Hujan mempertemukan mereka yang putus asa dengan pilihan yang seharusnya tidak pernah ada.
Di satu sore terburuk dalam hidupnya, Viona menemukan sebuah halte tua yang tak pernah ada dan seorang pria misterius yang menawarkan cara untuk mengubah segalanya.
Di Halte Takdir, Viona harus memilih: payung untuk kembali ke masa lalu dan memperbaiki kesalahan fatal, atau pena untuk menulis masa depan sempurna tanpa kegagalan. Namun setiap keajaiban menuntut harga yang kejam, kenangan paling bahagia, atau perasaan yang membuatnya tetap manusia.
Akankah Viona berani mengubah takdirnya? Atau justru memilih menolak keajaiban demi mempertahankan dirinya sendiri?
Penuh emosi, fantasi modern, dan dilema yang menusuk, ikuti kisah tentang pilihan hidup yang tidak semua orang sanggup menanggung akibatnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nameika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CERMIN SANG PENCIPTA
"Lo gila ya, Kak? Itu pintu kayak manggil-manggil ajal, dan lo malah diem aja kayak patung manekin!"
Lukas berteriak kalap, suaranya melengking di antara deru mesin dimensi yang mulai melambat akibat tusukan pena perak di dada Nirmala. Pemuda itu mundur beberapa langkah, sepatunya mencicit di atas aspal Kota Tua yang kini berubah warna menjadi kelabu pucat. Tangannya yang memegang gawai retak bergetar hebat, layar alat itu kini menampilkan barisan kode peringatan berwarna ungu gelap—warna yang dalam protokol Ordo berarti Singularitas Mutlak.
Nirmala tidak bergeming. Darah yang mengucur dari dadanya bukan lagi merah, melainkan cahaya biru safir yang kental, mengalir jatuh ke tanah dan menciptakan pola-pola geometris yang bercahaya. Rasa sakitnya luar biasa, seolah-olah setiap memori dalam otaknya sedang dipaksa melewati lubang jarum, namun matanya tetap tertuju pada pintu besi tua di hadapannya.
"Kalau gue cabut sekarang, Lukas, loop ini nggak bakal pernah selesai," sahut Nirmala, suaranya terdengar seperti dua orang yang berbicara bersamaan—satu parau penuh penderitaan, satunya lagi jernih dan berwibawa. "Ayah bilang itu gue di masa depan. Berarti gue harus tanya sama diri gue sendiri: kenapa gue jadi bajingan kayak gitu?"
Pria berjaket denim—Nathan—mulai memudar. Tubuhnya terlihat seperti transmisi televisi yang terganggu sinyalnya, garis-garis statis melintang di wajahnya yang penuh duka. "Vio... jangan masuk... dia nggak punya hati lagi. Dia cuma sisa-sisa logika yang haus akan kontrol..."
"Tapi dia itu gue, Yah!" Nirmala berteriak, air mata cahayanya menetes. "Gue nggak bisa lari dari diri gue sendiri!"
Tiba-tiba, pintu besi tua itu mengeluarkan suara dentuman yang menggetarkan seluruh pondasi Kota Tua. Karat dan lumut yang menutupinya rontok seketika, menyingkapkan permukaan logam hitam yang halus dan dingin. Pintu itu tidak terbuka perlahan; ia mencair dari tengah, membentuk pusaran tinta hitam yang menyedot cahaya di sekelilingnya.
Dari dalam kegelapan pusaran itu, sebuah langkah kaki terdengar. Bukan langkah sepatu pantofel Ajudan Temporal, melainkan langkah sepatu hak tinggi yang tajam dan berirama sempurna.
Sesosok wanita melangkah keluar.
