang berdiri sejajar.”
Tatapan Darma mengeras.
Itu momen pertama Nayla benar-benar tahu:
Ia baru saja menyentuh saraf utama.
Saat ia keluar dari gedung itu, jantungnya masih berdetak keras—
bukan karena takut,
tapi karena satu hal:
Dia sudah resmi masuk ke wilayah perang.
Dan Darma sekarang tahu.
Ini bukan lagi sekadar tekanan bisnis.
Ini sudah berubah jadi pertarungan posisi.
Dan Nayla bukan lagi penonton.
Ia sudah jadi bagian dari papan catur.
Mobil Nayla melaju meninggalkan gedung notaris itu, tapi pikirannya masih tertinggal di ruangan dingin milik Darma.
Ia baru saja melakukan sesuatu yang tidak bisa ditarik kembali.
Bukan karena kata-katanya kasar.
Bukan karena ia datang tanpa janji.
Tapi karena ia menunjukkan diri sebagai pusat keputusan, bukan sekadar bayangan Arka.
Dan itu adalah sinyal perang.
Sampai di rumah, Nayla tidak langsung masuk kamar. Ia duduk di ruang kerja, membuka laptop, lalu mulai menyusun daftar.
Bukan daftar belanja.
Bukan jadwal.
Daftar jalur hidup Arka.
Bank.
Vendor.
Notaris.
Logistik.
Klien.
Dan satu per satu ia tandai mana yang sudah mulai “dingin”.
Ia tidak kaget melihat satu pola:
Yang menutup diri bukan perusahaan kecil.
Yang menutup diri adalah pilar-pilar utama.
Dan semua pilar itu—pernah, atau masih—terhubung ke Darma.
Nayla menghela napas pelan.
“Dia bukan mau jatuhin Arka,” gumamnya.
“Dia mau bikin Arka datang minta tolong.”
Dan itu lebih berbahaya.
Arka pulang hampir tengah malam.
Nayla sudah menunggunya.
“Kamu ke Darma?” tanya Arka pelan.
Nayla mengangguk.
Ruangan langsung terasa lebih berat.
“Kamu sadar itu provokasi langsung,” ucap Arka.
“Aku tahu,” jawab Nayla. “Dan aku juga tahu satu hal: dia sekarang tahu aku bukan aksesori.”
Arka duduk perlahan. “Apa yang dia bilang?”
“Dia tidak ngancam,” jawab Nayla.
“Orang seperti dia tidak perlu ancaman. Mereka cukup menutup pintu.”
Arka terdiam.
Nayla menatapnya. “Kalau kita terus main bertahan, kita akan kehabisan pintu.”
Arka menghela napas panjang. “Jadi apa langkah kamu?”
Nayla berdiri, berjalan ke jendela.
“Kita bikin satu pintu baru,” katanya.
“Yang tidak ada dalam orbit dia.”
Dua hari berikutnya Nayla mulai bergerak.
Bukan lewat Arka.
Bukan lewat orang lama.
Ia mulai menghubungi jaringan baru—firma hukum independen, bank kecil tapi agresif, vendor luar kota yang tidak terikat jaringan lama.
Ia tidak bicara soal “masalah”.
Ia bicara soal kesempatan.
Dan itu bekerja.
Satu bank setuju membuka rekening baru.
Satu vendor logistik luar kota mau masuk.
Satu firma hukum mulai audit diam-diam.
Sedikit.
Tapi nyata.
Arka memperhatikannya dengan wajah tegang.
“Kamu sedang bikin jalur hidup baru,” katanya.
“Karena jalur lama sudah dipasang ranjau,” jawab Nayla.
Sore hari ketiga, Raka akhirnya muncul.
Bukan sebagai bawahan.
Bukan sebagai tamu resmi.
Ia berdiri di halaman, jaket gelap, wajah serius.
“Nayla,” katanya.
Nayla menatapnya. “Kamu datang tepat waktu.”
Raka menatap rumah itu, lalu kembali ke Nayla.
“Darma mulai gelisah.”
Nayla mengangkat alis. “Gelisah bagaimana?”
“Dia mulai nyari siapa yang bantu kamu dari luar,” jawab Raka.
“Dan dia nggak suka kalau ada jalur yang dia nggak pegang.”
Nayla tersenyum tipis.
“Berarti jalur itu penting.”
Raka menatapnya serius.
“Kamu sudah terlalu dekat ke pusatnya.”
Nayla menjawab pelan tapi tegas:
“Karena aku mau tahu… di mana jantungnya.”
Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai,
Raka terlihat tidak hanya waspada—
tapi khawatir.