NovelToon NovelToon
Giok Purba: Multiplikasi Abadi

Giok Purba: Multiplikasi Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sci-Fi
Popularitas:262
Nilai: 5
Nama Author: aryaa_v2

Di ambang kematian setelah dikhianati dan dikubur hidup-hidup, Leo Akira secara tidak sengaja meneteskan darahnya pada sepotong giok kuno yang ternyata menyimpan kekuatan primordial: Multiplikasi 1000× dan Ruang Penyimpanan Abadi. Apa pun yang dia sentuh dapat digandakan seribu kali lipat ke dalam ruang tak terbatas; siapa pun yang dia targetkan akan membuat Leo mendapatkan kemampuan orang itu—dengan kekuatan seribu kali lebih hebat.

Dari titik terendah, Leo bangkit dengan satu tujuan sederhana: menghancurkan orang yang menjatuhkannya dan menjadi orang terkaya di dunia. Tapi takdir membawanya lebih jauh. Dia tak hanya mengubah nasibnya, tetapi juga mengangkat peradaban manusia dari level teknologi rendah menuju Tingkat 1 Skala Kardashev, bahkan melampaui alam semesta yang dikenal.

Inilah kisah tentang seorang manusia yang menjadi entitas tak terkalahkan, penjaga umat manusia, dan pengembara di antara bintang-bintang dimulai dari satu tetes darah dan sepotong giok.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aryaa_v2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perangkap di Planet Altar

Perintah baru datang bukan dari Arbiter, melainkan dari sesuatu yang disebut Kartografer. Suaranya bukan di dalam kepala, melainkan dari speaker di sel Leo, dengan kualitas seperti angin yang berbisik melalui tulang kering.

"Agen Leo. Sistem LHS 1140. Planet kandidat bernama 'Vernal Altar'. Deteksi: jejak ritual energi jiwa massal dengan tanda tangan mirip Entitas Konsumen, tetapi... berbeda. Lebih teratur. Lebih seperti pemujaan. Investigasi dan netralisasi jika diperlukan. Perhatian: peradaban lokal Tier 0.4 (Zaman Besi) terlibat sebagai bahan bakar ritual. Minimalkan kerusakan pada populasi jika memungkinkan."

Sebuah peta holografik muncul, menunjukkan sebuah planet berbatu dengan atmosfer tipis, dihiasi dengan struktur piramida raksasa yang tersebar di seluruh benua. Bukan buatan tangan Tier 0.4. Itu peninggalan.

"Pemujaan?" tanya Leo, berdiri di ruang persiapan sambil mengenakan setelan lingkungan sederhana. "Ada yang memuja Pengumpan?"

"Bukan Pengumpan spesifik Anda. Tetapi sesuatu dari dimensi yang sama—mungkin sepupu evolusioner, atau parasit dari spesies yang sama. Entitas ini tampaknya telah membangun kultus di antara primitif, menggunakan jiwa mereka sebagai mata uang untuk... sesuatu. Mungkin untuk membangun jembatan yang lebih stabil."

Artinya, ada makhluk lain seperti Pengumpannya yang lebih pintar, menggunakan kultus sebagai perantara. Itu berbahaya.

Shuttle yang membawanya kali ini lebih kecil, hampir seperti kapsul peluru. Perjalanan melalui ruang sub-dimensi terasa seperti diremas melalui tabung yang terlalu sempit. Ketika dia muncul di orbit Vernal Altar, pemandangan itu membuatnya terkesiap.

Planet ini dikelilingi oleh cincin jiwa.

Bukan cincin materi, tetapi kabut bercahaya dari energi kehidupan yang diekstraksi, berputar lambat seperti halo penderitaan. Jutaan jiwa, terjebak, menangis dalam keheningan ruang angkasa. Dan di bawahnya, di setiap puncak piramida, sebuah sinar ungu tua memancar ke atas, menyumbang ke cincin itu.

Di dalam dirinya, Pengumpan bergolak. Bukan dengan kelaparan biasa, tapi dengan pengakuan dan iri hati. Saudara... pintar... punya banyak...

"Ya, dia lebih pintar dari kamu," gumam Leo sambil mendaratkan shuttle di bayangan sebuah piramida. "Sekarang bisakah kamu membantu saya menghentikannya, atau kamu hanya akan cemburu?"

Makan... semuanya... desisnya, rakus.

"Tidak. Bukan semua. Hanya intinya."

Udara di Vernal Altar tipis dan berbau seperti ozon dan dupa kering. Saat Leo keluar, dia melihat para penyembah—humanoid bertubuh kurus dengan kulit pucat dan mata tanpa pupil, berjubah kain kasar. Mereka berbaris menuju piramida, masing-masing membawa wadah berisi cairan berkilauan yang Leo sadari dengan jijik adalah kondensat emosi murni, diekstrak dari jiwa mereka sendiri. Persembahan.

