NovelToon NovelToon
Mawar Berduri: Tahta Untuk Ratu

Mawar Berduri: Tahta Untuk Ratu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Single Mom
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Anonymous MC

"Mereka mengira aku boneka porselen yang siap pecah. Mereka pikir aku buta, bodoh, dan lemah. Biar aku tunjukkan, dari balik duri-duri ini, ada mahkota yang menungguku."

Alana Wijaya adalah putri tunggal konglomerat yang jatuh miskin. Setelah ayahnya wafat, ia menikah dengan pria yang diam-diam berselingkuh dengan sahabatnya sendiri—tepat di bawah atapnya, selama tiga tahun. Alana memilih diam. Bukan karena takut, tapi karena sedang menyusun takhta.

Di balik gaun mahal dan senyum palsunya, ia diam-diam membangun kembali kerajaan ayahnya. Ia masuk ke klub eksklusif dengan pakaian usang, diremehkan, dicemooh—sampai suatu hari, para investor paling disegani di negeri ini berlutut menawarkan kerja sama.

Saat sang suami dan sahabatnya mulai menyadari bahwa mereka bukan lagi predator, melainkan mangsa... Alana baru benar-benar tersenyum.

"Kau pikir kau yang memainkanku? Sayang sekali. Permainan baru saja dimulai—dan akulah pembuat aturannya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonymous MC, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Pukulan Telak Pertama

Dinding-dinding diam menyimpan rahasia

Di balik tirai beludru, ular melingkar manja

Engkau tertawa di atas takhta pinjaman

Lupa bahwa setiap mahkota punya bayangan

Malam ini, angin berbisik lain

Menyusup celah-celah jendela yang retak

Ada tangan yang menggerak-gerakkan tali

Dan engkau baru sadar: kau bukan dalang, hanya wayang

Selamat datang di babak di mana debu berteriak

Selamat tinggal, kursi yang kau curi diam-diam

Karena keadilan tak pernah tidur

Ia hanya menunggu waktu yang tepat untuk menari

---

Kantor pusat Hartanto Wijaya Group menjulang di ketinggian lantai 32, dengan kaca-kaca berlapis emas yang memantulkan arogansi pemiliknya. Richard Hartanto duduk di kursi direkturnya—kursi yang dulu milik Hendra Wijaya, ayah Alana—dengan secangkir kopi espresso di tangan.

Pukul 09.15 pagi. Seharusnya hari biasa. Seharusnya tak ada yang berbeda.

Tapi pintu terbuka tanpa ketukan.

Empat orang masuk. Jas hitam. Wajah tanpa ekspresi. Dada mereka disematkan lencana yang langsung membuat darah Richard berdesir dingin: Badan Pemeriksa Keuangan dan Pengawasan Pembangunan.

"Selamat pagi, Bapak Richard Hartanto." Seorang wanita paruh baya dengan rambut disanggul ketat maju selangkah. Matanya tajam seperti silet. "Saya Diana Wijayanti, tim audit khusus. Kami menerima laporan indikasi penyelewengan dana dan pencucian aset di perusahaan ini. Mulai detik ini, semua transaksi dibekukan. Semua akses rekening ditangguhkan."

Richard meletakkan cangkirnya. Perlahan. Terlalu perlahan. Itu cara dia menahan getar di tangannya.

"Ada kesalahan, Bu." Senyum profesional terpasang di wajahnya. "Perusahaan kami bersih. Mungkin ada laporan fitnah dari pesaing—"

"Tidak ada kesalahan, Pak." Diana mengeluarkan map tebal, meletakkannya di meja. "Laporan ini disertai bukti transaksi mencurigakan selama tiga tahun terakhir. Penggelapan pajak. Rekening fiktif. Aliran dana ke perusahaan cangkang di Singapura dan Kepulauan Cayman."

Richard terdiam.

Rasanya seperti seseorang mencengkeram lehernya dari belakang.

