NovelToon NovelToon
Immortality Through Suffering 2

Immortality Through Suffering 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Fantasi Timur / Action / Fantasi / Balas Dendam / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:28.2k
Nilai: 5
Nama Author: YUKARO

Setelah membunuh Liu Sheng,pembunuh orang tuanya, Xu Hao justru menemukan teka-teki yang lebih besar: segel mematikan pada jiwa Liu Sheng. Segel serupa juga ia temukan pada musuh-musuh tingkat tingginya. Segala petunjuk mengarah ke Dataran Tengah, tempat asal Klan Xu yang perkasa. Dengan bakat aslinya yang dicuri, orang tuanya yang difitnah sebagai pengkhianat, dan pengusiran kejam dari klan, Xu Hao kini menyamar memasuki dunia yang jauh lebih berbahaya. Di sana, sebagai murid baru di Sekte Gunung Jati dengan identitas palsu, ia harus menyelidiki konspirasi gelap di balik pembunuhan keluarganya, menghindari deteksi kerabatnya sendiri yang mungkin adalah dalangnya, dan membangun kekuatan dari nol di tanah di mana Dao Awakening-nya saja hampir tak berarti. Siapa sebenarnya "Tuan dari Atas" yang memasang segel itu? Dan bisakah Xu Hao membalas dendam tanpa mengungkapkan identitas aslinya yang akan membuatnya jadi buruan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan di Atas Awan yang Mengambang

Pulau besar yang Xu Hao tuju ternyata adalah sebuah pusat komersial terapung yang dikenal sebagai "Pasar Terapung Naga Tidur". Bangunan-bangunan kayu dan batu bertingkat, dihiasi lentera warna-warni yang sudah menyala meski senja belum sepenuhnya gelap, menempel di sisi-sisi pulau seperti sarang burung walet. Suasana riuh dan penuh kehidupan, sangat kontras dengan kesunyian Sekte Gunung Jati. Ada kedai minum, rumah gadai, toko senjata, bahkan beberapa arena tarung kecil yang terlihat dari udara.

Xu Hao, yang kini menyembunyikan kekuatannya di level Soul Transformation tahap menengah, mendarat di sebuah pelataran pendaratan yang ramai. Beberapa mata meliriknya, menilai, lalu kembali pada urusan masing-masing. Soul Transformation menengah di sini bukan hal langka, dan juga bukan yang terkuat.

Dia berjalan menyusuri jalan utama yang sempit dan berkelok, penuh dengan pedagang kaki lima yang menjual segala macam barang aneh: akar-akaran berdenyut, sisik makhluk aneh berkilau, senjata-senjata eksotis, hingga jasa informasi. Aromanya campur aduk: daging panggang, minyak mesin sederhana, wewangian arak, dan keringat.

Xu Hao mencari informasi. Tujuan pertamanya adalah tempat untuk mengasah kemampuan bertarung secara langsung, untuk mengukur dirinya di lingkungan baru ini dan beradaptasi dengan gaya pertarungan Dataran Tengah. Petunjuk dari Tetua Hong dan bacaannya terlalu umum.

Setelah beberapa saat mengamati, matanya tertuju pada seorang wanita yang berdiri di depan sebuah kedai minum bertingkat dua. Wanita itu... mencolok. Dia mengenakan pakaian yang minim, hampir seperti pakaian dalam, dari kain sutra merah tua yang memeluk erat tubuhnya yang montok dan berisi sempurna. Celananya pendek, memperlihatkan paha yang halus dan berotot. Rambutnya pirang terurai, dan matanya berwarna biru kehijauan seperti lautan dangkal. Senyumnya menggoda, tapi ada ketajaman di baliknya. Aura-nya kuat, Soul Transformation tahap akhir. Dia sedang memandangi Xu Hao dengan tatapan penuh minat, seolah sudah menunggu.

Xu Hao mendekat, tanpa ekspresi. "Maaf, Nyonya. Aku mencari tempat untuk mengasah kemampuan bertarung di pulau ini. Bisa beri petunjuk?"

Wanita itu tersenyum lebar, bibirnya merah merekah. "Oh, pendatang baru? Namaku Minlie. Dan kau, Soul Transformation menengah yang tampan, mencari arena pertarungan?" Suaranya merdu, menggoda.

