"Mereka mengira aku boneka porselen yang siap pecah. Mereka pikir aku buta, bodoh, dan lemah. Biar aku tunjukkan, dari balik duri-duri ini, ada mahkota yang menungguku."
Alana Wijaya adalah putri tunggal konglomerat yang jatuh miskin. Setelah ayahnya wafat, ia menikah dengan pria yang diam-diam berselingkuh dengan sahabatnya sendiri—tepat di bawah atapnya, selama tiga tahun. Alana memilih diam. Bukan karena takut, tapi karena sedang menyusun takhta.
Di balik gaun mahal dan senyum palsunya, ia diam-diam membangun kembali kerajaan ayahnya. Ia masuk ke klub eksklusif dengan pakaian usang, diremehkan, dicemooh—sampai suatu hari, para investor paling disegani di negeri ini berlutut menawarkan kerja sama.
Saat sang suami dan sahabatnya mulai menyadari bahwa mereka bukan lagi predator, melainkan mangsa... Alana baru benar-benar tersenyum.
"Kau pikir kau yang memainkanku? Sayang sekali. Permainan baru saja dimulai—dan akulah pembuat aturannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonymous MC, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Pukulan Telak Pertama
Dinding-dinding diam menyimpan rahasia
Di balik tirai beludru, ular melingkar manja
Engkau tertawa di atas takhta pinjaman
Lupa bahwa setiap mahkota punya bayangan
Malam ini, angin berbisik lain
Menyusup celah-celah jendela yang retak
Ada tangan yang menggerak-gerakkan tali
Dan engkau baru sadar: kau bukan dalang, hanya wayang
Selamat datang di babak di mana debu berteriak
Selamat tinggal, kursi yang kau curi diam-diam
Karena keadilan tak pernah tidur
Ia hanya menunggu waktu yang tepat untuk menari
---
Kantor pusat Hartanto Wijaya Group menjulang di ketinggian lantai 32, dengan kaca-kaca berlapis emas yang memantulkan arogansi pemiliknya. Richard Hartanto duduk di kursi direkturnya—kursi yang dulu milik Hendra Wijaya, ayah Alana—dengan secangkir kopi espresso di tangan.
Pukul 09.15 pagi. Seharusnya hari biasa. Seharusnya tak ada yang berbeda.
Tapi pintu terbuka tanpa ketukan.
Empat orang masuk. Jas hitam. Wajah tanpa ekspresi. Dada mereka disematkan lencana yang langsung membuat darah Richard berdesir dingin: Badan Pemeriksa Keuangan dan Pengawasan Pembangunan.
"Selamat pagi, Bapak Richard Hartanto." Seorang wanita paruh baya dengan rambut disanggul ketat maju selangkah. Matanya tajam seperti silet. "Saya Diana Wijayanti, tim audit khusus. Kami menerima laporan indikasi penyelewengan dana dan pencucian aset di perusahaan ini. Mulai detik ini, semua transaksi dibekukan. Semua akses rekening ditangguhkan."
Richard meletakkan cangkirnya. Perlahan. Terlalu perlahan. Itu cara dia menahan getar di tangannya.
"Ada kesalahan, Bu." Senyum profesional terpasang di wajahnya. "Perusahaan kami bersih. Mungkin ada laporan fitnah dari pesaing—"
"Tidak ada kesalahan, Pak." Diana mengeluarkan map tebal, meletakkannya di meja. "Laporan ini disertai bukti transaksi mencurigakan selama tiga tahun terakhir. Penggelapan pajak. Rekening fiktif. Aliran dana ke perusahaan cangkang di Singapura dan Kepulauan Cayman."
Richard terdiam.
Rasanya seperti seseorang mencengkeram lehernya dari belakang.
"Kami akan menyita semua dokumen keuangan, mengakses server utama, dan mewawancarai semua staf divisi keuangan." Diana memberi isyarat, dan tiga orang di belakangnya langsung bergerak. "Saya sarankan Bapak menghubungi pengacara. Karena ini baru permulaan."