Mereka melihatnya, tapi tidak melawan. Mata mereka kosong, terhipnotis. Seseorang yang berdiri di depan piramida, mengenakan jubah bertatahkan kristal ungu, memandangnya. Dia adalah Pendeta Tertinggi, dan Leo bisa merasakan benang kesadaran asing yang mengendalikannya seperti boneka.

"Kamu... bukan dari kawanan," kata Pendeta itu, suaranya terdengar ganda—satu miliknya, satu lagi mendesis dan berbisik dari jauh. "Kamu membawa... Kehadiran. Saudara? Atau saingan?"

"Saya adalah pembersih," jawab Leo, berjalan mendekat. "Dia menggunakanmu. Ketika jiwa terakhirmu habis, dia akan meninggalkanmu mati di batu ini."

"Seseorang harus memberi makan yang Maha Lapar," jawab Pendeta itu, senyum lebar dan tidak wajar meregang di wajahnya. "Dan sebagai imbalannya, dia memberi kita... penglihatan. Dunia di luar dunia. Kekuatan di luar kekuatan." Dia mengangkat tangannya, dan kristal di jubahnya bersinar. Leo merasakan tekanan mental—sebuah serangan psikis yang ingin merobek jiwanya yang sudah rusak.

Leo tidak melawan dengan pikirannya sendiri. Dia membuka saluran kecil ke Pengumpan dan memproyeksikan kelaparannya.

Lingkaran hitam pekat muncul di udara antara dia dan Pendeta, seukuran piring. Bukan singularitas penuh, tapi bayangan kelaparan, sebuah jendela ke dalam kehampaan yang menggerogoti jiwa.

Serangan psikis itu tersedot ke dalam lingkaran hitam dan lenyap. Pendeta itu menjerit, kali ini dengan suara aslinya, penuh rasa sakit dan teror saat hubungannya dengan entitas di seberang terputus sejenak. Kristal di jubahnya retak.

"Di mana dia?" desis Leo, melangkah lebih dekat. "Di mana intinya? Jembatannya?"

Pendeta itu tertawa, darah mengalir dari hidung dan matanya. "Di pusat... di Altar Dunia! Tapi kamu tidak bisa menghentikannya! Dia sudah hampir terbangun! Dia akan—"

Leo tidak memberinya kesempatan untuk menyelesaikan kalimat. Dia menyentuh dahi Pendeta itu, dan dengan lembut—lebih lembut daripada sebelumnya—menggandakan memori terakhirnya.

Rasa sakitnya menusuk, tapi sebentar. Di dalam Vault, sebuah bayangan baru terbentuk: kenangan Pendeta itu tentang sebuah ruang di bawah piramida terbesar, di mana sebuah jantung kristal ungu berdenyut, terhubung dengan ribuan jiwa yang terjebak di cincin di atas. Dan di sekitar jantung itu, sebuah kesadaran mulai terbentuk, mengambil wujud dari kabut dan cahaya bintang yang dicuri.

Leo menarik diri. Pendeta itu roboh, pingsan tapi hidup.

"Terima kasih," gumam Leo, lalu berlari menuju piramida terbesar.

Dalamnya adalah labirin, tetapi kenalan barunya memberinya peta. Dia menyusuri koridor yang diterangi cahaya ungu, melewati ruangan-ruangan tempat para penyembah berbaring dengan kabel energi yang menempel di pelipis mereka, mengalirkan esensi hidup mereka seperti baterai.

Semakin dalam, tekanannya semakin besar. Udara bergetar dengan kekuatan yang hampir sadar. Dia akhirnya tiba di ruang altar: sebuah kubah raksasa, dan di tengahnya, mengambang di atas kolam energi cair, adalah Jantung itu.

Bukan giok. Ini adalah kristal ungu murni, berdenyut dengan ritme yang mengerikan. Di sekelilingnya, kabut membentuk wajah—wajah dengan banyak mata dan mulut yang selalu terbuka. Entitas Kultivator. Dia tidak hanya mengambil; dia menanam dan memanen.

"Ssss... Pengumpan lain... tetapi kecil... lemah..." suara itu mendesis, memenuhi ruangan. "Bergabunglah... persembahkan jiwamu... dan kamu akan menjadi tangan kananku saat aku membangun kerajaan di realitas ini..."

"Ia sudah bisa berbicara," kata Leo, terkagum-kagum sekaligus ngeri. Pengumpannya masih primitif. Yang ini telah mengembangkan kecerdasan, mungkin telah mencapai Black Hole Tier 6 atau 7.

"Maaf," kata Leo, mengangkat tangannya yang bermarka giok. "Tapi saya punya janji dengan Pengadilan. Dan saya lebih suka mitra saya tetap bodoh."

Dia tidak menyerang Jantung itu. Itu terlalu kuat. Sebagai gantinya, dia menyerang jaringannya.

