"menikah, atau kamu kami coret dari daftar pewaris?"
"tapi dia gila mah,"
.........
Narendra meradang saat jalinan kasihnya selama bertahun-tahun harus kandas dan berakhir dengan menikah dengan perempuan pilihan orang tuanya.
Reyna, putri konglomerat yang beberapa tahun belakangan di isukan mengidap gangguan jiwa karena gagal menikah adalah perempuan yang menjadi istri Narendra.
tak ada kata indah dalam pernikahan keduanya, Naren yang belum bisa melepas masa lalunya dan Rayna yang ingin membahagiakan keluarga nya di tengah kondisi jiwanya, saling beradu antara menghancurkan atau mempertahankan pernikahan.
apakah Naren akhirnya luluh?
apakah Rayna akhirnya menyerah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kyky Pamella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MPG_33
“Yuk makan,” ajak Naren begitu melihatku keluar dari kamar.
Aku refleks berhenti melangkah. Tatapanku langsung tertuju pada meja makan yang penuh dengan aneka makanan.
“Mas, kamu mau buka warteg apa gimana?” tanyaku, tak habis pikir
Naren mendengus kecil. “Salah sendiri kasih instruksi nggak jelas. Katanya mau yang pedas. Lah, makanan pedas kan banyak. dari pada udah terlanjur pesen trus kamu gak doyan. mending gini, kamu jadi bisa pilih," Naren membela diri tak mau di salahkan
Aku hanya menggeleng pelan, heran menanggapi perubahan sikap Narendra yang—jujur saja, terasa drastis dan mendadak.
“Duduk,” titahnya singkat sambil menarik kursi agar aku duduk di sampingnya.
Aku menatapnya lekat-lekat. “Mas… kamu nggak lagi kesambet, kan?”
Naren menoleh. “Apaan sih?”
“Coba baca syahadat dulu deh. Kamu bukan Narendra, ya? Saha eta?” selidikku dengan wajah serius
“Aing macan, Puas?" jawabnya datar, dengan wajah malasnya
Aku langsung menutup mulut, menahan tawa yang hampir meledak. “Nggak lucu.”
“Emang bukan pelawak. Buruan makan, nanti keburu dingin.”
Aku mulai menyendok nasi, lalu teringat sesuatu. “Mas, besok aku izin main sama Maya, ya?”
“Mau ke mana?” tanyanya santai. “Bukannya tadi udah gibah sepuasnya? Masih kurang?”
“Ke kliniknya Maya. Sekalian mau nyalon. Udah lama nggak perawatan,” kataku sambil mendekatkan wajah ke arahnya. “Tuh lihat, mukaku kayak kelihatan satu hari lebih tua.”
Naren menatap sekilas, lalu mengangguk. “Oke. Tapi sebelum ashar harus udah di rumah.”
“Siap, Bos,” jawabku sambil hormat ala paskibra.
Makan malam selesai dengan suasana yang—anehnya—hangat. Bahkan setelah itu, Naren membantuku mencuci piring di dapur. Aku semakin bingung harus bersikap seperti apa. Perubahan ini terlalu signifikan sampai rasanya aku yang jadi kikuk sendiri.
“Mau langsung tidur atau nonton film dulu?” tanyanya saat piring terakhir tersusun rapi di rak.
Aku lagi-lagi ternganga.
“Kedip,” katanya sambil mengusap wajahku cepat.
“Ih! Tangannya basah. Lap dulu, Mas,” rajuku karena wajahku ikut basah kena air.
Naren malah tersenyum. Senyum yang nyaris membuat pertahanan ku longsor
“Suka film horor?” tanyanya sambil melangkah ke ruang tengah.
“Hmmm… tergantung,” jawabku sambil mengekor di belakangnya.
“Oh iya, lupa. Kamu sukanya video yang gitu-gitu, ya?” katanya sambil cekikikan.
“Mas, please. Aku nggak semesum itu. kan udah aku bilang, Maya itu cuma asbun, " kesalku
“Masak?” nada suaranya mengejek.
Aku langsung manyun. “Ya udah kalau nggak percaya. Tidak perlu menjelaskan siapa dirimu pada orang yang tidak menyukaimu.”
“Iya, iya. Percaya,” katanya cepat. “Kamu memang kelihatan masih kaku kok… pas melakukannya.” ucapnya tanpa dosa
“Melakukan apa?”
Naren malah terbahak. Otakku sebenarnya tahu ke mana arah pembicaraan ini, tapi sisi warasku buru-buru narik rem.