"Kami akan menyita semua dokumen keuangan, mengakses server utama, dan mewawancarai semua staf divisi keuangan." Diana memberi isyarat, dan tiga orang di belakangnya langsung bergerak. "Saya sarankan Bapak menghubungi pengacara. Karena ini baru permulaan."

Pintu terbuka lagi. Kali ini, para staf mulai berkerumun di lorong, berbisik-bisik. Wajah mereka campuran antara panik dan penasaran.

Richard bangkit. "Kalian tidak bisa masuk seenaknya! Ini ranah privat! Saya punya koneksi di kementerian, saya—"

"Pak Richard." Diana memotong, suaranya dingin seperti bilah baja. "Audit ini atas perintah langsung KPK dan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan. Kalau Bapak keberatan, silakan komplain ke Komisi Pemberantasan Korupsi. Saya tunggu."

Satu jam kemudian, kantor yang biasanya ramai dengan deru mesin fotokopi dan dering telepon berubah menjadi kubangan sunyi yang mencekik.

Semua komputer di lantai keuangan mati. Server dimatikan paksa. Dua ruangan disegel garis kuning. Para pegawai dipulangkan lebih awal dengan wajah bingung—dan mulai menyebarkan gosip di grup WhatsApp masing-masing.

Richard duduk di ruang kerjanya, pintu tertutup rapat.

Ia memencet nomor pengacaranya. Tidak diangkat.

Nomor komisaris utama. Sibuk.

Nomor partner bisnis di Singapura. Panggilan berakhir sebelum tersambung.

Seperti semua pintu ditutup serempak.

"Astaga..." Ia menjambak rambutnya sendiri. Di kepalanya, satu nama melayang-layang seperti hantu: Alana.

Tapi ia segera menggeleng. Tidak mungkin. Alana? Istri bodoh yang diam saja ketika ia bercinta dengan Viola di kamar sebelah? Alana yang tanda tangan dokumen apa pun tanpa membaca? Tidak mungkin.

Atau... mungkinkah selama ini ia salah?

Di lantai 32, di balik pintu kaca buram, ada seorang wanita yang sedang menatap layar ponselnya.

Alana duduk di kafe seberang jalan, di lantai dua, dengan posisi sempurna menghadap gedung itu. Ia melihat tim audit masuk. Ia melihat para staf keluar dengan wajah kusut. Ia melihat garis kuning menyegel pintu.

Ia menyesap teh chamomile-nya. Perlahan. Tenang.

Ponselnya bergetar. Nama Lucas muncul.

"Gue lihat live dari drone," suara Lucas di ujung telepon, terdengar puas. "Mereka udah masuk server. Semua data bocor. Richard pasti linglung sekarang."

Alana tersenyum kecil. "Dia baru sadar ada musuh dalam selimut."

"Lo denger suara dia teriak-teriak di dalem? Wkwk. Sayang gak ada live streaming."

"Kesabaran, Lucas." Alana menatap gedung itu, menikmati setiap detik kehancuran yang sedang berlangsung. "Ini baru pukulan pertama. Masih ada ronde berikutnya."

"Gue suka nada suara lo sekarang. Ngeselin banget, tapi bikin adem."

"Kau tahu pepatah Cina, Lucas?" Alana meletakkan cangkirnya. Bibirnya melengkung manis. "'Duduklah di tepi sungai, dan kau akan melihat mayat musuhmu lewat.' Aku sudah duduk cukup lama. Sekarang saatnya menikmati pemandangan."

Di rumah mewah di kawasan Pondok Indah, suasana berbeda.

Viola baru saja selesai mandi. Rambutnya basah, handuk melilit di tubuhnya. Ia berjalan ke ruang tengah dengan malas, berniat menonton sinetron sambil menunggu Richard pulang.

Tapi ia berhenti.

Di layar televisi 65 inci yang biasanya cuma buat putar film, sekarang muncul berita:

"BREAKING NEWS: Perusahaan Milik Richard Hartanto Digerebek Tim Audit KPK. Indikasi Korupsi dan Pencucian Uang."

