NovelToon NovelToon
Takhta Sang Ratu Mineral

Takhta Sang Ratu Mineral

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Tamat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: JulinMeow20

"Lima tahun lalu, aku hanyalah gadis desa yang dihargai murah dalam sebuah kontrak rahim. Zhang Liang membeliku untuk pewarisnya, lalu membuangku saat misinya selesai."
Alya menghilang membawa rahasia besar: sepasang anak kembar yang memiliki darah empat pria paling berpengaruh di Jakarta.
Kini, ia kembali bukan sebagai Alya yang lemah, melainkan Alana Wiratama—sang Ratu Mineral yang memegang kendali atas harta yang paling diinginkan dunia. Saat empat naga yang dulu menindasnya kini berlutut memohon pengampunan, Alana hanya punya satu aturan:
"Aku tidak butuh pelindung. Aku datang untuk mengambil kembali takhtaku."
Akankah cinta sang miliarder mampu melunakkan hati wanita yang sudah ia hancurkan? Ataukah ini akhir dari kekuasaan para Naga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JulinMeow20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DURI YANG TERCABUT

Malam setelah serangan Viktor Volkov, Jakarta tidak lagi terlihat sama di mata Alya. Jika dulu gedung-gedung pencakar langit itu tampak seperti jeruji penjara, kini mereka adalah bidak catur yang siap ia gerakkan. Di dalam penthouse aman yang dikelola secara kolaboratif oleh tim keamanan Zhihao dan Wei Jun, Alya duduk di depan deretan monitor.

Ia tidak lagi mengenakan gaun pesta. Ia mengenakan kemeja putih sederhana dengan lengan yang digulung hingga siku. Di hadapannya, Saraswati dan Han Zhihao sedang membedah aliran dana rahasia yang selama ini menghidupi pelarian Madam Liu Xian dan sisa-sisa loyalisnya.

"Kita sudah menemukan 'jantung' finansialnya, Alana," ucap Zhihao. Jemarinya menari di atas keyboard mekanis yang berbunyi ritmis. "Madam Liu Xian menggunakan yayasan fiktif di Panama untuk mencuci dana hasil penggelapan pajak Zhang Maritime sepuluh tahun lalu. Itulah cara dia membayar tentara bayaran seperti Volkov."

Alya menatap layar yang menampilkan grafik aliran dana yang rumit. "Bisakah kita membekukannya tanpa menghancurkan perusahaan Mas Liang?"

Zhihao menyeringai tipis. "Itu bagian menariknya. Kita akan melakukan surgical strike. Kita potong akses pribadinya, tapi kita alihkan aset tersebut kembali ke rekening cadangan perusahaan sebagai 'keuntungan tak terduga'. Liang akan bersih, tapi ibunya akan menjadi gelandangan secara finansial dalam waktu kurang dari satu jam."

"Lakukan," perintah Alya dingin. "Cabut durinya sampai ke akar."

Sesaat setelah perintah eksekusi finansial itu dijalankan, Zhang Liang masuk ke ruangan. Ia tidak lagi tampak seperti CEO angkuh yang dulu memerintah Alya. Wajahnya lelah, ada memar kecil di pipinya akibat perkelahian semalam, dan di tangannya ia membawa sebuah kotak kayu kecil yang tampak sangat tua.

"Zhi, bisa beri kami waktu?" tanya Liang pelan.

Zhihao menatap Alya, menunggu kode. Alya mengangguk kecil, dan Zhihao keluar dengan langkah yang menunjukkan ketidaksukaannya.

"Ada apa lagi, Mas? Jika ini tentang ibumu, keputusanku sudah bulat," ucap Alya tanpa menoleh dari layar.

"Ini bukan tentang dia. Ini tentang ini," Liang meletakkan kotak kayu itu di meja.

Alya membukanya. Di dalamnya bukan perhiasan mahal, melainkan tumpukan surat-surat lama yang ditulis dengan tangan. Itu adalah surat-surat dari mendiang ayah Liang kepada Wiratama, ayah Alya.

