Ketika luka fisik ditutup oleh foundation.
Elizabeth Taylor menikah dengan Luis Holloway demi keluarganya, tanpa tahu bahwa pernikahan itu adalah awal dari neraka. Ketika kebenaran tentang suaminya terungkap, Elizabeth meminta bantuan Nathaniel Vale untuk lepas dari jerat Luis—tanpa menyadari bahwa pria itu juga menyimpan dendam yang sama berbahayanya, yang seharusnya dijauhi malah berakhir di ranjang panas dan perjanjian yang adil namun menusuk.
°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon dukungannya ✧◝(⁰▿⁰)◜✧
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EV — BAB 03
TUNDUK ATAU TAKUT PADA LUIS?
Elizabeth terdiam di atas kasur saat dia mulai berbaring miring dengan tatapan kosong, suara tembakan yang tak cuman satu kali saja, melainkan 4 kali tembakan yang Luis berikan kepada pelayan malang itu.
-‘Itu sebabnya... Semua orang menyesuaikan diri pada Luis.’ batin Elizabeth yang memang wanita cerdas yang selalu suka mengamati detail di sekitarnya meski dia tak pandai berbicara lantang karena memang sejak kecil dia tak diajarkan berbicara lantang dan akan selalu sopan, patuh dan menahan kehormatan serta martabat.
...***...
Di ruang pribadi Esperance yang hening, Soraya, Esperance dan seorang pria paruh baya bernama Rodrigo Palacio yang merupakan kakak dari Esperance, ketiganya berdiam diri usai ketegangan semalam yang hampir membuat Soraya dan Esperance hampir mati.
“Apa dia lepas kendali lagi?” tanya Rodrigo yang akhirnya membuka keheningan.
“Ya. Seorang pelayan ceroboh yang menjatuhkan sendok. Dia hampir saja membuat kami di ambang kematian.” Kata Soraya yang begitu berdebar malam tadi.
“Tapi syukurlah pelayan itu tidak bersembunyi ataupun kabur, jika tidak, Luis akan melampiaskan kepada kami.” Lanjut Esperance yang nampak menopang kepalanya yang pusing.
Ya, mereka di mansion Holloway sudah tahu bagaimana Luis dan mentalnya yang rusak itu membuat mereka diambang Kematian setiap kali pria itu lepas kendali dan marah.
“Bagaimana dengan wanita itu? Aku dengar dia akan tinggal di sini.” Ujar Rodrigo yang kini meneguk segelas beer.
Mendengar itu, Soraya dan Esperance menatap ke arah pria itu dengan datar dan serius.
“Tentu saja dia harus datang. Dengan adanya Elizabeth Taylor, Luis bisa melampiaskan amarahnya kepada wanita itu. Atau kita yang akan mati.” Jelas Esperance tak punya hati akan ucapannya yang dengan sengaja menjadikan Elizabeth sebagai tumbalnya.
Soraya menggeleng dan bangkit dari duduknya. “Aku ingin bersantai, dan semoga saja mental Luis segera pulih.” Ucapnya yang akhirnya pergi dari ruangan tersebut.
Esperance menatap Rodrigo yang kini mereka saling beradu pandang usai mendengar ucapan Soraya. “Mentalnya tidak akan bisa sembuh, itu yang dikatakan oleh terapis dan dokter.”
“Itu artinya... Kita harus bertahan di sini bersama Luis.” Kata Rodrigo yang akhirnya beranjak dari duduknya dan melenggang pergi sembari mengancingkan jas hitamnya.
Wanita tua itu memejamkan mata dan menarik napas dalam-dalam. Sungguh, kematian pelayan semalam benar-benar membuatnya shock. Meski tak satu atau dua kali Luis melakukan itu, tetap saja dia tam ada harapan untuk menyembuhkan mental putranya itu.
“Akkkhhh....”
Suara teriakan yang lantang karena kesakitan yang dia terima membuat Elizabeth terbangun dari tidurnya yang berat. Ketika keringat dingin bercucuran di keningnya dan wajah cantiknya, ia menoleh ke arah jendela yang masih tertutup gorden. Mengingat bagaimana semalam pemandangan yang diluar perkiraannya.
“Kau sudah bangun. Aku pikir kau pingsan karena sesuatu!” kata Luis begitu dingin dan mengejutkan Eliza.
Wanita itu segera menoleh ke arah suaminya. Pria tampan, bertubuh kekar yang berbalut kemeja putih serta vest abu-abu. Tatapan matanya lembut namun senyumannya seperti setan penuh ancaman.
“I-iya...” Eliza segera bangkit dari ranjang saat dia benar-benar terlambat bangun.
