Bagi kebanyakan orang, aku adalah penjahatnya. Tapi bagi seseorang, aku adalah pelindungnya.
Clara Agatha, agen pembunuh bayaran kelas kakap di organisasi Blade. Hidupnya yang monoton membuat dia tak memiliki teman di organisasi, sampai pada akhirnya penghianatan dari organisasinya membawa dia ke dalam kematian.
Clara pikir semua sudah selesai, namun dia terbangun di raga orang lain dan menjadi ibu dua anak yang di buang suaminya. Clara tak tahu cara mengurus anak kecil, dia berpikir jika mereka merepotkan.
Namun, pemikiran itu berubah saat kedua anaknya menunjukan kebencian yang begitu besar padanya. Clara merasa aneh, bagaimana bisa anak polos seperti mereka membenci ibunya sendiri? Clara bertekad untuk mencari tahu alasannya, dan menuntut balas pada suami dan juga organisasinya yang telah membuat dia mengalami kejadian menyedihkan seperti itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka zeya257, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
"Sialan!" Jeremi menendang meja kerjanya dengan kasar.
Sudah dua hari berlalu sejak dirinya di tendang dari kediaman Alverez oleh Aurora, selama itu juga banyak media yang mulai memberitakan kembalinya Aurora ke kursi pewaris utama.
"Ini tidak bisa di biarkan!" Jeremi berjalan mondar-mandir di dalam ruang kerjanya. "Bagaimana bisa dia masih waras?"
Ketika Jeremi sedang sibuk dengan pikirannya sendiri, pintu ruang kerja itu kembali terbuka dari luar memperlihatkan sosok wanita paruh baya yang tak lain Selena, dan seorang wanita muda berambut pirang sepinggang.
"Jeremi, tenanglah. Sikapmu yang seperti ini tidak akan mengubah apa pun." Selena mendekat dan menyentuh lengan suaminya. "Kita harus pikirkan secara baik-baik."
"Bagaimana Selema?! Katakan, bagaimana aku bisa berpikir baik-baik di saat genting seperti ini?!"
Selena menghela napas pendek, dia menarik lembut tangan suaminya menuju sofa yang ada di ruangan itu.
"Kau tidak lihat, kita masih punya Renata." Seru Selena.
Jeremi mengalihkan pandangannya ke arah putri semata wayangnya, Renata Vander. Wanita yang baru menginjak usia 25 tahun itu, tampak sangar dewasa akibat make up yang di kenakan olehnya.
"Kau–" Jeremi menunjuk Renata dengan jari telunjuknya. "Kau bilang Aurora depresi, tapi apa yang aku lihat kemarin hah?! Dia masih waras bahkan sangat waras sampai bisa mengusirku dari rumahnya!"
"Aku juga tidak tahu, waktu itu dia benar-benar terlihat depresi dan gila." Sanggah Renata.
Jeremi mendengus sebal. "Kau pasti buta, wanita setegas itu kau bilang gila? Yang ada kau yang gila Renata!"
"Jeremi!" Bentak Selena tak terima.
"Apa? Aku hanya mengatakan kenyataannya, kalo kau tidak terima maka didiklah anakmu itu agar berguna bagi keluarga ini."
Renata yang melihat pertengkaran ayah dan ibunya hanya bisa mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuh, selama ini dia belum pernah melihat orang tuanya berselisih seperti ini.
Namun, semenjak kemunculan Aurora yang berbeda keluarganya menjadi sering ribut dan marah-marah hampir setiap jam.
Semua ini salah Aurora. Pikir Renata.
Renata terkejut saat pundaknya di tepuk oleh Selena, Renata menoleh dan menaikan sebelah alisnya seolah bertanya 'apa' pada sang ibu.
"Rena, apa sebelumnya ada yang aneh dengan Aurora?" Tanya Selena lembut.
Renata menggeleng. "Tidak, semua tampak sama saja. Bahkan saat aku kencan dengan Delvin, suaminya."
Mendengar penjelasan putrinya, Selena semakin di buat bingung dengan perubahan sikap keponakannya yang menjadi ambisius serta tak berperasaan.
"Maksudmu, dia memang sudah seperti itu?" Tanya Jeremi memastikan.
"Bukan, maksudku tingkahnya seperti orang depresi. Berbeda dengan yang Ayah katakan tadi."
Jeremi mengusap-usap kumisnya, dia merasa ada yang aneh. Jika perkataan putrinya benar, kenapa sekarang Aurora terlihat seperti orang lain?
"Kau yakin dengan ucapanmu itu, Rena?" Jeremi menatap putrinya intens.
"Sangat yakin, aku tidak mungkin berbohong."
"Pasti ada sesuatu yang membuatnya berubah seperti itu," ujar Jeremi mengambil kesimpulan. "Kita harus cari tahu apa itu, supaya kita bisa menjatuhkannya lagi."
Selena dan putrinya mengangguk serempak, mereka tak bisa menerima jika Aurora kembali duduk di kursi singgasana Alverez.