Viola mematung.

Handuknya jatuh.

Ia meraih remote, membesarkan volume. Wajah Richard muncul di layar—foto resmi dari website perusahaan, tampan, percaya diri. Tapi di bawahnya, tulisan merah besar:

TERSANGKA DUGAAAN KORUPSI

"Tidak..." Viola menggigit bibir. "Tidak, tidak, tidak."

Ia meraih ponsel, mencoba menghubungi Richard. Tidak diangkat.

Hubungi asisten pribadi Richard. Mati.

Hubungi staf keuangan yang biasa ia suap. Jaringan tidak tersedia.

Viola menjatuhkan diri di sofa. Udara terasa berat. Dadanya sesak.

Dan tiba-tiba, tanpa ia sadari, matanya tertuju ke satu foto di rak.

Foto Alana. Jaman dulu. Saat mereka masih benar-benar bersahabat. Alana tersenyum lebar, memeluk Viola, dengan latar belakang pantai.

Viola menelan ludah.

"Jangan-jangan..."

Tapi ia segera membuang pikiran itu. Tidak mungkin. Alana wanita bodoh itu. Alana yang tak berdaya. Alana yang—

Ponsel Viola bergetar.

Satu pesan masuk. Dari nomor tak dikenal.

Isinya hanya satu baris:

"Terima kasih sudah menjaganya selama ini. Sekarang biar aku yang mengambil alih."

Viola merasakan dingin merambat dari ujung kaki hingga ubun-ubun.

Ia langsung menekan nomor itu. Berulang kali. Tapi hanya nada sambung yang berbunyi.

Kosong.

Tidak terdaftar.

Malam itu, Richard baru pulang pukul 11 malam.

Wajahnya kusut. Jasnya kusut. Semua tentangnya kusut. Viola menyambutnya di pintu dengan mata sembab.

"Kau lihat berita?" tanya Richard tanpa melihatnya.

"Ya. Sudah kuhubungi beberapa orang. Mereka semua menghindar."

Richard melepas dasi, melemparnya sembarangan. "Ini bukan serangan biasa. Ini terstruktur. Ada yang mengatur dari dalam."

Viola menggigit bibir. Ia ragu, tapi akhirnya berkata, "Aku... aku dapat pesan aneh tadi."

"Pesan apa?"

Viola menunjukkan ponselnya. Richard membaca. Matanya menyipit.

"Terima kasih sudah menjaganya selama ini. Sekarang biar aku yang mengambil alih."

Dua kalimat itu. Sederhana. Tapi menusuk.

"Kau pikir ini dari siapa?" bisik Viola.

Richard menatapnya lama. Sangat lama. Lalu ia berjalan menuju lemari es, mengambil bir, membuka tutupnya dengan gigi.

"Ada satu orang yang paling diuntungkan dari kehancuranku," katanya pelan.

Viola menunggu.

Richard menenggak birnya. Seteguk. Dua teguk. Habis.

"Istrimu?" tebak Viola.

Richard tertawa. Tapi tawanya getir. "Istriku? Kau lihat sendiri bagaimana dia. Diam, penurut, kayak boneka porselen yang siap pecah kapan aja."

Viola diam. Tapi di dalam hatinya, sesuatu mulai bergolak.

Boneka porselen?

Atau...

Mawar dengan duri tersembunyi?

Di rumah kontrakan sederhana di kawasan Tebet, Alana duduk di depan laptop.

Layarnya menampilkan puluhan file. Data rekening Richard. Transfer ke perusahaan fiktif. Percakapan dengan oknum pejabat. Semua bukti yang cukup untuk mengirim suaminya ke penjara 20 tahun.

Lucas duduk di sampingnya, memainkan pulpen.

"Gue masih penasaran," kata Lucas. "Kapan lo tahu mereka selingkuh?"