Pria itu mendekatinya dan menyentuh kedua lengan Eliza sembari membelai wajah wanita itu yang nampak sedikit menegang mengingat perilaku suaminya. “Tidak apa, istirahatlah jika kau mau. Kau memang butuh istirahat, aku tidak ingin kau lemah!” ucapnya yang semakin membuat Eliza tak berhenti menatapnya lekat.
Luis mencium bibir Eliza cukup dalam dan perlahan mulai agresif hingga dia hendak mencicipi leher wanita itu sampai Eliza mendorongnya pelan. “Jangan lakukan itu, aku masih kotor. Dan...” Eliza terhenti saat Luis menatapnya lekat.
“And what? (dan apa)?”
Ia memberanikan diri menatap suaminya. Tentu, Luis juga menatapnya dan masih menyentuh kedua lengan Eliza.
“Aku melihat sesuatu semalam.”
Pria itu benar-benar menatapnya dalam seolah mengorek sesuatu di dalam sana.
“Kenapa kau membunuh nya?” tanya Eliza tanpa terbata karena dia tak suka akan kekerasan. Di mansion nya tak ada kekerasan seperti itu.
“Karena aku benci kesalahan.” Jawab Luis cukup jujur dan singkat.
“Menjatuhkan sendok tanpa sengaja bukanlah kesalahan.”
Seketika cengkraman kedua tangan Luis terasa kuat di lengan Eliza yang saat itu menegang namun ia tak meringis kesakitan dan hanya menatap lekat suaminya sembari menahan sakit di kedua lengannya.
“Aku tidak suka kau banyak bicara. Aku lebih suka istriku pendiam. Karena itu bisa menyelematkan mu.” Kata Luis yang sudah cukup jelas bagi Eliza. Suaranya begitu lembut dan tegas.
Pria itu mencium kening Eliza seperti semalam, lalu melangkah ke arah pintu dan hampir membuat Elizabeth terhuyung ke belakang.
“Aku menunggu mu di bawah, dan aku tidak suka terlambat 1 detik, tolong mengertilah.” Kata Luis yang hanya menoleh ke kiri sebelum akhirnya dia pergi.
Dan saat itulah, Eliza langsung bernapas besar hingga meringis merasakan rasa sakit di kedua lengannya yang nampak memerah akibat cengkraman Luis.
Seperti yang dikatakan Luis, dia tak akan membuang waktu karena pelayan juga membantunya bersiap. Ketika Elizabeth turun, di sanalah dia melihat keberadaan suaminya yang tengah berdiri membelakanginya bersama seorang pria yang tak kalah rapinya dari Luis. Panggil saja dia, Greg (29)! Asisten Luis Holloway yang masih muda namun memiliki ketegasan dan cekatan.
Sementara dari atas, Soraya dan Esperance memperhatikan keadaan di bawah sana.
“Wanita itu sangat cantik. Dia terlihat anggun dan tidak banyak bicara.” Kata Soraya.
“Terlalu polos untuk seorang Luis Holloway. Kecantikannya itu akan pudar saat dia hancur di tangan suaminya.” Ujar Esperance tanpa senyuman hanya ada keegoisan di wajahnya.
Soraya masih mengamatinya dan berkernyit kening.
“Kau tidak menemui putrimu? Bukankah jam segini pria itu sibuk.” Kata Esperance menatap sekilas ke arlojinya.
“Hari ini dia tidak pergi, dia mulai tahu kalau aku sering menemui, Kim.” Ujar Soraya dengan tatapan sendu saat dia harus berpisah dengan putrinya yang dibawa oleh mantan suaminya.
Namun semua itu adalah alasan tersembunyi yang membantu mantan suaminya itu menjauhkan putri mereka dari ibunya.
“Dia lebih baik mati daripada menjadi ayah dan terus menjauhkan mu dari Kim.” Kata Esperance sedikit kesal dan pergi meninggalkan Soraya yang masih dalam dilema dan juga dalam kekesalannya sendiri.
Elizabeth, wanita bermata cokelat itu menatap Luis yang mulai berjalan ke arah mobil.
“Kita akan pergi ke mana? Apa melakukan amal?” tanya Elizabeth.
Luis menyeringai kecil. “No. Amal hanya dilakukan oleh wanita seperti mu, tapi ada pesta yang sedang menunggu kita! Aku harap kau tidak keberatan!” ucap Luis yang berbalik mengulurkan tangannya yang diraih oleh Eliza hingga dia mencium punggung tangan istrinya sebelum akhirnya menuntun Eliza masuk.
Tentu saja wanita itu sedikit terheran dan penuh pertanyaan dalam benaknya. Melihat bagaimana suaminya bersikap lembut dan akan marah bila ada yang melewati batasannya.
Luis hanya menoleh sembari menyeringai 2 detik saat melihat istrinya terdiam penuh tanya.
its too little to late Dude..
di rela menjadi samsak asal tubuhnya tdk dijamah 👏👏👏 attagirl