Di Aethelgard, mata ungu Varian dianggap dosa. Ia bertahan hidup di distrik kumuh hanya demi adiknya, Elara. Namun, malam "Pembersihan Suci" merenggut segalanya.
Saat Ksatria Suci membunuh Elara di depan matanya, kewarasan Varian hancur. Bukan cahaya yang menjawab doanya, melainkan kegelapan purba. Ini bukan kisah pahlawan penyelamat dunia, melainkan kelahiran sang Evil God.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arfian ray, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kudeta Darah dan Takhta Tulang
Markas Besar The Black Lotus tersembunyi di bawah perut kota, sebuah labirin batu dan bayangan yang dibangun di atas fondasi kerahasiaan. Obor-obor sihir biru yang biasanya memberikan penerangan suram kini terasa berkedip gelisah, seolah merasakan kedatangan predator yang lebih buas dari penghuni biasanya.
Varian melangkah masuk ke aula utama. Langkah kakinya berat, menggema di lantai granit.
Dia tidak datang dengan diam-diam seperti biasanya. Dia berjalan melewati gerbang utama yang penjaganya sudah tergeletak mati dengan leher patah. Di samping kanannya, berjalan sosok yang membuat para pembunuh bayaran veteran sekalipun menahan napas.
Agna.
Mantan Kapten Paladin itu kini mengenakan zirah hitam legam yang menyerap cahaya. Tidak ada lagi lambang matahari suci di dadanya; zirah itu telah dikorupsi oleh energi Void hingga berkarat dan bergerigi. Di balik celah helmnya, sepasang api ungu menyala redup menggantikan mata manusia. Dia menyeret pedang besarnya di lantai, menciptakan suara gesekan logam yang memilukan. Sreet... Sreet...
Kehadiran mereka berdua membawa aura kematian yang begitu pekat hingga suhu di aula besar itu turun drastis. Ratusan pembunuh yang sedang mengasah senjata, berlatih, atau menghitung koin emas berhenti serentak.
Varian tidak melapor ke loket misi. Dia tidak mencari papan tugas. Mata ungunya terkunci lurus ke ujung ruangan. Ke arah Singgasana Hitam yang terbuat dari batu obsidian, tempat Grandmaster Guild duduk—seorang pria misterius yang wajahnya selalu tertutup topeng Oni (setan) merah.
Namun, sebelum Varian bisa mendekat, dua sosok melompat dari balkon atas dan mendarat di hadapannya, menghalangi jalan.
Viper dan Master Shin.
"Void," sapa Viper. Suaranya dingin, namun ada getaran kemarahan yang tertahan di sana. Matanya yang tajam melirik Agna dengan penuh curiga. "Kau terlambat melapor. Dan kau membawa 'benda' ini masuk ke Sanctum? Membawa orang luar—terutama mayat hidup—adalah pelanggaran aturan nomor satu."
Master Shin, instruktur dengan tangan besi, melangkah maju. Otot-ototnya menegang. "Jelaskan dirimu, Bocah. Kenapa Kapten Paladin yang seharusnya melindungi Uskup ada di sini dalam keadaan seperti... ini?"
Varian berhenti. Dia menatap Viper, lalu beralih menatap Grandmaster yang duduk diam di singgasana jauh di sana.
"Aku keluar," ucap Varian datar.
Dua kata itu menggantung di udara, lebih berat dari vonis mati.
Keheningan melanda ruangan besar itu. Ratusan pasang mata menatap Varian tak percaya.
Viper tertawa kecil. Tawa itu tajam, menusuk seperti pecahan kaca. "Keluar? Kau pikir ini kedai minum, hah? Kau pikir kau bisa masuk sesuka hati, mengambil ilmu kami, lalu pergi begitu saja saat kau bosan?"
Master Shin mengangkat tangan besinya, mengarahkan jari telunjuk ke wajah Varian. "Aturan Black Lotus adalah mutlak: Blood In, Blood Out. Kau masuk dengan darah, kau keluar hanya sebagai mayat. Tidak ada pensiun di sini."
Varian memiringkan kepalanya sedikit, seolah sedang memikirkan teka-teki yang membosankan.
"Begitu ya?" gumam Varian. Senyum tipis yang mengerikan terukir di wajahnya. "Kalau begitu, aku pilih opsi kedua."