"Aku tahu tempatnya. Arena 'Sarang Naga Patah'. Yang terbaik di Naga Tidur. Tapi..." dia mendekat, aroma bunga dan sesuatu yang lebih tajam memenuhi udara Xu Hao, "...aku tidak memberi informasi gratis. Syaratnya sederhana. Kau temani aku malam ini. Kita habiskan waktu dikamar bersama, dan besok pagi aku antar kau ke sana."

Xu Hao memandanginya. Tidak ada emosi di wajahnya. Lalu, tanpa sepatah kata pun, dia berbalik dan berjalan pergi. Itu sia-sia. Dia tidak punya waktu untuk permainan seperti itu.

"Hey! Kau berani mengabaikanku?!" suara Minlie tiba-tiba berubah, dari menggoda menjadi menusuk. Langkah kaki cepat terdengar di belakangnya.

Xu Hao tidak memperlambat langkah.

Lalu, sebuah serangan tiba-tiba datang. Bukan energi, tapi sebuah tendangan cepat yang bertujuan ke punggungnya. Xu Hao berbalik, menangkis tendangan itu dengan lengan. Kontak keras.

DUGH!

Tubuhnya terpental mundur beberapa langkah, merasakan kekuatan di balik tendangan itu. Soul Transformation akhir memang berbeda.

Minlie berdiri di tengah jalan, senyum menggoda sudah hilang, digantikan oleh ekspresi menantang. "Kau pikir kau bisa begitu saja menolak Minlie? Tidak semudah itu, sayang."

Orang-orang di sekitar mulai memberi ruang, mata mereka berbinang penuh antisipasi. Pertarungan spontan di Pasar Terapung adalah hiburan biasa.

"Kau mau bertarung?" tanya Xu Hao, suaranya datar.

"Aku ingin memberi pelajaran pada anak baru yang sok dingin," jawab Minlie, lalu melesat.

Pertempuran dimulai. Minlie bergerak dengan kecepatan yang membuat bayangan. Tangannya dan kakinya menjadi senjata, menyerang dengan kombinasi mematikan. Xu Hao membalas, menggunakan teknik bertarung jarak dekat yang ia kuasai dari berbagai pengalaman. Tapi setiap kali ia mengeluarkan teknik es atau elemen lain yang biasa ia gunakan di dunia luar, Minlie dengan mudah mematahkannya. Dia seolah-olah sudah mengenal pola serangan semacam itu. Dia menepis semburan es dengan sebuah tamparan energi hangat, menghancurkan formasi es dengan tendangan berputar.

"Terlalu kaku! Terlalu mudah ditebak!" teriak Minlie sambil menyerang. "Kau dilatih di mana? Di gua batu?"

Xu Hao semakin terdesak. Kultivasi Soul Transformation menengah yang ia tunjukkan jelas tidak cukup. Minlie mendominasi, memberinya pukulan di perut, tendangan di dada, sampai ia terpental menghancurkan sebuah kios buah.

Rasa kesal yang mendalam mulai menggelegak di dada Xu Hao. Ini bukan tentang kalah dari seorang wanita montok. Ini tentang realitas pahit: di Dataran Tengah, bahkan dengan level yang sama, teknik dasarnya, fondasinya, pengalaman bertarungnya, ternyata jauh di bawah.

Dengan geram, ia melepas kendali pada kultivasinya. Aura yang selama ini ia tekan naik dengan cepat, dari Soul Transformation menengah, ke tahap akhir, dan berhenti di sana. Udara di sekitarnya bergetar.

Minlie berhenti, matanya berbinar penuh kegembiraan, seperti anak yang mendapat mainan baru. "Oh? Jadi kau sembunyikan level? Soul Transformation akhir juga? Bagus! Ini baru menarik!"

Dia tidak tampak takut. Justru semakin bersemangat.

"Kau bilang tadi soal arena," kata Minlie, masih dengan senyum menantang. "Bagaimana kalau kita bertaruh? Kita bertarung, tapi tidak pakai serangan jarak jauh, tidak pakai senjata, tidak pakai teknik elemen besar. Hanya tinju, tendang, dan tubuh. Murni pertarungan fisik dan kecepatan. Yang kalah mentraktir yang menang segelas 'Arak Peri Tingkat Tinggi' di Kedai Mimpi Biru. Setuju?"

Xu Hao teringat sesuatu. Xiou Jianxin pernah bercerita tentang Arak Peri, minuman langka dari nektar bunga langit yang hanya mekar seribu tahun sekali, bisa menyegarkan jiwa dan membantu pemahaman hukum. Harganya pasti selangit.

