(NOVEL INI LANJUTAN DARI LEGENDA SEMESTA XUANLONG)
Tiga belas tahun telah berlalu sejak Dewa Bintang Tian Feng mendirikan Kekaisaran Langit, menciptakan era kedamaian di dua alam semesta. Namun, di Puncak Menara Bintang, Ye Xing, putra dari Ye Chen dan Long Yin, serta Cucu kesayangan Tian Feng merasa terpenjara dalam sangkar emas.
Terlahir dengan bakat yang menentang surga, Ye Xing tumbuh menjadi remaja jenius namun arogan yang belum pernah merasakan darah dan keputusasaan yang sesungguhnya.
Menyadari bahaya dari bakat yang tak ditempa, Tian Feng mengambil langkah drastis menyegel kultivasi Ye Xing hingga ke tingkat terendah (Qi Condensation) dan membuangnya ke Alam Bawah, ke sebuah sekte sekarat bernama Sekte Awan Rusak. Tanpa nama besar keluarga, tanpa pengawal bayangan, dan tanpa harta istana, Ye Xing harus bertahan hidup sebagai murid biasa bernama "Xing" yang diremehkan dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 6
Gubuk Reyot Lin Xiao – Pinggir Hutan Sekte.
Malam telah larut. Suara jangkrik dan burung malam bersahutan di hutan belakang Sekte Awan Rusak. Di dalam gubuk kayu yang atapnya berlubang, Ye Xing sedang duduk bersila di depan perapian kecil.
Di depannya, ada sebuah panci besi hitam yang sudah penyok dan bocor sedikit di bagian bawah, yang kini disumbat dengan tanah liat.
"Xing..." Lin Xiao menatap ngeri pada panci itu. "Kau yakin ini aman? Itu panci bekas aku merebus celana dalam minggu lalu..."
Ye Xing yang sedang memotong-motong Rumput Roh Angin dengan pisau berkarat menatap Lin Xiao dengan tatapan jijik.
"Lupakan detail itu," kata Ye Xing datar. "Api adalah pemurni segalanya. Lagipula, teknik alkimiaku bisa mengubah kotoran menjadi emas. Diam dan jaga apinya."
Ye Xing melempar potongan herbal itu ke dalam panci berisi air mendidih.
Normalnya, seorang Alkemis butuh tungku suci, api spiritual, dan ketenangan jiwa untuk mengekstrak sari obat. Tapi Ye Xing adalah Cucu Dewa Bintang. Dia tidak butuh formalitas.
Mata kanan Ye Xing (Mata Bintang) bersinar samar. Dia melihat struktur air dan tanaman di dalam panci.
Suhu air kurang 2 derajat. Aduk ke kiri 3 kali. Tekan uapnya.
"Kecilkan apinya!" perintah Ye Xing.
Lin Xiao buru-buru menarik kayu bakar.
Cairan di dalam panci itu mulai berubah warna dari bening menjadi hijau zamrud yang kental. Aroma wangi yang luar biasa campuran dingin, madu, dan energi murni mulai menyebar dari gubuk reyot itu, menembus celah dinding, dan terbawa angin ke arah hutan.
"Baunya enak sekali..." Lin Xiao menelan ludah, perutnya berkeriuk. "Ini obat atau sup?"
"Dua-duanya," jawab Ye Xing. "Ini adalah Sup Tulang Besi. Resep kuno yang dimodifikasi. Ini akan mengeraskan kulitmu dan membersihkan sumbatan meridianku. Dengan ini, aku bisa menembus ke Tingkat 5 malam ini juga."
Namun, Ye Xing melupakan satu hal.
Di Alam Bawah yang miskin energi spiritual, aroma obat semurni ini ibarat menyalakan suar di tengah kegelapan bagi makhluk buas.
KRESEK!
Suara ranting patah terdengar dari arah hutan gelap di belakang gubuk. Bukan langkah manusia. Langkah itu berat.
Ye Xing menajamkan telinganya. "Tamu tak diundang."
"Siapa? Zhao Hu lagi?" tanya Lin Xiao panik.
"Bukan. Sesuatu yang lebih lapar."
Tiba-tiba, dinding kayu gubuk itu hancur berantakan.
BROOOOK!