"Aku menemukannya di brankas tersembunyi Ayah semalam. Ayahku... dia menyesal sebelum meninggal, Alya. Dia menulis surat permintaan maaf yang tidak pernah sampai karena Ibu menghancurkannya. Di surat ini, Ayah meminta agar suatu saat nanti, jika anak-anak kita lahir, seluruh kepemilikan Lawu harus dikembalikan padamu secara utuh."

Alya membaca surat-surat itu. Air matanya menetes. Ternyata, di tengah kebencian Madam Liu Xian, ada sisa-sisa penyesalan dari pria yang memulai semua kekacauan ini.

"Dan ada satu lagi," Liang merogoh saku jasnya. Ia mengeluarkan sebuah cincin. Bukan cincin berlian raksasa yang biasa ia berikan sebagai simbol status, melainkan cincin perak sederhana dengan ukiran bunga melati—bunga kesukaan Alya di desa.

Liang berlutut di depan Alya. Kali ini, tindakannya bukan karena keputusasaan atau paksaan situasi.

"Alya, lima tahun lalu aku membelimu dengan kontrak yang menghina harga dirimu. Aku memperlakukanmu seperti benda untuk memuaskan egoku dan ambisi keluargaku. Aku tidak pantas meminta maaf, apalagi meminta cintamu kembali."

Liang menatap mata Alya dengan kejujuran yang menyakitkan. "Tapi aku ingin memulai dari nol. Bukan sebagai Tuan Zhang, bukan sebagai pemilik perusahaan. Tapi sebagai Liang, pria yang berhutang nyawa dan kebahagiaan padamu. Aku ingin melamarmu lagi, bukan sebagai istri kontrak, tapi sebagai wanita yang memegang kendali atas hidupku. Kau boleh menolak, kau boleh membuang cincin ini, tapi izinkan aku membuktikan bahwa aku bisa menjadi ayah yang layak bagi Bintang dan Cahaya."

Alya menatap cincin itu, lalu menatap pria yang dulu pernah ia benci setengah mati. Ia melihat perubahan yang nyata—seorang pria yang akhirnya hancur dan dibangun kembali oleh penyesalan.

"Simpan cincin itu, Mas," ucap Alya pelan. Liang tampak layu mendengar jawaban itu, namun Alya melanjutkan, "Jangan berikan sekarang. Berikan nanti, saat Bintang dan Cahaya sendiri yang meminta ayahnya untuk kembali ke rumah. Aku tidak akan menikah karena hutang budi atau kasihan. Aku hanya akan menikah jika hatiku merasa aman."

Liang tersenyum tipis, ada secercah harapan di wajahnya. "Aku akan menunggu. Selama apa pun itu."

Di sebuah vila tersembunyi di pinggiran Bogor, Madam Liu Xian sedang mengamuk. Ia mencoba menggesek kartu kredit hitamnya untuk membayar tim keamanan cadangan, namun mesin itu terus mengeluarkan bunyi decline.

"Sialan! Telepon bank sekarang!" teriaknya pada pelayannya yang setia.

Namun, bukan suara petugas bank yang ia dengar saat telepon diangkat. Melainkan suara dingin Alya yang terhubung melalui sistem enkripsi Zhihao.

"Ibu sedang mencari uangnya?" tanya Alya di seberang telepon.

"Alya! Kau... apa yang kau lakukan?!"

"Aku hanya mengambil kembali apa yang seharusnya tidak pernah Ibu miliki. Semua rekening luar negeri Ibu sudah ditutup. Vila tempat Ibu tinggal sekarang? Aku sudah membelinya lewat perusahaan cangkang pagi ini. Ibu punya waktu satu jam untuk mengepak barang-barang Ibu dan pergi."

"Kau tidak bisa melakukan ini padaku! Aku ini Nyonya Besar Zhang!"

"Bukan lagi," potong Alya. "Sekarang, Ibu hanyalah seorang wanita tua yang kehilangan kehormatannya karena keserakahan sendiri. Mas Liang sudah menandatangani surat pengasingan Ibu. Jika Ibu masih ingin menerima tunjangan bulanan yang cukup untuk makan dan tempat tinggal sederhana, Ibu harus menandatangani surat pengakuan dosa di depan pengacara saya."