Pintu terbuka lagi. Kali ini, para staf mulai berkerumun di lorong, berbisik-bisik. Wajah mereka campuran antara panik dan penasaran.
Richard bangkit. "Kalian tidak bisa masuk seenaknya! Ini ranah privat! Saya punya koneksi di kementerian, saya—"
"Pak Richard." Diana memotong, suaranya dingin seperti bilah baja. "Audit ini atas perintah langsung KPK dan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan. Kalau Bapak keberatan, silakan komplain ke Komisi Pemberantasan Korupsi. Saya tunggu."
Satu jam kemudian, kantor yang biasanya ramai dengan deru mesin fotokopi dan dering telepon berubah menjadi kubangan sunyi yang mencekik.
Semua komputer di lantai keuangan mati. Server dimatikan paksa. Dua ruangan disegel garis kuning. Para pegawai dipulangkan lebih awal dengan wajah bingung—dan mulai menyebarkan gosip di grup WhatsApp masing-masing.
Richard duduk di ruang kerjanya, pintu tertutup rapat.
Ia memencet nomor pengacaranya. Tidak diangkat.
Nomor komisaris utama. Sibuk.
Nomor partner bisnis di Singapura. Panggilan berakhir sebelum tersambung.
Seperti semua pintu ditutup serempak.
"Astaga..." Ia menjambak rambutnya sendiri. Di kepalanya, satu nama melayang-layang seperti hantu: Alana.
Tapi ia segera menggeleng. Tidak mungkin. Alana? Istri bodoh yang diam saja ketika ia bercinta dengan Viola di kamar sebelah? Alana yang tanda tangan dokumen apa pun tanpa membaca? Tidak mungkin.
Atau... mungkinkah selama ini ia salah?
Di lantai 32, di balik pintu kaca buram, ada seorang wanita yang sedang menatap layar ponselnya.
Alana duduk di kafe seberang jalan, di lantai dua, dengan posisi sempurna menghadap gedung itu. Ia melihat tim audit masuk. Ia melihat para staf keluar dengan wajah kusut. Ia melihat garis kuning menyegel pintu.
Ia menyesap teh chamomile-nya. Perlahan. Tenang.
Ponselnya bergetar. Nama Lucas muncul.
"Gue lihat live dari drone," suara Lucas di ujung telepon, terdengar puas. "Mereka udah masuk server. Semua data bocor. Richard pasti linglung sekarang."
Alana tersenyum kecil. "Dia baru sadar ada musuh dalam selimut."
"Lo denger suara dia teriak-teriak di dalem? Wkwk. Sayang gak ada live streaming."
"Kesabaran, Lucas." Alana menatap gedung itu, menikmati setiap detik kehancuran yang sedang berlangsung. "Ini baru pukulan pertama. Masih ada ronde berikutnya."
"Gue suka nada suara lo sekarang. Ngeselin banget, tapi bikin adem."
"Kau tahu pepatah Cina, Lucas?" Alana meletakkan cangkirnya. Bibirnya melengkung manis. "'Duduklah di tepi sungai, dan kau akan melihat mayat musuhmu lewat.' Aku sudah duduk cukup lama. Sekarang saatnya menikmati pemandangan."
Di rumah mewah di kawasan Pondok Indah, suasana berbeda.
Viola baru saja selesai mandi. Rambutnya basah, handuk melilit di tubuhnya. Ia berjalan ke ruang tengah dengan malas, berniat menonton sinetron sambil menunggu Richard pulang.
Tapi ia berhenti.
Di layar televisi 65 inci yang biasanya cuma buat putar film, sekarang muncul berita:
"BREAKING NEWS: Perusahaan Milik Richard Hartanto Digerebek Tim Audit KPK. Indikasi Korupsi dan Pencucian Uang."