"Arak Peri?" ulangnya.

"Ya. Kau tahu? Bagus. Jadi, setuju?" matanya berkilat.

Xu Hao mengangguk. "Setuju."

Tidak ada lagi kata-kata. Mereka melesat bersamaan.

BAM!

Tinju pertama bertabrakan di tengah udara, menciptakan gelombang kejut yang mengguncang lentera-lentera di sekitar. Lalu mereka saling menghujani pukulan dan tendangan. Ini bukan pertarungan kultivator elegan. Ini perkelahian kasar, brutal, penuh dengan kekuatan mentah.

Minlie ternyata monster di pertarungan fisik. Otot-ototnya yang montok menyimpan kekuatan yang mengerikan. Setiap pukulannya seperti palu godam. Setiap tendangannya bisa mematahkan pohon besi. Tapi Xu Hao juga bukan orang sembarangan. Tubuhnya telah ditempa oleh Hukum Asal dan ribuan tahun di perut iblis. Tulangnya keras, ototnya padat, dan tekadnya membara.

Mereka terbang, saling kejar, dari pelataran ke atap, dari atap ke udara, lalu kembali jatuh ke jalan. Pukulan mendarat di wajah, di tubuh, di mana saja.

Xu Hao, yang selama ini hampir tidak pernah terluka parah di wajah, merasakan kepalanya terpukul dari segala sisi. Matanya yang kiri langsung bengkak, penglihatannya kabur. Dia membalas dengan pukulan ke perut Minlie, membuat wanita itu melengkung, lalu diikuti dengan siku ke wajahnya. Mata Minlie yang biru kehijauan itu juga membengkak hampir seketika.

"Bagus!" teriak Minlie sambil meludahkan darah, lalu menyerang lagi.

Mereka bertarung tanpa henti. Satu jam, dua jam, lima jam. Matahari terbenam, bulan terbit, lalu matahari terbit lagi. Mereka masih bertarung. Luka menumpuk di tubuh keduanya. Baju Xu Hao robek-robek, penuh darah dan keringat. Pakaian Minlie yang sudah minim itu sekarang compang-camping, memperlihatkan memar dan luka di kulitnya yang putih.

Tidak ada yang mau menyerah. Tidak ada yang menggunakan trik curang. Hanya saling hantam, saling tahan, saling jatuhkan, lalu bangun lagi.

Hari kedua. Suara pukulan masih terdengar, tapi lebih lambat, lebih berat. Keduanya sudah kelelahan luar biasa. Tenaga mereka hampir habis, hanya mengandalkan kemauan keras.

Akhirnya, saat matahari berada di puncak langit di hari kedua, sebuah pukulan dari Minlie yang melambat nyaris mengenai dagu Xu Hao, tapi dia menangkis dengan lemah. Sebagai balasan, tendangan Xu Hao hanya menyentuh paha Minlie tanpa tenaga. Mereka saling memandang, napas tersengal-sengal, tubuh penuh luka, kedua mata sama-sama bengkak seperti panda.

Kemudian, tanpa kata, mereka seperti mencapai kesepakatan diam-diam. Tubuh mereka bersama-sama kehilangan daya apung, dan mereka terjatuh dari ketinggian.

Namun, sebelum menyentuh tanah, sisa tenaga terakhir mereka digunakan untuk memperlambat jatuh. Mereka mendarat dengan kasar, tapi tidak fatal, di sebuah hutan kecil di pinggiran pasar. Hutan ini aneh, penuh dengan tumbuhan berwarna-warni yang memancarkan aroma manis seperti gula dan buah matang. Lumut di tanah lembut dan empuk.

Keduanya tergeletak di atas lumut itu, tak bisa bergerak, hanya dada yang naik turun dengan cepat.

Setelah lama, Minlie tertawa, suaranya serak dan penuh rasa sakit. "Hah... kau... kau cukup hebat juga. Sudah lama aku tidak ketemu orang yang bisa tahan bertarung fisik dua hari denganku."

Xu Hao tidak menjawab. Dia merasakan pahitnya kekalahan lain. Ini seri. Tapi dalam kondisi seperti ini, di Dataran Tengah, dengan lawan yang selevel, dia hanya bisa seri? Bahkan dalam keadaan mengenaskan seperti ini? Di dunia luar, dengan level Soul Transformation akhir, dia bisa menghancurkan puluhan lawan selevel. Tapi di sini, satu wanita yang bahkan bukan dari klan besar atau sekte utama sudah bisa mendorongnya ke batas seperti ini.