Alana berhenti mengetik. Menatap layar. Matanya kosong untuk beberapa detik.

"Hari pertama dia bawa Viola ke rumah," jawabnya. "Tiga tahun lalu."

Lucas terkejut. "Tiga tahun? Dan lo diem aja?"

"Bukan diam." Alana menoleh, tersenyum—tapi senyum yang sama sekali tak hangat. "Aku mengamati. Belajar. Menyusun."

"Tiga tahun?"

"Tiga tahun adalah harga yang harus kubayar untuk kemenangan yang sempurna." Alana menutup laptop. "Kalau aku marah-marah di awal, aku cuma akan jadi istri histeris yang ditinggal. Tapi kalau aku menunggu..." Ia berdiri, berjalan ke jendela, menatap gedung-gedung jauh yang gemerlap. "Aku bisa mengambil semuanya. Perusahaan. Uang. Reputasi. Dan masa depan mereka."

Lucas bersiul pelan. "Gue jadi takut sama lo."

"Bagus." Alana menoleh, tersenyum. "Karena mulai sekarang, semua orang harus takut."

Pukul 02.15 dini hari.

Richard terbangun dengan keringat dingin.

Ia bermimpi buruk: ia berdiri di tengah ruang pengadilan, semua orang menudingnya. Hakim memukul palu. Dan di kursi penonton, Alana duduk dengan tenang, tersenyum.

Senyum itu. Senyum yang sama seperti saat ia menikah dulu.

Tapi di mimpi itu, senyum Alana terasa... berbeda.

Seperti kemenangan.

Richard meraih ponsel di nakas. Tanpa berpikir panjang, ia menekan nama ALANA.

Satu kali. Dua kali. Tiga kali.

Tidak diangkat.

Ia mencoba lagi. Lagi. Lagi.

Hingga akhirnya, panggilannya masuk.

Suara Alana terdengar mengantuk. "Halo, Mas? Ada apa? Ini jam dua pagi."

Richard diam. Suara itu. Lembut. Polos. Seperti biasa.

"Mas?" panggil Alana lagi. "Kenapa? Kok diam?"

Richard menghela napas. "Tidak... tidak apa-apa. Mimpi buruk."

"Oh..." Alana terdengar simpatik. "Mas mau aku temani? Aku bisa ke kamar."

"Tidak usah." Richard mengusap wajah. "Kau tidur lagi saja."

"Ya sudah. Kalau butuh apa-apa, panggil aku ya. Selamat malam, Mas."

Selamat malam.

Richard menutup telepon. Merebahkan diri.

Boneka porselen.

Pasti bukan dia. Tidak mungkin.

Di kamarnya, Alana meletakkan ponsel.

Ia menatap layar ponsel yang gelap. Lalu tersenyum.

Dari bawah bantal, ia mengeluarkan buku kecil. Buku hitam dengan sampul usang. Di dalamnya, tertulis rapi:

Richard: 1.072 hari berselingkuh. 3.214 kebohongan. 200 miliar uang ayah.

Viola: 1.072 hari berpura-pura. 3.214 kali menusuk dari belakang. 200 miliar jadi saksi bisu.

Alana mengambil pulpen. Menambahkan satu baris di bawahnya:

Hari ini: Pukulan pertama. 16 Maret. Richard mulai ketakutan. Viola mulai curiga.

Tersisa: 364 hari lagi untuk menyelesaikan semuanya.

Ia memejamkan mata.

Di luar, angin malam berdesir membawa aroma mawar dari taman belakang. Tapi bukan wangi manis—ada aroma tajam, seperti duri yang baru saja mematahkan kulit.

---

Bersambung...(⁠ノ゚⁠0゚⁠)⁠ノ⁠→

"Mawar ini mekar bukan untuk dipuji. Tapi untuk menunjukkan bahwa di balik keindahan, selalu ada duri yang siap menusuk."