Viola mematung.
Handuknya jatuh.
Ia meraih remote, membesarkan volume. Wajah Richard muncul di layar—foto resmi dari website perusahaan, tampan, percaya diri. Tapi di bawahnya, tulisan merah besar:
TERSANGKA DUGAAAN KORUPSI
"Tidak..." Viola menggigit bibir. "Tidak, tidak, tidak."
Ia meraih ponsel, mencoba menghubungi Richard. Tidak diangkat.
Hubungi asisten pribadi Richard. Mati.
Hubungi staf keuangan yang biasa ia suap. Jaringan tidak tersedia.
Viola menjatuhkan diri di sofa. Udara terasa berat. Dadanya sesak.
Dan tiba-tiba, tanpa ia sadari, matanya tertuju ke satu foto di rak.
Foto Alana. Jaman dulu. Saat mereka masih benar-benar bersahabat. Alana tersenyum lebar, memeluk Viola, dengan latar belakang pantai.
Viola menelan ludah.
"Jangan-jangan..."
Tapi ia segera membuang pikiran itu. Tidak mungkin. Alana wanita bodoh itu. Alana yang tak berdaya. Alana yang—
Ponsel Viola bergetar.
Satu pesan masuk. Dari nomor tak dikenal.
Isinya hanya satu baris:
"Terima kasih sudah menjaganya selama ini. Sekarang biar aku yang mengambil alih."
Viola merasakan dingin merambat dari ujung kaki hingga ubun-ubun.
Ia langsung menekan nomor itu. Berulang kali. Tapi hanya nada sambung yang berbunyi.
Kosong.
Tidak terdaftar.
Malam itu, Richard baru pulang pukul 11 malam.
Wajahnya kusut. Jasnya kusut. Semua tentangnya kusut. Viola menyambutnya di pintu dengan mata sembab.
"Kau lihat berita?" tanya Richard tanpa melihatnya.
"Ya. Sudah kuhubungi beberapa orang. Mereka semua menghindar."
Richard melepas dasi, melemparnya sembarangan. "Ini bukan serangan biasa. Ini terstruktur. Ada yang mengatur dari dalam."
Viola menggigit bibir. Ia ragu, tapi akhirnya berkata, "Aku... aku dapat pesan aneh tadi."
"Pesan apa?"
Viola menunjukkan ponselnya. Richard membaca. Matanya menyipit.
"Terima kasih sudah menjaganya selama ini. Sekarang biar aku yang mengambil alih."
Dua kalimat itu. Sederhana. Tapi menusuk.
"Kau pikir ini dari siapa?" bisik Viola.
Richard menatapnya lama. Sangat lama. Lalu ia berjalan menuju lemari es, mengambil bir, membuka tutupnya dengan gigi.
"Ada satu orang yang paling diuntungkan dari kehancuranku," katanya pelan.
Viola menunggu.
Richard menenggak birnya. Seteguk. Dua teguk. Habis.
"Istrimu?" tebak Viola.
Richard tertawa. Tapi tawanya getir. "Istriku? Kau lihat sendiri bagaimana dia. Diam, penurut, kayak boneka porselen yang siap pecah kapan aja."
Viola diam. Tapi di dalam hatinya, sesuatu mulai bergolak.
Boneka porselen?
Atau...
Mawar dengan duri tersembunyi?
Di rumah kontrakan sederhana di kawasan Tebet, Alana duduk di depan laptop.
Layarnya menampilkan puluhan file. Data rekening Richard. Transfer ke perusahaan fiktif. Percakapan dengan oknum pejabat. Semua bukti yang cukup untuk mengirim suaminya ke penjara 20 tahun.
Lucas duduk di sampingnya, memainkan pulpen.
"Gue masih penasaran," kata Lucas. "Kapan lo tahu mereka selingkuh?"
Alana berhenti mengetik. Menatap layar. Matanya kosong untuk beberapa detik.
