Afnan tahu dia adalah penjahat, demi mendapatkan Dareen yang menjadi obsesinya sejak lama, Afnan tega menghancurkan kebahagiaan Jeslyn, sahabat sekaligus wanita yang dicintai Dareen.
Satu jebakan licik darinya, sebuah penghianatan yang membuat Dareen kehilangan dunianya dan mulai menanam kebencian mendalam pada Afnan.
Namun, Afnan belum puas.
Melalui skenario malam yang kotor, Afnan akhirnya berhasil menyeret Dareen ke altar pernikahan, ia mendapatkan status, ia mendapatkan raga pria itu, tapi ia tidak pernah mendapatkan jiwanya.
"Kau telah menghancurkan hidup Jeslyn, dan sekarang kau menghancurkan hidupku, Afnan. Jangan pernah bermimpi untuk dicintai di rumah ini."
Di tengah dinginnya pengabaian Dareen dan bayang-bayang Jeslyn yang masih bertahta di hati suaminya, Afnan tetap bertahan dengan segala tingkah centil dan nekatnya untuk membuat sang suami bertekuk lutut.
Akankah cinta yang berawal dari penghianatan ini akan menemukan titik terang?
#KOMEDIROMANSA
#KONFLIKRING
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bertepuk12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Matahari pagi menembus celah gorden sutra di kamar utama mansion, embun mulai mencair seiring dengan sang bagaskara yang mulai naik ke atas permukaan, suara laju kendaraan terdengar menderu, begitu berisik.
Dareen sudah bangun sejak fajar menyingsing, bukan karena rajin, melainkan karena ia hampir tidak bisa memejamkan mata sedetik pun semalam. Setiap kali ia menutup mata, memori tentang aroma tubuh Afnan dan rintihan frustrasi wanita itu di kamar mandi terus berputar seperti kaset rusak yang menyiksanya.
"Benar-benar menyebalkan." Dareen bergumam pelan, menyugar surai hitamnya ke belakang, sesekali mengusap matanya yang ia yakini sudah mengitam.
Duduk di kursi kebesarannya di ujung meja makan yang panjang, tangannya memegang koran bisnis, namun matanya tidak benar-benar membaca deretan angka saham itu, namun tengah menunggu seseorang yang ia permalukan malam tadi.
"Apa dia malu hingga tak berani datang kepadaku?" Bibir Dareen menurun, tangah mengejek.
Tak lama kemudian, suara langkah kaki yang anggun terdengar menuruni tangga, Afnan muncul dengan dress formal berwarna navy yang memeluk tubuhnya dengan sempurna.
Tidak ada raut sedih, tidak ada bekas tangisan, dan yang paling membuat rahang Dareen mengetat tak senang adalah, tidak ada rasa malu sedikit pun, wanita itu berjalan seolah malam memalukan di kamar mandi itu hanyalah mimpi belaka.
"Seharusnya dia malu, kaparat!" Dareen mendengus sinis, padahal ia sudah cukup berharap bahwa wanita itu tak berani memunculkan batang hidungnya, tapi kini?
"Selamat pagi, suamiku." Sapa Afnan tersenyum riang, sedikit menggoda.
Sayangnya Dareen tidak menyahut, bahkan tidak menurunkan korannya untuk sekadar menatap sang istri, pria itu lebih memilih menyesap kopi hitam yang pahit tanpa gula, membiarkan keheningan yang canggung menyelimuti meja makan.
Melihat Dareen yang mengabaikan Afnan membuat wanita itu hanya tersenyum tanpa arti, demi Tuhan bahkan sekarang ia masih berusaha menahan malu sebab malam tadi, jika saja ia menghindari sang suami, tentu saja ia akan kalah telak.
Menarik kursi di sisi kanan Dareen, Afnan menuangkan susu untuk dirinya sendiri dengan gerakan yang sangat tenang.
"Kopi hitam lagi? Pantas saja semalam Kakak sangat emosional, kafein itu sepertinya membuat saraf Kakak terlalu tegang." Goda Afnan sambil melirik Dareen dari sudut matanya.
Dareen meletakkan cangkir kopinya ke atas meja dengan dentuman yang sangat keras, hingga cairan hitam di dalamnya memercik keluar, ia tak membalas seringai nakal Afnan, alih-alih tergoda seperti semalam, sorot matanya pagi ini justru dipenuhi oleh kilat kebencian yang murni.
"Kau pikir aku akan melupakan apa yang kau lakukan kemarin, hanya karena kau menggoyangkan pinggulmu di depanku?" Suara Dareen pelan, namun terdengar penuh ejekan.
Sejenak, Afnan menghentikan gerakan jemarinya yang memutar-mutar pada ujung gelas, ia sedikit memiringkan kepala, berpura-pura bingung dengan senyum yang masih tersisa.
"Waw? Apa maksud Kak Dareen? Apakah kita melakukan sesuatu malam tadi?" Ucap Afnan santai sembari mengelus jemari sang suami.
