NovelToon NovelToon
Anak Dukun Di High School

Anak Dukun Di High School

Status: tamat
Genre:Misteri / Persahabatan / Hantu / Horor / Spiritual / Teen Angst / Tamat
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: RAS( BY.AR)

Astra tak pernah mau meneruskan pekerjaan Ibunya. Di bandingkan menjadi dukun, dia ingin hidup normal sebagai gadis pada umumnya.

Demi bisa terlepas dari hal-hal gaib di desa, Astra nekat melanjutkan study nya di kota. Dengan beasiswa yang susah payah dia raih, dia memasuki sekolah terkenal di kota "High School" dari namanya saja sudah keren bukan?

Astra bermimpi untuk belajar seperti siswa pada umumnya, memiliki teman dan bekerja setelah lulus. Namun kenyataan menampar nya, High School tidak sebaik yang di pikir kan.

Kemanapun dia pergi, kabut gelap selalu terlihat di tubuh setiap orang...

Permainan gaib, nyawa dan kekuasaan menjadi mainan bagi mereka. Sisi baiknya, tidak ada satupun orang yang mengetahui hal gaib lebih baik darinya di sekolah ini...

#25Desember2025

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAS( BY.AR), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Pagi hari di High School Internasional.

Udara pagi yang masih terasa dingin dan motor serta mobil yang satu persatu memasuki gerbang sekolah.

Mobil-mobil sport yang bergaya elegan terlihat mahal memasuki area parkiran, tentu saja hal ini menjadi perhatian orang-orang. Bukan hanya karena penampilan mahal mobil itu, melainkan isi mobil tersebut. Sekelompok pemuda baru yang sudah menjadi most wanted sekolah.

"Arka senyum kamu manis banget!" Seru kakak kelas dari gedung sebelah yang melihat dari jendela kelasnya.

"Dion kaya makin mempesona aja ya, tubuhnya itu lho, keker banget! Pengen meluk~"

"Gabriela sama Samuel dingin banget sih, sok misterius tapi itu kenyataan nya, mana ganteng lagi."

Diantara banyak pujian para hawa tentu juga banyak hujatan para Adam. Intinya setiap hal itu memiliki pro dan kontra, namun tidak hanya mereka, kedatangan mobil Bastian juga menjadi sambutan bagi kaum hawa.

"Bastian! Gender kamu tuh nyowok banget!"

"Pengen ya, rasain meluk di peluk Bastian~ "

"Gue yakin tity-d nya gede, soalnya pas main Voli sering kelihatan benjolan besar di celana nya."

"Anj! Mesum lu!"

Anya, gadis yang agak tomboy itu berjalan pergi, meskipun cantik dia tidak sepopuler cowok-cowok tampan. Karena apa? Cewek cantik di High School tuh gak sedikit, bukan berarti banyak juga.

Lagian cewek jaman sekarang siapa sih yang gak mau cantik? Pakai skincare, pakai air wudhu, dan bahkan pakai susuk sekalipun.

Bastian juga ikut pergi, namun suasana cukup seru ketika sebuah motor yang sudah di kenali orang-orang itu berkendara memasuki area parkiran.

Suasana tidak akan seheboh itu jika salah satu cowok populer incaran kakak kelas itu datang sendiri, melainkan datang dengan membonceng seolah cewek.

Yah, tanpa di beri tahu pun kalian sudah mengetahui nya.

Astra turun dari motor sport laki-laki itu, dia tidak segera melepaskan helm nya. "Ikut gue"

"Eh?" Fino tidak tahu apa maksud perempuan ini, namun dia segera mencabut kunci motor nya dan membiarkan dirinya di tarik Astra.

"Wah, baru satu hari dia udah deket sama kakak kelas ya~ " Ucap Arka melihat semua itu seolah hiburan.

Bugh!

Arka kaget dan melihat ke samping nya. Dion terlihat berwajah muram, tangan nya mengepal seolah marah dan melampiaskan nya dengan menggebrak mobil di belakang nya.

Tanpa banyak bicara karena tindakan nya itu, Dion langsung pergi.

"Woi! Mobil gue penyok!" Seru Arka.

Setelah merasa tempat itu sepi, Astra berhenti berjalan dan melepaskan tangan nya dari memegang Fino. Lalu melepaskan helm nya, "gue gak mau dapat masalah, makasih buat tumpangan nya."

