kisah tentang kekuasaan, pengorbanan, dan perjuangan seorang ratu di tengah dunia yang penuh dengan intrik politik dan kekuatan sihir serta makhluk mitologi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anang Bws2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelukan Sang Monster
Setelah melewati lorong panjang yang lembap, mereka akhirnya sampai di sebuah ruang luas yang menyerupai kuil kuno di bawah tanah. Dindingnya terbuat dari obsidian hitam yang berkilau, memantulkan cahaya dari obor-obor biru yang menyala tanpa api. Di tengah ruangan itu, terdapat sebuah singgasana yang terbuat dari tulang belulang makhluk purba,Di sana, di tengah remang cahaya, Ratu Layla berdiri dengan gaun kebesarannya yang tampak koyak di beberapa bagian. Namun, ia tidak sendiri. Seorang pria dengan fisik yang mengerikan sekaligus eksotis sedang mendekapnya dari belakang. Pria itu memiliki kulit yang tertutup sisik hijau gelap yang berkilau seperti zamrud, dengan sepasang tanduk melengkung di kepalanya. Ekornya yang panjang dan berduri melingkar di kaki Ratu Layla, seolah-olah memberikan perlindungan sekaligus klaim kepemilikan. Yang lebih mengejutkan lagi, Ratu Layla tidak terlihat sedang berontak; wajahnya yang biasanya dipenuhi amarah dan otoritas kini tampak tenang, hampir terlihat seperti sedang dalam pengaruh mantra atau kenyamanan yang aneh.
"Lepaskan tangan kotormu dari Ratu kami, makhluk menjijikkan!" raung Panglima Delta.Delta menghunus pedang besarnya, urat-urat di lehernya menegang karena amarah yang memuncak. Ia tidak bisa menerima kenyataan bahwa ratu yang ia puja sedemikian rupa berada dalam pelukan makhluk siluman yang telah membantai pasukannya.
Penyihir Petir berdiri di samping Delta, tongkatnya telah berpijar dengan listrik yang siap meledak,Panglima Delta tidak lagi mampu menahan gejolak di dadanya. Tanpa menunggu aba-aba dari Penyihir Petir, ia menerjang maju dengan kecepatan yang luar biasa Pedang besarnya diangkat tinggi-tinggi, mengincar kepala pria bersisik itu dengan satu tebasan mematikan. "Demi Atlas, kau akan mati!" teriaknya.
Saat pedang Delta hanya berjarak beberapa inci dari sasarannya, pria itu melakukan gerakan yang hampir tidak terlihat oleh mata telanjang. Ekornya yang panjang dan dipenuhi duri tajam bergerak dengan kecepatan seperti cambuk kilat. Buar! Suara hantaman yang sangat keras bergema saat ekor itu menghantam dada Panglima Delta dengan telak. Kekuatan hantaman itu begitu besar sehingga baju besi Delta yang terbuat dari logam pilihan langsung remuk dan penyok ke dalam.
Tubuh Panglima Delta terpental jauh ke belakang, meluncur di atas lantai obsidian yang licin sebelum akhirnya menghantam dinding batu dengan suara berdebam yang mengerikan. Ia terbatuk, menyemburkan darah segar yang membasahi lantai. Pedang besarnya terlepas dari genggamannya dan berdenting jatuh jauh dari jangkauannya. Delta mencoba bangkit, namun tulang rusuknya yang patah membuat setiap gerakannya menjadi siksaan yang luar biasa. Ia terkapar lemas, menatap tidak percaya pada kekuatan makhluk yang baru saja menghempaskannya hanya dengan satu kibasan ekor.
Melihat Panglima Delta yang tidak berdaya, Penyihir Petir tahu bahwa kekuatan kasar tidak akan membuahkan hasil. Ia menoleh ke arah penyihir hutan yang masih terikat. "Jika kau ingin hidup dan jika kau ingin melihat hutanmu lagi, bantulah aku sekarang! Makhluk ini adalah musuh bagi kita semua," bisiknya dengan nada mendesak. Penyihir hutan itu menatap pria bersisik itu dengan penuh pertimbangan.
Penyihir Petir segera merapalkan mantra tingkat tinggi. Ia menciptakan lingkaran sihir listrik di lantai, mengurung pria bersisik itu dalam sangkar petir yang menyambar-nyambar. "Sekarang!" teriaknya. Penyihir hutan itu segera meletakkan tangannya di tanah. Ia tidak menyerang dengan energi, melainkan memanggil akar-akar purba yang tersembunyi jauh di bawah lantai obsidian. Akar-akar hitam yang tebal dan kuat tiba-tiba menjebol lantai, melilit kaki pria bersisik itu dan menariknya ke bawah, membatasi ruang geraknya.
