Di Benua Sembilan Awan, takdir seseorang ditentukan oleh Pusaka Jiwa yang mereka bangkitkan. Li Tian, seorang murid luar yang gigih namun miskin, menjadi bahan tertawaan seluruh sekte ketika ia membangkitkan pusaka berupa sarung tangan perunggu kusam yang dianggap sampah tak berguna.
Namun, dunia buta akan kebenarannya. Di balik karat itu bersemayam Zu-Long, Roh Kaisar Naga Primordial yang pernah menguasai langit. Pusaka itu bukanlah sampah, melainkan Cakar Naga Pemutus Takdir, satu dari Sembilan Pusaka Kaisar legendaris dengan kemampuan mengerikan: melipatgandakan kekuatan penggunanya tanpa batas.
Menolak menyerah pada nasib sebagai "sampah", Li Tian bangkit. Dengan bimbingan Naga Purba yang angkuh dan tekad baja, ia bersiap menampar wajah para jenius sombong, melindungi orang-orang terkasih, dan mendaki puncak kultivasi untuk menjadi Dewa Perang Terkuat.
Legenda seekor Naga yang membelah langit baru saja dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Naga Melawan Api
Angin panas berhembus di atas panggung Arena Naga Tersembunyi, membawa aroma ozon dan niat membunuh yang pekat. Ribuan penonton menahan napas, mata mereka terpaku pada dua sosok yang berdiri berhadapan.
"Mati!"
Li Feng tidak menunggu aba-aba kedua. Dia menghentakkan kakinya, melesat maju seperti anak panah api. Pedang Api Merah di tangannya menyala terang, meninggalkan jejak cahaya merah di udara.
"Teknik Pedang Awan Api: Tebasan Matahari Terbenam!"
Serangan itu cepat dan ganas, mengincar leher Li Tian dari sudut miring. Panasnya begitu menyengat hingga bulu mata Li Tian terasa hangus.
Li Tian tidak mundur. Dia merendahkan tubuhnya, menghindari bilah pedang itu hanya selisih satu inci di atas kepalanya.
"Lambat," bisik Li Tian.
Sambil merunduk, Li Tian melancarkan pukulan uppercut ke dagu Li Feng.
"Gandakan!"
DUM!
Kekuatannya melonjak dua kali lipat.
Li Feng terkejut, tapi reaksinya sebagai Tempa Tubuh Tingkat 9 tidak bisa diremehkan. Dia memutar pergelangan tangannya, menarik pedangnya kembali untuk menangkis pukulan itu dengan gagang pedang.
BANG!
Bentrokan itu menghasilkan gelombang kejut. Li Feng terdorong mundur tiga langkah, tangannya gemetar.
"Kekuatan fisik macam apa itu?!" batin Li Feng kaget. Dia sudah melapisi tubuhnya dengan Qi api, tapi hantaman Li Tian barusan terasa seperti ditabrak banteng besi.
"Hanya segitu kemampuan Tuan Muda Jenius?" ejek Li Tian, berdiri tegak dan mengibaskan tangannya. "Kalau hanya main kembang api, lebih baik kau pulang dan nyalakan lilin ulang tahun."
Wajah Li Feng memerah padam karena amarah. "Dasar sampah sombong! Jangan pikir kau bisa menang hanya dengan tenaga kasar!"
Li Feng menusukkan pedangnya ke lantai panggung.
"Teknik Rahasia: Penjara Pilar Api!"
WUSH! WUSH! WUSH!
Empat pilar api setinggi dua meter menyembur dari lantai batu di sekeliling Li Tian, mengurungnya. Suhu di dalam lingkaran api itu naik drastis, membakar oksigen.
"Rasakan itu! Terpangganglah kau di dalam sana!" teriak Li Feng.
Di tribun, Han Gemuk menutup mulutnya ngeri. "Itu teknik area! Li Tian tidak bisa menghindar!"
Di dalam lingkaran api, Li Tian merasakan kulitnya mulai perih. Keringat bercucuran deras.
"Panas juga," gumam Li Tian.
