Kaburnya Alana dari rumah justru menyeretnya ke dunia Arka, lelaki berkuasa yang menjadikannya pelayan sebagai ganti rugi sebuah insiden. Kedekatan yang terlarang tumbuh diam-diam, lalu hancur oleh fitnah dan kebencian.
Tanpa penjelasan, Arka mengusir Alana. Saat ia kembali dengan kehamilan di rahimnya, hinaan menjadi balasan, anak itu dituduh milik Rafael, abang iparnya Arka, mafia berdarah dingin.
Alana pergi membawa luka dan rahasia. Namun takdir mempertemukannya kembali dengan Rafael, pria paling berbahaya yang justru menjadi pelindungnya.
Di antara cinta dan pengkhianatan, siapa yang akan menghancurkan Alana lebih dulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Dua Puluh Tujuh
Saat Alana masih berpikir tiba-tiba dia mendengar suara langkah kaki mendekati kamar. Lalu pintu kamar itu terbuka perlahan.
Bukan dengan suara keras, melainkan decit pelan yang nyaris tak terdengar. Namun, suara kecil itu cukup membuat tubuh Alana menegang. Refleks, ia menarik selimut lebih tinggi hingga menutupi dadanya. Jantungnya langsung berdetak lebih cepat.
Seorang wanita paruh baya melangkah masuk. Usianya sekitar lima puluh tahunan, wajahnya tenang, sorot matanya lembut. Rambutnya disanggul rapi, pakaiannya sederhana tapi bersih. Di kedua tangannya, ia membawa sebuah nampan berisi sepiring bubur ayam hangat dan segelas susu.
Wanita itu berhenti beberapa langkah dari ranjang, lalu tersenyum kecil. Wajahnya terlihat sangat ramah.
“Non … Syukurlah kamu sudah bangun,” ucapnya pelan, seolah takut mengagetkan.
Alana menatapnya tanpa berkedip selama beberapa detik. Tenggorokannya terasa kering, lidahnya kelu. Butuh usaha sebelum ia akhirnya mengangguk.
“I … iya, Bu,” jawab Alana dengan suara lirih.
Wanita itu menghela napas lega kecil. “Syukurlah.”
Wanita itu mendekat dan meletakkan nampan di meja kecil di samping ranjang. Uap hangat dari bubur langsung menyeruak, membawa aroma yang membuat perut Alana berkontraksi pelan.
“Non pasti lapar. Makan dulu, ya,” ucap wanita itu lembut. “Sejak semalam Non belum makan apa-apa.”
Alana menelan ludah. “Semalam …?”
Wanita itu menoleh. “Non tidak ingat?”
Alana menggeleng pelan. “Sedikit … hujan … jalan … lalu gelap.”
“Non pingsan di jalan,” jelas wanita itu hati-hati. “Untung ada yang melihat.”
Alana terdiam. Dadanya terasa sesak. Dia masih ingat penyebab dia pingsan dijalanan.
“Bu …,” panggil Alana dengan ragu.
“Iya, Non?”
“Apakah … apakah Ibu yang menolong saya semalam?”
Wanita itu tersenyum tipis, lalu menggeleng. “Bukan, Non. Ibu hanya pengurus rumah ini. Kepala pembantu.”
Alana mengerjapkan mata. “Pengurus … rumah ini?”
“Iya.” Wanita itu mengangguk. “Tuan rumah yang membawa Non ke sini.”
“Tuan rumah?” ulang Alana, keningnya berkerut. “Siapa … siapa tuan rumahnya, Bu?”
“Tuan Rafael,” jawab wanita itu mantap.
Nama itu membuat napas Alana tersendat. Dahinya tampak berkerut.
“Rafael …?” Alana bertanya dengan mengulang nama itu.
Wanita itu memperhatikan perubahan ekspresi Alana. “Non kenal?”
Alana menggeleng cepat. “Tidak … maksud saya … mungkin pernah dengar, tapi saya tidak yakin.”
Wanita itu tersenyum samar. “Tadi malam, Tuan Rafael yang menemukan Non. Beliau langsung membawa Non ke rumah ini. Setelah itu, beliau minta kami memanggil dokter.”
“Dokter?” suara Alana melemah.
“Iya.” Wanita itu mengangguk. “Non kecapekan dan kedinginan. Tubuh Non juga sedang tidak baik-baik saja.”
Alana spontan menunduk, tangannya menggenggam ujung selimut.
“Non jangan takut,” lanjut wanita itu lembut, seolah bisa membaca kegelisahan Alana. “Tuan Rafael orang baik. Kalau tidak, mana mungkin beliau repot-repot menolong orang yang bahkan tidak beliau kenal.”
Alana terdiam lama.
“Bu .…” Suara Alana terdengar bergetar. “Kenapa … kenapa saya dibawa ke sini? Bukan ke rumah sakit?”
“Karena hujan deras, Non. Jalanan juga sepi. Lagi pula, dokter keluarga kami bisa datang dengan cepat,” jawab wanita itu. “Tuan Rafael bilang, yang penting Non selamat dulu.”
Alana mengusap wajahnya perlahan. Kepalanya terasa penuh.
