"Dia mencintaiku sampai mati, tapi justru membunuhku perlahan setiap hari."
Di balik kemewahan gaun sutra dan rumah bak istana, Yati hanyalah seorang tawanan yang jiwanya diremukkan oleh suaminya sendiri, Stevanus. Bagi dunia, Stevanus adalah pahlawan; bagi Yati, dia adalah iblis berwajah malaikat.
Puncak pengkhianatan terjadi saat Stevanus membuangnya dalam keadaan hancur demi kekuasaan dan wanita lain. Mereka mengira Yati sudah tidak berdaya dan terkubur bersama rahasia gelap mereka.
Namun, rasa sakit tidak mematikan Yati—ia justru melahirkan sosok baru yang kuat dan tangguh. Kini Yati kembali dengan identitas berbeda, menyusup ke jantung kehidupan Stevanus untuk merebut kembali hidup dan harga dirinya.
Ini adalah kisah tentang perjuangan Yati membuktikan bahwa dari kehancuran, ia bisa bangkit lebih kuat.
Bersiaplah, karena kisah ini akan membawamu pada perjalanan emosional yang penuh liku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: PERMAINAN DI UJUNG TANDUK
Gedoran di pintu apartemenku terdengar seperti dentuman palu hakim yang siap menjatuhkan vonis mati. Suara Maya yang melengking di luar sana merobek kesunyian malam, memanggil nama yang sudah kukubur dalam-dalam di dasar tangga rumah itu.
"Keluar kau, Yati! Aku tahu itu kau! Jangan sembunyi di balik wajah oplasmu itu!"
Aris bergerak cepat, tangannya meraba senjata di balik jasnya, namun aku menahan lengannya. Napasku memburu, keringat dingin mulai membasahi pelipisku. Di dalam perutku, aku merasakan denyutan halus—mungkin bayiku juga sedang ketakutan.
"Jangan, Aris. Jika kau menghadapinya sekarang, itu hanya akan membuktikan tuduhannya," bisikku dengan suara bergetar namun tegas. "Biar aku yang menanganinya. Kau lewat pintu belakang, pastikan detektif yang membawa sampel darah itu tidak pernah sampai ke laboratorium."
Aris menatapku ragu, namun dia melihat api di mataku yang tidak bisa dipadamkan. Dia mengangguk singkat dan menghilang ke kegelapan balkon.
Aku menarik napas panjang, merapikan rambut pendekku, dan mengenakan jubah tidur sutra yang mewah. Aku sengaja membiarkan wajahku terlihat mengantuk dan kesal. Dengan gerakan perlahan, aku membuka pintu.
"Apa-apaan ini? Nona Maya, apakah kegilaan Anda sudah mencapai puncaknya?" suaraku datar, dingin, dan penuh penghinaan.
Maya berdiri di sana dengan nafas tersengal. Rambutnya berantakan, matanya merah menunjukkan obsesi yang gelap. Di belakangnya berdiri dua pria berbadan besar yang tampak seperti preman sewaan.
"Jangan berakting lagi, Yati! Aku sudah tahu! Tidak mungkin ada wanita asing yang tiba-tiba datang dan tahu semua detail perusahaan Stevanus jika dia bukan hantu dari masa lalu!" Maya mencoba menerobos masuk, namun aku menghalangi jalannya.
Aku tertawa kecil, suara tawa yang mengejek. "Yati? Siapa itu? Oh, istri Tuan Stevanus yang malang itu? Nona Maya, sepertinya rasa bersalah Anda karena telah berselingkuh dengan suami sahabat sendiri mulai membuat Anda berhalusinasi."
Plaakk!
Maya mencoba menamparku, tapi aku menangkap pergelangan tangannya di udara. Kekuatanku kini bukan lagi kekuatan Yati yang lemah. Ini adalah kekuatan seorang wanita yang sudah melewati neraka. Aku mencengkeram tangannya hingga dia meringis.
"Dengar baik-baik, Sekretaris," bisikku tepat di telinganya, suaraku berubah menjadi desisan yang mematikan. "Jika Anda sekali lagi mengganggu waktu istirahat saya dengan drama murah ini, saya akan pastikan Stevanus memecat Anda besok pagi. Dan mengenai 'sampel darah' yang Anda banggakan... apakah Anda yakin detektif Anda masih memegangnya?"
Wajah Maya berubah pucat. "Apa maksudmu?"
Aku melepaskan tangannya dengan kasar. "Saya punya pengacara di tiga benua, Nona Maya. Bermain-main dengan privasi saya adalah tiket satu arah menuju penjara. Sekarang, pergi dari sini sebelum saya memanggil keamanan gedung."
Maya menatapku dengan kebencian yang murni, namun ada keraguan di matanya. Dia tidak punya bukti fisik sekarang. Dia hanya punya insting. "Ini belum berakhir, Widya. Atau siapa pun kau. Aku akan membuktikan bahwa kau adalah bangkai yang berjalan!"
