Nethaniel adalah pria muda tampan, sukses, dan berkarisma. Lahir di tengah keluarga konglomerat dan hidup berkelimpahan. Namun ada yang kurang dan sulit diperoleh adalah pasangan hidup yang tulus mencintainya.
Ketika orang tua mendesak agar segera berkeluarga, dia tidak bisa mengelak. Dia harus menentukan pilihan, atau terima pasangan yang dipilih orang tua.
Dalam situasi terdesak, tanpa sengaja dia bertemu Athalia, gadis cantik sederhana dan menarik perhatiannya. Namun pertemuan mereka membawa Nethaniel pada pusaran konflik batin berkepanjangan dan menciptakan kekosongan batin, ketika Athalia menolaknya.
》Apa yang terjadi dengan Nethaniel dan Athalia?
》Ikuti kisahnya di Novel ini: "I Miss You Because I Love You."
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21. IMU coz ILU
...~•Happy Reading•~...
Ketika Ethan berjalan makin dekat, jantung Athalia memukul dadanya sangat kuat, wajanya pucat hingga dia oleng. Tanpa sadar kakinya goyang, hingga mundur beberapa langkah. Alea segera memegang tangannya.
"Kau ngga papa?" Alea jadi cemas melihat wajah Athalia. "Iya." Jawab Athalia pelan.
Ethan yang melihat reaksi Athalia, jantungnya berdetak kuat dan tidak bisa konsentrasi. Walau dia sudah minta sopir berbaur dengan karyawan untuk mengamankan Athalia, dia tidak tenang karena Rion ada di belakangnya.
Saat Ethan sedang memikirkan cara untuk memberi kode kepada Rion, tiba-tiba lengan kirinya digandeng. Sontak dia melihat kepada orang yang menggandengnya.
Wajah Ethan seketika seperti batu api melihat Velina yang mengandeng dia sambil tersenyum manis kepada para pejabat dan karyawan yang sedang menyambut CEO baru di kiri kanan.
Tanpa berpikir panjang, Ethan mengangkat tangan kanan dan menyentil jari Velina yang sedang ada di lengannya. Velina sangat terkejut merasakan kukunya hampir mati rasa.
Tanpa melihat Ethan, dia segera melepaskan tangan dengan luwes sambil tetap tersenyum. Kemudian dia meletakan tangannya di belakang dan mengusap dengan jari yang lain untuk mengurangi rasa keram.
Papah dan Mamah Ethan yang melihat tangan Velina, tahu apa yang dilakukan Ethan padanya. Namun mereka tidak bisa menegur atau lakukan tindakan tertentu, karena sedang menjadi perhatian. Mereka merasa lega melihat Velina tetap berjalan di samping Ethan sambil tersenyum manis, seakan tidak terjadi sesuatu.
Sedangkan Ethan tidak bisa mengendalikan emosi. Wajahnya jadi mengeras dan langkahnya makin panjang, sehingga Velina harus berjalan cepat agar bisa mensejajarkan langkahnya dengan Ethan.
Kedua orang tua Ethan jadi panik dan jadi ikut berjalan cepat menuju aula yang sudah disulap menjadi tempat pertemuan. Mereka tidak menyangka reaksi Ethan sedemikian ekstrim, dan tidak menjaga sikap sebagai CEO.
Setelah di aula, Ethan memberikan isyarat agar Rion mendekat. "Rion, dipersingkat semuanya." Bisik Ethan sebelum mereka duduk di kursi yang disediakan.
"Siap, Pak." Rion bergerak cepat menemui asisten Papah Ethan untuk mengatur, karena melihat wajah bossnya sangat tegang dan marah.
Setelah membuka kancing jas, Ethan duduk di kursi pada barisan depan. Tanpa menunggu acara berakhir dan tidak peduli sedang jadi pusat perhatian, Ethan berbicara dengan Velina yang duduk di sampingnya.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Ethan berbicara dengan mengatupkan gigi sambil menatap lurus ke depan.
Velina terkejut mendengar suara Ethan. Dia melirik "Ethan, kau tidak mengerti? Aku hanya mengikuti permintaan orang tuamu." Velina bicara sambil mempertahankan senyum dan melihat ke depan. Dia berusaha mengendalikan emosi dan menenangkan detak jantungnya, karena melihat kemarahan Ethan.
"Permintaan apa?" Tanya Ethan singkat.
"Untuk mendampingimu."
"Sebagai apa?"
"Ya, mendampingimu untuk acara perkenalan ini." Velina kelabakan menjawab pertanyaan Ethan yang menuntut jawaban rinci.
"Sebagai apa?" Ethan mengulangi pertanyaan yang sama.
"Apa aku harus jelaskan? Kau tidak bisa mengerti?"
"Aku tidak mengerti. Jelaskan." Ucap Ethan tegas.
"Tanya saja orang tuamu." Velina mulai emosi dan kesal dengan sikap Ethan yang tidak menganggapnya.
"Aku tanya kau. Apa yang kau mengerti dari permintaan orang tuaku."
"Aku tidak mau bahas."
"Kalau tidak mau bahas, tinggalkan tempat ini."