"Hari pertama dia bawa Viola ke rumah," jawabnya. "Tiga tahun lalu."
Lucas terkejut. "Tiga tahun? Dan lo diem aja?"
"Bukan diam." Alana menoleh, tersenyum—tapi senyum yang sama sekali tak hangat. "Aku mengamati. Belajar. Menyusun."
"Tiga tahun?"
"Tiga tahun adalah harga yang harus kubayar untuk kemenangan yang sempurna." Alana menutup laptop. "Kalau aku marah-marah di awal, aku cuma akan jadi istri histeris yang ditinggal. Tapi kalau aku menunggu..." Ia berdiri, berjalan ke jendela, menatap gedung-gedung jauh yang gemerlap. "Aku bisa mengambil semuanya. Perusahaan. Uang. Reputasi. Dan masa depan mereka."
Lucas bersiul pelan. "Gue jadi takut sama lo."
"Bagus." Alana menoleh, tersenyum. "Karena mulai sekarang, semua orang harus takut."
Pukul 02.15 dini hari.
Richard terbangun dengan keringat dingin.
Ia bermimpi buruk: ia berdiri di tengah ruang pengadilan, semua orang menudingnya. Hakim memukul palu. Dan di kursi penonton, Alana duduk dengan tenang, tersenyum.
Senyum itu. Senyum yang sama seperti saat ia menikah dulu.
Tapi di mimpi itu, senyum Alana terasa... berbeda.
Seperti kemenangan.
Richard meraih ponsel di nakas. Tanpa berpikir panjang, ia menekan nama ALANA.
Satu kali. Dua kali. Tiga kali.
Tidak diangkat.
Ia mencoba lagi. Lagi. Lagi.
Hingga akhirnya, panggilannya masuk.
Suara Alana terdengar mengantuk. "Halo, Mas? Ada apa? Ini jam dua pagi."
Richard diam. Suara itu. Lembut. Polos. Seperti biasa.
"Mas?" panggil Alana lagi. "Kenapa? Kok diam?"
Richard menghela napas. "Tidak... tidak apa-apa. Mimpi buruk."
"Oh..." Alana terdengar simpatik. "Mas mau aku temani? Aku bisa ke kamar."
"Tidak usah." Richard mengusap wajah. "Kau tidur lagi saja."
"Ya sudah. Kalau butuh apa-apa, panggil aku ya. Selamat malam, Mas."
Selamat malam.
Richard menutup telepon. Merebahkan diri.
Boneka porselen.
Pasti bukan dia. Tidak mungkin.
Di kamarnya, Alana meletakkan ponsel.
Ia menatap layar ponsel yang gelap. Lalu tersenyum.
Dari bawah bantal, ia mengeluarkan buku kecil. Buku hitam dengan sampul usang. Di dalamnya, tertulis rapi:
Richard: 1.072 hari berselingkuh. 3.214 kebohongan. 200 miliar uang ayah.
Viola: 1.072 hari berpura-pura. 3.214 kali menusuk dari belakang. 200 miliar jadi saksi bisu.
Alana mengambil pulpen. Menambahkan satu baris di bawahnya:
Hari ini: Pukulan pertama. 16 Maret. Richard mulai ketakutan. Viola mulai curiga.
Tersisa: 364 hari lagi untuk menyelesaikan semuanya.
Ia memejamkan mata.
Di luar, angin malam berdesir membawa aroma mawar dari taman belakang. Tapi bukan wangi manis—ada aroma tajam, seperti duri yang baru saja mematahkan kulit.
---
Bersambung...(ノ゚0゚)ノ→
"Mawar ini mekar bukan untuk dipuji. Tapi untuk menunjukkan bahwa di balik keindahan, selalu ada duri yang siap menusuk."
terlalu enak klo cuma dimiskin kan
selingkuh di rumah sendiri selama 3th, istrinya dikira tdk tau 😄