Dua puluh kavaleri elit musuh terus bergerak mendekati lokasi persembunyian Aslan tanpa menyadari maut yang menanti. Pangeran itu telah menyiapkan jebakan mematikan melalui perhitungan sistem yang menjamin kemenangan mutlak bagi dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HUUAALAAA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
Lampu minyak di atas meja kerja Jenderal Zarek bergoyang pelan, memantulkan bayangan panjang ke dinding batu yang dipenuhi peta topografi wilayah Barat. Aslan duduk dengan tenang, jari-jarinya mengetuk permukaan meja kayu ek yang keras secara berirama. Di hadapannya, Jenderal Zarek duduk dengan tangan terikat rantai besi yang terhubung ke lantai, wajahnya tampak kusam tapi matanya masih memancarkan sisa-sisa harga diri seorang veteran perang.
"Kau bisa saja membunuhku di medan tempur tadi, Aslan. Kenapa kau justru membiarkan aku duduk di sini dan memberiku kopi yang bahkan lebih enak daripada jatah tentara Kael?" tanya Zarek dengan suara yang serak.
Aslan tidak langsung menjawab. Ia membiarkan keheningan mengisi ruangan sejenak. Di sudut penglihatannya, jendela sistem memberikan data yang terus diperbarui mengenai kondisi psikologis sang jenderal.
[Sistem: Analisis Vital Target. Detak jantung 78 bpm. Tingkat stres menurun 15%. Target mulai merasa nyaman namun tetap waspada. Rekomendasi: Gunakan pendekatan logika daripada ancaman fisik.]
"Karena membunuhmu adalah pemborosan sumber daya, Jenderal. Kau adalah arsitek di balik sistem pertahanan statis ibu kota. Kau tahu setiap celah, setiap ketebalan dinding, dan setiap jadwal rotasi penjaga di Gerbang Air," jawab Aslan sambil menggeser sebuah dokumen ke arah Zarek.
Zarek melirik dokumen itu kemudian tertawa kecil yang terdengar menyakitkan. "Kau pikir aku akan mengkhianati sumpahku hanya karena secangkir kopi? Kael mungkin seorang tiran, tapi dia adalah raja yang memegang segel sah saat ini."
"Sah karena dia memegang segel itu, atau sah karena rakyat mengakuinya? Kau tahu benar bahwa dia menyandera keluarga para bangsawan di menara tinggi hanya untuk memastikan orang-orang sepertimu tetap patuh. Apakah itu jenis kesetiaan yang kau banggakan, Zarek?" tanya Aslan dengan nada bicara yang tetap datar namun tajam.
Zarek terdiam, otot rahangnya mengeras mendengar penyebutan soal penyanderaan itu. Aslan menyadari bahwa serangannya mengenai sasaran yang tepat.
[Sistem: Deteksi fluktuasi emosional. Target mengalami konflik internal. Tingkat kepatuhan potensial meningkat menjadi 35%.]
"Aku punya informasi bahwa istrimu dan kedua putrimu dipindahkan ke ruang bawah tanah Kastil Valerion dua hari yang lalu. Kael mulai meragukan loyalitasmu setelah kekalahan Malphas di Utara," tambah Aslan, memberikan tekanan tambahan.
Zarek mendongak dengan mata yang kini berkilat penuh amarah. "Dari mana kau tahu hal itu? Bahkan aku tidak mendapatkan kabar dari keluargaku selama satu bulan terakhir!"
"Bayanganku ada di mana-mana, Jenderal. Aku menawarkan kesepakatan sederhana. Bantu aku memetakan jalur bawah tanah di Gerbang Air, dan aku akan memastikan keluargamu menjadi prioritas pertama yang dievakuasi oleh Unit Liberator sebelum pengepungan dimulai," ucap Aslan.
Zarek menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ruangan itu kembali sunyi, hanya terdengar suara retakan kristal dari fasilitas pengolahan di luar ruangan. Setelah beberapa menit yang terasa sangat lama, Zarek akhirnya menghela napas panjang yang terdengar seperti kekalahan sekaligus kelegaan.
"Gerbang Air tidak bisa ditembus dari luar, Aslan. Arusnya dikendalikan oleh tiga pintu air mekanis di dalam dinding kota. Tapi, ada sebuah pipa drainase lama yang digunakan untuk membuang limbah dari dapur istana. Pipa itu tidak pernah diperbarui sejak zaman kakekmu karena posisinya yang terlalu rendah di bawah permukaan air," bisik Zarek.
Aslan tersenyum tipis. Ia segera memanggil Kiko dan Elara yang sejak tadi menunggu di balik pintu. Elara masuk dengan zirah yang masih kotor oleh debu tambang, sementara Kiko membawa gulungan perkamen kosong dan alat tulis.