“Non makan dulu, ya,” ujar wanita itu lagi, nadanya hangat tapi tegas. “Tenaga Non masih lemah.”
Alana mengangguk kecil. “Terima kasih, Bu.”
“Sama-sama.” Wanita itu tersenyum. “Oh iya, Ibu belum memperkenalkan diri. Panggil saja Bu Sari.”
“Terima kasih, Bu Sari.”
Bu Sari berdiri. “Ini ada baju untuk Nona.” Ia mengambil satu set pakaian dari lengannya dan meletakkannya di ujung ranjang. “Setelah makan, kalau Non sudah agak enakan, bisa mandi di kamar mandi situ.”
Ia menunjuk pintu di sisi ruangan. Alana mengangguk.
“Pakai baju ini saja. Ukurannya mungkin agak besar, tapi nyaman.”
Alana menatap pakaian itu, matanya terasa panas. “Saya jadi merepotkan sekali.”
Bu Sari menggeleng. “Tidak ada yang direpotkan, Non. Tuan Rafael sendiri yang memerintahkan.”
“Tuan Rafael sekarang di mana?” tanya Alana spontan.
Bu Sari tersenyum tipis. “Beliau sudah berangkat pagi-pagi. Tapi nanti juga pulang.”
Alana terdiam lagi. Dia masih memikirkan nama itu. Rasanya pernah mendengar.
“Non istirahat saja,” lanjut Bu Sari. “Kalau sudah selesai mandi dan butuh apa-apa, panggil saja saya.”
“Iya, Bu.”
Bu Sari melangkah keluar, menutup pintu dengan pelan. Begitu sendirian, Alana menatap bubur di depannya lama. Nama itu kembali berputar di kepalanya.
Rafael. Dia yakin pernah mendengarnya. Tapi dari mana?
Alana akhirnya mengambil sendok. Suapan pertama membuat dadanya sesak. Hangat. Sederhana. Tapi terasa seperti sesuatu yang sudah lama tidak ia miliki.
Air mata jatuh tanpa izin. “Aku lemah banget, ya …,” gumamnya pelan.
Setelah menghabiskan bubur dan susu, Alana bangkit dan menuju kamar mandi. Air hangat mengalir, membasuh tubuh dan perlahan meredakan gemetar yang tersisa.
Di bawah air, ia menangis tanpa suara. Mengingat semua cobaan yang terus datang menerpa hidupnya.
Setelah selesai, ia mengenakan pakaian yang disediakan. Longgar, hangat, dan bersih. Saat kembali ke ranjang, tubuhnya masih lelah, tapi hatinya sedikit lebih tenang.
Namun nama itu tetap mengusik. Rafael.
---
Sementara itu, di rumah Arka.
“Mbak Alana …!” teriak Revan.
Revan duduk di ranjangnya dengan mata setengah terbuka. Biasanya, suara Alana sudah terdengar sejak tadi.
“Mbak Alana?” panggilnya lagi, lebih keras.
Tidak ada jawaban. Revan turun dari ranjang dan membuka pintu kamar.
“Mbak?”
Sunyi. Dia berlari kecil menuju dapur.
“Bi Marni!” panggilnya.
Bi Marni menoleh kaget. “Eh, Tuan kecil sudah bangun?”
“Mbak Alana mana?” Revan mengerutkan dahi. “Kenapa Mbak Alana nggak bangunin aku?”
Bi Marni terdiam. “Lho … belum bangun ya?”
Revan menggeleng. “Biasanya Mbak Alana sudah ada.”
“Hmm .…” Bi Marni tampak ragu. “Ayo kita cek ke kamarnya.”
Revan langsung berlari menuju kamar kecil Alana. Bi Marni menyusul dengan langkah cepat.
Revan mengetuk pintu. “Mbak Alana?”
Tidak ada sahutan. “Mbak?” ketukannya semakin keras.
Bi Marni meraih gagang pintu. “Tidak dikunci .…”
Pintu terbuka. Tapi, kamar itu kosong. Revan melangkah masuk, matanya menyapu ranjang yang rapi.
“Mbak Alana?” suaranya mulai gemetar. "Kamarnya kosong … Mbak Alana ke mana, Bi?”
Bi Marni ikut masuk. Wajahnya pucat.
“Tidak mungkin …,” gumam Bi Marni. “Semalam Mbak Alana ada di sini!”
“Bi,” suara Revan bergetar. “Mbak Alana pergi tanpa pamit?”
Bi Marni menggeleng pelan. “Tidak tahu, Tuan kecil.”
Revan berdiri kaku di tengah kamar. "Kalau Mbak Alana nggak ada .…” Matanya tampak berkaca-kaca. “Siapa yang temani aku?”
Bi Marni terdiam, dadanya terasa sesak. Dia berpikir sesuatu yang buruk sedang terjadi. Dan mereka belum tahu apa. Tapi, Bi Marni yakin ada sesuatu. Tak biasanya Alana belum muncul. Kamarnya juga terlihat sepi.
"Apa sebenarnya yang terjadi?" tanya Bi Marni dalam hatinya.
alana tinggal gugat cerai aja sm arka
alana jgn mau plg ke rmh arka walaupun di jemput 🤭