Dia berbalik dan pergi bersama anak buahnya. Begitu pintu tertutup, aku luruh ke lantai. Seluruh tubuhku gemetar hebat hingga aku harus memeluk lututku sendiri. Aku mual, ingin muntah, tapi yang keluar hanyalah isak tangis yang tertahan.
Hampir saja. Sedikit lagi, dan semuanya berakhir.
Keesokan paginya, aku tidak membuang waktu. Aku datang ke kantor Stevanus lebih awal dari biasanya. Aku mengenakan gaun formal berwarna biru navy yang menunjukkan otoritas. Di dalam tasku, tersimpan dokumen agunan yang sudah disiapkan Aris dokumen yang akan menjadi tali gantungan bagi Stevanus.
Stevanus menyambutku dengan cemas. Berita tentang kegaduhan Maya di apartemenku semalam rupanya sudah sampai ke telinganya.
"Widya, aku minta maaf atas kelakuan Maya. Dia... dia belakangan ini agak tidak stabil," ucap Stevanus sambil mencoba memegang bahuku.
Aku menghindar dengan halus, memasang wajah terluka. "Tuan Stevanus, saya tidak bisa bekerja sama dengan orang yang membiarkan orang terdekatnya mengancam keselamatan saya. Konsorsium saya sangat menjunjung tinggi profesionalisme. Tindakan Nona Maya semalam hampir membuat saya membatalkan investasi ini."
"Jangan! Tolong jangan lakukan itu," Stevanus memohon, matanya menunjukkan ketakutan akan kebangkrutan yang mengintai. "Aku akan melakukan apa saja untuk menebusnya."
"Tanda tangani ini sekarang," aku meletakkan dokumen agunan itu di atas mejanya. "Termasuk surat penyerahan kuasa atas tanah di desa itu sebagai jaminan tambahan. Jika tidak, saya akan keluar dari ruangan ini dan Anda tidak akan pernah melihat dana sepeser pun."
Stevanus melihat dokumen itu. Itu adalah pertaruhan terakhirnya. Jika dia menandatanganinya, seluruh hartanya menjadi taruhan. Namun keserakahannya untuk mendapatkan dana 500 miliar dari konsorsiumku menutup logikanya.
"Baiklah. Demi masa depan kita," ucapnya. Dia mengambil pena dan menorehkan tanda tangannya di atas materai.
Saat tinta itu mengering di atas kertas, aku merasa seolah-olah beban berat yang menghimpit dadaku selama berbulan-bulan terangkat. Di atas kertas itu, secara hukum, Stevanus baru saja menyerahkan nyawanya padaku.
"Terima kasih, Stev. Anda baru saja mengambil keputusan terbaik... untuk saya," ucapku dengan senyum yang kali ini benar-benar tulus. Tulus karena aku tahu kehancurannya sudah dimulai.
Sore harinya, aku bertemu Aris di sebuah taman tersembunyi. Aris memberikan sebuah tabung kecil padaku.
"Detektif itu mengalami 'kecelakaan' kecil. Sampel darahmu sudah hancur. Maya tidak akan mendapatkan hasil DNA apa pun," Aris melapor dengan tenang.
"Bagus. Tapi kita punya masalah baru, Aris," aku mengusap perutku yang terasa sedikit kencang. "Stevanus memintaku pindah ke rumahnya besok. Dia ingin 'merayakan' kerja sama ini."
Aris mengerutkan kening. "Itu terlalu berbahaya, Widya. Bagaimana dengan bayimu? Bagaimana jika dia melakukan kekerasan lagi?"
Aku menatap langit yang mulai jingga. "Aku harus kembali ke sana. Ke rumah tempat dia membunuh anakku. Aku akan menghancurkannya dari dalam. Dan mengenai bayi ini... dia adalah kekuatanku. Dia akan menyaksikan bagaimana ibunya menghancurkan iblis yang membuangnya."
Saat aku kembali ke apartemen untuk berkemas, aku menemukan sebuah kotak hitam di depan pintuku. Tanpa nama pengirim. Di dalamnya terdapat sebuah foto lama: foto pernikahanku dengan Stevanus yang sudah dicoret-coret dengan tinta merah darah. Di balik foto itu tertulis: "Aku tahu kau belum mati, Yati. Sampai jumpa di rumah. Aku sudah menyiapkan 'tangga' yang baru untukmu."
JANGAN LUPA UNTUK SELALU BAHAGIA🫰
Like Setiap Bab Kalau selesai 👍
Rate Bintang 5 🌟
Vote setiap hari Senin 🙏
Kalau Ada Poin Boleh Mawar sebiji🌹
Tinggalkan komentar, penyemangat, kritik & Saran, 🎖️
Makaseh banya samua 🙇🙏😇
tapi ini kisah sat set beres. gak bertele tele. langsung pada inti nya...
semoga mati ny tdk mudah.
gila stevanus.
biar ad sensasi buih buih ny tuh lakik
sakit jiwa nih lakik...