Pria bersisik itu mulai menggeram marah. Ia mencoba memutuskan akar-akar tersebut dengan ekornya, namun setiap kali satu akar terputus, dua akar baru muncul menggantikannya. Di saat yang sama, Penyihir Petir menghujani makhluk itu dengan bola-bola listrik yang meledak saat bersentuhan dengan kulit bersisiknya.
Ratu Layla jatuh terduduk di singgasana tulang, tampak linglung. Penyihir Petir terus memompa energinya, keringat dingin mengucur di dahinya karena mempertahankan mantra pelindung dan penyerang sekaligus. Penyihir hutan itu pun tampak kelelahan, seluruh urat di tangannya menghijau saat ia memaksakan kehendak alam untuk tunduk padanya di lingkungan yang gersang akan tanah ini. Mereka berhasil memberikan perlawanan yang seimbang,
Pertarungan mencapai puncaknya saat pria bersisik itu mengeluarkan raungan yang memecah gendang telinga. Energi kegelapan meledak dari tubuhnya, menghancurkan sangkar petir Penyihir Petir dalam sekejap. Gelombang kejut itu menghantam Penyihir Petir dengan sangat keras, melemparkannya ke sudut ruangan. Sang penasihat kerajaan itu terkapar lemas, tongkatnya retak, dan ia tidak lagi mampu mengeluarkan satu percikan sihir pun.
Penyihir hutan, melihat tidak ada pilihan lain, berdiri dengan tatapan mata yang penuh tekad. Ia menoleh sekilas ke arah Penyihir Petir yang terbaring, lalu ke arah Ratu Layla yang ia benci namun kini harus ia selamatkan sebagai bagian dari kesepakatan gila ini. "Alam memberikan hidup, dan alam akan mengambilnya kembali," bisiknya dengan suara yang terdengar seperti ribuan daun yang berguguran. Ia mulai merapalkan mantra terlarang yang akan mengubah seluruh sel tubuhnya menjadi energi kehidupan murni.
Tubuh penyihir hutan itu mulai bercahaya hijau terang yang sangat menyilaukan. Kakinya mulai memanjang dan masuk ke dalam tanah, berubah menjadi batang kayu yang kokoh. Tangannya merentang ke atas, berubah menjadi dahan-dahan besar yang dipenuhi duri.
Akar-akarnya yang masif bergerak seperti tentakel raksasa, menerjang pria bersisik itu.Pria bersisik itu mencoba menghindar, namun pohon raksasa itu seolah memiliki ribuan tangan. Dahan-dahan pohon itu melilit tubuh sang pria dengan kekuatan yang tak tertandingi oleh sihir mana pun. Dalam satu gerakan besar, pohon itu menarik pria bersisik itu masuk ke dalam rongga batangnya yang terbuka lebar. Ratu Layla, yang berada terlalu dekat, juga ikut terseret ke dalam pusaran serat kayu dan dahan yang menutup dengan cepat. Pohon itu terus tumbuh hingga mencapai langit-langit kuil, menelan keduanya ke dalam dekapan kayu yang tak tertembus,
Keadaan di dalam kuil menjadi sunyi senyap, hanya menyisakan suara derit kayu dari pohon raksasa yang baru saja terbentuk. Panglima Delta, dengan sisa-sisa kekuatannya, merangkak menuju pohon tersebut. Ia melihat bahwa di salah satu bagian batang pohon yang paling tebal, tubuh Ratu Layla tampak terjepit di antara serat-serat kayu yang keras.
"Ratu! Aku di sini!" teriak Delta dengan suara serak. Ia menemukan pedangnya yang tergeletak tak jauh dari sana. Dengan tangan yang gemetar dan nafas yang pendek-pendek, ia mulai menebas serat-serat kayu tersebut,
Ratu Layla mulai sadar sepenuhnya saat kayu-kayu itu mulai melonggarkan jepitannya akibat tebasan Delta. Wajahnya pucat pasi, dan ia menatap Delta dengan pandangan yang sulit diartikan. Setelah perjuangan yang melelahkan selama hampir satu jam, Delta akhirnya berhasil menarik tubuh Ratu Layla keluar dari jantung pohon tersebut.