Seekor Babi Hutan Besi (Iron-Skinned Boar) setinggi pinggang orang dewasa menerobos masuk. Matanya merah menyala, taringnya sepanjang lengan, dan kulitnya hitam berkilau seperti logam.
Ini adalah Binatang Roh Tingkat 1 (Setara Qi Condensation Tingkat 5), tapi dengan pertahanan fisik yang kebal senjata biasa.
"Babi Hutan Besi!" jerit Lin Xiao, melompat ke atas tempat tidur reotnya. "Xing! Lari! Dia mau makan supnya!"
Babi itu menguik keras, air liurnya menetes saat melihat panci sup hijau itu. Dia tidak peduli pada manusia, dia hanya ingin energi di dalam panci.
Ye Xing berdiri di depan panci, menghalangi jalan babi itu. Dia tidak membawa senjata. Cangkulnya tertinggal di luar.
"Berani menyentuh panciku, akan kujadikan kau babi panggang," desis Ye Xing.
Babi itu meraung dan menyeruduk maju. Kecepatannya seperti bola meriam.
Ye Xing tahu dia tidak bisa menahan benturan itu dengan tubuh lemahnya. Dia juga tidak bisa menggunakan Qi untuk menyerang kulit besi itu.
Gunakan lingkungan.
Ye Xing menunggu sampai detik terakhir. Saat taring babi itu hampir menusuk perutnya, Ye Xing menendang kayu bakar yang menyala di perapian.
Wuss!
Abu panas dan bara api terbang tepat ke mata babi itu.
"Guiikkk!" Babi itu buta sesaat karena kaget dan sakit.
Ye Xing melompat ke samping, lalu dengan gerakan, dia melompat ke punggung babi itu.
"Lin Xiao! Ambil pisau!" teriak Ye Xing sambil memiting leher babi yang mengamuk itu. Babi itu melompat-lompat, menabrak dinding gubuk hingga gubuk itu hampir roboh menimpa mereka.
"Aku... aku takut!"
"Ambil pisaunya atau panci sup ini tumpah dan kita tetap jadi sampah selamanya!"
Mendengar kata "tetap jadi sampah", keberanian Lin Xiao muncul. Dia menyambar pisau karatan yang tadi dipakai memotong herbal.
"Tusuk di mana?!" teriak Lin Xiao.
"Di bawah telinga! Ada titik lunak putih! Itu titik matinya!" pandu Ye Xing sambil berusaha agar tidak terlempar.
Lin Xiao memejamkan mata, berteriak, dan menusukkan pisau itu sekuat tenaga ke titik yang disebut Ye Xing.
JLEB!
Pisau itu menembus daging lunak. Darah muncrat mengenai wajah Lin Xiao.
Babi itu kejang-kejang sebentar, lalu ambruk dengan dentuman keras. Mati.
Suasana hening, hanya terdengar napas memburu dua bocah itu di tengah reruntuhan gubuk.
Ye Xing turun dari bangkai babi itu, membersihkan bajunya. Dia menatap panci sup yang ajaibnya tidak tumpah sedikitpun (karena Ye Xing diam-diam menahannya dengan gravitasi).
Dia kemudian menatap bangkai babi besar itu dan tersenyum lebar.
"Lin Xiao," kata Ye Xing. "Ambil mangkuk."
"Untuk obatnya?"
"Bukan cuma obat," Ye Xing menepuk perut babi itu. "Malam ini menu kita bertambah. Sup Herbal Daging Babi Panggang. Nutrisinya naik sepuluh kali lipat."
Malam itu, di gubuk yang setengah hancur, Ye Xing dan Lin Xiao berpesta pora. Mereka meminum cairan obat yang pahit, lalu memakan daging babi bakar yang gurih.
Saat fajar menyingsing, tubuh Lin Xiao memancarkan cahaya merah. Dia menerobos ke Qi Condensation Tingkat 2. Kulitnya menjadi lebih keras.
Sementara Ye Xing duduk bersila di atap gubuk. Segel di dalam tubuhnya bergetar.
BOOM.
Aura Qi Condensation Tingkat 5 meledak dari tubuhnya.
Ye Xing membuka matanya. Matanya lebih jernih. Fisiknya tidak lagi ringkih.
"Langkah pertama selesai," gumam Ye Xing menatap matahari terbit. "Sekarang... aku butuh uang untuk memperbaiki gubuk ini sebelum hujan turun."