NovelToon NovelToon
Monarch: The King Who Refused To Die

Monarch: The King Who Refused To Die

Status: sedang berlangsung
Genre:Kelahiran kembali menjadi kuat / Action / Perperangan / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Sistem / Fantasi
Popularitas:224
Nilai: 5
Nama Author: Sughz

Ia pernah menjadi Monarch—penguasa yang berdiri di puncak segalanya. Namun pengkhianatan merenggut tahtanya, menghancurkan kerajaannya, dan memaksanya mati berulang kali dalam siklus reinkarnasi yang panjang. Selama ratusan kehidupan, ia menunggu. Menunggu para bawahannya yang tersebar, tertidur, atau tersesat di berbagai dunia. Di kehidupan terakhirnya, saat tubuhnya menua dan kematian kembali mendekat, sebuah system akhirnya terbangun—bukan ciptaan dewa, melainkan jelmaan dari salah satu rekan lamanya. Dengan kematian itu, sang raja kembali terlahir, kali ini di dunia yang sama… namun telah berubah drastis dalam beberapa ratus tahun.

Dunia yang ia kenal telah runtuh, kekaisaran bangkit dan jatuh, gereja menguasai kebenaran, dan para dewa mengawasi dari kejauhan. Dengan system yang setia di sisinya dan ingatan dari kehidupan-kehidupan sebelumnya, sang Monarch memulai perjalanannya sekali lagi: membangkitkan bawahan yang tersisa, membangun kekuatan dari bayang-bayang, dan menuntut balas atas pengkhianatan lama yang belum lunas. Ini bukan kisah pahlawan yang diselamatkan takdir—ini adalah kisah seorang raja yang menolak mati sebelum dunia membayar hutangnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sughz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch.9. The Camellia Flowes

Di ruangan yang serba berwarna putih dan banyak hiasan bunga camelia, Elowen duduk dengan tenang memandang keluar jendela dan tak lama seorang pelayan masuk dan memberi hormat.

“Bisa kamu panggilkan Theo ke sini,” kata Elowen dengan tenang.

“Baik nyonya,” ucap pelayan itu lalu melangkah pergi.

.

.

Di sisi lain, Theo sedang berlatih dengan Edric. Sekarang Theo lebih banyak berlatih teknik bertarung untuk menyesuaikan tubuh kecilnya.

Theo menggenggam pedang kayu dengan sangat erat, mengatur napasnya, dan memasang kuda-kuda siap menyerang.

Di hadapan Theo, Edric berdiri dengan memegang pedang kayu dengan satu tangan kanan dan tangan kirinya dia sembunyikan di belakang punggung. Wajahnya tenang dan terlukis senyum kecil di bibirnya.

“Bukankah anda sekarang terlalu banyak berpikir tuan?” ucap Edric tiba-tiba.

Theo hanya diam tak menanggapi.

‘Bocah sialan, kalau aku seumuranmu. Mungkin kepalamu sudah menggelinding dari lama,’ gumam Theo dalam hati.

Theo melonggarkan kuda-kudanya.

Menghela napas panjang.

“Kita sudahi di sini Edric, aku... merasa akan mati saat ini,” ucap Theo. Dadanya naik turun saat mengatakan itu.

“Baiklah tuan muda, kita sudahi untuk hari ini,” ucap Edric.

Theo dan Edric akan melangkah keluar lapangan, dan di sisi lapangn sudah ada pelayan yang berdiri pelayan yang memberi hormat.

Theo menyadari siapa yang menunggunya.

.

.

Theo melangkah masuk ke dalam ruangan Elowen, terlihat di sana Elowen sedang memegang cangkir teh di tangannya.

“Salam ibu,” ucap Theo memberi hormat, lalu Elowen menolehnya.

“Kenapa kamu berdiri sangat jauh Theo?” tanya Elowen dengan tenang.

“Ah, aku baru saja berlatih ibu. Badanku masih bau keringat,” Ucap Theo.

Elowen tersenyum.

“Kemarilah, duduk bersama ibu,” ucap Elowen.

Theo hanya menurut dan duduk di kursi seberang Elowen.

Elowen menuangkan teh ke cangkir kosong di depan Theo.

“Bagaimana latihanmu, nak?” tanya Elowen.

“Biasa saja,” jawab Theo singkat.