Telepon diputus. Madam Liu Xian jatuh terduduk di lantai marmer yang dingin. Ia menyadari bahwa kelinci kecil yang ia injak-injak dulu kini telah berubah menjadi predator yang mencabut semua taringnya.

Malam itu, meja makan di penthouse terasa sangat penuh. Alya duduk di kepala meja. Di sampingnya ada Bintang dan Cahaya yang sibuk bercerita tentang petualangan mereka seharian.

Di sisi meja yang lain, keempat Naga duduk dengan patuh. Liang, Wei Jun, Luo Cheng, dan Zhihao. Mereka tidak lagi saling melempar tatapan membunuh. Keadaan darurat semalam telah memaksa mereka untuk mengakui bahwa mereka jauh lebih kuat jika bersatu di bawah komando Alya.

"Om Cheng! Nanti ajari Bintang pakai panah lagi ya?" pinta Bintang.

"Tentu, jagoan! Kita akan buat sasaran di taman belakang," jawab Luo Cheng dengan tawa lebarnya.

"Om Jun, Cahaya mau lihat papan selancar yang ada gambarnya putri duyung!" Cahaya menimpali.

"Besok kita ke Bali lagi kalau Cahaya mau," Wei Jun tersenyum, matanya tetap mencuri pandang ke arah Alya.

Zhihao hanya diam, namun ia terus menyodorkan tablet berisi game edukasi yang membuat anak-anak itu tertawa. Sementara Liang, ia hanya duduk diam, menatap pemandangan itu dengan mata berkaca-kaca. Inilah keluarga yang ia sia-siakan dulu, dan kini ia merasa sangat beruntung diizinkan duduk di meja yang sama.

Alya memperhatikan mereka semua. Ia menyadari bahwa balas dendam terbaik bukanlah dengan menghancurkan, tapi dengan membangun sesuatu yang jauh lebih kuat di atas reruntuhan masa lalu.

"Dengar semuanya," ucap Alya, membuat suasana meja makan menjadi tenang. "Mulai besok, Wiratama Foundation akan mulai beroperasi secara penuh. Aku butuh kalian berempat sebagai dewan penasihat, tapi bukan sebagai pemilik. Kita akan membuktikan bahwa kekayaan Lawu bisa menyejahterakan semua orang, bukan hanya satu keluarga."

"Kami akan melakukan apa pun yang kau minta, Ratu Alana," canda Luo Cheng, yang langsung disambut senyum oleh yang lain.

Setelah anak-anak tidur, Alya berdiri di balkon, menatap lampu-lampu Jakarta. Liang mendekatinya, menjaga jarak yang sopan.

"Mas Liang," panggil Alya.

"Ya, Al?"

"Terima kasih atas surat-surat Ayah. Itu memberiku kedamaian yang tidak bisa dibeli dengan uang."

"Itu hakmu, Alya. Maaf aku baru menemukannya sekarang."

Alya menoleh ke arah Liang. "Bab tentang kontrak sudah resmi berakhir malam ini, Mas. Mulai besok, tidak ada lagi masa lalu yang menghantui kita. Yang ada hanya masa depan."

Liang mengangguk. Ia tahu perjalanannya masih panjang untuk mendapatkan cinta Alya kembali, tapi malam ini, ia bisa tidur nyenyak untuk pertama kalinya dalam lima tahun. Duri di hati mereka masing-masing telah tercabut, menyisakan luka yang perlahan-lahan mulai mengering di bawah cahaya rembulan Jakarta.

Namun, di kegelapan dermaga pelabuhan milik Zhang, sebuah peti kemas rahasia baru saja diturunkan. Di dalamnya, Viktor Volkov yang berhasil kabur dari penahanan sementara (berkat bantuan musuh-musuh global Liang) sedang merencanakan serangan terakhir yang lebih licin.

"Nyonya Wiratama mungkin sudah mencabut durinya," bisik Viktor pada anak buahnya. "Tapi dia lupa bahwa serigala yang terluka akan menyerang di tempat yang paling tidak terduga: hatinya."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!