Itu adalah pukulan telak pada egonya. Dia memang masih sangat lemah. Fondasi, teknik dasar, pengalaman bertarung murni, semuanya harus ditingkatkan.

"Kau diam saja?" suara Minlie lagi. "Sakit sekali ya? Aku juga. Tapi itu taruhan... siapa yang menang? Kita sama-sama jatuh."

Xu Hao akhirku berbicara, suaranya parau. "Kita seri. Tidak ada yang kalah, tidak ada yang menang. Tidak ada Arak Peri."

Minlie menggerutu, lalu berusaha duduk. Dia mengeluarkan beberapa pil dari sebuah kantong kecil di pinggangnya, menelan dua, lalu melemparkan dua pada Xu Hao.

"Ini obat penghilang rasa sakit dan pereda bengkak. Ambil. Aku tidak mau dikatakan curang."

Xu Hao menangkap pilnya, memeriksa sejenak dengan kesadarannya, lalu menelannya. Obat itu bekerja cepat, rasa sakit yang menusuk di seluruh tubuhnya mereda sedikit, bengkak di matanya juga berkurang.

Mereka duduk bersila, berhadapan, di tengah hutan manis itu, mulai memulihkan diri dengan menarik energi spiritual. Prosesnya lambat karena tubuh mereka terlalu lelah.

"Kau dari mana?" tanya Minlie setelah beberapa saat, matanya yang masih bengkak memandang Xu Hao.

"Dari timur," jawab Xu Hao singkat.

"Timur mana? Wilayah Perbatasan? Atau lebih jauh?"

"Lebih jauh."

Minlie mengangguk, tidak mengejar. "Kau punya teknik bagus, tapi kaku. Seperti belajar dari buku, bukan dari sekte yang terstruktur. Dan dasar tubuhmu... kokoh, tapi polos. Tidak punya 'rasa' Dataran Tengah."

"Apa maksudmu 'rasa' Dataran Tengah?"

"Di sini, energi spiritual tidak hanya untuk diserap," jelas Minlie, suaranya lebih serius dari sebelumnya. "Tapi juga untuk 'dirasakan', untuk dipahami sifat alaminya, lalu diintegrasikan ke dalam setiap serangan, setiap pertahanan, bahkan setiap napas. Teknik elemenmu tadi, es itu, murni dan kuat, tapi terasa seperti... impor. Tidak menyatu dengan lingkungan. Aku bisa merasakan ketidakselarasannya, jadi mudah kupatahkan."

Xu Hao terdiam. Itu masuk akal. Di dunia luar, energi spiritual lebih tipis, teknik harus efisien dan kuat. Di sini, dengan energi yang melimpah, fokusnya mungkin pada harmonisasi dan pemahaman yang lebih dalam. Seperti perbedaan antara meminum air dari sungai dangkal dengan menyelam di lautan.

"Kau sendiri? Dari mana?" tanya Xu Hao balik.

"Aku? Aku kultivator bebas. Lahir dan besar di sekitar sini, di antara pulau-pulau. Belajar bertarung sejak kecil, merebut makanan, bertahan dari monster dan kultivator lain. Tidak punya sekte, tidak punya klan. Hanya skill ini," dia menepuk pahanya yang montok, "dan kepandaian bertarung."

"Kenapa meminta ku... menemanimu, untuk informasi?"

Minlie terkekeh, lalu mendesis kesakitan karena lukanya. "Biasa. Itu caraku menguji orang baru. Yang langsung setuju biasanya lemah atau punya niat jahat. Yang menolak tapi takut, biasanya pengecut. Yang menolak dan berani melawan... itu yang menarik. Seperti kau."

"Jadi ini semua ujian?"

"Dan juga kesenangan. Aku suka bertarung," dia tersenyum, menunjukkan gigi yang masih merah oleh darah. "Dan kau memberiku pertarungan yang menyenangkan. Jarang ada yang bisa tahan lebih dari satu jam denganku dalam pertarungan fisik murni."

Xu Hao menghela napas. Dunia ini penuh dengan orang aneh.

"Jadi, tentang arena 'Sarang Naga Patah'..." mulai Xu Hao lagi.

"Ah, itu. Aku akan tunjukkan. Gratis. Tapi..." dia berdiri dengan goyah, "kita harus pulih dulu. Dan memutuskan siapa yang menang taruhan kita."

"Kita seri."