1
lin sya
msih menyimak alurnya, ttp smgat aluna, Lo diterpa byk badai tp lo ttp sehat cuma mental dan kesabaran Lo aj yg diuji, jadi gunakanlah logika dan hati hati dalam bertindak 😍
gaby
Ayah Alana sama bajingannya seperti Ricard. Istri pertama dia buang sampai depresi & berakhir masuk RSJ. Ada yg percaya jgnlah menjahati org baik, karena karma buruk akan menimpa keturunan kita. Mungkin yg di alami Alana buah karma kebejatan ayahnya. Alana anak kesayangan, jd karma menimpanya agar Wijaya merasakan sakitnya melihat wanita baik2 di khianati. Seperti ibu kandung Alana yg dia buang, bahkan Alana pun ga di kenalkan dgn ibu kandungnya. Seolah2 istri baru ayahnya adalah ibu kandung Alana.
gaby
Jgn2 bapaknya Alana pemain perempuan jg kaya Ricard. Td di bilang istri pertama, kalo ada kata Pertama, artinya ada yg selanjutnya alias bukan istri satu2nya
Zahra Ningtiyas
semakin gregetan
lin sya
sedih klo baca alur Alana, smga Nathan bsa secara perlahan mengobati kekecewaan Krn pengkhianatan suami dan sahabat, alana pntas bahagia cuma gak beruntung aj ktmu org serakah, Nathan tulus orgnya bisa jdi jodoh mski alana tkut buka perasaan lgi👍
Arix Zhufa
mereka ber 2 tidak kah di bui?
terlalu enak klo cuma dimiskin kan
gaby: Betul ka, tindakan mreka kriminal. Merampok, slingkuh, zinah, & suami Kdrt. Ini negara hukum, masa pelaku kriminal ga di penjara. Walau penjara mungkin cuma sebentar, tp seenggaknya penjara bisa menghancurkan mental, karir, & nama baik mreka. Kalo ga dipenjarakan, minimal di viralkan, biar netizen yg menghukum
total 1 replies
Arix Zhufa
Richard ini aneh...

selingkuh di rumah sendiri selama 3th, istrinya dikira tdk tau 😄
gaby: Richad mokondo ka, ga mau modal buat bayar hotel. Kalo drmh mertua kan gratis tuh
total 1 replies
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
weehh kok malah antusias
Nurlaila Syahputri
Ceritanya bagus dikhianati dengan balas dendam Sempurna👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻
Arix Zhufa
cerita nya seru
Aisyah Suyuti
bagus
Arix Zhufa
aq bacanya sambil nahan nafas
Osie
loh diawal kan udah buat janji dgn nathan kok sekarang spti baru kenal lagi
Osie
laahh alana jgn lama lama action nya..kasihan rumah peninggalan ortu mu dijadikan tempat berzina.
Osie
mampir aku nyaaahh..baca sipnosis sptinya seru..moga sesuai ekspektasiku n moga ini cerita sp end🙏🙏
Arix Zhufa
mampir thor...kayak nya seru
JulinMeow20
novel jiplakan karya orang lain
JulinMeow20
kalau nulis itu hasil pemikiran sendiri kak jangan jiplak hasil karya orang lain 🙏 ada hukumnya loh kayak gitu🙏
Ammarcihuy Muhammad: Kok melepem Lempar batu sembunyi Tangan kucur. Adukan aja kak Anonymous sama Noveltoon biar akun nya ke band selamanya. mengotori cerita KK jadi
total 3 replies
gaby
Kayanya seru. Tp aq liat profil othornya, bny bgt novel barunya. Yakin sanggup nulis update beberapa judul skaligus?? Mudah2an ga hiatus di tengah jalan, karena critanya bagus
Ammarcihuy Muhammad: Eh bagudung buktikan Fitnahan mu. Brani berbuat brani tanggung jawab bulan puasa menghasut orang dan memfitnah
total 3 replies
Anonymous MC
ceritanya terlalu manis tuk dikenang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!