“Kata Edric kamu sudah mencapai tingkat Acolyte, apa itu benar?” tanya Elowen.

Theo mengangguk. “Aku mencapainya dua bulan yang lalu, ibu” jawabnya, tentu saja itu bohong. Theo dan Lily memutuskan untuk menutupi tingkatan asli Theo karena tidak ingin terlalu mencolok untuk saat ini.

Elowen tersenyum dengan lembut.

“Bukankah itu hebat, hanya dalam tiga tahun kamu bisa mencapai tingkatan itu. Mungkinkah anakku yang tampan ini adalah seorang jenius,”

Theo tersenyum canggung mendengar itu.

“Kamu seperti anak yang berbeda setelah kejadian tiga tahun lalu,” ucap Elowen.

Senyum Theo menghilang.

‘Inilah kenapa aku sangat malas saat harus bertemu dengan wanita ini,’ gumam Theo dalam hati.

“Tapi itu hal yang baik bukan,” ucap Elowen lagi, dengan senyum hangat.

“I-iya,” jawab Theo.

“Bukankah dalam satu tahun kamu harus menyampaikan pilihanmu kepada ayah mu? Apa kamu sudah menentukannya?” tanya Elowen lagi.

Theo diam sebentar, lalu menatap langit di luar.

“Aku rasa... aku ingin menjadi prajurit bayaran,” jawab Theo.

“Prajurit bayaran?” tanya Elowen bingung.

Theo mengangguk.

“Aku ingin membangun kekuatanku sendiri tanpa mengandalkan nama dan posisi ayah,” jelas Theo, matanya penuh keyakinan.

“Tapi apa ayah akan setuju?” tanya Theo tiba-tiba.

Elowen kembali tersenyum.

“Kalau kamu sudah bertekad seperi itu, ibu akan membantu untuk meyakinkan ayahmu. Dan ibu juga akan bicara pada pamanmu untuk menyiapkan semuanya.” jawab Elowen.

Theo mengangguk.

Elowen dan Theo melanjutkan obrolan ringan mereka, selayaknya anak dan orang tua.

.

.

Beberapa minggu kembali berlalu.

Theo berjalan di lorong menuju kamarnya, sesekali di harus berpas-pasan dengan pelayan dan prajurit. Sekarang, mereka semua menaruh hormat pada Theo setelah tersebar bahwa Theo adalah seorang jenius seperti kakaknya. Semua orang selalu menyapanya dan Theo membalas mereka dengan tenang.

[TING]

“Tuan, sepertinya ini sudah waktunya anda mempelajari magic untuk kenaikan tingkat anda.”

Theo menghentikan langkahnya.

‘Magic?’ tanya Theo.

‘Apa itu perlu?’ jelas Theo dengan bingung.

[TING]

“Ya, itu juga untuk membuat anda lebih kuat dari kehidupan anda dulu.”

Mendengar itu, Theo menjadi semangat dan mempercepat langkahnya.

.

Setelah baru sampai di dalam kamarnya, Theo langsung mengunci pintunya agar tidak ada yang mengganggunya.

“Baiklah Lily, sekarang apa yang harus aku lakukan?” tanya Theo sambil

[TING]

“Sebelum itu, saya akan menjelaskan prinsip dasar dari magic dan penyimpanan Mana di dunia ini.”

Baiklah, Theo mengambil posisi duduk di lantai.

Lily mulai menjelaskan semua kepada Theo tanpa terlewatkan detail kecilpun.

Beberapa waktu berlalu.

Theo mulai memahami semua hal yang di jelaskan Lily. Dan saat dia merasakan sesuatu seperti pencerahan, riak energi juga muncul dalam tubuh Thero, membentuk seperti wadah tapi langsung pecah seperti disengaja.

Theo mengeluarkan darah dari mulutnya, tapi tetap mecoba fokus akan mengumpulkan Mana.

Di dalam tubuh Theo, jalur Mana kembali melebar dan mengalir tanpa hambatan.

Tiba-tiba ada ledakan energi dari tubuh Theo, membuat beberapa barang di sana berjatuhan. Manusia biasa mungkin akan terpental saat berdiri di dekat Theo.

Perlahan Theo membuka matanya, mengatur napas, perutnya terasa sakit seperti ada yang meremasnya.