"Kau mengusirku?"
"Kau tidak ..." Ethan tidak meneruskan, karena dipanggil Papahnya ke podium untuk diperkenalkan.
Papanya yang masih berdiri di podium terkejut melihat wajah Ethan yang keras sambil mengancing jas. Tanpa mengucapkan apa pun kapada Papahnya, Ethan berdiri di podium.
"Selamat siang. Akhirnya kita bisa bertemu muka. Saya Nethaniel Kendrick. Terima kasih sambutannya." Ethan langsung meninggalkan podium tanpa memaparkan visi dan misinya yang sudah disiapkan.
Hal itu membuat Rion yang sudah siap untuk memperlihatkan di screen jadi panik. Dia berdiri menemui bossnya yang sudah turun disertai oleh tepuk tangan semua orang yang ada dalam aula.
"Rion, keluarkan Talia dari sini. Bawah dia ke rooftop." Perintah Ethan saat Rion mendekat untuk bertanya.
"Siap, Pak." Rion tidak berani bertanya lebih lanjut, karena mengerti situasi yang terjadi.
Ethan berjalan cepat mendekati asisten Papahnya. "Pak, tutup perkenalan ini. Lanjutkan ke non formal..." Ethan berbicara serius, tanpa berdiskusi dengan Papahnya. Asisten Papahnya mengangguk, walau tidak mengerti.
Sedangkan Papahnya marah melihat sikap Ethan terhadap Velina yang sedang menunduk sedih. "Apa yang kau lakukan ini? Kau seperti tidak sekolah."
Mamahnya yang sudah berdiri, memegang lengan Ethan karena belum pernah melihat wajah putranya yang sangat marah.
"Papah dan Mamah langsung pulang ke rumah. Aku tunggu di sana." Ethan tidak menjawab pertanyaan Papahnya.
Ethan mengotak-atik telpon dan berbicara. Sehingga Papahnya harus menahan diri dengan melihat istrinya.
"Hallo, Opah." Papahnya terkejut mendengar Ethan menyebut Opah.
"Ethan, kenapa telpon sekarang? Acaranya sudah selesai?"
"Opah, dengar Ethan." Papah dan Mamah Ethan makin terkejut mendengar suara Ethan pada Opahnya. Mamahnya menggerakan tangan untuk mencegah, tapi terlambat.
"Opah, tolong pulang ke rumah. Ethan tunggu di rumah Mamah."
"Ada apa, Ethan."
"Opah akan tahu di sana. By, Opah." Setelah tutup telpon, Ethan ke kursinya dan duduk.
"Kau seorang CEO, tapi sikapmu seperti ini?" Velina menegur Ethan.
"Jangan mengajariku, kalau sendiri tidak tahu diri."
"Apa maksudmu? Kau menghinaku?"
"Tidak ada yang akan menghinamu, kalau tahu siapa kau."
"Kau kira aku tidak tahu siapa aku?
"Kalau tahu siapa kau, jawab pertanyaanku. Apa tugasmu mendampingiku di acara ini."
"Kalau orang tuamu tidak minta, apa aku akan hadir di sini?"
Ethan menggertakan gigi. "Kau terus bilang orang tuaku minta. Minta apa?"
"Apa kau bodoh?"
"Justru aku tidak bodoh, makanya aku bertanya."
"Tanya saja orang tuamu."
"See...? Kau..."
"Maaf, Pak. Sudah." Rion melapor.
"Kau sudah diselamatkan asistenku. Pergunakan sedikit saja isi kepalamu, kalau ada yang minta lakukan sesuatu." Ucap Ethan lalu berdiri meninggalkan Velina yang melihatnya dengan mata melotot.
Ethan berjalan cepat mengikuti Rion. Namun sebelum melewati orang tuanya, dia kembali mengingatkan kedua orang tuanya. "Aku tunggu di rumah." Ucap Ethan kaku.
Semua orang terdiam melihat Ethan berjalan cepat keluar dari aula. Mereka masih tenang melihat orang tua Ethan masih ada dalam aula. Mereka yakin sedang terjadi sesuatu, karena sikap dan perkenalan CEO yang singkat.
"Rion, bilang sopir tunggu di depan lobby." Perintah Ethan sambil berjalan cepat.
"Siap, Pak." Rion segera telpon.
"No access to rooftop." Perintah Ethan untuk menutup akses ke rooftop.
"Siap, Pak." Rion menjawab cepat, karena kemarahan bossnya tidak surut.
Sehingga ketika bossnya menuju rooftop, dia hanya berdiri menjaga sambil menjawab telpon dari berbagai pihak.
"Talia, berhenti menangis." Ucap Ethan yang melihat dari jauh, Athalia sedang duduk sambil memegang dada dengan kedua tangan dan bahunya terguncang.
"Pak, mengapa lakukan ini padaku? Apa salahku padamu?" Athalia berdiri dan bertanya pada Ethan sambil air mata membanjiri pipi.
"Aku lakukan yang mana?" Ethan bertanya sambil berjalan mendekat. Dia makin marah melihat Athalia menangis senggukan.
...~•••~...
...~•○♡○•~...