Mata Varian berkilat ungu.
"Bunuh mereka semua, Agna."
Perintah itu turun dengan nada bosan, seringan memesan makanan.
Agna tidak berteriak. Dia tidak mengambil kuda-kuda. Dia bergerak seperti kilat hitam yang menyambar dari neraka. Tubuh mayat hidupnya tidak dibatasi oleh rasa sakit atau kelelahan otot, memungkinkannya bergerak dengan kecepatan yang menghancurkan tulang.
Pedang besarnya menebas horizontal.
SPLAT!
Master Shin, instruktur veteran yang telah melatih ratusan pembunuh, bahkan tidak sempat mengaktifkan tangan besinya untuk menangkis. Matanya baru saja menangkap gerakan bayangan, tapi tubuhnya sudah terpisah.
Dia terbelah dua dari pinggang.
Potongan tubuh atasnya jatuh ke lantai dengan bunyi gedebuk basah, diikuti oleh tumpahan usus dan darah segar yang membanjiri lantai marmer yang bersih.
"APA?!" Viper terbelalak. Dia melompat mundur dengan refleks murni. "Kecepatannya... itu bukan kecepatan manusia!"
Darah muncrat ke wajah Viper. Dia menatap potongan tubuh rekannya dengan horor. Shin adalah salah satu petarung fisik terkuat di guild, dan dia mati dalam satu detik?
"SERANG! BUNUH PENGKHIANAT ITU!" teriak Viper histeris. Dia melemparkan lusinan pisau beracun ke arah Varian sambil melompat mencari perlindungan di balik pilar.
Ratusan pembunuh di aula itu tersentak sadar. Teriakan perang menggema. Mereka serentak mencabut senjata mereka—pedang, belati, panah. Mereka menyerbu Varian seperti gelombang pasang hitam.
"Bocah sombong! Matilah!"
Varian tidak bergerak dari posisinya. Dia membiarkan Agna menangkis pisau-pisau Viper dengan tubuh zirahnya yang keras (Ting! Ting! Ting!).
Varian mengangkat tangan kanannya. Mata Iblis Malakar di balik kelopak matanya bersinar terang, menembus perban.
"Mass Necromancy: Rise (Bangkitlah)."
Energi Void meledak dari tubuh Varian, menyapu lantai aula seperti kabut ungu.
Sebelum mayat Master Shin menyentuh lantai sepenuhnya, sebelum darahnya berhenti mengalir, sesuatu terjadi.
Tangan besi Master Shin bergerak.
Tubuh bagian atasnya yang terpotong tiba-tiba melayang, didorong oleh sihir levitasi gelap. Matanya yang tadinya kosong kini menyala ungu.
KRAK!
Tangan besi itu mencengkeram kaki seorang pembunuh yang berlari melewatinya.
"Argh! Master Shin?! Apa yang kau lakukan?! Lepaskan!"
Master Shin—atau apa yang tersisa darinya—tidak menjawab. Dia meremas kaki muridnya itu hingga tulangnya remuk menjadi bubuk.
Kekacauan pecah.
Varian mencabut pedang hitamnya. Dia tidak lagi menggunakan teknik sembunyi-sembunyi. Dia berjalan santai di tengah medan perang, memenggal siapa saja yang mendekat. Setiap orang yang dia bunuh, detik itu juga bangkit kembali sebagai mayat hidup.
"Bangun dan layani aku," bisik Varian setiap kali pedangnya memutus nyawa.
Dalam hitungan menit, aula itu berubah menjadi neraka. Para pembunuh yang masih hidup harus melawan mantan teman mereka yang baru saja mati. Mayat-mayat dengan mata ungu menyerang tanpa rasa takut, menggigit, mencakar, dan menusuk.
"Menjijikkan!" teriak Viper.
Wanita itu muncul dari bayangan di langit-langit, menukik turun tepat di belakang Varian. Karambitnya mengarah ke celah leher armor Varian. Ini adalah serangan pembunuhan sempurna.
TANG!
Serangan Viper tertahan. Bukan oleh Varian, tapi oleh pedang besar Agna yang bergerak melindungi tuannya secara otomatis.
Viper mendarat di tanah, berhadapan dengan Agna. Dia menatap "wajah" di balik helm Agna. Wajah pucat dengan jahitan kasar di leher.