Astra mengembalikan helm nya dan setelah mengucapkan terimakasih nya dia pergi. Sementara Fino menerima nya dengan wajah baru memahami kenapa Astra menarik nya tanpa melepaskan helm.

"Quite smart too, huh?"

Brak!

Pintu yang sudah terbuka lebar itu tetap saja terkena getahnya dari orang yang sedang marah. Dion masuk dengan wajah muram, mereka yang ingin mengkritik langsung diam ketika melihat siapa orang nya.

Dion berjalan menuju bangku nya, saat melewati bangku Astra, dia melirik nya dengan tajam, emosi nya belum sirna. Namun anehnya perasaan marah yang di rasakan nya tidak semarah tadi, perasaan nya sekarang terasa seperti perasaan kemarin saat di kantin.

Bergairah, Mendebarkan dan seras tertantang.

Astra tentu tahu Pemuda ini memusatkan tatapan tajam kepadanya, namun sikap nya yang cuek membuat nya tetap tenang.

Riel melirik Dion yang terlihat marah itu dengan pandangan aneh. Namun segera melihat ke Astra. "Astra, tadi di kamu di bonceng si Fino?"

"Gue mau tidur"

Astra tidak berniat menjawab, siapa yang ingin cari masalah lagi. Para betina di kelas ini mengetahui perempuan yang di bonceng Fino karena mereka tahu perawakan dan tas nya Astra. Saat masuk saja dia mendapatkan tatapan yang lebih horor dari makhluk gaib, jika bukan karena dia dekat dan duduk dengan Riel, mungkin dia sudah menerima kata-kata pedas dan hujatan.

Bel berbunyi, menandakan dimulainya jam pelajaran pertama.

Pak Bima, guru Fisika dengan kacamata tebal dan semangat yang berlebihan untuk mekanika klasik, memulai pelajaran tentang Kinematika Gerak Lurus. Suaranya yang monoton menjadi latar belakang sempurna bagi keheningan kelas.

Astra, meskipun berusaha fokus, merasakan hawa dingin yang tidak biasa merayap di tengkuknya. Itu adalah sensasi yang sangat ia kenali.

Hantu gadis yang selama ini setia membayangi Clara, siswi yang duduk di barisan belakang, kini telah berpindah. Entitas berambut panjang dengan pakaian sekolah kusam itu berdiri tepat di belakang kursi Astra. Kepalanya sedikit miring, seolah sedang mengamati Astra dengan rasa ingin tahu yang dingin.

Ini adalah pertama kalinya hantu itu mengalihkan fokusnya, dan Astra harus mengerahkan seluruh kemauannya untuk tidak menoleh atau bereaksi.

Ia mencengkeram pensilnya erat-erat, mencoba mengabaikan bisikan dingin yang terasa seperti embusan napas di kulitnya.

Tatapan tajam Dion dari bangku di belakangnya, atau tatapan sinis dari siswi-siswi lain, terasa seperti angin sepoi-sepoi dibandingkan dengan kehadiran entitas ini.

"Jadi, berdasarkan hukum Newton kedua, gaya adalah hasil kali massa dan percepatan," jelas Pak Bima sambil menuliskan rumus F \= m\dot a di papan tulis.

"Ini adalah hukum yang mengatur dunia fisik kita, dunia yang bisa kita ukur, kita lihat, dan kita rasakan."

Tiba-tiba, Riel mengangkat tangan.

 "Pak, saya mau tanya. Kalau semua yang ada di dunia ini bisa diukur, bagaimana dengan hal-hal yang tidak bisa kita ukur? Seperti... kesadaran, atau mungkin, keberadaan yang tidak kasat mata?"

Pak Bima menghentikan gerakannya. Ia melepas kacamatanya dan menghela napas. "Riel, itu pertanyaan yang bagus, tapi itu sudah masuk ranah Metafisika, bukan Fisika. Fisika berurusan dengan yang empiris."

"Tapi bukankah Fisika modern, seperti Fisika Kuantum, juga mulai menyentuh batas-batas yang tidak empiris, Pak?" Riel mendesak, matanya berbinar penuh minat.

"Bukankah mencari tahu apa yang ada di balik realitas fisik adalah tujuan tertinggi ilmu pengetahuan?"

