NovelToon NovelToon
Pernikahan Panas Sang Aktor

Pernikahan Panas Sang Aktor

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Pernikahan Kilat / CEO / Pengantin Pengganti Konglomerat / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa
Popularitas:875
Nilai: 5
Nama Author: MissKay

Brian Aditama tidak pernah percaya pada komitmen, apalagi pernikahan. Baginya, janji suci di depan penghulu hanyalah omong kosong yang membuang waktu. Sebagai aktor papan atas sekaligus pewaris kedua Imperium Aditama Group, dunia ada di bawah genggamannya sampai sebuah serangan jantung merenggut nyawa kakaknya secara mendadak.

Kini, Brian terjebak dalam wasiat yang gila. Ia dipaksa menikahi Arumi Safa, janda kakaknya sendiri. Wanita itu adalah satu-satunya orang yang tidak pernah gemetar melihat tatapan tajam Brian, dan kenyataan bahwa yang ia benci adalah kutukan terbesar dalam hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissKay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dikhianati

Pagi itu, kebisingan dari lantai bawah memaksa Arumi terjaga. Brian masih terlelap, lengannya melingkar erat di pinggang Arumi.

​"Brian, bangun! Kau tidak dengar? Ada suara ribut di bawah," bisik Arumi panik.

​"Kak Brian... Kak Brian! Please, tolong aku!" Teriakan samar itu terdengar berkali-kali, membuat Brian tersentak dan membuka mata lebar. Tanpa sepatah kata, ia menyambar piyama panjangnya dan berlari keluar kamar, mengabaikan Arumi yang masih termangu.

​Arumi bergegas memakai piyamanya dan menyusul menuruni tangga. Di ruang bawah, Brian berdiri mematung dengan amarah yang meluap. "Apa yang kalian lakukan?!" teriaknya menggelegar.

​"Nona Muda tertembak, Tuan!" sahut Bibi Astrid gemetar.

​Brian segera menghampiri Dona yang terkulai dengan bahu bersimbah darah. Amarahnya memuncak, ia bangkit dan melayangkan pukulan keras ke arah pengawal di dekatnya.

 "Dasar bodoh! Aku membayar mu untuk menjaga kami, bukan membiarkan ini terjadi!"

​"Brian, cukup! Hentikan!" Arumi memeluk tubuh Brian dari belakang, mencoba menenangkan pria itu. "Selamatkan dulu Dona," tangisnya pecah.

​Brian menarik napas tajam, mencoba menguasai diri. "Bibi Astrid, panggil Dokter Juan sekarang juga!"

Lima belas menit kemudian

Dokter Juan bekerja dengan cepat di dalam kamar tamu bawah yang disulap menjadi ruang darurat sementara. Brian terus mondar-mandir di depan pintu dengan raut wajah dingin, sementara Arumi duduk terisak di sofa, sesekali mengusap air matanya.

​Beberapa saat kemudian, pintu terbuka. Dokter Juan keluar sambil melepas sarung tangannya yang bernoda darah.

​"Bagaimana?" desis Brian tajam.

​"Beruntung pelurunya tidak mengenai tulang atau pembuluh darah besar, Tuan Brian. Luka tembaknya tembus di bagian bahu luar. Saya sudah menjahitnya dan memberinya antibiotik dosis tinggi. Dia sedang istirahat karena pengaruh obat bius," jelas Dokter Juan tenang.

​Brian mengembuskan napas panjang yang terasa sangat berat. "Terima kasih, Dokter Juan. Pastikan dia mendapat perawatan terbaik."

Setelah Dokter Juan berpamitan untuk mencuci tangan, mata Brian yang tajam langsung tertuju pada Bibi Astrid yang berdiri gemetar di sudut ruangan. Arumi bangkit dan mendekat, mencoba menenangkan suasana.

​"Bibi Astrid," panggil Brian dengan suara rendah namun mengancam. "Jelaskan. Sekarang. Bagaimana bisa ada penyusup masuk dan menembak Dona di dalam rumahku sendiri?"

​Bibi Astrid menunduk dalam, tangannya saling meremas. "Tadi... tadi pagi Nona Dona memaksa ikut keluar menyiram bunga di taman belakang, Tuan. Tiba-tiba ada suara motor berhenti di balik pagar tinggi. Sebelum kami sadar apa yang terjadi, sebuah tembakan terdengar dari celah pagar. Nona Dona langsung ambruk."

​"Lalu di mana para pengawal?!" bentak Brian hingga Bibi Astrid tersentak.

​"Mereka... mereka sedang berjaga di gerbang depan karena ada kurir yang datang membawa paket besar yang mencurigakan. Sepertinya itu pengalihan untuk kami, Tuan," suara Bibi Astrid nyaris hilang karena takut.

Brian mengepalkan tinjunya hingga buku-buku jarinya memutih. "Pengalihan? Dan mereka masuk ke jebakan semudah itu? Benar-benar tidak berguna!"

​Arumi menyentuh lengan Brian dengan lembut. "Brian, tenangkan dirimu. Yang penting Dona sudah ditangani. Jika kau marah-marah sekarang, kita tidak akan bisa berpikir jernih tentang siapa pelakunya."

​Brian menatap Arumi, lalu beralih ke arah taman belakang melalui jendela besar. "Ini bukan sekadar kecelakaan, Arumi. Ini pesan. Seseorang ingin menunjukkan bahwa mereka bisa melukai keluargaku kapan saja mereka mau."