*Jangan sampai lo kelihatan murah*, perintah otakku pada hati yang gampang meleyot ini
“Mau ke mana?” tanya Naren saat aku berdiri.
“Ambil selimut. AC-nya dingin banget.”
Saat aku kembali, film Pengabdi Setan pilihan Naren sudah terputar.
“Sini,” titahnya sambil menepuk sofa di sampingnya.
Apa pun alasan Naren berubah seperti ini, aku sungguh tidak peduli. Mau seperti apa pun dia di belakangku, aku juga tidak peduli. Yang penting di hadapanku, izinkan dia tetap seperti ini ya, Allah. doaku lirih dalam hati.
Tiga puluh menit film berjalan. Aku lebih banyak menutup wajah dengan selimut, sesekali teriak setiap jumpscare muncul. Film horor Indonesia emang nggak ada obat soal permainan efek suara ini
“Kamu nonton film apa nonton selimut sih?” ejek Naren sambil menarik selimut dari wajahku. “Penakut.” lanjutnya
“Enak aja! Aku berani, ya.”
“Kalau berani, aku tantang kamu ambil minum sama cemilan di dapur.”
“Bilang aja mau nyuruh,” jawabku sewot.
“Berani nggak?” alisnya naik, menantang.
Dengan ragu aku berdiri. “Beranilah… gitu doang,” gumamku sambil melangkah ke dapur.
Begitu sampai ambang pintu dapur, bulu kudukku langsung merinding. Dapur hanya disinari lampu kecil. Lampu utama sengaja kumatikan sejak sore. Aku mempercepat langkah.
DOOORRR—
Kilat menyambar diikuti petir yang memekakkan telinga.
“Masss…!” teriakku sambil langsung menubruk Naren yang entah sejak kapan sudah di belakangku.
Ia malah terkekeh. “Oh… ini ya si pemberani.”
Aku diam. Jantungku masih berdetak tak karuan.
“Kamu nangis?” tanyanya, panik. Ia meraup wajahku dengan kedua tangannya. “Astaga, dingin banget. Kamu beneran ketakutan. Maaf.”
“Nggak takut… cuma kaget,” jawabku terisak.
Naren tersenyum lembut lalu menarikku kembali duduk di sampingnya.
“Kenapa sih hujan tiba-tiba, mana pakai petir segala lagi. Tadi siang perasaan panas banget,” omelku.
“Hush. Nggak boleh gitu. Hujan itu berkah.”
“Kita ganti film aja, ya. Biar tegangnya ilang. Kamu tang pilih.”
“Nah, ini aja.” Aku tersenyum puas setelah beberapa menit memilh
Naren mengernyit saat aku memilih film Wedding Agreement. sebuah film yang sebenarnya sudah cukup lama. film ini dibintangi oleh Refal Hadi dan Indah Permatasari.
Sebenarnya cerita film ini sangat tamplet, pernikahan karena di jodohkan. si perempuan menerima tapi si laki-laki menolak karena sudah ada pasangan, namun karena keteguhan si perempuan akhirnya si laki-laki sadar dan mereka berakhir dengan saling mencintai. namun cerita ini, persis dengan yang aku alami saat ini. melihat film ini, membuat ku seperti tengah berkaca
Saatnya kamu lihat diri kamu sendiri, Mas. batinku berisik
Aku menangis sungguhan saat adegan Bian membentak Tari.
“Series apaan sih ini?” gerutu Naren. mungkin ia mulai merasa tersindir
"Mas Bian kamu bener-bener ya, Tari kurang apa coba udah cantik, Soleha, lemah lembut, penuh kasih sayang, pengusaha sukses pula malah lebih milih Sarah, ibarat kamu nyia nyiain batu safir demi batu koral tau gak," omel sambil menangis sesenggukan
"Tau dari mana kalau Sarah itu batu koral,buktinya Bian bisa sampek cinta mati sama Sarah, berarti Sarah istimewa dong," celetuk Naren yang sukses membuat ku ingin menjadikannya tumbal proyek
“Eh… ada kembarannya Mas Bian.” sindirku sinis
“Hah?”
“Nggak deng. tapi setidaknya masih cakepan Mas Bian,” puji ku pada tokoh yang di perankan oleh aktor Refal Hadi itu
Mulut Naren langsung menyebik tak suka.
“Besok aku panggil artisnya ke sini. Biar kamu bisa lihat dengan jelas, kalau aku jauh lebih tampan dari dia.” nada suaranya seketika berubah menjadi haus validasi
“Serius? Akhirnya bisa ketemu Babang Refal secara langsung,” sahutku antusias membuat Naren semakin kebakaran jenggot
“Nggak,” jawabnya ketus.