Pertanyaan Riel yang tiba-tiba dan mendalam itu berhasil menarik perhatian seluruh kelas, termasuk Dion yang tadinya hanya fokus menatap Astra.

Pak Bima tersenyum tipis. "Baiklah, mari kita sisihkan lima menit untuk ini. Siapa yang bisa mendefinisikan Metafisika?"

Arka, yang duduk di barisan paling belakang, mengangkat tangan. "Metafisika adalah cabang filsafat yang mempelajari hakikat keberadaan, realitas, dan dunia. Ini tentang pertanyaan-pertanyaan mendasar seperti 'Apa itu ada?' atau 'Apa itu waktu?''

"Tepat sekali, Arka," puji Pak Bima.

"Lalu, bagaimana Metafisika berhubungan dengan apa yang Riel sebutkan, yaitu keberadaan yang tidak kasat mata?"

"Itu adalah upaya untuk memahami yang transenden," sela Gabriela, suaranya dingin dan datar, membuat beberapa siswa terkejut karena ia jarang berbicara.

"Jika kita menerima bahwa realitas fisik hanyalah manifestasi dari sesuatu yang lebih besar, maka Metafisika adalah alat untuk mendekati 'sesuatu yang lebih besar' itu. Tapi, karena tidak ada bukti empiris, itu hanyalah spekulasi yang elegan."

"Spekulasi yang elegan," ulang Pak Bima, mengangguk. "Menarik. Astra, bagaimana menurutmu? Sebagai orang yang baru, mungkin kamu punya pandangan yang segar."

Astra terkejut namanya disebut. Ia merasa hantu di belakangnya bergerak sedikit, seolah ikut menanti jawabannya. Ia harus menjawab dengan hati-hati, menyembunyikan kebenaran di balik kata-kata filosofis.

"Saya setuju dengan Gabriela bahwa tanpa bukti empiris, itu hanya spekulasi," kata Astra, suaranya tenang.

"Namun, saya percaya bahwa realitas tidak terbatas pada apa yang bisa kita rasakan dengan lima indra. Jika kita mendefinisikan 'ada' sebagai sesuatu yang memiliki pengaruh, yang bisa mengubah keadaan, maka entitas yang tidak kasat mata pun bisa 'ada' jika ia mampu memberikan dampak pada dunia fisik."

Ia berhenti sejenak, tatapannya terfokus ke depan.

"Bagi saya," lanjut Astra, "Metafisika adalah pengakuan bahwa ada lapisan-lapisan realitas yang tumpang tindih. Kita mungkin hanya hidup di satu lapisan, sementara yang lain hidup di lapisan yang berbeda, namun interaksi antar lapisan itu nyata. Hanya saja, alat ukur kita belum cukup canggih untuk mendeteksinya, atau mungkin, kita hanya perlu menggunakan indra yang berbeda."

Riel menatap Astra dengan mata kagum, kepalanya mengangguk-angguk seolah menerima ilmu baru. Arka terlihat berpikir keras, sementara Gabriela hanya menyipitkan mata, seolah mencoba mengupas makna tersembunyi dari kata-kata Astra.

Dion, yang selama ini hanya diam, tiba-tiba merasakan sensasi aneh. Bukan marah, bukan gairah, melainkan sebuah getaran dingin yang terasa nyata, seolah ada sesuatu yang baru saja merayap melewati bahunya. Ia menoleh cepat ke belakang, tetapi tidak ada apa-apa selain dinding kelas. Ia kembali menatap Astra, kali ini dengan pandangan yang tidak lagi hanya didominasi oleh emosi, tetapi juga oleh sedikit rasa penasaran yang tidak nyaman.

Pak Bima bertepuk tangan pelan. "Luar biasa. Diskusi yang sangat Metafisik. Astra, pandanganmu tentang 'lapisan-lapisan realitas' sangat menarik. Sayangnya, waktu kita habis. Kita kembali ke Fisika, tapi ingat, ilmu pengetahuan yang baik selalu terbuka pada pertanyaan-pertanyaan Metafisik."

Astra menghela napas pelan, mencatat bahwa ia harus lebih berhati-hati dalam memilih kata-kata. Ia baru saja memberikan petunjuk terlalu besar tentang dirinya sendiri.

***

Like dan Komentar yang banyak!