"Gunakan Cakar Naga," suara Zu-Long terdengar tenang, bahkan sedikit bosan. "Serap panasnya. Api murahan ini mengandung energi Yang murni."
Li Tian menyeringai. Dia mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi. Permata hijau di punggung sarung tangan itu bersinar terang.
"Makan!"
Wuuuung!
Pusaran angin kecil tercipta di telapak tangan Li Tian. Api yang mengelilinginya tiba-tiba tersedot, berputar spiral masuk ke dalam sarung tangan perunggu itu. Dalam hitungan detik, Penjara Pilar Api yang dibanggakan Li Feng lenyap tak berbekas, hanya menyisakan asap tipis.
Li Tian berdiri di sana, tanpa luka bakar sedikit pun. Sarung tangannya kini memancarkan uap merah panas.
"Terima kasih atas energinya," kata Li Tian. "Sekarang, kembalikan!"
Li Tian menghentakkan telapak tangannya ke depan.
BOOM!
Gelombang kejut panas—sisa energi api yang baru saja diserap—ditembakkan kembali ke arah Li Feng.
Li Feng melompat ke samping dengan panik, jubah mewahnya terbakar sedikit di bagian ujung. Dia berguling di tanah dan bangkit dengan wajah penuh debu dan ketakutan.
Teknik pedangnya dipatahkan. Jebakan apinya dimakan. Kekuatan fisiknya kalah.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Li Feng merasakan teror. Dia melihat Li Tian bukan lagi sebagai sepupu miskin yang bisa diinjak, melainkan sebagai raksasa yang tidak bisa ditembus.
"Tidak... tidak mungkin aku kalah..." Li Feng gemetar. Dia melirik ke arah tribun VIP, tempat ayahnya dan para tetua keluarga Li duduk. Jika dia kalah di sini, masa depannya hancur. Dia akan menjadi lelucon.
Li Feng merogoh saku jubahnya. Dia mengeluarkan sebuah pil berwarna merah darah yang berdenyut tidak wajar.
Pil Pembakar Darah.
Obat terlarang yang membakar esensi kehidupan penggunanya untuk meningkatkan kekuatan secara drastis selama lima belas menit. Efek sampingnya bisa merusak fondasi kultivasi permanen, tapi Li Feng sudah tidak peduli.
"Aku akan membunuhmu!" teriak Li Feng, menelan pil itu bulat-bulat.
"Hentikan dia!" seru seorang wasit, menyadari bahaya pil itu.
Tapi terlambat.
ROAAAR!
Aura merah pekat meledak dari tubuh Li Feng. Otot-ototnya membesar, urat-urat hitam merambat di wajahnya. Matanya menjadi merah menyala tanpa pupil.
Tekanan energinya melonjak dari Tempa Tubuh Tingkat 9 menembus batas, mencapai Setengah-Langkah Bangkit Jiwa.
"MATI KAU, LI TIAN!"
Suara Li Feng berubah menjadi geraman monster. Dia mengangkat pedangnya. Kali ini, api di pedangnya berubah warna menjadi merah tua kehitaman.
"Tebasan Pemusnah Naga!"
Li Feng melompat tinggi ke udara, menebas ke bawah dengan kekuatan yang bisa membelah batu besar menjadi dua.
Angin tekanan dari serangan itu saja sudah membuat lantai panggung retak.
Li Tian mendongak. Rambutnya berkibar liar ditiup angin panas. Dia bisa merasakan ancaman maut. Tulang Besi-nya bergetar memberi peringatan. Serangan ini... jika dia menahannya dengan Gandakan x2, tulangnya akan patah.
"Guru," panggil Li Tian dalam hati.
"Dia menggunakan nyawanya untuk serangan ini," kata Zu-Long serius. "Jika kau ingin menahannya, kau harus melampaui batasmu juga. Tapi ingat, tubuhmu mungkin akan rusak."
"Aku tidak peduli," jawab Li Tian tegas. Matanya menyala dengan tekad baja. "Jika aku mundur di sini, aku tidak pantas menjadi Naga."
Li Tian memasang kuda-kuda rendah. Dia menarik tangan kanannya ke belakang pinggang, mengumpulkan seluruh Qi, seluruh tenaga, dan seluruh niat tempurnya ke dalam satu titik.