“ihh...laki-laki mah yang di pegang omongannya. kenapa? jangan bilang, beneran takut kalah saing ya?” ejek ku semakin gencar
“Yang penting menurut Ajeng, aku paling tampan.” sahutnya kemudian yang mempu membuat mood ku seketika terjun bebas
Aku langsung berdiri, lalu berdiri ke dapur.
“Udah nggak takut petir?” teriaknya.
“Nggak! Lebih takut diazab Allah karena selingkuh!” jawabku sambil lalu
"Na, mau mie kuah dong. Buatin ya!"
Aku tersentak saat tiba tiba kepala Naren menyembul dari arah pintu dapur.
"Buatin ya!" titah Naren sekali lagi, sambil memeperlihatkan wajah baby facenya
"Iya, tunggu di depan sana!"
"Maacih," ucapnya menurunkan suara anak-anak sambil tertawa
aku hanya bisa mengatur nafas, agar aku tidak semakin gila karena tingkah random dan perubahan sikapnya yang seenak udelnya itu.
“Tara… mie kuah soto spesial sudah siap,” ucapku saat menyajikannya. asap seketika mengepul dan menyebar ke seluruh penjuru ruang
“Hmmm… harum banget, Buk.” ucapnya dengan mata berbinar
Entah bagaimana dia maraton, hingga series yang kami putar sekarang sudah sampai di episode Bian dan Tari menikmati soto betawi sambil nonton persis seperti yang kita lakukan saat ini.
aku langsung meremang karena tau adegan apa yang akan terjadi setelah itu. Bian dan Tari akhirnya akan melakukan kegiatan suami istri untuk pertama kalinya.
“Kok di-pause?” tanyaku.
“Biar fokus makan. Mau?” katanya menyuapkan mie ke arahku
“Nggak, masih kenyang.”
“Jangan-jangan kamu taruh racun, makanya kamu gak mau ikut makan.” ceplosnya
Aku langsung merebut sendoknya kemudian memakan satu sendok penuh mie dan kuahnya. “Nih, Biar keracunan bareng.”
"Hah..kenyang," dalam waktu kurang dari sepuluh menit mie buatanku sudah ludes
"Lapar apa doyan pak?"
"Dua duanya bunda," jawabnya tertawa pelan
aku hanya menggeleng kecil menanggapi jawabannya
"Mau lanjut nonton?"
aku hanya mengangguk, tak mempedulikan jika jam sudah menunjukan pukul sebelas malam
"AC nya dingin banget ya," ucap ku mencoba mengalihkan rasa canggung dan malu saat adegan mulai menampilkan Bian membawa Tari ke kamar dan kemudian mereka berdua berakhir dengan keramas bersama
Naren meraih remot AC dan membesarkan suhunya. petir kembali menyambar,bahkan lebih menggelegar dari pada yang tadi. Reflek aku kembali memeluk Naren
aku mendengar Naren merapal doa selamat dengan lirih, hatiku langsung menghangat mendengarnya. sebenarnya, ia memiliki material lebih dari cukup untuk menjadi suami idaman
aku merasakan Naren mengusap pelan punggungku. Ini jelas, bukan mimpi.
lama aku dalam dekapannya, tidak ada tanda tanda dia akan melepaskan pelukanya jadi aku yang inisiatif untuk menarik diri
"Maaf reflek,"
"Gak papa,udah aja ya nonton nya. Bobok aja udah malam," Naren melirik jam tangannya yang sudah menunjukan pukul dua belas malam
"Kalau takut tidur di kamar sendiri, malam ini kamu boleh tidur di kamar aku," lanjut Naren
"Beneran?"
"Dari pada kamu serangan jantung karena kaget petir. nanti aku juga yang repot," jawabnya sambil mematikan TV
jangan ditanya bagaimana kabar hatiku, jelas di dalam sudah potong tumpeng sebagai wujud rasa syukur
aku mengikuti langkah Narendra dari belakang menuju kamarnya
Aku mengikuti langkahnya ke kamar.
“Bobok,” titahnya.
Aku berbaring. “Mas, tidur sini aja jangan di Sofa. Ini aku kasih guling pembatas.”
Tanpa bantah, ia menuruti. Kami berbaring berdampingan, terpisah guling, dan selimut berbeda.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya… aku merasa aman.
plisss dong kk author tambah 1 lagi