"Tidak bisa seri. Harus ada pemenang. Bagaimana kalau... kita lanjutkan besok? Setelah pulih? Atau..." matanya berbinar licik, "kita tentukan pemenang dengan cara lain. Siapa yang bisa bangun dan berjalan ke tepi hutan ini duluan, dia menang."

Xu Hao memandangnya. Tubuhnya masih berat, tenaga hampir habis. Tapi tekadnya tidak.

"Setuju."

Mereka kembali duduk, fokus memulihkan diri. Pertarungan belum benar-benar berakhir. Dan Xu Hao tahu, ini adalah pelajaran pertama yang berharga di Dataran Tengah: kekuatan sejati tidak hanya tentang tingkat kultivasi, tapi tentang bagaimana seseorang menyatu dengan dunia barunya, dan tentang seberapa keras kemauannya untuk bangkit, bahkan setelah jatuh begitu dalam. Dan pelajaran itu datang dari seorang wanita montok yang hampir mengalahkannya dengan tinju dan tendangan.

1
Sarip Hidayat
waaah jadi gitu
Dragon🐉 gate🐉
Mayan... dpt 2 jiwa lg...lanjuuuttt panen
Dragon🐉 gate🐉
lah, pantas paket gw gak Dateng",sejak kapan si Arif jd prajurit, ikut perang pula ?? 🤔 rif.. paket gw loe sangkutin di mana ?.. 😂
Dragon🐉 gate🐉: waduh... si Arif kang paket side jobnya ngeri,jd asasin🤣
total 2 replies
Dragon🐉 gate🐉
Qingtian gege~/Kiss/🤣🤣🤣🤣
Dragon🐉 gate🐉
woooaaaahhh..... 😎 Kereeennn.... mana nasi tumpeng sm bubur merah putihnya 🍚🎂
Dragon🐉 gate🐉: sipp, jangan lupa sambel goreng ati,sm kering ikan teri,krupuk udang 1 toples gede😂
total 2 replies
Agus Rose
ok.
up up up
YAKARO: Terimakasih bro🙏
total 3 replies
Dragon🐉 gate🐉
Thor... kl boleh gw ada saran nama buat si kadal biru.. Lan Long( naga biru) / Lan se shandian long (naga petir biru) itu versi serius kl versi lawaknya Aoman de xiyi( kadal sombong)🤣
Dragon🐉 gate🐉: manttaaafff👍
total 2 replies
qwenqen
mantap👍👍👍💪💪💪💪💪
OldMan
neng ratu calon bini juga kahh🤣🤣🤣
Agus Rose
Di tunggu up nya lagi,seperti kemarin yg banyak.
OldMan
mantapp bangetttt ..daratan tengah ini apakah pulau jawa🤣🤣🤣
YAKARO: Mungkin🤣
total 1 replies
Dragon🐉 gate🐉
terjawab sudah ..👍
YAKARO: Mantap👍
total 1 replies
Dragon🐉 gate🐉
loh... neng Sari nyasar kesini ternyata,pantesan di cariin di kios angkringan kok gak ada... Balik Neng, bahaya disini bukan tempatmu🤣🤣🤣
Dragon🐉 gate🐉: aaiih... ngeri🤣
total 6 replies
OldMan
mantaap thorrr 💪💪💪💪
Dragon🐉 gate🐉
sekilas.. knp Xu Hao gak bunuh Bai Feng pdhl mampu, tp mungkin ada bbrp alasan, 1 biar gak ngebuka samaran di dpn anbu ratu Du Yan, 2 setiap anggota Klan pasti punya 'GpS' kl mereka mati biasanya bakal ketahuan siapa yg membunuh mereka🤔
YAKARO: itu bener banget, malah kalau keliatan semuanya jadi agak hambar/Hammer/
total 3 replies
OldMan
mataappp Thor ..mulai banteiii
Dragon🐉 gate🐉
sial!! mari kita mulai Pestanya....
Dragon🐉 gate🐉: /Toasted/
total 2 replies
Dragon🐉 gate🐉
yeeaayy... panen lagi kita,kali ini panen besar...😈
YAKARO: Gass srudukkk💪💪
total 1 replies
Dragon🐉 gate🐉
aroma Rivalitas yg kental dr Mo Xin...🤔
YAKARO: Mungkin saja🧐
total 1 replies
Dragon🐉 gate🐉
kau pun sama woy😂
Dragon🐉 gate🐉: anti dia🤣🤣
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!