"Catat setiap kata yang dia ucapkan, Kiko. Aku ingin denah pipa drainase itu digambar dengan skala yang akurat," perintah Aslan.
Elara berdiri di samping Aslan, menatap Zarek dengan pandangan yang masih penuh kecurigaan. "Bagaimana kita bisa yakin dia tidak menjebak kita ke dalam perangkap uap di bawah kota?"
"Karena dia tahu bahwa aku tidak akan ragu untuk menghancurkan apa pun yang mencoba menghalangi jalanku, termasuk harapan terakhirnya untuk melihat keluarganya selamat," jawab Aslan sambil menatap mata Elara, memberikan kode bahwa semuanya berada di bawah kendali sistem sarafnya.
Setelah sesi interogasi yang melelahkan itu selesai, Zarek dibawa kembali ke sel khususnya dengan pengawalan ketat. Elara mendekati Aslan yang kini sedang mempelajari sketsa kasar dari Kiko.
"Kau benar-benar pandai memainkan emosi orang, Aslan. Terkadang aku merasa kau bukan lagi pangeran yang aku kenal di hutan dulu. Kau terlihat jauh lebih dingin sekarang," ucap Elara sambil menyandarkan tubuhnya pada meja strategi.
Aslan meletakkan penanya dan menatap Elara. Ia bisa merasakan kelelahan yang sama di mata wanita itu. "Dunia ini menuntut kita untuk menjadi apa yang diperlukan agar tujuan tercapai, Elara. Tapi aku berjanji padamu, setelah semua ini selesai, aku akan meletakkan semua topeng ini."
Elara tersenyum tipis dan menyentuh lengan Aslan. "Aku memegang janjimu itu. Sekarang, apa rencana kita mengenai Kristal Merah ini? Si Tangan Besi bilang dia butuh waktu untuk menstabilkan energinya sebelum bisa digunakan sebagai amunisi artileri."
"Kiko akan mengatur distribusi kristal itu secara rahasia melalui jalur pegunungan. Sebagian besar akan dikirim ke Benteng Inti untuk mengisi ulang meriam pertahanan kita, tapi sisanya akan kita bawa ke selatan. Kita akan memberikan kejutan kepada armada Kael yang ada di sungai," jelas Aslan.
Tiba-tiba, seorang pengintai dari unit kavaleri Serigala Perak masuk dengan tergesa-gesa ke dalam ruangan. Ia membawa sebuah bendera kecil dengan lambang keluarga Valerion yang sudah robek.
"Lapor, Pangeran! Kelompok milisi dari desa-desa sekitar wilayah Barat mulai berkumpul di kaki bukit. Mereka mendengar bahwa Anda telah merebut tambang dan mereka ingin bergabung untuk melawan penindasan Kael," lapor pengintai tersebut.
Aslan berdiri dengan semangat yang baru. Ini adalah momentum politik yang ia tunggu-tunggu. Dukungan rakyat adalah kunci utama untuk meruntuhkan legitimasi Kael di mata dunia.
"Elara, siapkan pelatihan dasar untuk mereka. Aku tidak ingin mereka menjadi umpan meriam yang tidak berguna. Ajarkan mereka taktik gerilya kota dan cara menggunakan senjata uap ringan yang sedang dikembangkan Si Tangan Besi," perintah Aslan.
"Akan aku laksanakan, Tuan. Mereka akan menjadi pasukan cadangan yang solid dalam waktu satu bulan," sahut Elara dengan penuh keyakinan.
Aslan melangkah menuju balkon ruang kontrol yang menghadap langsung ke area pertambangan. Di bawah sana, ribuan warga lokal dan prajurit bekerja bahu-membahu di bawah cahaya lampu kristal yang berpendar kemerahan.
[Sistem: Status Logistik. Pasokan Kristal Merah tercukupi untuk 120 hari operasi skala besar. Dukungan Rakyat di Wilayah Barat meningkat hingga 75%. Peluang keberhasilan Operasi Gerbang Air: 62%.]
"Hanya enam puluh dua persen?" gumam Aslan dalam hati. "Tapi dengan informasi dari Zarek dan teknologi uap Si Tangan Besi, aku akan menaikkan angka itu menjadi seratus persen."
Ia memandang ke arah selatan, ke arah ibu kota yang tertutup kabut malam. Di sana, Kael mungkin sedang duduk di atas takhta curiannya dengan rasa takut yang mulai menjalar di setiap sudut pikirannya. Aslan tahu bahwa setiap detik yang berlalu adalah satu langkah lebih dekat menuju pembalasan dendam yang telah ia susun dengan sangat rapi.
"Nikmati malam-malam terakhirmu di atas takhta itu, Kael. Karena saat aku sampai di sana, tidak akan ada dinding atau gerbang yang bisa melindungimu dari keadilan yang aku bawa," bisik Aslan saat angin malam wilayah Barat menerpa wajahnya.