Wanita itu mengenakan jubah panjang berwarna putih mutiara yang ditenun dari benang-benang waktu yang masih berdenyut. Wajahnya identik dengan Nirmala, namun tanpa satu pun cela. Kulitnya sehalus porselen, rambutnya terikat rapi dalam sanggul yang dihiasi jarum jam emas raksasa. Namun, yang paling mengerikan adalah matanya. Tidak ada warna cokelat, tidak ada safir—hanya ada dua lubang jarum yang memancarkan cahaya putih menyilaukan.
Dialah The Eternal Architect. Sang Pencipta Ordo Chronos.
"Visi yang sangat menyedihkan," ucap sang Arsitek Abadi. Suaranya datar, tanpa emosi, namun sanggup membekukan udara di dalam paru-paru Lukas. "Melihat diriku sendiri dalam bentuk materi mentah yang masih terikat pada konsep rendahan bernama 'perasaan'."
"Eh, Tante Masa Depan! Nggak usah sok asik deh!" Lukas memberanikan diri, meski lututnya gemetar. "Lo itu cuma hasil bug sejarah yang harusnya di-delete! Kak Vio nggak bakal jadi monster sombong kayak lo!"
Sang Arsitek melirik Lukas. Hanya dengan satu kedipan mata, gawai di tangan Lukas meledak menjadi serpihan cahaya, membuat pemuda itu terpental ke belakang. "Variabel yang tidak penting harus didiamkan."
"LUKAS!" Nirmala mencoba berlari, namun rasa sakit di dadanya mengunci gerakannya.
"Jangan bergerak, Nirmala yang Kecil," sang Arsitek berjalan mendekat, setiap langkahnya membuat waktu di sekeliling mereka membeku. Rintik hujan yang tadinya jatuh kini berhenti di udara, membentuk kristal-kristal yang tajam. "Kamu pikir menusuk jantungmu dengan pena itu adalah tindakan heroik? Itu hanyalah cara sistem untuk memastikan koin waktu di dalam dirimu mencapai tahap sinkronisasi akhir. Kamu baru saja membukakan jalan bagiku untuk mengunci Jakarta dalam keabadian yang sempurna."
"Sempurna?" Nirmala mendongak, matanya yang bersinar biru menantang cahaya putih sang Arsitek. "Dunia tanpa rasa sakit, tanpa variabel, itu bukan sempurna. Itu kuburan!"
"Manusia menderita karena mereka punya pilihan, Nirmala. Aku telah melihat akhir dari segala garis waktu. Pilihan selalu berakhir dengan kehancuran. Aku menciptakan Ordo untuk menyelamatkan manusia dari diri mereka sendiri," sang Arsitek mengangkat tangannya, mencoba meraih pena perak yang masih tertancap di dada Nirmala.
Alfred, yang tubuh peraknya sudah hampir hancur, merangkak maju. "Tuanku... tugas saya... hampir selesai..."
Sang Arsitek melirik Alfred dengan jijik. "Kamu adalah alat yang sudah aus, Alfred. Kamu membiarkan materi ini mengembangkan empati. Itu adalah kegagalan fatal."
Dengan satu jentikan jari, Alfred meledak menjadi ribuan roda gigi kecil yang tidak lagi memiliki energi. Sang Penjaga yang misterius itu berakhir sebagai tumpukan rongsokan di aspal Kota Tua.
Elena—si Live-Core—berdiri diam di samping sang Arsitek, matanya kosong. Ia menyerahkan Jantung Waktu yang bercahaya emas itu kepada sang Arsitek.
"Sekarang," bisik sang Arsitek Abadi. "Mari kita hapus cacat terakhir dari sejarah ini."
Nirmala merasakan koin di dalam dadanya berputar liar. Ia menyadari bahwa ia tidak bisa menang melawan dirinya yang di masa depan dengan kekuatan fisik. Masa depannya memiliki segala teknologi dan kendali atas waktu. Namun, ia teringat sesuatu. Masa depannya tidak memiliki satu hal: ketidakpastian.
"Lo tahu nggak kenapa lo kalah?" bisik Nirmala, bibirnya yang pucat menyunggingkan senyum tipis.