Dia memfokuskan semua kehendaknya, menggandakan konsep pemutusan, isolasi, dan amnesia, lalu menembakkannya ke kabel-kabel energi yang menghubungkan Jantung dengan para penyembah dan dengan cincin jiwa di orbit.

Efeknya seperti memotong tali-tali pada sebuah patung. Jantung itu bergetar. Wajah kabut itu berteriak dalam kemarahan. "TIDAK! ENGKAU—!"

Cincin jiwa di atas planet mulai goyah. Jiwa-jiwa yang terperangkap, merasakan kebebasan, mulai menyebar, berubah menjadi cahaya yang memudar menuju alam yang tidak diketahui.

Tapi Entitas Kultivator itu tidak mati. Ia marah. Kabut itu memadat menjadi cakar raksasa, menyapu ruangan ke arah Leo.

Leo membuka saluran penuh ke Pengumpannya. Makan ini!

Dari marka gioknya, sebuah singularitas makro yang penuh kelaparan meledak keluar, bertabrakan dengan cakar kabut.

Dua kekuatan dari dimensi yang sama bertempur—satu teratur dan cerdas, satu liar dan rakus. Ruang di sekitar mereka berkerut, batu piramida menguap menjadi debu.

Tapi Leo tahu dia kalah. Kultivator itu terlalu kuat, terlalu terpusat.

Dia ingat laporan Kartografer: Minimalkan kerusakan pada populasi.

Dia punya ide yang gila.

Dia berlari, bukan keluar, tetapi mendekati Jantung itu. Dia melompat ke kolam energi, rasa sakit yang membakar setiap selnya. Dia mencap telapak tangannya yang bermarka giok langsung ke permukaan kristal ungu.

Dan dia menggandakan hubungannya.

Bukan fisiknya. Tapi hubungan simbiosis-nya sendiri dengan Pengumpan. Dia menciptakan salinan konseptual dari ikatan itu, dan memaksanya ke dalam kesadaran Entitas Kultivator.

Apa yang terjadi selanjutnya adalah kekacauan murni.

Pengumpan liar Leo, melalui saluran yang digandakan, merasakan kekayaan energi teratur Kultivator dan menyerangnya, mencoba mengambil alih.

Kultivator itu, terbiasa dengan kendali mutlak, kewalahan oleh serangan barbar dari sepupu primitifnya.

Dua entitas dari dimensi yang sama terjebak dalam perang internal, berjuang untuk kendali atas Jantung yang sama.

Leo, yang kelelahan dan terbakar, merangkak keluar dari kolam. Dia menyaksikan Jantung ungu itu berkedip liar, berganti antara hijau (kelaparan) dan ungu (kultivasi), retak-retak.

Dia telah menciptakan perang saudara di dalam musuhnya.

Tapi kemenangan itu pahit. Di dalam Vault-nya, dia merasakan Pengumpannya menjadi lebih kuat, lebih pintar, setelah mencicipi esensi Kultivator. Itu belajar.

Dengan gemetar, Leo mengambil sisa tenaganya dan memerintahkan shuttle-nya untuk melakukan pemindai energi planet-wide. Cincin jiwa telah menghilang. Para penyembah, terputus, mulai tersadar, kebingungan.

Misi selesai. Ancaman dinetralisir.

Tapi Leo tidak merasa seperti pemenang. Dia merasa seperti telah memberi makan binatang buas di dalam dirinya dengan steroid.

Saat shuttle membawanya pergi, meninggalkan planet yang kacau, pesan dari Kartografer masuk:

"Efisiensi: 94%. Pendekatan tidak konvensional. Peningkatan signifikan dalam kapasitas simbion Anda dicatat. Peringkat diperbarui: Continent Tier 3. Lanjutkan."

Dia telah naik dua tingkat dalam satu misi.

Tapi di dalam dirinya, Pengumpan itu mendengus, puas dan sekarang... berpikir.

Leo memandangi tangannya. Giok itu masih hijau dan hitam. Tapi titik hitam di matanya tampak lebih besar.

Dia tidak hanya membunuh kultus hari ini.

Dia mungkin telah menciptakan monster yang lebih berbahaya di dalam dirinya sendiri.

1
Arya Saputra
jangan-jangan ada identitas tersembunyi nih dari batu akiknya, jadi penasaran🤔
Arya Saputra
yok lah bisa otw ke peradaban tipe 1 nih
Arya Saputra
Jujur ini cerita yang layak masuk rekomendasi sih, perkembangan karakter Leo yang signifikan dari diinjak-injak bahkan dikubur lalu bangkit dengan identitas berbeda dan merubah sikap 180°, sistem kekuatan giok juga logis dibarengi cerita sains.
Arya Saputra
saya suka nih kalo ada cerita bertemakan sains🤩
Arya Saputra
awal yang lumayan bagus👏🏻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!