Kaburnya Alana dari rumah justru menyeretnya ke dunia Arka, lelaki berkuasa yang menjadikannya pelayan sebagai ganti rugi sebuah insiden.
Beberapa bulan kemudian Arka memutuskan untuk menikahi Alana hanya untuk melindunginya dari perjodohan orang tuanya.
Tanpa penjelasan Alana diusir oleh orang tua Arka. Beberapa saat kemudian, ia kembali dengan kehamilan di rahimnya, hinaan menjadi balasan, anak itu dituduh milik Rafael, abang iparnya Arka, mafia berdarah dingin.
Alana memutuskan selamanya pergi dari hidup Arka. Akhirnya dia kembali ke rumah Rafael, pria paling berbahaya yang justru menjadi pelindungnya.
Di antara cinta dan pengkhianatan, siapa yang akan menghancurkan Alana lebih dulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Tiga Puluh Empat
Pintu mobil bahkan belum benar-benar berhenti saat Arka sudah membuka pintu belakang. Udara malam bercampur bau antiseptik rumah sakit langsung menusuk hidung. Lampu-lampu IGD menyala putih terang, membuat segalanya terasa terlalu jelas.
“Brankar!” teriak Arka tajam ke arah petugas yang berjaga.
Perawat jaga langsung menoleh. Melihat anak kecil yang pucat dan lunglai di gendongan, mereka bergerak cepat. Satu brankar didorong mendekat.
“Anak demam tinggi, kesadaran turun,” ucap Arka singkat, padat, seperti laporan darurat.
Revan mengerang pelan di dadanya. Kepala kecil itu menempel di bahu Arka, napasnya panas dan tidak teratur.
“Om … panas …,” bisiknya hampir tak terdengar.
“Iya. Sebentar lagi ditangani,” jawab Arka, suaranya rendah, berusaha stabil meski dadanya terasa diperas.
Perawat membantu memindahkan Revan ke brankar. Tangan kecil itu sempat mencengkeram kerah kemeja Arka seolah tak mau lepas. Refleks, Arka ikut menahan.
“Pak, kami bawa masuk dulu,” ucap perawat.
Arka mengangguk, berjalan di samping brankar yang didorong cepat masuk ke ruang tindakan. Mama Ratna dan Bi Marni menyusul di belakang, wajah mereka tegang.
Pintu IGD terbuka. Suara monitor, langkah sepatu, dan percakapan cepat saling bertabrakan.
“Anak laki-laki, sekitar lima tahun. Demam tinggi, tampak dehidrasi,” lapor perawat.
Dokter jaga mendekat. “Suhu?”
“Empat puluh koma dua.”
Alis dokter langsung mengeras. “Pasang oksigen ringan. Cek saturasi. Siapkan antipiretik injeksi. Ambil darah.” Semua bergerak cepat.
Arka berdiri di sisi ranjang, tangannya kaku di samping tubuh. Dia biasa mengendalikan situasi. Biasa memerintah, biasa membuat keputusan. Tapi melihat Revan dengan selang oksigen kecil di hidungnya, kulitnya pucat kemerahan karena panas, ada rasa tak berdaya yang memukul diam-diam.
Jarum masuk ke lengan kecil itu. Revan meringis lemah. “Om .…”
“Om di sini,” jawab Arka langsung.
Mama Ratna menutup mulutnya, menahan emosi. Ini pertama kalinya sejak lama raut angkuhnya benar-benar runtuh.
“Sejak kapan panasnya setinggi ini?” tanya dokter tanpa menoleh.
“Siang. Tapi katanya baru naik drastis sore,” jawab Arka.
“Anak pernah kejang?”
“Belum.”
“Kita kejar dulu turunkan suhunya. Untung dibawa cepat,” kata dokter.
Kalimat itu menancap. Untung dibawa cepat. Arka mengembuskan napas pelan, napas yang baru ia sadari tertahan sejak tadi.
Waktu terasa lambat setelah itu. Monitor berdetak. Angka suhu di layar digital perlahan turun, tapi tidak cepat. Kompres dingin diganti berkala. Cairan infus menetes stabil.
Revan sempat gelisah, mengigau lagi. “Mbak … jangan pergi .…”
Tangan Arka menegang di tepi ranjang. Mama Ratna mendengarnya. Kali ini ia tidak berkomentar sinis. Tidak juga menyela. Hanya diam, dengan ekspresi sulit dibaca.
Empat puluh menit berlalu. Dokter kembali memeriksa. “Suhu mulai turun. Respon obat baik. Kita observasi sedikit lagi, lalu pindah rawat inap. Kemungkinan infeksi virus berat disertai dehidrasi.”