Like lebih dari 10 dan komentar lebih dari 5, besok author update dobel~

1
Paramitha Tikva
Padahal seru malah di end kan
Boncab dong Thor
Rindi Zie ⍣⃝కꫝ 🎸
hahhh... kok end
Huang Haing: Maaf ya, retensi nya ancur... Motivasi author buat lanjutin ilang~
total 1 replies
Nixc~
yahhh..... 😔😔😔 sayang bgt udah end.... padahal ceritanya seru loh😤😤🥺🥺🤧🤧
Huang Haing: Maaf banget yaa 😞
total 1 replies
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
yaaaaahhhhh kok end sihhhh thorrrr😭😭😭😭😭😭😤
Huang Haing: Maaf yaaa 😭🫣
total 1 replies
↳。˚ 🖇️')auh∆di♪♪⁠┌┘⁠♪
Semoga cepat naik retensinya nan, semangat
我爱你: Tidak masalah 😙 Akunmu juga sangat menarik, maukah kamu bertukar akun denganku? Aku punya akun dengan banyak pengikut.
total 6 replies
💝F&N💝
kopi susu manis untukmu, thor
semangat menjalani harimu

ayo up lagi malam ini.
aku suka banget ceritanya.
bagus
dan semakin bikin aku penasaran akan kelanjutannya.

ayooooooooo up lagiiiiiiiiiiiiiiii
Huang Haing: MAAF YA, SEMALAM AUTHOR BARU PULANG LDKS, CAPEK+NGANTUK VANGET 😭🫣
total 1 replies
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
ceritanya keren banget, semoga Astra bisa melawan mahluk itu💪💪
Huang Haing: Siap, makasih!
total 1 replies
Rindi Zie ⍣⃝కꫝ 🎸
semangat semoga cepet naik bagi Aaamiin
Huang Haing: Aaamiiiinnn 🤧🤧🤧
total 1 replies
Rindi Zie ⍣⃝కꫝ 🎸
wahhh... anjlok knp Thor pasti ada sebab nya kan 🤭
Huang Haing: Iya kak
total 3 replies
💝F&N💝
ayo thor, mana up nya hari ini
kenapa kok gak ada semangatnya.
Huang Haing: Gak keburu, tapi insyaallah hari ini
total 1 replies
💝F&N💝
hai..... mana up nya hari ini
Huang Haing: Sabar yaaa😭
total 1 replies
Rindi Zie ⍣⃝కꫝ 🎸
fiiihhh irit pisan...............
Kristiana Subekti
tuuuh kaaaan d gantung lagi ky jemuran g kering kering,,,, jidi pinisirin Iki tiiiih🥰😘
Kristiana Subekti: udah kak🥰😘
total 3 replies
chaa
lanjutt 👍
Huang Haing: Insyaallah
total 1 replies
Nixc~
ayo thor lanjut------💃🏻💃🏻💃🏻💃🏻
semoga author dapet ide-ide bagus buat lanjutin Babnya, biar gak terlalu pendek-pendek amat ceritanya kalo tamat😊🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Huang Haing: Ha-ha-ha a-min 😭
total 1 replies
Latifa Nuryn Andini Yunnitta
padahal seru lo thor...

semoga semangat mubgak kendor ya thor. jangan putuskan hubungan ini... eh, novel ini di tengah jalan thorkuuuu....
Huang Haing: Yaa... Tapi yang baca nya setengah² retensi nya gak nyampai 😭🫰
total 1 replies
Latifa Nuryn Andini Yunnitta
kelas XII ya thor? persiapan snbp snbt dooong....

semoga lolos ya thooor
Huang Haing: Hahaha, author gak ikut SNBP Karen telmi
total 1 replies
Latifa Nuryn Andini Yunnitta
thooor....

🎶Sampai kapan kau gantung
Cerita cintaku memberi harapan🎶
Huang Haing: Sampai Ajal menjemput mu 🎶
Cinta ku ini baru kan tumbuh 🎶
total 1 replies
Rindi Zie ⍣⃝కꫝ 🎸
ahh meni teu karaos kedik pisan 🤭
Huang Haing: Hahaha 🫣🫰
total 1 replies
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
yaaa bagusss kok, masssaaaaa pendek sihhhh😭😭😭😤😤😤
Huang Haing: Tahan lama bacanya yaaa
total 5 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!