"K-Kau... Ksatria Suci Agatha?" Viper mengenali wajah itu dari poster buronan kerajaan. Napasnya tercekat. "Void... apa yang kau lakukan pada pahlawan cahaya ini?!"
"Aku melakukan 'rekrutmen'," jawab Varian santai tanpa menoleh.
Varian menolehkan telapak tangannya ke arah Viper. Dia tidak butuh mantra panjang.
Blast.
Sebuah bola energi Void seukuran kepalan tangan ditembakkan dari jarak dekat.
BLAM!
Dada Viper berlubang besar. Wanita itu terlempar ke belakang, menabrak pilar batu hingga retak. Dia merosot jatuh, darah menggenang di sekitar dadanya yang hancur. Matanya melotot tak percaya, nyawanya melayang seketika.
Di ujung ruangan, Grandmaster akhirnya bangkit dari singgasananya. Aura membunuh yang sangat kuat memancar darinya, membuat udara bergetar. Dia adalah pembunuh tingkat legendaris, setara dengan seorang Jenderal Kerajaan.
"Kau bocah sombong..." geram Grandmaster, suaranya berat dan terdistorsi oleh topengnya. Dia mencabut dua pedang katana panjang dari punggungnya. "Kau pikir bisa menghancurkan warisan ratusan tahun ini sendirian hanya dengan trik mayat hidup murahan?"
Varian berhenti membunuh. Dia berdiri di tengah lautan darah. Dia tersenyum miring, lalu menunjuk ke sekeliling.
Aula itu kini sunyi kembali. Ratusan pembunuh telah mati. Tidak ada lagi teriakan.
Tapi ruangan itu tidak kosong. Ratusan mayat hidup kini berdiri tegak, berbaris rapi membentuk koridor menuju singgasana. Mereka semua menatap Grandmaster dengan mata ungu yang seragam.
Di kaki Varian, mayat Viper bergerak. Tulang-tulangnya berbunyi krek. Dia bangkit berdiri, lubang di dadanya masih menganga memperlihatkan tulang rusuk yang patah, tapi dia membungkuk hormat pada Varian.
"Sendirian?" tanya Varian, suaranya menggema di aula sunyi itu. "Aku punya banyak teman."
Varian menjentikkan jari.
"Habisi dia."
Varian dan Agna, diikuti oleh Viper (Undead), Master Shin (Undead), serta ratusan pasukan bayangan, berjalan mendekati Grandmaster.
Pertarungan terakhir itu brutal namun singkat. Grandmaster memang kuat; dia memotong puluhan mayat hidup dengan kecepatan tinggi. Tapi dia tidak bisa melawan pasukan yang tidak bisa mati. Setiap kali dia menebas, mereka bangkit lagi. Stamina Grandmaster habis.
Akhirnya, pedang Agna menembus perut Grandmaster, memaku tubuhnya ke singgasananya sendiri.
Varian menaiki tangga singgasana. Dia berdiri di hadapan pemimpin guild yang sekarat itu.
"Zamanmu sudah habis, Pak Tua," kata Varian.
Slash.
Kepala Grandmaster menggelinding di lantai.
Varian berbalik. Dia duduk di Singgasana Hitam itu. Darah menetes dari armornya, tapi dia merasa nyaman.
Dia menatap pasukannya.
Mereka bukan lagi pembunuh bayaran yang bekerja demi uang. Mereka adalah Shadow Legion (Legiun Bayangan). Mereka tidak butuh makan, tidak butuh tidur, dan tidak punya rasa takut.
Di sisi kanan Varian berdiri Agna (Jenderal Perang).
Di sisi kiri Varian berdiri Viper (Kepala Intelijen & Mata-mata Undead).
Di bawah tangga singgasana berdiri Master Shin (Instruktur Pasukan) dan mantan Grandmaster (yang baru saja bangkit sebagai Pengawal Pribadi Elit).
Varian telah menyatukan dua kekuatan paling mematikan: Keahlian membunuh Assassin dan ketangguhan Undead.
"Langkah satu: Selesai," gumam Varian, suaranya bergema di ruangan besar itu. "Sekarang, kita butuh target yang lebih besar
aku jugak penasaran apa rencana Varian selanjutnya ya🤔