Hari itu, Hendra dan Frans masih berada di kantor saat kabar buruk itu sampai ke telinga mereka. Sebagai tangan kanan keluarga Aditama, Hendra langsung bergegas menuju lokasi, diikuti Frans yang raut wajahnya dipenuhi kecemasan luar biasa terhadap Dona.

​Di dalam kamar, Brian berdiri mematung di samping ranjang Dona. Ia menyilangkan tangan di dada dengan tatapan yang tampak dingin dan tak tersentuh. Sementara itu, Arumi duduk diam di sofa, setia menemani suaminya dalam keheningan yang mencekam.

​Setelah mendapat izin dari Brian, Hendra dan Frans melangkah masuk ke kamar Nona Muda mereka. Frans yang melihat Dona terbaring dengan wajah pucat sebenarnya ingin mendekat, namun niat itu langsung diurungkannya saat merasakan aura Brian yang begitu mengintimidasi.

​"Aku tak habis pikir, sebenarnya apa yang mereka inginkan," ucap Brian dengan suara pelan, nyaris berbisik namun penuh penekanan.

​Ia mengalihkan pandangan sejenak, lalu melanjutkan, "Tante Widia jangan sampai tahu kalau Dona tertembak. Dia sedang di Dubai untuk peresmian hotel Aditama. Jangan ada yang membocorkannya."

​Hendra berdeham pelan, mencoba memecah ketegangan. Ia menatap Arumi sekilas sebelum kembali menatap sang tuan mudanya. "Tuan, bisakah kita bicara di luar? Ada sesuatu yang ingin kami bicarakan dengan Anda dan juga Nyonya Muda secara serius."

​Brian melirik Arumi yang tampak bingung. Pria itu kemudian mengulurkan telapak tangannya, menunggu sang istri menyambutnya.

​"Ikut aku, Sayang. Biar Bibi Astrid yang menjaga Dona di sini," ucap Brian lembut, sangat kontras dengan suaranya beberapa saat lalu.

Langkah kaki mereka bergema pelan saat memasuki ruang kerja Brian yang megah namun terasa dingin. Hendra bergerak maju, merogoh saku jasnya dengan gerakan hati-hati. Ia mengeluarkan sebuah plastik klip kecil yang berisi secarik kain dengan serat benang tipis sebuah bukti yang ia amankan secara diam-diam dari tempat kejadian perkara saat Siska terbunuh dari Frans.

​"Nona Arumi, apa Anda mengenali kain ini?" tanya Hendra, suaranya lembut namun penuh selidik.

​Arumi menerima bungkusan plastik itu. Ia memicingkan mata, memperhatikan tekstur kain di bawah pendar lampu ruangan yang temaram. Hanya butuh beberapa detik sampai matanya membelalak.

​"Ini... ini milik Leo," ucapnya tanpa keraguan sedikit pun.

​Mendengar pengakuan itu, Hendra menarik sudut bibirnya, membentuk senyum tipis yang penuh kemenangan. Ia menoleh ke arah Frans, yang dibalas dengan anggukan mantap. Di sisi lain, Brian hanya terdiam. Alisnya bertaut tajam, memperhatikan interaksi antara istri dan asistennya itu dengan raut wajah yang semakin mengeras.

​"Sepupu Andalah yang telah menghabisi Tuan Adrian dan Siska, Nona," ungkap Hendra dengan nada yang dingin sedingin es.

​Kalimat itu bagaikan hantaman godam yang menghujam dada Arumi. Kepalanya tiba-tiba terasa berdenyut hebat, pandangannya mengabur tertutup rasa pening yang luar biasa. Ia refleks mencengkeram kepalanya, tubuhnya goyah.

​"Sayang!" Dengan sigap, Brian memeluk tubuh Arumi, mendekapnya erat ke dalam pelukannya yang hangat. Matanya menatap tajam ke arah Hendra, menuntut penjelasan lebih lanjut.

​"Kami menemukan saksi mata yang melihat Tuan Adrian pergi bersama Leo di malam terakhirnya," lanjut Hendra, mengabaikan ketegangan yang kian memuncak.

​"Tapi itu tidak mungkin... Leo tidak ada di Jakarta saat itu," bantah Arumi dengan suara parau yang nyaris habis. Ia masih mencoba mencari pembenaran untuk keluarganya sendiri.

​Hendra menggeleng pelan, seolah kasihan melihat pembelaan Arumi. "Tuan Leo tidak pernah pergi ke mana pun malam itu. Dia datang bersama bos kartel itu dengan penyamaran yang sempurna, memakai kulit wajah palsu. Dengan tangan dingin, dia memasukkan sianida ke dalam minuman Tuan Adrian dan..."

​"Cukup!" Brian memotong dengan suara yang menggelegar, namun penuh proteksi. Ia merasakan tubuh Arumi gemetar hebat dalam dekapannya. "Hentikan sampai di sini saja."

​Suasana mendadak hening. Brian menghela napas panjang, mencoba meredam amarah yang mulai membakar dadanya. Ia memberikan kode lewat tatapan mata kepada kedua tangan kanannya itu.

​"Kalian boleh pergi. Istirahatlah," perintah Brian final.

​Hendra dan Frans membungkuk hormat secara bersamaan, lalu melangkah keluar, meninggalkan Brian yang kini sibuk menenangkan istrinya di tengah badai kenyataan yang baru saja terungkap.

1
Miss Kay
Hi, reader ku tercinta. Terima kasih sudah mengikuti, membaca, dan menyukai cerita ini. Dukung terus cerita ini ya, agar aku semangat update. Berikan like, masukkan ke perpustakaan kalian, dan jangan lupa vote nya. 🤭🙏😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!