Sang Arsitek berhenti, tangannya hanya berjarak beberapa senti dari dada Nirmala. "Kalah? Aku telah memenangkan setiap detik di setiap abad."
"Lo kalah karena lo tahu segalanya," Nirmala menggenggam pena perak di dadanya, bukan untuk mencabutnya, tapi untuk menusukkannya lebih dalam hingga menembus koin emas di dalamnya. "Dan lo nggak pernah nyangka kalau gue bakal ngelakuin sesuatu yang paling bodoh dalam hidup gue."
Nirmala menarik Lukas secara telepati lewat sisa energi birunya, lalu ia menatap ayahnya, Nathan, untuk terakhir kalinya. "Ayah... makasih sudah bikin Vio jadi manusia."
"Vio! Apa yang kamu lakukan?!" Nathan berteriak panik.
Nirmala tidak menjawab. Ia memutar pena perak itu ke arah kiri—arah yang dilarang dalam setiap hukum Ordo Chronos. Ia melakukan Paradoks Penghancuran Diri.
Cahaya biru safir yang tadi keluar dari dadanya mendadak berubah menjadi hitam pekat, menyedot seluruh cahaya putih milik sang Arsitek. Dunia di sekitar mereka mulai meluruh, bukan lagi menjadi roda gigi, tapi menjadi tinta hitam yang tumpah di atas kertas kosong.
"TIDAK! Kamu akan menghapus kita berdua!" sang Arsitek Abadi berteriak, wajah porselennya mulai retak dan pecah, menyingkapkan kegelapan hampa di baliknya. "Jika aku hilang, maka Ordo tidak pernah ada! Jakarta akan hancur karena tidak ada yang menjaga alirannya!"
"Biarin!" raung Nirmala. "Biarin Jakarta nentuin takdirnya sendiri, bukan lewat tangan monster kayak lo!"
Ledakan energi metafisika yang sangat dahsyat menghantam pusat Kota Tua. Seluruh bangunan kolonial itu runtuh ke dalam pusaran kegelapan. Lukas, Nathan, dan Elena tersedot ke dalam lubang hitam yang diciptakan Nirmala.
Nirmala merasa tubuhnya hancur menjadi debu cahaya. Di dalam kegelapan itu, ia melihat sang Arsitek Abadi perlahan memudar, jeritannya hilang ditelan kesunyian absolut. Hukum sebab-akibat baru saja diputus. Karena sang Pencipta Ordo (Vio masa depan) dihapus, maka Ordo Chronos di masa kini juga ikut lenyap dari sejarah.
Semua orang yang pernah bekerja untuk Ordo, semua korban manipulasi waktu, mendadak dikembalikan ke titik asal mereka.
Nirmala merasa jiwanya melayang di ruang hampa yang sangat tenang. Tidak ada detak jam. Tidak ada rintik hujan. Hanya ada keheningan yang murni. Ia memejamkan mata, siap untuk menghilang selamanya.
Namun, di tengah kegelapan itu, ia merasakan sebuah tangan yang hangat menggenggam jemarinya.
"Vio... bangun, Nak. Nanti telat sekolahnya."
Nirmala tersentak. Ia membuka mata dan menemukan dirinya berada di sebuah kamar yang sangat sederhana. Cahaya matahari pagi masuk melalui celah jendela, menerangi debu-debu yang menari di udara. Ia mencium bau nasi goreng mentega yang sangat familiar.
Ia melihat tangannya. Tidak ada bekas luka. Tidak ada pendar cahaya. Kulitnya biasa, sedikit kecokelatan karena sering terkena sinar matahari.
"Vio? Kamu denger Ibu nggak? Ayah sudah nunggu di mobil, lho!"