“Bahaya?” tanya Arka langsung.
“Kalau datangnya lebih lambat, bisa kejang demam atau komplikasi. Jadi untung dibawa cepat.”
Ada jeda tipis sebelum dokter menambahkan, “Si kecil kelihatan stres juga. Anak seusia ini jarang drop secepat ini tanpa pemicu.”
Stres. Kata itu seperti mengetuk sesuatu yang tidak ingin Arka buka. Satu nama langsung muncul di kepalanya. Alana.
—
Satu jam kemudian Revan sudah dipindahkan ke kamar rawat inap anak. Ruangannya sangat besar. Lampu kuning lembut. Ada gambar karakter kartun di dinding. Mesin infus berdiri di sisi tempat tidur.
Suhunya sudah turun ke 38 lebih sedikit. Masih panas, tapi tidak lagi membakar.
Revan tertidur lelap, napasnya lebih teratur. Rambutnya masih lembap. Tangan kecilnya terpasang jalur infus dan plester bergambar hewan.
Arka duduk di kursi samping ranjang sejak pertama masuk dan belum berpindah. Siku bertumpu di paha, jari-jari saling mengunci. Matanya tidak lepas dari wajah bocah itu.
Mama Ratna berdiri di sisi lain, memandang juga, tapi kali ini dengan sorot yang lebih lembut dari biasanya.
“Dia sangat dekat dengan Alana?" tanya Mama Ratna.
Arka tidak langsung menjawab.
“Jangan biasakan anak dekat dengan pembantu. Bahaya?"
Rahang Arka bergerak. “Ma, jangan mulai.”
“Mama tidak menyalahkan,” jawabnya tenang. “Mama hanya mengatakan fakta.”
Bi Marni masuk pelan. “Saya tunggu di luar saja, Tuan. Kalau perlu apa-apa panggil.”
Arka mengangguk singkat. Beberapa menit kemudian Mama Ratna juga keluar untuk menelepon keluarga. Tinggal Arka dan Revan.
Arka menatap wajah kecil itu lama. Ingatan datang tanpa izin, Revan tertawa di dapur bersama Alana, Revan bersembunyi di balik rok Alana saat takut petir, Revan tidur di sofa dengan kepala di pangkuan perempuan itu.
Beberapa saat kemudian, perutnya tiba-tiba terasa kosong. Ia baru sadar belum makan sejak siang.
Arka berdiri pelan, merapikan selimut Revan refleks meski sudah rapi. Tangannya sempat menyentuh dahi kecil itu, masih hangat, tapi jauh lebih baik.
“Om ke luar sebentar,” ujar Arka pelan, meski tahu Revan tidak mendengar keluar kamar.
—
Kafe rumah sakit tidak terlalu ramai. Jam sudah lewat pukul sembilan malam. Lampu hangat, aroma kopi dan roti panggang bercampur dengan bau steril lorong.
Arka memesan kopi hitam dan sandwich tanpa benar-benar memikirkan rasa. Hanya butuh sesuatu untuk mengisi perut dan mengusir pusing di kepala.
Ia berdiri menunggu pesanan dipanggil. Beberapa saat kemudian, namanya di panggil. “Pak, pesanannya.”
Arka mengambil nampan. Berbalik, dan melangkah pergi. Baru saja berjalan, ia berhenti.
Seseorang berdiri hanya beberapa langkah di depannya. Seorang perempuan dengan mantel panjang warna krem, rambut gelap bergelombang jatuh rapi di bahu. Wajahnya lebih dewasa, tapi sangat dikenal.
“Arka?”
Suara itu masih sama. Hangat, sedikit serak di ujung, seperti dulu. Jantung Arka seperti kena rem mendadak. Celine.
Perempuan itu tersenyum, bukan senyum canggung. Senyum yakin, seolah tidak ada tahun-tahun yang hilang di antaranya.
“Kamu benar-benar Arka, kan? Aku sempat ragu dari belakang,” ucapnya dengan suara ringan.
Arka tidak menjawab. Bukan tidak mau, tapi otaknya seperti terlambat mengejar kenyataan yang berdiri di depannya. Tak percaya dengan apa yang ada dihadapannya. Wanita itu kembali, ucapnya dalam hatii
Gak usah ngedeketin Alana lagi...
gak usah berpikir buat ngetes DNA antara kamu dan anaknya Lana entar emak kamu si nenek lampir punya pikiran buat rebut lagi... emak kamu kan egois
Rumah Rafael bakalan tambah ramai.
Dan rumah Arka sunyi sepi