"Gandakan..."
Jantungnya berdetak kencang.
"...Dua Kali..."
Otot lengan kanannya menegang hingga batas maksimal.
"...Empat Kali!"
Gandakan x4!
KRAK!
Suara serat otot yang robek terdengar dari lengan kanan Li Tian. Kulitnya retak, darah segar menyembur keluar, membasahi sarung tangan perunggu itu. Beban kekuatan empat kali lipat terlalu besar untuk tubuh Tempa Tubuh-nya saat ini.
Tapi di saat yang sama, aura hijau zamrud yang sangat pekat meledak, membentuk bayangan cakar naga raksasa yang menutupi tangan Li Tian.
Li Feng turun dengan pedang apinya.
Li Tian meninju ke langit.
"Cakar Naga... PEMBELAH LANGIT!"
DUAAAAARRRR!
Bentrokan itu menciptakan ledakan energi yang menyilaukan mata. Gelombang kejut menyapu seluruh arena, menerbangkan topi para penonton di barisan depan. Wasit harus menancapkan kakinya ke tanah agar tidak terhempas.
Di tengah cahaya yang menyilaukan itu, terdengar suara logam yang hancur.
TRANG!
Pedang Api Merah—senjata kelas Bumi yang berharga—hancur berkeping-keping.
Tinju Li Tian terus melaju, menembus sisa-sisa api, dan menghantam dada Li Feng (yang untungnya dilindungi oleh baju zirah kelas tinggi).
BAM!
Baju zirah itu penyok total. Li Feng memuntahkan darah segar bercampur pecahan organ dalam. Tubuhnya terlempar seperti peluru, melintasi separuh arena, menabrak tembok pembatas tribun VIP hingga tembok batu itu runtuh menimbunnya.
Debu mengepul tebal.
Hening.
Seluruh stadion sunyi senyap. Tidak ada yang berani bernapas.
Perlahan, debu di atas panggung menipis.
Li Tian masih berdiri di posisi terakhirnya, tinjunya teracung ke langit. Lengan kanannya berlumuran darah, gemetar hebat, dan terkulai lemas di sisi tubuhnya. Napasnya terdengar berat dan serak.
Tapi dia berdiri tegak. Seperti pilar yang menopang langit.
Wasit berlari ke arah reruntuhan tembok. Dia memeriksa Li Feng.
"Li Feng... pingsan! Tulang rusuk patah semua, tapi masih hidup!" teriak wasit.
Dia kemudian berbalik ke arah Li Tian, menatap pemuda itu dengan pandangan hormat yang mendalam.
"Pemenang Kompetisi Peringkat Murid Luar Tahun Ini..."
Wasit mengangkat tangannya ke arah Li Tian.
"...LI TIAN!"
ROAAARRR!
Sorak-sorai meledak. Kali ini bukan ejekan, bukan keraguan. Itu adalah gemuruh pengakuan. Ribuan murid meneriakkan namanya. Han Gemuk menangis bahagia sambil melompat-lompat.
Di panggung utama, Sekte Master—seorang pria paruh baya dengan aura tak terukur—berdiri dari kursinya. Dia menatap Li Tian dengan senyum tipis.
"Sarung tangan itu..." gumam Sekte Master pelan. "Menarik. Naga telah bangun di kolam kecil kita."
Li Tian menatap langit biru. Rasa sakit di lengannya luar biasa, tapi rasa puas di hatinya jauh lebih besar.
"Kita berhasil, Guru," bisik Li Tian.
"Hmpf. Tentu saja," jawab Zu-Long, meski nadanya terdengar bangga. "Tapi lihat tanganmu. Kau butuh waktu seminggu untuk menyembuhkannya. Jangan senang dulu, Bocah. Ini baru langkah pertama. Dunia di luar sana... masih jauh lebih luas."
Li Tian tersenyum, lalu pandangannya menggelap. Kelelahan akhirnya menyusulnya. Dia jatuh pingsan di atas panggung kemenangan, disambut oleh tepuk tangan yang menggema seperti guntur.