***
Tumpukan dokumen memenuhi meja kayu milik Aurora, wanita itu membuka dokumen pertama dan membacanya secara seksama. Dia belum melihat kantornya, namun Aurora sudah menghubungi asisten ayahnya dulu dan mengatakan akan kembali ke perusahaan secepatnya.
Sebelum itu, Aurora meminta semua dokumen dari dua tahun yang lalu di kirim ke rumahnya. Alhasil saat ini, meja kerja Aurora di penuhi tumpukan kertas.
"Nyonya, apa ada yang bisa saya bantu?" Tanya asistennya, Margaret.
"Tidak, semua masih aman terkendali."
Satu tahun sebelum kematian ayah dan ibunya, kondisi keuangan masih aman. Aurora mengangkat kepalanya, tatapannya bertemu dengan Margaret yang berdiri di depannya dengan ekspresi yang sabar.
"Terima kasih, Margaret. Saya hanya perlu sedikit waktu untuk memahami semua ini."
Margaret mengangguk, lalu meninggalkan ruangan dengan tenang. Aurora kembali memfokuskan perhatiannya pada dokumen-dokumen di depannya. Dia harus memahami kondisi keuangan perusahaan, mengetahui apa yang telah terjadi selama dia tidak ada.
Setelah beberapa jam, Aurora akhirnya menemukan apa yang dia cari. Sebuah laporan keuangan yang menunjukkan bahwa perusahaan ayahnya telah mengalami kerugian besar dalam beberapa bulan terakhir. Aurora merasa jantungnya berdegup kencang ketika dia melihat nama-nama perusahaan yang terlibat dalam transaksi-transaksi mencurigakan.
"Siapa yang melakukan ini?" gumam Aurora, matanya menyipit.
Dia tahu bahwa ayahnya tidak akan pernah melakukan kesalahan seperti ini. Ada seseorang yang berada di balik semua ini, seseorang yang ingin menghancurkan perusahaan keluarga Alverez dari dalam.
Kecurigaan Aurora mengarah pada pamannya Jeremi, namun untuk saat ini dia tidak bisa menyimpulkan secara langsung apa lagi menyeret pria itu keluar dari perusahaan ayahnya.
Dia memerlukan bukti yang cukup kuat untuk menggulingkan posisi Jeremi di depan para petinggi perusahaan, jika dia gegabah yang ada dia yang di tendang dari perusahaan.
"Sial, sebenarnya segelap apa si brengsek itu memiliki power?" Gumam Aurora.
Aurora mengambil napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya. Dia tahu bahwa dia harus bertindak cepat, sebelum semuanya terlambat. Dia akan menemukan siapa yang berada di balik semua ini, dan dia akan membuatnya membayar semua kekacauan perusahaan ayahnya dan tentunya hidupnya.
Dengan tekad yang baru, Aurora mulai menyusun rencana. Dia akan mengambil kembali perusahaan ayahnya, dan dia akan menghancurkan siapa pun yang mencoba menghalanginya.
"Margaret!" Panggil Aurora dari dalam ruang kerjanya.
Margaret yang berada di luar ruangan bergegas masuk saat mendengar namanya di panggil.
"Ada apa, Nyonya?" Tanya Margaret.
Dia melihat raut wajah Aurora yang berubah dingin dan tatapan matanya begitu dingin bak pisau yang baru saja di asah, Margaret menelan ludahnya susah payah. Hawa dingin menyelimuti ruangan tersebut.
"Aku masuk ke perusahaan mulai besok, jadi siapkan semuanya tanpa ada yang terlupakan." Titah Aurora tak terbantahkan.
Margaret mengerjapkan kedua matanya. "Besok?"
"Iya, atur juga pertemuanku dengan para petinggi perusahaan. Aku harus memastikan sesuatu pada mereka semua," kata Aurora.
"Baik, saya akan melakukan semua yang Anda minta."
Margaret tidak tahu apa yang akan Aurora lakukan besok pagi, namun dia yakin jika keputusan wanita itu untuk muncul di muka umum setelah insiden kematian ayah dan ibunya adalah keputusan yang matang.
Baru saja Aurora hendak berdiri dari kursinya, mendadak ponsel yang tergeletak di atas meja samping dokumen bergetar pelan. Aurora mengernyit saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya, dia meraih ponsel itu dan mengamati nomor di layar tanpa suara.
Detik berikutnya, Aurora mematikan telepon itu lalu memasukan ponselnya ke dalam saku celana. "Kau boleh pulang sekarang, Margaret."
"Baik, Nyonya. Saya permisi dulu," pamitnya sopan dan meninggalkan ruangan.
Saat Aurora hendak menyusul Margaret, ponselnya kembali berdering. Aurora berdecak jengkel dan lansung mengangkat telepon itu.
"Untuk apa kau meneleponku lagi, Delvin?!" Ujar Aurora begitu sambungan telepon terhubung.