“Hei, Lily, apa aku gagal? Kenapa... aku tak bisa membuat wadah untuk menampung mana.” ucap Theo dengan napas yang tersenggal.

[TING]

“Tidak tuan, anda berhasil naik ke tingkat Bearer. Saya mengucapkan selamat.”

“Lalu bagaimana dengan wadah yang kau bilang, bukankah harusnya ada wadah yang menampung Mana di tubuhku?” ucap Theo, dia semakin dengan apa yang terjadi.

[TING]

“Tubuh anda tidak memerlukan hal semacam itu tuan, tubuh anda sendiri adalah wadah itu sendiri.”

“Apa maksudmu, bukankah itu melanggar aturan...” Theo tidak menyelesaikan kalimatnya. “Ah, benar juga. Tubuh ini adalah anomali itu sendiri.” lanjut Theo menggaruk kepalanya dan tersenyum kecut.

“Lalu sekarang apa? Aku juga tidak bisa merasakan element dalam tubuhku. Bukankah kau bilang, di dunia ini setiap orang akan lahir dengan element masing-masing.” ucap Theo.

[TING]

“Anda juga tidak memerlukan itu, anda bisa menggunakan element magic yang ada tanpa harus ada element khusus pada tubuh anda.”

[TING]

“Sekarang anda bisa membayangkan element yang ingin anda keluarkan.”

Theo mengangkat tangan kirinya, lalu membayangkan api di sana.

Api kecil keluar dari udara kosong, tapi menghilang cepat.

Theo bingung dengan itu.

“Kenapa ini? Apa ada yang salah” ucap Theo bingung.

[TING]

“Karena itu bukan element milik anda, anda harus mempelajari prinsip dari dasar dari element itu sendiri.”

Theo mendengus mendengar itu, kesal karena harus belajar sesuatu lagi.

Lalu tak lama dia teringat sesuatu.

“Tunggu dulu, bukankah aku dulu juga sempat jadi Archamage di salah satu kehidupanku.” ucap Theo, lalu dia menutup matanya. Dia mencoba mengingat sesuatu dengan keras.

Udara di sekitar Theo tiba-tiba berubah, aliran Mana terserap deras ke dalam tubuh Theo.

Theo maleyang rendah dan turun dengan cepat, dia membuka matanya. Wajahnya terkejut dengan apa yang terjadi.

“Woaah. Apa-apan itu tadi?” ucapnya lalu tersenyum dengan lebar.

Theo mengangkat kedua tangan, dan bola api terbentuk lalu di ikuti angin yanng menyelimuti bola api itu, membuatnya semakin besar.

Senyum Theo makin melebar.

[TING]

“Apa anda ingin membakar tempat ini.”

Theo yang tersadar dengan tindakannya langsung menarik Mananya, dan bola api itu langsung menghilang.

“Hei Lily apa kau lihat barusan. Bukankah ini gila, aku bahkan tak perlu merapal mantra untuk itu.” ucap Theo kegirangan. “Bukankah orang-orang akan menggila saat melihat itu” lanjutnya.

[TING]

“Sebelum itu, selamat tuan. Karena setengah langkah lagi anda akan masuk ke ranah Elite.”

“Eh, benarkah,” ucap Theo, lalu memeriksa tubuhnya.

[TING]

“Saya akan memperingatkan anda, mulai saat ini. Menaikkan kekuatan anda akan sangat sulit.”

“Apa maksudmu?” tanya Theo kebingungan.

[TING]

“Karena tubuh anda sekarang adalah sebagai wadah, Mana yang anda butuhkan untuk mengisinya juga akan sangat banyak.”

[TING]

“Dan karena element magic anda bukan bawaan anda, itu akan membutuhkan Mana yang lebih banyak dari element magic biasa.”

Mendengar peringatan dari Lily membuat Theo terdiam dan berpikir dengan keras.

Dia memikirkan sesuatu yang sudah lama terlintas di benaknya.

“Apa itu karena pembatas dunia ini?” tanya Theo.

Tak ada jawaban dari Lily, dan Theo hanya berdiam dalam pikirannya.

[TING]

“Bukan hanya karena pembatas dunia, ini juga agar anda tidak terlihat terlalu cepat.”

Mendengar itu, Theo tersadar kalau dia bergerak terlalu cepat, akan ada yang mengincar lehernya.

.

.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!