Nirmala melompat dari tempat tidur, jantungnya berdebar kencang. Ia berlari keluar kamar, menuju ruang makan. Di sana, ia melihat ibunya, Elena, berdiri dengan kaki yang sehat, sedang menata piring. Dan di meja makan, ayahnya, Nathan, sedang membaca koran sambil menyesap kopi.
Nirmala terpaku di depan pintu, air matanya tumpah seketika.
"Lho, kok malah nangis? Mimpi buruk lagi ya?" Nathan melipat korannya, menatap Nirmala dengan tatapan hangat yang asli, tanpa lempengan perunggu di wajahnya.
Nirmala tidak bisa berkata-kata. Ia hanya bisa menghambur dan memeluk ayahnya erat-erat. Ia tidak tahu apakah ini realitas yang asli, atau hanya lapisan mimpi lainnya. Tapi rasa hangat ini, bau kopi ini, semuanya terasa sangat nyata.
"Ayah... Ibu... jangan kemana-mana ya," isak Nirmala.
"Iya, iya. Ayah cuma mau nganter kamu ke kampus, kok. Kamu ada ujian kan hari ini?" Nathan mengusap rambut Nirmala.
Nirmala mencoba menenangkan dirinya. Ia duduk di meja makan, mencoba meyakinkan dirinya bahwa perang waktu itu sudah berakhir. Namun, saat ia hendak menyendok nasi gorengnya, matanya tertuju pada sebuah benda di samping vas bunga.
Sebuah payung lipat berwarna biru tua. Kusam, dan salah satu rangkanya tampak sedikit bengkok.
Nirmala membeku. Ia meraih payung itu dengan tangan gemetar. Saat ia menyentuh gagangnya, sebuah memori kilat menghantam kepalanya—tentang Alfred, Lukas, dan sang Arsitek Abadi.
"Vio? Kenapa payungnya dibawa? Hari ini ramalannya cerah, nggak bakal hujan," ucap Elena sambil tersenyum.
Nirmala menatap ibunya, lalu ia melihat ke arah jendela. Di seberang jalan rumahnya, ia melihat sebuah halte bus. Dan di bawah atap halte itu, duduk seorang pemuda berkacamata tebal yang sedang sibuk mengutak-atik sebuah gawai yang tampak sangat canggih.
Pemuda itu menoleh ke arah jendela rumah Nirmala, lalu ia mengangkat jempolnya sambil tersenyum lebar. Itu Lukas.
Nirmala menghembuskan napas lega. Mereka selamat. Sejarah telah ditulis ulang, namun mereka yang terlibat masih menyisakan "jejak" dalam realitas baru ini.
Namun, tiba-tiba ponsel Nirmala bergetar di atas meja. Ada sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal. Nirmala membukanya dengan perasaan waspada yang kembali muncul.
Pesan itu hanya berisi satu baris kalimat:
"Jangan kelamaan sarapannya, Arsitek. Hujan pertama di dunia yang baru akan segera turun, dan kali ini... tidak ada halte untuk sembunyi."
Nirmala segera menoleh ke arah langit yang tadi cerah. Dalam sekejap, awan hitam pekat muncul entah dari mana, menutupi matahari pagi. Rintik hujan mulai jatuh, namun kali ini airnya berwarna perak murni.
"Ayah, Ibu... masuk ke dalam rumah! Sekarang!" teriak Nirmala sambil menyambar payung birunya.
Di ujung jalan, di balik kabut hujan yang mendadak muncul, sesosok pria tua dengan jas hitam dan payung gagak berdiri diam, menatap langsung ke arah Nirmala.
Alfred atau seseorang yang mirip dengannya mengangkat topinya, dan Nirmala menyadari bahwa meski Ordo telah hancur, waktu tidak akan pernah membiarkan penjaganya pensiun begitu saja.
"Vio, kok malah keluar? Katanya takut basah?" tanya Nathan dari ambang pintu, suaranya mulai terdengar bergema seolah dia berada di dalam lorong yang sangat panjang.