"Jangan berlagak bodoh!" Dareen menyentak tangan Afnan dengan kasar, pria itu berdiri, membuat kursi yang didudukinya terdorong ke belakang dengan suara derit mendengung.
"Afnan, kau tak memiliki otoritas di sini, apa kau mengerti?" Dareen menghempaskan jemari Afnan kasar, seolah mendapatkan sentuhan dari wanita itu adalah hama.
Kening Afnan terangkat heran, "Apa? Yayaya, aku mengerti, aku memang tidak memiliki otoritas di sini." Serunya sembari mengendikan bahunya acuh.
"Jangan ganggu orangku." Pinta Dareen dengan tatapan tajam, bagai ujung pisau.
Sejenak Afnan terdiam, "Oh Nata?" Serunya tertawa pelan.
Namum tak lama dari itu, senyum di bibir Afnan perlahan memudar, digantikan oleh tatapan dingin yang tak kalah tajam, sungguh? Pria itu tengah membela wanita lain di depannya? Kurang ajar.
"Oh, jadi pelacur kecil itu mengadu? My Gosh, siapa yang menyuruh lacur itu menggodamu, Kak? Tentu saja aku tidak terima." Afnan menjawab santai, memakan rotinya.
"DIA MELAKUKAN APA YANG AKU PERINTAHKAN!" Teriak Dareen menggelegar, memenuhi ruang makan yang luas itu, netranya semakin menyipit tajam.
Bibir Dareen menyungging, "Nata jauh lebih berguna daripadamu, dia penurut, dan dia tidak pernah membuatku muak dengan tingkah murahan seperti yang kau lakukan dengan Algio!"
"Algio lagi sungguh? Apa Kak Dareen begitu cemburu sampai terus-menerus membawa nama Algio?" Afnan melirik wajah Dareen yang kini makin memburuk, menahan senyuman di sela-sela makannya.
"Cemburu padamu? Menjijikkan." Dareen mendengus, membuang perhatiannya dari Afnan, merasa jijik dan tak senang.
"Kau memukulnya dengan cambuk, bukan? Apa kau merasa hebat bisa menindas pelayan? Di mataku, tindakanmu itu hanya menunjukkan betapa rendahnya mentalmu. Kau cemburu karena kau tahu, di ranjang seorang pelayan sepertinya, jauh lebih memuaskan daripada wanita penuh tipu daya sepertimu."
Wajah Afnan memerah, bukan karena malu, tapi karena amarah yang mulai tersulut, "Kakak membela pelacur itu di depan istri sah, Kak Dareen? Kau lebih memilih sampah itu?"
"ISTRI SAH?" Dareen tertawa terbahak-bahak, tawa yang terdengar sangat menyakitkan, menurunkan sudut bibirnya.
"Kau hanyalah pajangan yang menyebalkan, Afnan. Jangan pernah bermimpi kau punya kuasa di rumah ini, jika kau menyentuh Nata lagi, atau pelayan mana pun yang aku pilih untuk melayaniku, aku akan pastikan tanganmu itu tidak akan bisa digunakan lagi untuk menggoda pria mana pun!"
"Sungguh? Kakak membela pelayan itu? Seorang pelacur?" Afnan tertawa kosong, makanan yang ia makan mulai terasa hambar seolah tak memiliki rasa sedikitpun.
Dareen menoleh, tersenyum seringai, "Bukankah sama sepertimu?"
"Ap-"
"Mulai hari ini, Nata akan tetap bekerja di sini, dan kau tidak diizinkan menyentuhnya, jika aku mendengar dia merintih karena ulahmu lagi, aku sendiri yang akan memberikan cambukan itu ke punggungmu." Ancam Dareen dengan suara yang sangat tenang namun mematikan.
Dareen merapikan jasnya, menatap Afnan yang kini duduk tenang dengan napas terengah-engah dan mata yang berkaca-kaca karena amarah.
"Apa yang sebenarnya lacur itu lakukan sampai Kakak membelanya seperti ini?" Tanya Afnan menuntut, menahan tangisannya.
"Memuaskanku tentu saja." Seru Dareen sambil tertawa pelan, seolah tengah menertawakan Afnan yang kini terlihat seperti wanita bodoh.
Tanpa kata lagi, Dareen langsung berdiri dari duduknya, meninggalkan Afnan yang masih diam seolah tak bisa berkata, namun sebelum itu ia sempat menoleh, menatap sejenak wanita itu.
"Ini adalah kesalahanmu sendiri Afnan yang selalu egois menginginkanku, seharusnya aku tidak menjadi pria yang begitu kasar, hanya saja jika tidak seperti ini, kau akan tetap otoriter, egois. Padahal aku tidak akan pernah mencintaimu, kau adalah adikku dan selamanya begitu."
Dareen bergumam disela-sela langkahnya, dalam lubuk hati tentu saja ia merasa bersalah pada wanita itu sebab berkata kasar, apalagi Afnan tumbuh bersamannya sejak kecil, namun sayang ia tak bisa mengubah perasaan sedikitpun.
Sampai nanti, Afnan hanya akan ia anggap sebagai adik, tak lebih, dan tak kurang.